Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Mendengar suara Aneh


__ADS_3

Lupita mengangguk "Terima kasih tuan, sudah memberikan keringanan, bila besok sudah baikan aku akan masuk kembali."


"Baiklah, aku permisi!


Setelah melirik pada Harlan, Wiliam pergi dari ruangan perawatan.


"Ayo ambil tas mu, aku antarkan pulang."


Melati menatap Harlan dan tersenyum.


"Aku tunggu di lobby. pelan pelan saja jalannya bila masih sakit." ujar Harlan cemas.


Lupita dan Harlan keluar dari ruangan, sebelum keluar Harlan memasang maskernya kembali agar tidak ada yang mengenalinya.


Lupita masuk kedalam ruangan dan mengambil tas kerjanya. Ia berjalan keluar menuju lobby. Di depan Lobby ia melihat Harlan sedang berdiri menunggu.


"Ayo Lupi, taksi sudah datang."


Lupita mengangguk, Harlan membukakan pintu mobil untuk Lupita. Mobil berjalan setelah mereka sudah duduk didalam. Dalam perjalanan Lupita hanya diam sambil tertunduk sedih. Tidak ada satu katapun yang terlontar dari bibirnya. Ia masih terus memikirkan rumah almarhum Ayahnya.


"Lupi, kenapa kau diam saja. Dari tadi aku mengajak mu bicara tapi kau tidak merespon. Apa kau ada masalah?


Lupita menoleh dan menggeleng pelan.


"Aku tahu kau sedang ada masalah, wajahmu tidak bisa di bohongi, kau terlihat sedih. katakan padaku, mungkin aku bisa membantu mu."


"Maafkan aku Mas, aku tidak bisa menceritakan masalah kelurgaku, bagiku itu sama saja membuka Aib."


"Tidak Lupi, kau bercerita hanya padaku. Untuk meringankan beban mu, bukan untuk mencari kekurangan mu. Percayalah padaku, aku akan membantu sebisa ku."


Lupita mengangkat wajah, dan menatap Harlan sayu, mencari kebenaran dari ucapannya.


Harlan menyentuh tangan Lupita "Katakan masalahmu, aku tidak akan membiarkan mu bersedih. Apa ini ada hubungannya dengan bibi mu?"


Lupita mengangguk pelan.


"Sudah kuduga, pasti ada hubungannya dengan Bibi mu! katakan apa masalahnya?


"Tadi pagi bibi mengusir ku?


"Dia berani Mengusir mu?! Harlan terlihat geram dengan alis terangkat. "Bukankah itu rumahmu? peninggalan Ayahmu?!


"kata Bibi rumah itu sudah dihibahkan atas nama Pamanku Imron."


Harlan terlihat kaget "Apa ada bukti-buktinya?


"Ada! Lupita membuka tas dan mengambil sebuah surat yang diberikan oleh bibinya tadi pagi. Lalu menyerahkan pada Harlan.


Harlan membaca surat hibah itu. "Ini ada yang tidak beres Lupi! sepertinya surat ini palsu?


Lupita terkejut "Benarkah surat itu palsu?


"Aku yakin surat ini palsu. karena aku tidak yakin orang tuamu memberikan rumah itu pada Pamanmu. Sementara Ayahmu masih memiliki seorang putri."


"Jadi Aku harus bagaimana? suara Lupita terdengar sedih, ia berharap Harlan bisa menemukan jalan keluarnya.


"Besok, akan aku selidiki surat ini. Bila benar ini surat palsu, kau bisa menuntutnya dan mereka harus pergi dari rumahmu!


Lupita mengangguk sambil tersenyum getir.


"Sudah tidak usah khawatir, ini akan menjadi urusanku. lalu dimana surat aslinya? ini hanya foto copy?


"Pasti masih sama Bibi."

__ADS_1


"Ya sudah aku akan bantu bicara dengan Bibi mu, untuk dia perlihatkan surat aslinya."


"Pasti bibi tidak akan terima dan marah marah padamu, sifat bibi sangat keras kepala, Paman pun tidak bisa berkutik."


"Kita tidak bisa diam saja seperti ini, Lupi! kau berhak tau surat asli itu, rumah itu hak mu. Kau harus perjuangkan."


"Iya Mas, Aku akan perjuangkan rumah kedua orang tuaku."


Mobil sudah berhenti di depan gang. Harlan membayar tagihan taksi.


"Berapa Pak? tanya Harlan


"Seratus delapan puluh empat ribu mas."


"Mas, biar aku saja yang bayar."


"Gak usah, aku sudah siapkan." Harlan memberikan dua lembar seratus ribuan dari saku celananya. "Tidak usah kembali Pak."


"Terima kasih Mas!


Lupita dan Harlan turun dari taksi. Mereka berjalan menuju rumah Lupita.


"Assalamualaikum..."


Lupita berulang kali memberi salam tapi tidak ada jawaban. ia memegang handle pintu dan ternyata terbuka.


"Ternyata tidak dikunci. Ayo Mas masuk!


Harlan masuk kedalam dan duduk di sofa yang sudah usang.


"Mas mau minum apa? tanya Lupi.


"Tidak usah repot-repot, ko tumben sepi."


"Terserah kau saja."


"Iya Mas, tumben rumah sepi, biasa ada Loly."


"Ya sudah aku buat kopi dulu ya Mas."


Lupita masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaian. Saat berada di dalam kamar ia mendengar suara ******* dari kamar Lolita. Kebetulan kamarnya bersebelahan dengan kamar Lolita.


"Suara apa sih! ko kaya suara merintih gitu? gumam Lupita polos. "Tapi kan tidak ada orang di rumah, apa Loly lagi tidur terus mengigau ya?


Lupita sudah selesai mengganti baju dan keluar dari kamar untuk kedapur. Saat melewati pintu kamar Loly, terdengar lagi suara ******* semakin keras.


"Apa aku ketuk pintunya saja ya? tapi pasti nanti dia teriak teriak. Sudah lah biarkan saja."


Lupita mengambil gelas dan menaruh kopi bungkus kedalam gelas, menuangkan air panas dan mengaduknya. Saat berjalan kearah ruangan tamu, suara aneh itu masih terdengar jelas. Lupi dengan terburu-buru berjalan cepat dan menaruh kopi diatas meja.


"Lupi kau kenapa? kenapa wajahmu memerah begitu? tanya Harlan bingung


Lupita menelan salivanya dan menarik nafas dalam-dalam "Itu Mas, aku mendengar suara aneh di kamar Lolita. Aku takut kenapa-napa, ko kayak orang kesakitan gitu ya?


Seketika wajah Harlan menekuk "Kau salah dengar kali? bukankah tidak ada orang di rumah?


"Ku pikir begitu, tapi ternyata dikamar Loly ada suara aneh gitu. Kaya nya dia lagi tidur dan mengigau deh. kalau aku ketuk pintunya pasti dia marah marah padaku.


"Boleh aku mendengarnya? takutnya Kenapa napa. kita wajib menolong Loly kalau sedang mengigau. dia itu lagi tidak sadar, kau harus membangun kannya, kalau tidak keluar kita dobrak saja pintunya." saran Harlan.


"Ya sudah Ayo..


Harlan mengikuti langkah Lupita menuju kamar Lolita. Saat di depan pintu Harlan mulai mendengarkan suara itu dan ia terkejut dengan mata membulat. Karena tidak ingin kesalahan, Harlan menarik tangan Lupita untuk menjauh.

__ADS_1


"Mas kenapa? suara apa itu? tanyanya polos.


"Kau tidak paham dengan suara itu?


Lupita menggeleng sambil mengerutkan keningnya. "Tidak Mas, tapi kenapa tidak di dobrak saja pintunya."


Wajah Harlan terlihat tegang, dia bingung mau menjelaskan pada Lupita yang sangat polos.


"Lupi? Sudah berapa kali kau mendengar suara aneh itu?


"Baru sekali ini Mas! emangnya kenapa?


"Sudahlah, kalau kau mendengar suara itu lagi, buru-buru kau tutup kuping dengan headset. ingat ya apa yang sudah aku bilang? Harlan melihat kepolosan Lupita tanpa di buat buat.


"Iya Mas!


Ceklek!


Terdengar suara pintu kamar Lolita terbuka. ia keluar kamar hanya memakai handuk sebatas dada. Sebenarnya tubuh loly polos, tapi terbungkus handuk. Saat menutup pintu ia terkejut melihat Lupita dan Harlan sedang berada di ruangan tamu.


"Sialan si Lupi, dia udah pulang! jangan jangan dia mendengar suaraku tadi! awas saja kalau Lupi bikin gosip. Aku akan kasih pelajaran!


Buru buru Loly berlari ke kamar mandi.


"Ceklek! suara pintu kamar Surti terbuka. ia keluar kamar, melihat Harlan dan Lupita di ruangan tamu dengan ekspresi kaget.


"Ohh ada tamu! masih sore udah nongkrong di rumah orang! nongkrong tuh di warkop bukan di sini! sindir Surti cetus.


"Bibi! tolong hargai tamu aku! Mas Harlan kesini ada perlu dengan Bibi!


"Dengan saya? ada perlu apa ya? sepertinya saya tidak punya urusan denganmu!


"Bibi dengarkan dulu! sela Lupita.


"Emangnya kamu mau ngomong apa!


[Andai bukan bibi Lupita, sudah aku jebloskan ke penjara, sekalian biar kapok! aku tidak ingin menunjukkan kekuasaan ku didepan Lupita." Aku tidak ingin Lupita tau dulu, siapa aku]


"Maaf sebelumnya, bukan aku ingin ikut campur masalah Lupita. Tapi tidak ada salahnya aku bertanya mengenai surat hiba yang orangtua Lupi berikan pada Pamannya."


Jedar...


Surti membanting pintu kamar.


"Apa urusanmu ikut campur dengan urusan keluarga ku! menunjuk wajah Harlan.


"Terserah kalau bibi anggap aku ikut campur, Aku hanya ingin membantu Lupi saja! karena aku peduli!"


"Alah! nggak usah pakai belaian si Lupi! kamu emangnya siapanya Lupi! teriak Surti dengan wajah bengis nya.


"Bibi! tidak perlu berteriak seperti itu! Mas Harlan hanya bertanya baik-baik, kenapa harus marah marah!"


Surti tidak terima, ia terus mengoceh tak karuan. Di saat keadaan rumah sedang kacau, Lolita mengambil kesempatan. Ia membawa seorang pria keluar dari kamarnya lewat pintu belakang. Lupita ingin memergokinya tapi ia urungkan, ia takut bibinya bertambah murka.


'


'


'


'


@Bersambung.....💃💃💃

__ADS_1


__ADS_2