
WELCOME BACK READERS!!❤️❤️
Tolong kasih jejak kalian setelah membaca!! HAPPY READING ❤️
...•••••...
Bandara
Dua pemuda tampan berjalan beriringan dengan ekspresi wajah tanpa ekspresi dan tatapan tajam dikawal banyak bodyguard berbadan kekar.
Mereka tidak datang berdua melainkan dengan seseorang yang ada di gendongan salah satu pemuda tampan tersebut siapa lagi kalau bukan Retha.
Karena pesawat mendarat pada tengah malam dimana Retha sedang asik di alam mimpi. Maka dari itu Marvel menggendong Retha ala koala dengan kepala ditutup tudung jaket membuat wajah Retha tidak terlihat.
Mereka memang berangkat bertiga karena Rafael harus menyelesaikan urusan bersama kakak iparnya yang sudah menetap di new York sedari dulu.
"Eghh--". Lenguh Retha saat tidurnya mulai terganggu.
"Tidur lagi, sebentar lagi sampai". Ucap Marvel lebih membenarkan rambut Retha yang menghalangi wajah.
Tidak ada niatan bangun sama sekali malahan Retha memilih kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Marvel dengan sangat nyaman.
Baru juga menutup mata beberapa menit yang lalu tiba tiba, .
Ckitttt
Bugh
"Hiks, hiks. Abang~". Rengek Retha terbangun karena kepalanya terbentur sisi mobil.
Plak
"Lo apa apaan sih, bisa bawa mobil gak". Marvel memukul lengan Arga dengan keras lalu mengusap kepala Retha yang sudah terbangun.
"Tidur lagi".
Kepala Retha menggeleng dengan air mata terus mengalir mengelus kepala nya yang sedikit pusing.
Dengan lembut Marvel menghapus air mata Retha dan merapihkan helai rambut yang menjuntai ke depan.
"Minum dulu". Ucap Marvel menyodorkan botol air mineral ke dapan Retha yang langsung diminum tanpa menolak.
"Bang lihat". Tunjuk Arga meminta Marvel menatap ke depan.
Marvel mengikuti arah pandang Arga dan netra matanya menatap orang berbaju hitam lebih dari satu sedang mengeroyok seseorang yang jaraknya agak jauh dari mobil.
Itulah alasan kenapa Arga tiba tiba menginjak rem mendadak.
"Jangan ikut campur". Ujar Marvel kepada Arga saat melihat lambang yang tertera di belakang baju yang tak asing untuk Marvel.
Arga menatap Marvel dengan tatapan meminta izin untuk dirinya menolong orang itu.
__ADS_1
"Kalian tunggu disini biar Abang yang urus". Arga mengangguk dengan ucapan sang kakak.
Sebelum keluar Marvel menggeser duduknya ke pojok lalu memindahkan Retha di kursi yang tadi mereka duduki.
Marvel keluar dengan tatapan tajam menatap 4 lawan 1 dihadapannya. Ditambah sang lawan sudah terbaring di atas jalan sambil menutupi bagian kepala.
Namun langkah kakinya terhenti lalu berlanjut berjalan ke arah samping. Ia mengambil ponsel yang ada di dalam saku dan tangannya terus menekan layar ponsel untuk melakukan sesuatu.
Wiuw wiuw wiuw
Wiuw wiuw wiuw
Terdengar suara polisi membuat 4 orang yang sedang mengeroyok seseorang berlari terbirit-birit kabur dari lokasi.
Melihat semuanya sudah pergi barulah Marvel berjalan mendekat ke arah seseorang yang sedang berbaring lemah.
Lengan Marvel terulur namun terhenti saat orang itu bangun membuat rambut panjangnya yang di kuncir kuda menjuntai indah berwarna putih. Berarti orang itu seorang wanita.
Jujur Marvel sampai tersentak kaget tapi pemuda itu masih bisa menyembunyikan wajahnya dengan baik.
Sebelum pergi gadis itu menatap kebelakang sekilas dimana Marvel berada masih menatap pergerakan di depannya tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Angel of death". Batin Marvel terus menatap punggung gadis itu yang kian menghilang tertutup gelap malam.
Lamunan Marvel dibuyarkan saat mobil Arga berhenti di samping kanan.
"Gimana bang?". Tanya Arga sambil melajukan mobilnya melanjutkan perjalanan pulang.
"Angel of death?". Arga kaget.
"Hm".
Suasana kembali hening dengan pikiran kedua pemuda tampan yang berbeda. Sedangkan Retha yang kembali duduk di pangkuan Marvel asik memakan cemilan yang dua abangnya bawa.
••••
Di sisi lain gadis yang sudah babak belur memasuki pekarangan mansion yang sangat mewah.
Kaki jenjangnya melangkah memasuki lift memencet lantai 3 dimana kamarnya berada.
Mansion itu memang sangat sepi karena ia tinggal seorang diri.
Drrrttt drrrttt drrrttt
"Hm". Dehem gadis itu setelah menggeser tombol hijau.
"Are you okay? Sorry gue gak sempat nolongin lo karena markas diserang". Terdengar suara pemuda di sebrang telpon dengan nada cemas.
"I'ts okay, i'm okay". Jedanya sebentar. "Kondisi markas gimana?".
__ADS_1
"SHASHA~". Suara pemuda lain menggema di sebrang membuat gadis yang dipanggil Shasha menjauhkan handphonenya dari telinga.
"FERDY~". Balas Shasha kesal lalu mematikan panggilan secara sepihak.
PIP*
Gadis itu tidak memikirkan orang yang ada di sebrang telpon ngoceh seperti apa. Lagian moodnya keduluan pecah berantakan. Ditambah rasa sakitnya yang sudah mulai terasa padahal sudah diobati dengan benar.
Perkenalan sedikit.
Shasha atau nama panjangnya Zaskia Shaquille Queenzhe. Itu bukanlah nama asli gadis tersebut. Nama aslinya Zaskia Humaira Danuarta, Tapi karena fitnah si pelakor membuat Shasha mengganti apapun yang berkaitan Danuarta dalam hidupnya bahkan hatinya sudah diliputi dendam setelah meninggalnya wanita yang sangat dia sayangi yaitu Felicia Danuarta sang mami.
Skip :)
Kembali ke Shasha.
Gadis itu berniat untuk langsung istirahat tapi perutnya sangat lapar. Mau tidak mau Shasha harus pergi ke dapur untuk membuat makanan atau sekedar makan cemilan.
Shasha yang tidak suka keramaian memilih untuk tinggal sendiri. Masalah rumah, ia memang mengerjakan maid tapi para maid tinggal di paviliun yang letaknya agak jauh dari mension.
Jadi akhirnya Shasha memutuskan untuk membuat nasi goreng yang cukup simpel agar cepat masak. Perutnya sangat sangat lapar ditambah badannya yang lumayan remuk dikeroyok.
"Pemuda itu sepertinya gue kenal dari matanya tapi siapa?".
"SHASHA~".
Lamunan Shasha buyar mendengar teriakkan menggema di seluruh mansion. Ia juga tahu siapa dalang dari semua yang mengacaukan moodnya saat ini.
"FERDIANJING~!!". Balas Shasha juga berteriak kencang.
"Queen jangan teriak nanti tenggorokan kamu sakit". Ucap lintang, si waket AOD mengambil alih sendok di tangan Shasha.
Pemuda itu melanjutkan acara masak Shasha yang hampir masak.
Lintang memang sudah dianggap sebagai abangnya sendiri dari pertama kali mereka bertemu di tragedi bus beberapa tahun yang lalu saat Shasha baru kaluar dari Danuarta.
Lintang juga yang merawat Shasha sampai sembuh dan sampai bangkit seperti sekarang.
Lintang bukan orang biasa, dia pebisnis muda yang sedang meneruskan bisnis keluarganya setelah pembantai olah saudara kandungnya sendiri. Dimana dia adalah adik sang ayah yang serakah.
Dengan tatapan permusuhan Shasha duduk di kursi panty sedangkan Ferdy duduk di meja makan dengan santai setelah mengambil cemilan di lemari samping kulkas.
Satu lagi, Galang. Pemuda itu diam dengan anteng di kursi samping Ferdy menatap ponsel miringnya sedari ia datang. Dimana mana nge-game tak akan terlewatkan begitu saja.
"Makan yang banyak, udah diobatin lukanya". Lintang meletakan piring berisi nasi goreng di depan Shasha tak lupa menuangkan air minum.
Kepala Shasha mengangguk mengiyakan karena mulutnya sudah dimasukan nasi. Tidak akan ada suara yang keluar saat dirinya sedang makan.
...•••••...
TBC
__ADS_1
Jangan lupa like dan commentnya kalo kalian suka cerita ini ❤️ See u next part 🥰