
"Lolita kenapa kau terus menyakiti aku, aku berusaha untuk membantu Paman dan bibi dengan bekerja pagi sampai malam, bahkan semua gajih aku bayarkan untuk bayar hutang itu." airmata Lupita sudah menetes, ia begitu kesal dan sudah tidak bisa menahan lagi dengan sikap arogan Lolita.
"Dasar luh cuma bisanya cari muka didepan ayah gue!
"LOLITA!.......
"PLAKK! tangan Imron melayang ke pipi anaknya dan menampar dengan keras "Kau sama saja dengan ibumu! tidak tau terima kasih, kita di sini cuma menumpang! jangan sampai ayah lihat kau kasar lagi pada Lupita! ancam Imron pada anaknya, Lolita memegangi pipinya yang terasa panas dan berjalan pergi masuk kedalam kamar.
"Brakk!
"Tahan emosi paman, lebih baik paman istirahat dulu ya, aku akan bersiap untuk bekerja."
"Maafkan sikap Lolita, selama ini paman salah mendidiknya."
"Paman yang sabar ya."
Lupita masuk kedalam kamar untuk bersiap ke kantor.
"Paman Lupi berangkat kerja dulu ya." mencium tangan Imron yang sedang duduk di ruangan tamu.
"Hati hati dijalan Lupi."
Lupita melangkahkan kakinya keluar rumah, di depan gang ia menunggu angkot lewat, selintas ia teringat dengan sosok Harlan yang datang tiba-tiba untuk menjemput nya pulang, bahkan Harlan sudah berada di dalam angkot hanya sekedar untuk menemaninya ngobrol, sosok itu sangat Lupita rindukan yang tiba-tiba hilang entah kemana.
"Mas Harlan! gumamnya pelan.
Lupita seakan kehilangan semangat tanpa ada Harlan yang menghiburnya, bola matanya berkaca-kaca seakan ada kerinduan dan kesedihan yang mendalam.
"Aaachhh! mendesah pelan "kenapa aku bersedih begini sih! gumamnya bertanya pada diri sendiri "Apa mas Harlan sudah tidak bekerja lagi ya? atau ia sudah pulang kampung? apakah aku sejahat itu sampai menyakiti Mas Harlan menolak pemberian uang nya? tapi aku tidak bisa menerima uang sebanyak itu, mungkin mas Harlan marah padaku makanya sudah tidak mau menemui ku lagi." tak terasa bola matanya sudah memanas dan cairan bening itu sudah jatuh di pipi mulus Lupita.
"Mas Harlan maafkan aku? aku yang salah telah membuat mu kecewa, bahkan nomor ponsel mu sudah tak aktif lagi, hampir tiga minggu tak bertemu kenapa aku merindukan mu."
"Aacchhh! helaan yang keluar dari bibir Lupita semakin dalam "Haiii... ada apa dengan diriku ini sih! seperti baru tersadar ia mengambil tissue dari dalam tas dan mengusap airmata itu, terlihat mata dan hidungnya yang memerah. Lupita tergelak, ia menertawakan dirinya sendiri yang terlihat bodoh.
Sebuah mobil angkot membunyikan klakson didepan Lupita, membuat ia terhenyak dan kaget, lamunan tentang Mas Harlan hilang begitu saja. Angkot itu melajukan kembali mobilnya setelah Lupita masuk kedalam.
__ADS_1
Didepan gedung pencakar langit yang terlihat kokoh berdiri, Lupita mengadahkan kepalanya keatas, ia menutupi dahinya dengan tangan agar matanya tidak langsung menembus sinar matahari.
"Bukankah Mas Harlan bekerja di gedung sebelahku? apa aku tanya saja nanti pas jam istirahat, apakah Mas Harlan sudah pindah bekerja atau memang sengaja tak ingin bertemu dengan ku lagi?" tanyanya pada diri sendiri.
Lupita melirik pada arloji ditangan nya "Ahh! aku terlambat lagi sudah lewat sepuluh menit! Lupita berlari kecil menuju gedung perkantoran Vandeles. Dengan tergesa-gesa dan nafas yang tersengal-sengal ia masuk kedalam ruangan kerjanya, seperti biasa tidak ada keramahan pada teman satu ruangan, Lupita berjalan perlahan ke sudut meja kerjanya, ia merasakan hampa, tidak adalagi hiasan bunga mawar atau bunga tulip di meja kerjanya yang membuat hatinya berbunga-bunga dan semangat bekerja. Ya! sudah seminggu kepergian Harlan ke Belanda, Lupita tidak pernah mendapatkan bucket lagi di meja kerjanya, tiba tiba ia merindukan kehangatan dan keharmonisan itu, walau ia tidak pernah tahu siapa yang mengirimkan bunga setiap hari.
"Pengagum rahasia? begitu tulisan dalam kartu kecil berwarna merah hati yang terselip di bucket itu.
"Heh' anak magang! teriak salah satu karyawan yang bernama Anton "Kau sering sekali terlambat! kau pikir ini perusahaan milik mu! sindiran itu sudah biasa bagi Lupita, ia sudah tidak pernah perdulikan ocehan dan sindiran teman temannya.
"Sekarang dia sudah tidak bisa cari muka lagi di depan Presdir Georgie, karena presdir sedang pulang ke Negara asalnya!
"Lupi! kau pakai pelet apa bisa deket dengan Presdir? kasih tahu akulah! teriak Anton lagi tertawa terbahak di ikuti temannya yang lain.
"Kemaren si Lupi kehilangan uang bonus dari Presdir kita! ujar Hana membeberkan di depan teman-temannya.
Makanya jangan suka mengambil pekerjaan orang lain, ilangkan tuh duit! celetuk Anton pria yang sangat iri dan membenci Lupita.
Lupita yang sedang mengetik di atas keyboard menghentikan kegiatannya, ia menatap kedepan melihat teman satu ruangan yang terus membicarakan dirinya.
"Apa kalian puas terus mencela orang lain?! tiba-tiba Lupita punya keberanian untuk membela dirinya sendiri.
"Tapi kami tidak terima kau bilng uang mu hilang di dalam ruangan ini! itu namanya menuduh! suara Hana begitu kencang terdengar, membuat dada Lupita sesak.
"Tapi aku tidak pernah menuduh kalian, aku hanya bertanya saja? bila memang uang itu sudah hilang berarti bukan rezeki ku, aku minta maaf bila menyinggung kalian semua! Lupita sudah tidak bisa menahan tangisannya, ia berlari keluar ruangan menuju toilet untuk menumpahkan rasa sedihnya.
πAmsterdamπ
Seminggu telah berlalu, Harlan masih sibuk mengurus bisnis Pamannya bersama Margaret. Sementara perusahaan di Indonesia di wakilkan pada Direktur utama untuk mengurus perusahaan Harlan.
Didalam sebuah ruangan Harlan sedang duduk termenung, kegelisahan hatinya tampak jelas di raut wajah dinginnya. Tiba-tiba ia begitu merindukan sosok Lupita, bahkan untuk menelpon saja ia tidak berani karena Pamannya Alfonso selalu punya cara untuk mencari informasi, ia takut Lupita akan kena imbasnya, Harlan belum berani memberitahu pada Pamannya perihal Lupita, terlalu dini untuk mengatakan semuanya. Sebenarnya Harlan masih ingin tahu dulu dengan perasaan Lupita padanya, bukan cinta sepihak atau bertepuk sebelah tangan seperti yang sudah ia alami pada Nadine, karena untuk mengembalikan kepercayaan dirinya tidak lah mudah. Sungguh Harlan harus merahasiakan sosok Lupita pada pamannya karena Alfonso memiliki karakter yang keras dan dominan.
"Will!
"Ya Tuan!
__ADS_1
"Jam berapa meeting bersama Clint akan berlangsung!
"Sekitar jam tujuh malam Tuan!
Harlan beranjak dari duduknya berjalan kearah jendela, bersandar pada satu dinding dengan melipat kedua tangan didada. "Sungguh membosankan! kalau bukan karena Paman sakit, sudah aku tinggalkan Negara ini! Harlan berdecak kesal sambil menatap mobil yang merayap didepan gedung perkantorannya.
"Tentu saja membosankan! aku sangat tau Tuan, karena anda sangat merindukan sosok wanita magang itu bukan?" gumamnya dalam hati.
"Berapa lama lagi kita harus menunggu sampai jam tujuh! Harlan mengendurkan dasinya yang terasa sesak.
"Sekitar empat jam lagi Tuan! tadi Nona Margaretha menelpon, ia bilang akan ada pejabat kota yang ikut dalam acara ini!"
"Pejabat kota? bukankah kita mau mengadakan meeting?" Harlan mengerutkan alisnya.
"Sepertinya sekalian acara Pesta!
"Pesta! Pasti ini akal akalan Margaret! dasar wanita licik! umpat Harlan emosi. "Kalau bukan karena Paman, tidak sudi aku berbisnis dengan wanita itu, salah Paman juga berbisnis atas namaku! sekali lagi umpatan itu membuatnya kesal.
"Sabar Tuan, tunggu sampai peresmian Bank itu selesai, Anda bisa kembali ke Jakarta."
"Menunggu sampai dua minggu kedepan! Harlan menarik nafas dalam-dalam, terbesit rasa kebencian yang teramat dalam, apa daya ia tidak bisa berontak pada Pamannya, karena melawan Alfonso sama saja membangkang pada Ayahnya. Harlan tidak ingin kecewakan Alfonso yang sudah menyelamatkan nyawanya dan menjaga perusahaan Ayahnya. Tapi bila urusan hati ia tidak ingin Alfonso ikut campur.
"Will, aku perlu istirahat, rasanya sangat penat dan kepalaku pusing."
"Baik Tuan, satu jam sebelum pergi aku akan bangunkan Tuan."
Harlan mengangguk dan masuk kedalam ruangan khusus tempat untuk istirahat.
'
'
'
'
__ADS_1
'
Bersambung......ππππ