
WELCOME BACK READERS!!❤️❤️
Tolong kasih jejak kalian setelah membaca!! HAPPY READING ❤️
...•••••...
...🌹🌹🌹...
Matahari pagi menyinari bumi memasuki gorden kamar semua penghuni yang ada di mension Smith.
Princess Smith sedang menata rambutnya di depan cermin.
"Very beautiful". Senyum manis terukir di wajah cantik Margaretha.
Setalah siap barulah Retha turun ke lantai dasar menuju meja makan untuk sarapan. Terlihat hanya ada Arga yang sudah duduk di sana, pasti abang sulungnya sudah pergi.
"Kok pake rok?".
Kening Retha mengkerut bingung. "Kan seragam sekolah pake rok, Lo lupa?". Jawab Retha memulai sarapan.
"Gak jadi pake motor? Ya udah".
Uhuk uhuk uhuk
Seketika Retha tersentak kaget dan mengingat keinginan nya berangkat menggunakan motor. "Gue ganti--, ,".
"Gak usah, besok aja. Sekarang pake mobil". Potong Arga daripada menunggu Retha berganti pakaian yang pasti istirahat pertama mereka baru sampai sekolah.
"Kok gitu". Rengek Retha mengerucutkan bibirnya.
"Udah siang, kalau Lo ganti mending gak usah sekolah".
Retha diam sambil melanjutkan sarapan yang terputus. Setalah sarapan habis, mereka berangkat ke sekolah menggunakan mobil sport acak. Karena Arga malas untuk mengambil kunci mobil kesayangannya yang ada di kamar.
Jadi, pemuda itu asal mengambil kunci.
Tit tit tit
Mobil sport berwarna merah berbunyi setalah kunci mobil ditekan.
Retha dan Arga saling pandang. Mobil itu baru masuk ke garasi beberapa hari yang lalu dan belum dipakai sama sekali.
"Lo yakin?".
Kedua bahu Arga terangkat acuh. Bisa dipastikan pagi ini sekolah Cempaka akan sangat heboh.
"Cepetan masuk udah siang". Retha tersentak kaget membuyarkan lamunannya lalu masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang samping kemudi.
Arga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang tidak terlalu padat menuju sekolah.
Benar saja.
__ADS_1
Mobil baru masuk ke gerbang sekolah sudah terdengar teriakan semua siswa/i SMA CEMPAKA yang penasaran siapa pemilik mobil tersebut.
Tidak mungkin Rey Abraham, anak pemilik sekolah. Karena pemuda itu sudah datang beberapa menit yang lalu bahkan Rey CS masih ada di palkiran sekolah.
Mobil berhenti di tempat parkir, akan tetapi Retha yang ada di dalam mobil malas untuk keluar. Dia sangat malas menjadi pusat perhatian semua orang.
"Tuh kan apa gue bilang". Keluh Retha menatap Arga kesal.
"Daripada telat". Arga langsung keluar dari mobil yang langsung mendapat teriakan banyak orang bahkan Rey CS tidak nyangka mobil itu milik Arga. Mereka tahu mobil itu baru launching beberapa minggu yang lalu, tapi seorang Arga sudah mempunyai mobil tersebut.
Siapa Arga sebenarnya?
Pikiran itu yang muncul di otak mereka.
Tidak langsung pergi ke dalam sekolah. Arga berjalan ke arah pintu samping melihat kembarannya tak kunjung keluar.
OMG, tentu saja membuat semua orang tambah histeris. Melihat Arga membukakan pintu mobil untuk retha.
"Menjadi ratu di tangan orang yang tepat". Gumam Roby yang pasti di dengar semua orang yang ada di sana.
Bahkan Retha juga mendengar itu karena jarak mereka tidak terlalu jauh.
Retha tidak menyapa mereka, lagian Retha dan Rey CS tidak terlalu dekat. Ia menggandeng lengan Arga lalu masuk ke dalam sekolah.
"Pagi pagi mood gue hancur, sumpah!". Gerutu Retha di setiap jalan.
"Ngeluh mulu, ke kantin?".
Retha mengangguk lalu menarik lengan Arga menuju kantin. Gadis itu hanya ingin susu coklat untuk mengembalikan moodnya yang hancur karena Arga memakai mobil itu.
Namun.
Mata Retha berkedip tak menyangka melihat seorang gadis yang sangat familiar sedang duduk di bangku kedua dari belakang.
"LIZA~~!!!".
Semua orang yang ada di dalam kelas menutup telinga mendengar teriakan Retha yang sangat kencang.
Arga menatap datar susu kotak yang ada di tangannya lalu membuangnya ke tempat sampah.
Pemuda itu menatap Retha yang sedang berpelukan dengan gadis yang juga dia kenal. Pandangannya mengarah ke arah bangku tempatnya duduk. Kini terdapat seorang gadis yang menempati.
Arga tidak duduk di bangku kosong itu melainkan menyandarkan tubuhnya di lemari yang ada di belakang menyaksikan drama pertemuan dua orang yang baru ketemu lagi.
"Retha, astaga!! Lepasin, gue gak bisa nafas". Ucap gadis yang bernama Liza menepuk punggung Retha pelan.
Pelukan itu terlepas membuat Liza terbatuk-batuk. "Sialan lo, udah tahu tenaga kaya popay peluk gue kaya gitu". Keluh Liza menatap Retha kesal.
"Sorry, lagian lo masih lemah aja".
Mulut Liza menganga lebar mendapat ledekan seperti itu. Dia memang jarang berlatih bela diri, berbeda dengan Retha. Makanya Liza tenaganya akan kalah jika dibandingkan dengan Retha.
"Tu es masih belum cair juga?". Liza menatap Arga yang diam di belakang.
__ADS_1
"Seperti yang lo lihat". Retha mendudukkan dirinya di bangku pojok, tempatnya duduk.
Diikuti Liza, namun saat pantatnya akan mendarat di kursi. Tiba tiba tubuhnya terangkat kembali.
"Yaaaa,,!!". Pekik Liza melihat si pelaku ternyata Arga. Pemuda itu mengangkat Liza seperti mengangkat kucing jalanan menggeser gadis itu menjauhi kursi.
Setelah itu Arga duduk di kursi samping Retha. Tidak mungkin kan Arga mau duduk di bangku samping orang asing.
"Oh ayolah, Arga pangeran es yang sangat tampan. Gue mau duduk di samping Margaretha, boleh ya, Yayaya". Bujuk Liza samping Arga.
Retha yang melihat itu sudah berusaha mengulum bibirnya agar tidak kelepasan tertawa ditambah ekspresi Arga yang sangat datar.
"Arga~. Please".
Wajah Arga menatap Liza yang sudah menampilkan wajah yang sangat menggemaskan. Arga sudah menganggap Liza sebagai adiknya juga sama seperti Retha tapi bedanya sikap Arga kepada Liza dan Retha berbeda.
Tapi masih sama sama peduli dan perhatian.
"Hukuman lo karena udah kasih nomer gue ke orang lain". Ucap Arga tanpa ekspresi.
Tapi ucapan Arga membuat semua orang yang ada di kelas menganga tak percaya. Arga di kulkas 1000 pintu bicara panjang lebar kepada murid baru.
Berbeda dengan Retha. Gadis itu tak akan kaget lagi karena sudah biasa.
Liza memutar kepalanya menatap Roby yang duduk di bangkunya dengan tatapan tajam.
"Gue gak bilang nomernya dari lo". Roby mengangkat kedua tangannya ke atas melihat tatapan Liza yang membuat tubuhnya merinding.
Sudut bibir Liza terangkat kesal. Dengan terpaksa Liza duduk di bangku belakang Arga.
"Hahaha, kacian".
Liza menatap ke arah Retha yang sedang meledaknya.
"Lagian kalau lo gak kasih nomernya ke orang lain juga Arga gak bakal mau duduk di samping orang asing, apalagi cewek". Ucap Retha melirik gadis di samping Liza yang sedari tadi diam.
Liza sadar dengan lirikan mata Retha lalu menatap sahabatnya yang ada di samping kanan.
"Sorry gue lupa. Tha, kenalin dia Azlea Caroline. Dan Lea, dia Margaretha. Orang yang sering gue ceritain sama lo". Liza memperkenalkan.
"Panggil Retha aja. Lo gak bilang yang nggak-nggak kan tentang gue". Selidik Retha menatap Liza tajam.
"Nggak lah, gue masih mau hidup".
Tangan Retha terulur ke arah Liza memberi jempol lalu beralih kepada Lea yang diam tak bersuara.
"Salam kenal". Lea menjabat tangan Retha. "Lo gak mau kenalin dia za?". Ucap Retha menunjuk Arga untuk diperkenalkan kepada sahabatnya.
"Dih ngapain kenalin manusia es kaya dia. Gak ada gunanya".
"Iya juga sih". Gumam Retha menyetujui apa yang Liza ucapkan.
...•••••...
__ADS_1
TBC
Jangan lupa like dan commentnya kalo kalian suka cerita ini ❤️ See u next part 🥰