
Satu tangan Harlan di masukkan kedalam saku, dan satunya memegang gelas."Mungkin kedengarannya agak konyol, tapi jujur aku lebih menyukai air putih biasa daripada Alkohol, air putih bagus untuk kesehatan bukan? Harlan masih tersenyum dengan gaya khasnya.
"Hahaha..Nona Margaretha! tertawa jahat. "lihatlah wajahmu begitu kesal dan jengkel, kau tidak akan bisa mengakali Tuan Georgie dengan otak kotor mu! Pria didepan mu tidak mudah di perdaya, ia lebih pintar darimu! gumam William dalam hati, ia menatap benci Margaret dan tersenyum jahat.
Malam itu setelah acara pesta, Harlan datang menemui Paman nya yang sudah pulang dari rumah sakit.
"Selamat malam Tuan! sapa pelayan Alfonso sopan.
"Dimana Paman?
"Di ruangan kerjanya Tuan! mari saya antarkan."
Harlan mengikuti langkah pelayan itu menuju ruangan kerja Alfonso.
Ceklek!
"Malam Tuan! membungkuk "Maaf ada Tuan Georgie ingin menemui anda."
"Baik!
"Silahkan masuk Tuan Georgie." pinta pelayan itu.
"Terima kasih!
Harlan berjalan masuk kedalam ruangan kerja Alfonso.
"Malam Paman!
"Georgie? ada perlu apa berkunjung kerumah Paman." Alfonso berjalan kearah Harlan, mereka berangkulan.
"Ada yang harus aku bicarakan Paman."
"Iya katakan lah!
"Paman, aku harus kembali secepatnya, ibu asuh menelpon ia sedang sakit' dan aku tak tega meninggalkannya sendiri."
"Bukankah ada pelayan disana?
"Pelayan bukanlah anak ataupun saudara, ibu asuh membutuhkan ku!
"Kau pikir Paman tidak membutuhkan mu. Pamanmu ini adalah adik dari ayahmu Alfredo.
kita satu darah, Kenapa kau perdulikan orang lain daripada paman mu sendiri.
"Paman, ibu asuh sudah seperti ibu kandungku sendiri, dialah yang merawat aku sejak usiaku sepuluh tahun, ibu asuh selalu ada buatku. jangan membandingkannya dengan paman." Harlan menepuk pundak Alfonso dan tersenyum sumringah "Paman juga sangat penting dalam hidupku. aku mohon Paman, biarkan aku kembali ke Jakarta.
Alfonso menghela nafas panjang, melihat keponakannya dengan ekspresi memohon. "Waktu peresmian tinggal dua Minggu lagi, Paman minta tinggallah satu minggu lagi disini. baru kau boleh kembali ke Jakarta."
"Harlan mengangguk setuju "Oke Paman aku akan turuti perintah Paman!
*****
__ADS_1
Lupita masih berada di ruangan kerjanya, ia masih sibuk mendesain sebuah bangunan perkantoran. Matanya tertuju pada seorang cleaning servis yang masuk kedalam ruangan sambil membawa nampan berisi kopi.
"Wati! gumam nya. "Sudah dua hari dia menghilang, aku harus menanyakan lagi siapa orang yang sudah mencuri uang ku!"
Lupita keluar dari ruangan dan mengejar wati cleaning servis itu.
"Mba wati! menarik tangan wanita itu "Mba aku minta tolong banget, siapa yang sudah mengambil uang aku Mba!
"Saya tidak tahu kak, saya tidak melihat orang nya! wati pergi begitu saja dan terus menghindar.
"Ya Allah, kenapa tidak ada satupun orang yang mau membantu aku? semoga yang mencuri uangku sadar dan kembalikan hak milikku."
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, semua karyawan sudah keluar kantor untuk beristirahat, ada juga yang makan siang di kantin.
Di jam istirahat Lupita berjalan keluar gedung perkantoran menuju kantor Harlan yang bersebelahan dengan kantor Vandeles. Entah knapa hatinya selalu ingin datang kesana.
"Apakah aku salah bila datang kekantor mas Harlan dan menanyakan keadaannya? gumamnya bicara sendiri, ia menghentikan langkahnya dan terus berfikir. "Tidak! aku harus menemuinya." Lupita melanjutkan langkahnya.
Didalam gedung perkantoran itu Lupita bertanya pada repsesionis.
"Siang Mba? maaf mau tanya, apa saya bisa menemui kurir bernama Mas Harlan."
Wanita repsesionis itu mengeryitkan dahinya "Maaf Mba gedung ini ada banyak kantor, nama yang Mba cari ada dilantai berapa? dan apa nama PT nya.
"Ohh! ini bukan kantor milik sendiri, maksudnya perusahaan milik perorangan."
"Disini banyak kantor Mba, kalau ingin mencari seseorang harus tau dulu nama PT nya, dari situ baru bisa tau nama yang Mba cari."
"Aku lupa tidak tanya PT nya, yang ku tahu ia bekerja di gedung ini sebagai kurir. Kalau begitu saya permisi dulu Mba."
Jam makan siang sudah selesai, Lupita masuk kedalam ruangan kerjanya. Saat ia membuka pintu kaca seseorang meneriakinya.
"Dasar wanita pencuri!
Semua mata tertuju padanya. Lupita terkejut dan tercengang, kenapa semua karyawan yang berada didalam ruangan desain menatap tak suka.
"Apa maksud Pak Yono? aku mencuri apa? tanya Lupita menatap bingung.
"Desain ini milikku kan? memperlihatkan sebuah Makalah "Kau berani mencuri dan merubah struktur yang aku buat, apa namanya kalau bukan pencuri!
Lupita terperanjat kaget, kalau desain yang sudah dibuang itu ada ditangan pemilik nya.
"Pak Yono! Bapak jangan salah paham padaku. Bukankah waktu itu bapak menyuruh aku membuang ke tong sampah, kupikir sudah tidak terpakai lagi dan aku membawanya pulang untuk di pelajari, dan aku merubah beberapa bagian dan merevisinya hanya di waktu senggang saja.'
"Tapi sama aja itu mengambil hak milik orang lain!
"Itu tidak benar, aku tidak mencurinya karena pak Yono sudah membuangnya. Makanya aku mengambil yang sudah dibuang!" mata Lupita sudah berkaca-kaca.
"Sekarang kau ikut aku kerungan Pak direktur! bentak Yono emosi.
"Bawa saja kerungan Pak Andrea, biar dia di pecat, beraninya mengambil desain orang! rutuk Anton menimpali.
__ADS_1
Lupita digiring ke ruangan Pak Andreas Direktur utama di perusahaan Vandeles. Lupita dan Yono sudah berada di ruangan Direktur. Yono sangat bersemangat menceritakannya.
"Tidak Tuan, itu tidak benar! aku tidak mencurinya. Pak Yono sendri yang menyuruh membuangnya ke tong sampah dan aku mengambilnya!"
"kau tidak usah berkelit lagi! dan ini buktinya! Yono memberikan Makala desain itu pada direktur Andreas.
Direktur yang bernama Andreas itu menatap Lupita yang terlihat tegang dan ketakutan. "Nona Lupita, setelah saya pertimbangkan dan melihat bukti ini. Nona sudah mengambil hak milik Pak Yono, anda saya pecat!
Apa..?! bagai disambar petir, jantung lupita hampir berhenti. Airmata sudah mencair dan menetes di pipinya. ia menelan salivanya menahan getir dihatinya.
"Tuan pecat saya? tanya Lupita tak percaya.
"Iya! mulai besok tidak perlu masuk lagi!
Tapi Tuan aku tidak mencurinya, aku berani sumpah!
"Pergilah dari ruangan ku! seru Andreas.
"Baik Tuan, terima kasih! Lupita keluar ruangan dengan langkah gontai. Didalam ruangannya Lupita mengambil tas dan membereskan berkas desain diatas meja. Setelah berada di diluar gedung Ia memandang perkantoran Vandeles yang menjulang tinggi, dadanya begitu sesak. Ia terus melangkah pergi membawa hati terluka.
Didalam angkot Lupita terus merenung. ia di fitnah dan di pecat secara tak hormat karena kesalahpahaman. berkali-kali ia mengusap airmata yang terus menetes. Lupita tak peduli tatapan penumpang didalam angkot. Tiba-tiba jalanan arah ke tempatnya macet.
"Ada apa? tanya supir angkot pada temannya.
"Ada kebakaran warung dipinggir jalan!
"Deg! tiba-tiba jantung lupita berdebar kencang. ia merasa gelisah, pikirannya sudah tak karuan.
"Bang berhenti disini saja! Lupita membayar angkot dan turun dari mobil. ia terus berjalan cepat untuk sampai di depan gang. kobaran api semakin jelas terlihat, Lupita penasaran dan terus berjalan kearah warung Pamannya yang berada di pinggir jalan. Saat sudah dekat Lupita terperanjat kaget, ia hampir saja pingsan.
"Paman! Lupita berlari kearah pamannya yang sedang meraung di depan kobaran api. "Ya Allah, warung Paman kebakaran? siapa yang sudah tega melakukan ini semua! Lupita berseru.
"Paman jangan! teriak Lupita ikut menarik tubuh Pamannya bersama orang-orang disekitarnya.
"Pak Imron jangan nekad pak! teriak orang orang yang berada disana.
"Paman! sebenarnya apa yang sudah terjadi! Lupita bertanya sambil merangkul pundak Imron.
"Ini perbuatan anak buah juragan Karyo! mereka yang membakar warung Ayahku! teriak Lolita menangis histeris.
"Warung ku habis terbakar bersama barang barang didalam nya! imron jatuh terduduk di tanah. Sebagian orang-orang sudah membantu memadamkan api dengan membawa air di dalam ember.
Seketika Api padam. tersisa puing puing bangunan bata yang hancur, sebagian warung itu memakai kayu dan triplek sudah habis terbakar. Imron terus meratapi nasib dan warungnya. Kini tidak ada lagi mata pencarian untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari. Lupita hanya menatap iba pamannya dan membujuk untuk pulang.
'
'
'
'
__ADS_1
'
@Bersambung......💃💃💃