
"Gadis itu cantik juga, Kenapa jantung ku jadi berdebar saat ia memelukku tadi. Perasaan apa ini namanya, tidak mungkin aku jatuh cinta lagi kan?." hahahaha... Alfonso terbahak menertawakan dirinya sendiri.
Didalam kamar Mak isah masih uring-uringan melihat kelakuan Della yang semakin nggak waras. "Cepat ganti pakaian mu, bikin malu ajah kau Dell! kau peluk-peluk Tuan Alfonso, bagaimana terhormat nya dia di Belanda, nggak ada seorang wanita pun berani menyentuhnya apalagi di peluk begitu! bentak Mak Isah, ia nggak habis pikir sama tingkat keponakan nya.
"Kok wajahnya mirip kak Harlan.. cuma Pria tadi sudah berumur, kalau kak Harlan masih muda, tapi sama-sama tampan.." Muehehehe... Della berbicara sambil tertawa sendiri tanpa dosa.
"Makanya punya otak tuh di pake! setiap hari keluyuran pulang malem mabok!"
"Aku kan sudah sering bilang sama bibi, aku kerja di karoke. Aku nggak bisa nolak kalau pelanggan ku ngajak minum, kalau aku nolak nggak dapat tips."
"Carilah kerjaan lain, ngapain kerja di karaoke! makin nggak bener saja kamu Dell!!
"Ini semua salah Lupita! dia yang sudah hancurkan reputasi ku di kantor, andai Lupita nggak bujuk kak Harlan, sudah pasti aku masih bekerja di kantor kak Harlan BII!!"
"Sudahlah Dell, lebih baik cepat kau mandi, pakaian mu basah kuyup nanti sakit."
"Ini nggak adil, bibi nggak pernah bela aku! sekarang malah berpihak pada Lupita!"
"Bibi bisa apa? semua keputusan di tangan Harlan dan kau juga buat kesalahan besar dengan mencuri foto yang ada di dalam laci kamarku! Kau sengaja beberkan foto masa lalu Harlan pada Lupita. sekarang siapa yang salah? kau kan tahu bagaimana sikap Harlan kalau sudah marah. Harlan begitu kecewa pada sikap kurang ajar mu!"
"Terserah bibi saja aku pusing mendengar ocehan Bibi!! aku tahu disini hanya menumpang, bibi nggak usah khawatir, cepat atau lambat aku akan keluar dari rumah ini!!" teriak Della dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.
"BRAKK!!
"Astaga.. anak kurang ajar, makin hari semakin membangkang!" Mak Isah mengusap dadanya dan berjalan keluar kamar.
Malam semakin larut, Alfonso dan Margaret memutuskan untuk menginap di mansion. Alfonso tidur di kamar Harlan, Margaret di kamar tamu.
Malam itu Della tidak bisa tidur nyenyak, perutnya bunyi terus, ternyata ia sangat lapar. Della beranjak dari tempatnya tidur dan menyeret kakinya kedapur dengan malas. Ia mencari makanan dalam kulkas.
"Males banget mau hangatkan makanan. Aku masak mie ajah deh." Della mengambil mie instan dalam lemari dapur dan mulai memasaknya bersama sawi dan telur ayam yang ia masukan kedalam panci.
"Hmm... wangi banget, bikin selera makan ku meningkat, cacing-cacing di perutku mulai demo." Della sungguh menikmati mie instan buatannya, tanpa ia sadari sepasang hezel coklat menatapnya sejak tadi.
"Hey, apa kau lapar?"
Della yang sedang menunduk sambil menikmati mie didalam mulutnya, mengangkat kepalanya dan ia terkejut pria yang tadi ia peluk sudah berdiri didepannya.
"Uhuk.. uhuk.. uhuk..."
Della terkejut dan refleks ia terbatuk, melihat Della batuk-batuk. Alfonso menuangkan air putih kedalam gelas dan memberikannya pada Della. "Minumlah dulu." Della menerima gelas berisi air putih dan meminumnya habis.
"Kalau makan pelan-pelan, tidak ada yang akan meminta makanan mu." goda Alfonso, ia menarik kursi di samping Della dan mengamati gadis manis itu. Ia wajah Della memang aslinya sangat manis dan kulitnya tidak putih, Namun bisa di bilang eksotis. Bukankah orang bule suka dengan kulit eksotis, bagi orang luar negeri bisa memiliki kekasih berkulit eksotis, itu bisa membangkitkan selera dan libido yang tinggi dalam berhubungan intim, mereka meyakini yang memiliki kulit eksotis sangat pintar di atas ranjang. Apakah Alfonso berfikir demikian?"
"Aku hanya kaget saja, tiba-tiba ada Bapak di depan ku.."
Alfonso tergelak "Kenapa kau tidak teruskan makan mu?"
"Sudah tidak berselera! Della mengerucutkan bibirnya.
Pletek!
Tiba-tiba Alfonso meyentil kening Della "Anak nakal, apa perlu saya buatkan lagi?"
__ADS_1
"Awww!! kenapa kau meyentil ku! pekik Della seraya mengusap dahinya.
"Kau sangat menggemaskan.." Alfonso terkekeh. Pria berusia 50 tahun itu sudah lama tak pernah tertawa atau senarcis ini, bahkan ia lupa kapan terakhir kali ia bisa tertawa lepas. Sekarang hatinya sedang menghangat, sejak kejadian di peluk Della secara tiba-tiba tadi, membuat ia gelisah dan tidak bisa tidur. Akhirnya ia memutuskan turun kebawah untuk mencari angin diluar, tapi siapa sangka keberuntungan berpihak padanya, ia melihat Della sedang menyantap mie di meja makan.
"Hah?! Della menatap intens Pria didepan nya lalu terkekeh "Sejak kapan aku menjadi gadis menggemaskan? bukankah itu berlebihan?"
"Tapi bagi saya kau sangat menggemaskan dan Ingin mencubit pipimu yang chabi." pria itu tersenyum dan membuat Della salah tingkah.
"Saya akan buatkan spaghetti untukmu." ucapnya sambil menepuk-nepuk pelan kepala Della, layaknya seekor kucing manis dan penurut.
"Tidak usah Pak! saya sudah kenyang..! beneran deh, suwer.." Della membentuk huruf V pada kedua jarinya.
"No! tidak ada penolakan. End panggil saya Daddy okey..."
Della duduk manis ditempatkan, sambil terus mengamati cara masak Alfonso dengan cepat. Aroma wangi spaghetti membuat cacing-cacing di perutnya mulai demo kembali.
"Takk! Alfonso menaruh piring spaghetti buatannya di depan Della.
"Woww amazing.. sepertinya ini sangat enak deh pak_"
"Call me daddy you understand?"
"Yes Daddy..! Della terkekeh "Kenapa Daddy tidak makan juga? atau ini kita bagi dua oke."
"No.. no.. saya masak untuk mu karena sudah mengaggu kamu tadi."
Della mulai memasukkan spaghetti kedalam mulutnya "Wow enak banget, Daddy pintar masak." Della mulai merasakan nyaman dan tidak canggung lagi ngobrol receh berbagai cerita bersama Alfonso.
Menjelang subuh mereka mengakhiri obrolannya dan masuk kembali ke kamar masing-masing.
*
Pagi itu Inez sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Motor ia titipkan pada seorang satpam kemarin, karena saran Rangga saat menjenguk Ayahnya. Untuk mempercepat waktu inez memesan taksi online agar sampai tujuan. Satu jam kemudian ia sudah berada di gedung Vandeles. Langkah kakinya terasa berat untuk masuk kedalam ruangannya, seperti biasa sapaan hangat dari pria tinggi kurus bernama Irfan.
"Hey Nez, tumben agak telat, biasanya cepat sampai lebih awal."
"Motor semalam aku titipkan ke satpam, temanku jemput dan ngajak tengok ayahnya yang sedang sakit. jadi tadi naik taksi online."
"Ohhh pantes!"
Tiba-tiba ponsel Inez berdering. Ia melihat nama Lupita di layar ponsel. "Iya Lup.."
"Datang ya ke kantor Mas Harlan, aku sudah sampai."
"Okay...." Inez menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskan perlahan, "Bagaimana kalau nanti ketemu Wiliam? apa yang harus aku katakan? sebenarnya aku belum siap menjelaskan semuanya." gumamnya dalam hati.
"Fan, tolong bantu aku buat laporan harian ini ya, aku di panggil keatas."
"Wah Tuan asisten sudah menanti ya? inget Nez soal foto itu kau harus minta penjelasan darinya." bisik Irfan. Inez yang hampir lupa dengan foto seorang wanita menggandeng dan mencium Wiliam di ingatkan kembali oleh Irfan.
"Okey fan! inez melangkah keluar dari ruangan kerjanya dan menuju lantai 18. Setelah pintu lift terbuka ia berjalan kearah ruangan Harlan. lagi-lagi Alexa menegur nya.
"Mau apa kau kesini!"
__ADS_1
"Aku di panggil Tuan Goergie, minggir lah!
"Kau itu hanya karyawan biasa, jangan sok-sok an mau deket dengan Tuan presdir."
"Lagian yang mau deket dengan Tuan Goergie siapa? kau saja yang selalu berpikiran busuk!"
"Kau_"
"CEKLEK!
"Inez! kau sudah disini, Kenapa tidak masuk?" tanya Lupita berjalan mendekat.
Inez menatap kesal pada Alexa.
Tak lama keluar Harlan dari William. Inez tidak berani menatap wajah Wiliam, jantungnya mulai berdebar tak karuan.
"Ayo Nez kita kerungan kerja baru kita." Inez dan Lupita mengikuti dari belakang langkah Wiliam dan Harlan. Kini mereka sudah berada di ruangan lantai tiga dan masuk kedalam salah satu ruangan yang luas dan nyaman.
"Apa kau suka honey? tanya Harlan dan merangkul pinggang istrinya.
"Sangat suka Mas. Warna cat ungu dipadu cat putih sangat cantik dan terkesan elegan."
"Hari ini akan di taruh barang-barang yang akan kau dan Inez perlukan, besok kau sudah bisa menempatinya."
"Terima kasih sayang, kau selalu menuruti keinginan ku." tanpa sadar Lupita mencium pipi suaminya, dan di sambut ciuman hangat di bibir istrinya.
"Ehem! Wiliam berdehem.
Mereka berdua menengok ke belakang "Ahh, aku lupa sepertinya ada orang di belakang kita." Lupita terkekeh.
"Nez bagaimna menurut mu?"
Inez yang sejak tadi melamun, tersentak saat Lupita bertanya "Sangat bagus Lup, aku suka warnanya."
"Ya sudah ayo kita keluar." Harlan mengandeng tangan istrinya keluar lebih dulu.
Saat Inez Ingin keluar ruangan, Wiliam menutup pintu lebih dulu.
"Kenapa di tutup!
"Aku ingin bicara dengan mu!"
Terlihat wajah merah padam Wiliam dan aura dingin yang menakutkan. Jantung inez dua kali berdetak lipat lebih cepat.
🔥
🔥
🔥
@Yuk terus dukung karya Bunda, jangan lupa untuk follow IG @bunda.eny_76
@Bersambung....
__ADS_1