Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Aku Harus Pergi


__ADS_3

"Iya tidak apa-apa Bu, saya permisi dulu."


Lupita berpamitan dan melangkahkan kakinya.


"Bii! kata kak Harlan ia masih menghadiri rapat penting, jadi agak terlambat datang kemarinya."


Deg! seketika Lupita menghentikan langkahnya, ia membalikkan tubuhnya "Tadi dia sebut nama Mas Harlan, suamiku?"


"Tidak mungkin, nama Mas Harlan itu kan banyak, mungkin hanya kebetulan saja namanya sama." lupita melanjutkan jalannya ke arah toilet.


Selesai buang air kecil, Lupi mencuci wajahnya di wastafel dan merapikan riasan wajahnya tipis." ia kembali keluar, saat keluar dari lorong toilet, Lupi berpapasan kembali dengan wanita paruh baya tadi.


"Maaf Mba, dimana toiletnya?


"Ibu yang tadi ya? Lupi tersenyum "Sebelah sana bu, mari saya antar."


Wanita itu mengangguk dan berjalan beriringan kearah toilet.


"Ibu kesini dengan siapa? tanya Lupita basa-basi.


"Sama keponakan ibu, rencana mau makan bersama anak ibu, tapi katanya masih di jalan."


"Ohhh..! Ya sudah saya kembali dulu ya Bu, ini toilet nya."


"Terima kasih banyak ya, Nak..."


"Iya bu.. sama-sama."


Lupita berjalan kembali ketempat semula.


"Mana temen Mba Inez, dari tadi aku tidak melihat batang hidungnya


"Sebentar lagi, katanya masih sibuk di dalam."


"Apa maksud Mbak ines, kok sibuk di dalam?


"Iya kan temanku, pemilik kafe ini."


"Ohhh...."


"Baiklah, kita tunggu setengah jam lagi. Bila teman Mbak ines belum muncul juga, aku langsung pulang duluan ya, takut suamiku sudah pulang."


"Hey Inez! terdengar suara pria dibelakang punggung lupita, Lupi sangat apal betul suara itu, ia memutar tubuhnya dan melihat sosok pria sedang berdiri tersenyum padanya


"Damar! kau ada di sini juga?


Damar berjalan dan duduk diantara mereka berdua.


"Apa kabar Lupi? seminggu lebih kita tidak bertemu? tanya Damar masih dengan senyum ramahnya.


"Kabarku baik-baik saja


"kau sendiri kenapa harus meninggalkan kantor? apa Bos vadeless memecat mu?"


"Entahlah aku juga tidak mengerti, tiba-tiba aku diberhentikan dari kerja dengan alasan pemindahan kantor cabang. Aku langsung mundur dari perusahaan Vandeles, untuk apa bertahan di perusahaan yang tidak pernah menghargai kita!" ujarnya berdecak kesal.


"Apa ada hubungannya dengan aku ya? Ahh... tidak mungkin, memangnya aku siapa di perusahaan Vandeles? hanya karyawan magang." gumam Lupi dalam hati.

__ADS_1


"Akhirnya kau datang tepat waktu! tadinya Lupita sudah mau meninggalkan cafe ini! untung.kau cepat datang sindir inez.


"Jadi kalian sudah saling kenal? Lupita menatap dua orang di depannya.


"kami sudah kenal lama Lupi, dari dulu satu perusahaan dengan Damar. Setelah perusahaan kami bergabung dengan perusahaan tuan Vandeles, Damar dipindahkan ke pusat, setelah Damar resign, baru aku menggantikannya posisi Damar."


Lupita mengangguk seraya menyedot es jeruk di depannya. "Jadi yang kau maksud teman mu itu Damar? pemilik Cafe ini?


"Iya... Damar lah pemilik Cafe ini!


"Wah nggak nyangka ya, kau ternyata orang sukses juga."


"Biasa ajah kok, aku bersama kawanku yang kelola Cafe ini."


"Aku harus pulang, aku tidak mau nanti ada yang mengenaliku, apalagi sampai suamiku tahu keberadaan ku bersama Damar? dia itukan kurir pasti suka berada dimana saja.' gumamnya dalam hati


"Ini sudah terlalu malam, lebih baik aku pulang, ya!"


"Lupita tunggu! kita baru saja bertemu. aku sendiri yang akan antar kau pulang


"Tidak usah Damar! aku bisa pulang sendiri, aku tidak ingin merepotkan siapapun. Maaf aku permisi dulu, Lupita mengambil tas diatas meja dan melangkah pergi meninggalkan Inez dan Damar.


"Damar, aku juga pulang dulu, aku akan mengantarkan Lupita sampai rumah. Tidak enak, tadi aku yang memaksanya datang kemari atas permintaan mu! Inez beranjak dari duduknya dan mengejar Lupita.


"Lupita...! Lupita tunggu!


Saat Lupita sudah depan pintu kaca, ia menoleh ke belakang di saat bersamaan, masuk dua orang Pria masuk berjas dan melewati Lupita. Dua orang pria itu sepertinya sedang terburu-buru dengan langkah cepat mereka masuk kedalam Cafe.


Inez membelalakkan matanya, rasa terkejutnya tidak bisa dihindari, terlebih jantungnya melompat-lompat saat melihat Pria idolanya lewat.


"Kau kenapa Inez? wajahmu merah kayak tomat! Lupita terkekeh dan menarik pintu kaca Keluar dari Cafe.


Lupita menggeleng "Siapa...?!


"Tuan George bersama asisten William."


"Benarkah?!


"Iya! masa aku bohong! mereka tadi lewat di depanmu!"


"Ya sudah biarkan saja, aku mau pulang!


"Ayo kita lihat sebentar, merek mencari siapa ditempat ini! Inez menarik tangan Lupi, dan kembali masuk kedalam Cafe.


Inez yang penasaran masih terus menarik Lupita, dan Inez mencari dua sosok Pria yang ia lihat Georgie dan Wiliam, sambil menajamkan mata liarnya. "Nah itu dia!


Lupita melihat dua Pria berjas itu duduk membelakanginya, bersama wanita paruh baya yang sempat mengantarnya ke toilet.


"Ohh dia masih kerabat ibu tadi, tapi dilihat dari fostur tubuh mereka yang asli orang luar sangat berbeda dengan wanita paruh baya dan gadis di sampingnya."


"Kau mengenalnya? tanya inez mengerutkan keningnya.


"Iya, wanita paruh baya itu yang tadi menjatuhkan tasnya, tak sengaja didepan ku, terus di saat aku keluar dari toilet bertemu lagi."


"Jadi tuan Vandeles kesini hanya ingin bertemu dengan dua wanita itu? sepertinya Cafe ini, tidak cocok untuk tongkrongan Bos besar sekelas tuan Vandeles? siapa mereka ya.." tanya Inez terlihat penasaran.


"Ya sudah, itu urusan mereka. Aku ingin pulang, takut suamiku pulang!"

__ADS_1


"Apa kau tidak penasaran? ingin melihat wajah Tuan Georgie Vandeles?"


"Penasaran sih! sebenarnya walau tidak sekarang aku melihatnya, suatu saat nanti aku bisa bertatap wajah dengannya. Ya sudah aku pulang duluan saja ya."


"Ehh, Jangan gitu dong! masa aku ditinggalin. Ya sudah ayo aku antar pulang." akhirnya Inez mengalah dan mengantar Lupita pulang. walau sebenarnya Lupi menolak diantar sampai rumah.


Sementara itu, terlihat wajah tegang dan gelisah Harlan.


"Kita tidak bisa lama-lama disini, aku dan Wiliam harus segera ke Bandara!


"Tapi Land, kau baru saja datang, makanlah dulu, dan kenapa Alfonso selalu memaksamu untuk kembali ke Belanda!" Mak isah mengusap airmatanya yang sudah terlanjur jatuh membasahi wajah keriputnya.


Harlan menghela nafas panjang, ada perasaan sesak di dadanya, andai saja Paman nya tidak mengancam untuk Harlan segera pulang ke Belanda, pasti ia akan berontak dan tidak akan mau pulang, namun, ancaman itu akan menyakiti orang-orang yang ia sayangi.


"Ma'afkan Harlan Mak, aku tidak ada pilihan lain lagi, untuk menentang Paman rasanya sulit, aku akan pulang ke Belanda sekarang, dan apa mau Paman sebenarnya? setelah itu aku akan kembali."


"Baru saja kau pulang dari Bali, tapi sekarang sudah harus kembali lagi Belanda. ya sudah emak hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu, segeralah pulang bila urusanmu dengan Alfonso sudah selesai."


"Pasti Mak! Della.. jaga Mak baik-baik, jangan sampai telat makan, tolong perhatikan kesehatannya."


"Iya kak! aku pasti akan menjaga bibi."


"Apa Wiliam juga akan ikut bersama mu?"


"Tidak Mak, Wiliam tetap tinggal disini untuk membantu pekerjaan ku."


Selesai Harlan meneguk minuman dingin, mereka memutuskan untuk pulang. Saat di parkiran mereka berpisah.


"Jaga diri Mak, baik-baik." Harlan memeluk erat tubuh ibu asuhnya.


"Land, kau harus mengabari Mak bila berada di Belanda."


"Iya Mak pasti, dan bantu doa untuk Harlan, semoga semuanya baik-baik saja." mata Harlan sudah berembun, ia menahan agar tidak menetes. tangan Harlan meraih punggung tangan ibu asuhnya, dan menciumnya. Harlan masuk kedalam mobil bersama William.


Mak Isah dan Della masuk kedalam mobil yang di supir pak Basir.


Mereka berpisah, Mak isah pulang menuju rumahnya, sementara Harlan menuju Belanda.


"Will...! bisakah kita kerumah istriku dulu? aku ingin menghubunginya, tapi nomornya tidak ada!


"Sepertinya penebangan ke Belanda satu jam lagi akan berangkat, kalau kita kerumah Nona Lupi dulu rasanya tidak bisa Tuan."


"Baiklah, besok kau pintakan nomor Lupi dan kirim padaku, aku sendiri yang akan bicara dengannya."


"Baik Tuan!


Harlan mendes*h kasar dan menyandarkan kepalanya ke belakang jok. "Ma'afkan aku Lupi, aku harus pergi! ini aku lakukan demi kebaikan kalian, aku tidak ingin Paman ku berbuat nekad dan menyakiti mu dan Mak ku. kalian harus aku jaga!" gumam Harlan lirih, sudut matanya menetes Cristal bening.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Yuk ikuti terus kelanjutan nya, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


πŸ’œLike


πŸ’œVote


πŸ’œGift

__ADS_1


πŸ’œKomen


@Bersambung........πŸ’ƒπŸ’ƒ


__ADS_2