
"Surat itu dibuat saat kau masih sangat kecil Lupi! sudahlah tidak usah berdebat lagi! kalau kau masih ingin tinggal di sini harus mengikuti aturan ku! bila tidak mau cepat angkat kaki dari rumah ini! bentak Surti.
"Tapi kenapa Paman Imran tidak cerita kalau Ayah menghibahkan rumah ini! kalau memang benar sudah pasti dia bercerita padaku!
"Imron belum sempat cerita padamu tapi sudah keburu meninggal! ucap Surti santai
Lupita sudah tidak ingin berdebat lagi. dengan perasaan sedih dan sakit hati, ia berlari masuk kedalam kamarnya.
Lupita yang terlihat tegar dan tidak pernah menunjukkan airmata didepan bibirnya, kali ini menangis karena luka yang teramat dalam. bagaimana tidak! rumah peninggalan kedua orang tuanya kini telah berpindah tangan.
"Tidak mungkin! Ayah tidak mungkin menghibahkan rumah ini pada paman! hiks... tubuh Lupita bersandar pada pintu dan jatuh terduduk di lantai.
Diluar ada dua orang Pria masuk kedalam teras dan memberi salam.
"Assalamualaikum." tidak ada yang menyahut.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam." terdengar suara Surti dan membuka pintu.
"Bapak cari siapa? tanya Surti yang terlihat bingung setelah pintu terbuka. Sebab dua Pria itu memakai pakaian seragam kantor.
"Kami dari perusahaan Vandeles, tempat Lupita bekerja. kami mencari Lupita." ujarnya sambil mengulurkan tangannya pada Surti.
"Ada apa dengan Lupita pak? apa dia buat kesalahan? emang ya keponakan suami saya itu selalu buat masalah dimana mana."
"Tidak bu, justru kami datang untuk membawa kabar dari perusahaan. Kalau Lupita bisa masuk kerja kembali hari ini."
Surti tercengang.
"Bisa pertemukan kami dengan Lupita bu?
"Iya, dia ada dikamarnya. biasalah pak, si Lupi kalau bangun pasti siang terus. gak ada kerjaan cuma bisanya makan tidur, syukurlah kalau dia bisa bekerja lagi biar gak malas malasan di rumah."
"Ayo pak silakan masuk."
Kedua pria itu saling bersitatap dan masuk kedalam.
"Bejo awas jangan molor disitu, ada tamu! seru Surti. yang di panggil tak bergeming malah berdengkur keras.
"PLOKK!
Aaaauuww... seketika Bejo terpekik saat Surti menepuk bokongnya. ia terbangun dengan mata memerah menahan kantuk.
"Sana tidur di kamar Mbak! malu ada tamu." Bejo beranjak dari Sofa dan masuk kedalam kamar Surti.
"Ayo Pak silakan duduk, saya panggil Lupita dulu." Setelah dua Pria itu duduk Surti masuk kedalam memanggil Lupita.
__ADS_1
TOK.. TOK.. TOK..
Lupi! cepetan keluar ada tamu mencari mu! anak gadis ko bangun siang terus. pantesan saja rezekinya jauh! umpat Surti di depan kamar Lupita. sengaja mengeraskan intonasi suaranya.
Lupita yang sedang bersandar pada pintu, terperanjat kaget mendengar umpatan Surti sambil mengetuk pintu.
Ceklek!
"Bibi bisa tidak jangan teriak teriak, Aku selalu bangun subuh sebelum bibi dan anak kesayangan bibi itu bangun, aku sudah lebih dulu sibuk di dapur."
"Ehh malah nyolot! sudah sana temuin tamu mu udah nunggu dari tadi!
Lupita berjalan ke ruangan tamu. Ia terkejut melihat dua orang karyawan di perusahaan Vandeles datang kerumahnya. Seketika jantungnya berdebar kencang.
"Pagi Mba Lupita! sapa pak Anton ramah.
"Pagi Pak Anton, Pak Awan." jawab Lupita sopan, sambil berjabat tangan. "Ada apalagi ya Pak? apa saya punya salah?!
"Tidak ada Mba Lupi. Justru kami mendapat utusan dari Presdir, untuk menemui Mba Lupi, dan memberikan surat perintah untuk kembali bekerja." pak Anton memberikan surat pada Lupita, ia menerima dan membacanya.
Seketika wajah Lupita berbinar cerah setelah membaca surat itu. "Jadi aku bisa bekerja lagi sekarang Pak?
"Iya Lupi, hari ini kamu bisa langsung masuk kantor. Nanti kamu temui saya diruangan.
"Baik Pak, terima kasih banyak. Aku akan bersiap siap sekarang."
Wajah sembab Lupita berubah cerah. kedua utusan Harlan itu berpamitan. Lupita masuk kedalam kamar untuk mandi dan bersiap berangkat kerja. Selesai berhias Lupita tak sengaja membuka tasnya dan ia melihat amplop pemberian Harlan semalam.
"Banyak sekali uang ini? darimana Mas Harlan bisa mendapatkan uang sebanyak ini? padahal ia baru saja pulang dari kampung mengurus Pamannya yang juga sakit." karena penasaran Lupi menghitung uang itu.
"Semuanya Lima juta? apa aku kasih uang ini ke bibi ya. Tapi kan ini hak mereka, Harlan memberikan untuk membantu Paman. Tapi di sisi lain bibi telah mengambil uang ku, Lebih baik aku simpan saja dulu uang ini. Aku masih ada dua lembar 50 ribuan di dompet. aku harus menyimpan uang ini jangan sampai bang Bejo berani masuk kamar ku lagi.
Lupita keluar dari kamar dan mengunci pintu kamar. ruangan tampak sepi. setelah memakai sepatu pantofel, ia keluar dari rumah menuju halte yang tak begitu jauh dari gang rumahnya.
Mobil angkot sudah melaju setelah Lupita masuk kedalam mobil. Satu jam lewat lima belas menit mobil sudah berhenti di sebrang gedung perkantoran Vandeles. Lupita melangkah dengan terburu buru. ia memegangi perutnya yang kram. Karena belum sarapan sama sekali. di tambah kondisinya yang sedang terpuruk karena rumah milik ayahnya sedang berpindah tangan. Lupi terus memikirkan rumah itu, ia ingin perjuangkan hak miliknya dan tidak percaya dengan surat dari bibinya.
Lupita sudah telat sepuluh menit, semua karyawan sudah masuk kedalam ruangannya. Seperti perintah Pak Anton, Lupita masuk kedalam ruangannya terlebih dahulu.
"Tok, tok, tok..
"Masuk!
"Pagi pak, Maaf saya terlambat."
"Ya sudah langsung masuk saja ke ruanganmu semula, dan ini ada tugas dari presdir."
Lupita mengambil file dari tangan pak Anton dan pamit keruangan nya.
__ADS_1
Didepan pintu ruangan kerjanya Lupita sempat terpaku, sudah dua minggu ia tidak ada disana, sekarang ia kembali lagi untuk bekerja. perlahan Lupi membuka pintu kaca dan masuk kedalam ruangan. Semua mata tertuju padanya. Lupita tersenyum ramah
"Selamat pagi semua, selamat bekerja."
"Selamat datang kembali Lupita." beberapa karyawan ada yang menyambutnya ramah, ada juga yang cuek dan bersikap masa bodo.
Lupita terus berjalan menuju tempat duduknya yang berada di pojokan. ia tidak melihat Pak Yono berada di ruangan itu. posisinya sudah di ganti seorang pria muda tampan yang sejak tadi tersenyum padanya. Lupita yang ramah juga melempar senyum padanya.
Keadaan ruangan begitu tenang semua sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Tiba-tiba perut Lupita kembali kram. keringat dingin keluar dari pori-pori tubuhnya. ruangan berAc membuat tubuhnya menggigil, ia sudah tidak konsentrasi bekerja.
"Setengah jam lagi jam istirahat, aku harus ke kantin untuk makan siang dan minum obat magh. sepertinya lambung ku bermasalah."
Di ruangan Presdir.
Harlan masih sibuk dengan bisnis barunya. Setengah jam kemudian Ia menutup meeting di ruangannya bersama Tiga orang petinggi perusahaan Vandeles.
Setelah ketiga direktur itu keluar ruangan Presdir, Harlan mengajak Wiliam bicara.
Will!
"Saya Tuan!
"Apa Lupita jadi masuk hari ini!
"Sudah Tuan! Pak Anton sudah memberitahu saya.
"Nanti, setelah jam makan siang. kau panggil kepala keuangan. Aku ingin tahu berapa ia beri gajih Lupita selama ini!
"Baik Tuan!
"Kau suruh sekertaris Mey, untuk pesan makanan di restoran, dan antarkan kerungan Lupita.
"Baik Tuan!
"Sekarang ayo kita berangkat ke hotel. kita temui Tuan Hendrik."
Setelah Wiliam perintahkan sekertaris Mey, ia dan Harlan menuju pintu lift.
"TING!
Pintu lift terbuka, Saat Harlan dan William sudah keluar pintu lift. Tiba-tiba ia melihat ada beberapa karyawan wanita berkerumun. Harlan menoleh dan mengamati, ia melihat Lupita pingsan di samping pintu lift khusus karyawan.
Harlan terperanjat kaget "Lupita! ia berjalan cepat menghampiri Lupita. tanpa basa-basi Harlan mengangkat tubuh Lupita untuk di bawa keruangan perawatan.
'
'
__ADS_1
'
@Bersambung......💃😘😘