Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Jalan-jalan Ke Monas


__ADS_3

"Kau jahat mas...huwaaa..." tangisan Lupita seketika meledak seraya memukul-mukul dada bidangnya. Harlan bukannya marah, ia malah membiarkan Lupita melampiaskan kekesalan pada dadanya. Setelah lelah, Harlan memeluk erat tubuh Lupi masuk kedalam dekapannya. Lupita tidak menolak dekapannya, merasakan kehangatan dalam pelukan suaminya. Senyuman sumringah tersungging di bibir Harlan, ia telah berhasil mengetahui isi hati istrinya.


Baru pertama kalinya Harlan dan Lupita bersentuhan, dari sejak pertama kali mereka saling mengenal, hingga akhirnya menikah. Belum pernah tersentuh sama sekali, apalagi berpelukan. Dengan lembut Harlan mencium kening istrinya.


Seketika Lupita tersentak kaget saat mendapat ciuman dari suaminya. Tangisannya terhenti, hanya isakan pelan yang terdengar lirih. Lupi mengendurkan pelukannya dan menunduk, rasa malu menyeruak dengan apa yang sudah ia perbuat tadi.


"Gimana, sudah tenang kan? tersenyum tipis.


"Mas jahat! kenapa aku di Prank! Lupi mengerucutkan bibirnya.


"Maaf ya, sudah buat kamu menangis." mengacak rambut Lupita.


"Lain kali jangan begitu lagi ya, Mas."


"Ya sudah istirahat, sudah malam." tangan kekar Harlan mengusap lembut airmata Lupi yang tersisa.


"Tapi Mas benarkan belum pernah menikah? tanyanya lagi, mengangkat matanya menatap Harlan serius.


"Apa kau masih ragu? Apa kau lupa saat Pak RT minta KTP Mas, kalau sudah menikah pasti di KTP itu sudah ada keterangannya donk."


Lupita terdiam.


"Ini sudah jam sebelas, tidurlah." mengelus pucuk kepala Lupita. lalu Harlan berjalan keluar meninggalkan kamar Lupita.


Helaan nafas lega keluar dari bibirnya. Setelah menutup pintu Lupita membaringkan tubuhnya diatas kasur. "Apa tadi aku tidak salah? Mas Harlan untuk pertama kalinya mencium kening dan mengusap rambut ku. kenapa ada rasa nyaman dan senang saat ia membekap tubuhku. Ciuman itu berasa hangat walau hanya di kening. Seumur hidupku baru sekali ini aku di cium dan di peluk laki-laki, yaitu suamiku sendiri." Lupita menertawakan dirinya sendiri. Rasa kantuk mulai menyerang, tak terasa ia tertidur lelap.


Jam empat subuh Lupita sudah bangun. ia masuk kedalam kamar mandi, Setelah mandi ia menjalankan sholat subuh. Aktivitas setiap hari ia lakukan membuatkan kopi untuk suaminya dan sarapan di pagi hari.


Pintu kamar terbuka, Harlan keluar dengan membawa handuk di pundaknya.


"Sedang masak apa? tanyanya yang sudah berdiri di belakang Lupi.


'Nasi goreng ceplok telor, sebelum berangkat ke pasar kita makan dulu ya, Mas."


"Iya, aku mandi dulu ya."


Dua piring nasi goreng sudah berada di atas meja makan bersama satu cangkir kopi hitam. Lima belas menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dan mengganti baju di kamar.


Harlan menarik kursi dan duduk, satu tangannya menyugar rambutnya yang masih basah. Pemandangan yang indah itu, tidak Lupi lewatkan, Harlan terlihat cool dan tampan pagi itu.


"Hey! kenapa melamun? pagi-pagi tidak boleh melamun, anak ayam tetangga nanti mati."


"Apa hubungannya melamun sama Anak ayam mati, mas? tanya Lupita, seraya memasukkan nasi goreng kedalam mulutnya.


Harlan hanya gelengkan kepala, seraya tersenyum tipis. ia mulai menikmati nasi goreng buatan istrinya.


"Sekarang kita mau kemana dulu?


"Kita jalan-jalan dulu ke Monas ya mas, baru siangnya kita belanja ke pasar."


"Iya, Mas ikut kemana kau mau."


Mereka sudah selesai sarapan, Harlan menghabiskan kopi sebelum pergi. Lupita mengganti kemeja motif bunga di padu celana jeans. rambut panjangnya di kuncir kuda, sederhana tapi terlihat cantik.

__ADS_1


Setelah pintu sudah terkunci. Mereka berdua naik sepeda motor. Motor melaju dengan kecepatan sedang, menuju Tugu Monas.


"Lupi, pegangan tangan mu, nanti kau jatuh! perintah Harlan. Dengan malu-malu Lupi memeluk pinggang Harlan dari belakang, Harlan tersenyum puas.


Satu jam setengah perjalanan motor sampai di tempat tujuan. Harlan memarkirkan motornya. Lupita begitu senang menatap Tugu Monas dari kejauhan.


"Mas, kita naik keatas itu yuk."


"Apa kau tidak takut? tempat itu sangat tinggi."


"Ada lift kalau mau keatas itu, dan banyak ko yang naik keatas. Boleh ya?! rengek Lupita.


"Ya sudah Ayo! Harlan mengalah dan mengikuti langkah istrinya masuk kedalam ruangan, di dalam juga ada tangga menuju keatas.


"Mas sini, kita naik lift ajh." menarik tangan Harlan. Mereka masuk bersama rombongan yang lain, ikut naik keatas Monas.


TING!


Sesampai diatas, Mereka keluar dari lift. Harlan melihat Lupi begitu senang dan bahagia. Mereka bisa melihat mobil berkendara terlihat sangat kecil seperti semut. Angin sepoi-sepoi menerbangkan anak rambut Lupita kesana-kemari. hembusan angin terasa sekali, hingga menembus tulang dan kulit. Mereka tertawa bersama, mengabadikannya momen yang indah dengan berfoto bersama, mengambil selvi berbagai gaya. Harlan begitu menikmati momen bahagia itu.


"Membuat orang bahagia itu sangat mudah, hanya membuatnya nyaman dan bisa tertawa lepas, tanpa ada beban. bahkan orang merasa senang dan bahagia tanpa harus di kelilingi banyak materi." gumamnya


Ia terus perhatikan Lupita yang begitu gembira sambil tertawa lepas. Lupi mulai banyak bicara apa saja dengannya. Tak perlu jalan-jalan ke luar negri dan berfoya-foya, yang bisa menghabiskan biaya piluhan juta. Cukup liburan murah dan makan di pinggir jalan sudah membuat Lupita bahagia.


"Mas, kita turun yuk. Aku sudah lapar, ini sudah masuk jam makan siang."


Harlan mengangguk. Mereka berdua turun kebawah menggunakan lift.


"Aku ingin makan ketoprak itu, Mas! menunjuk lapak ketoprak yang berada di bawah pohon.


"Ayo Mas! menarik tangan Harlan. Harlan mengikuti langkah Lupi, dan duduk di sebuah kursi plastik bertenda biru.


"Bang ketoprak dua ya...?


"Iya Neng, sebentar ya? minimnya apa?


"Air mineral botol kemasan ajah bang."


"Iya Nang!


Tak berapa lama ketoprak selesai di buat, Harlan dan Lupita menikmati ketoprak siang itu. sesekali Harlan menatap mimik wajah Lupita yang sedang makan, terlihat sangat lucu.


["Ya Tuhan, istiku sangat menggemaskan."]


"Lupi, makanya pelan-pelan saja." Ia melihat di ujung bibir Lupi ada sisa makanan, Harlan mengambil tissue dan mengelapnya. Lupita yang merasa di perhatikan, tersipu malu.


"Biar Mas yang suapin, kau makannya berantakan." mengambil piring Lupita


"Nggak usah Mas."


Harlan menyodorkan sendok ke bibir Lupi. akhirnya Lupi menerima suapan suaminya. Ia merasa, ini adalah makan siang yang paling romantis. Lupi tak menyangka Harlan yang dingin dan pendiam bisa seromantis itu.


Selesai makan, mereka meninggalkan Monas untuk pergi ke Mall mencari TV dan kulkas. Satu jam kemudian mereka sampai di depan Mall Galaxy XX.

__ADS_1


"Mas kenapa beli di Mall? pasti disini mahal, kalau dipasarkan harganya miring."


"kalau beli di mall itu kan ada harga bandrolnya, kalau di pasar pasti harganya tebak-tebakan. Sudah sama saja kita beli di sini."


Lupita menurut dan masuk kedalam Mall. Mereka masuk kedalam toko elektronik dan mulai mencari keinginan Lupita.


"Ambil TV yang 42 inci." saran Harlan


"Untuk apa sebesar itu mas, cukup yang 32 inci, ini juga sudah besar."


Mereka berjalan ke stand kulkas.


"Ambil yang ini saja, dua pintu."


"Jangan Mas, kita ambil yang satu pintu saja, kita hidup cuma berdua kan?"


"Kata siapa berdua? nanti rumah kita akan di penuhi anak-anak yang lucu-lucu." ucap Harlan spontan, ia tersenyum lebar seraya membuka pintu kulkas.


Seketika wajah Lupita memerah mendengar Harlan bicara anak. "Apa Mas Harlan menginginkan anak dari ku? gumamnya dalam hati. "Duh, Kenapa jantung ku jadi berdebar begini ya? bagaimana kalau Mas Harlan meminta hak nya?!


"Hey, kenapa melamun?! Mas seringkali melihat mu melamun."


"Ehh..iya Mas, maaf..."


"Jadi ambil yang mana?! tanya Harlan


"Ya sudah dua pintu nggak apa-apa."


Harlan tersenyum tipis, ternyata Lupita merespon ucapannya, sindiran telak buat Lupita soal anak.


"Sudah Mas, aku mau bayar ke kasir.


"Lupi, sekalian beli mesin cuci dan kipas angin ya, Kalau malam aku hampir tak bisa tidur."


"Buat apa mesin cuci, Mas?


"Mas nggak tega kamu nyuci pakai tangan. kalau uangnya kurang biar Mas yang bayarin."


"Nggak usah Mas, uangnya juga masih lebih kok. Ya sudah tambah mesin cuci dan kipas angin ya."


Harlan mengangguk.


Lupita dan Harlan menuju kasir. Sebenarnya Harlan ingin mengeluarkan kartu Black tanpa limit, tapi ia takut Lupita curiga.


Selesai pembayaran mereka berdua pulang ke rumah menjelang sore.


🌺


🌺


🌺


@BERSAMBUNG.......

__ADS_1


__ADS_2