Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Pertemuan


__ADS_3

"Buang rasa cemburu mu yang berlebihan! kau tidak pernah percaya pada suamimu sendiri!"


BRAKK!!


Harlan keluar dari kamar dengan membanting pintu. Lupita bergeming sambil m1eremas dadanya yang terasa nyeri.


Malam itu Lupi mulai merasakan perubahan pada diri Harlan, biasanya dia sangat perhatian dan penuh kasih sayang. Mungkin saja memang suaminya sedang lelah dan banyak pekerjaan kantor hingga meyita waktu sampai larut malam. Begitu kira-kira pikir Lupita. tidak ingin berdebat lagi, Lupita membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan meneruskan tidurnya yang tertunda.


Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, Lupi terbagun untuk menjalankan aktivitasnya. ia mencari sosok suaminya disampingnya, Namun Harlan tidak ada disebelahnya, Lupita sudah terbiasa mendapat pelukan hangat dari sang suami.


"Apa mas Harlan masih marah? kenapa dia tidak tidur disini." Lupita mulai merasa ada yang hilang. Saat menapakkan kakinya ke lantai, ia mendengar suara dengkuran halus. Lupi bernafas lega melihat suaminya tertidur di sofa.


Lupi melangkah masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setengah jam kemudian ia keluar dan memakai pakaian kantor. Melihat suaminya belum bangun, Lupi membangunkan Harlan dengan mengguncang kan tubuhnya.


"Mas bangun sudah jam setengah enam."


Harlan mengerjab-ngerjabkan matanya. akhirnya ia terduduk dengan rasa kantuk yang belum hilang.


"Aku buat kopi dulu, baju kerja sudah aku siapkan." ujar Lupita dan berjalan keluar kamar.


"Huh! jam berapa semalam aku tidur? rasanya masih mengantuk." Harlan mengacak rambutnya dan menyeret kakinya masuk kedalam kamar mandi.


"Bik ijah masak apa hari ini?


"Buat nasi goreng brokoli di campur udang dan bakso. Nyah."


"Wah pantas wangi banget."


"Mbak Nur kemana?"


"Itu lagi ngepel di belakang dekat kolam."


Lupita mengambil cangkir dan kopi hitam untuk suaminya. Setelah menyeduhnya ia mengaduk kupi hitam itu.


"Bii.. jangan lupa buat telur mata satu dan taruh diatas nasinya ya."


"Iya Nyah!"


Lupi berjalan kerungan meja makan dan menaruh kopi di atas meja. Tak lama Harlan berjalan mendekat dengan setelan jas biru navi. ia menarik satu kursi dan duduk, meyerumput kopi buatan istrinya dengan perlahan.


Bi Ijah datang dengan membawa dua piring nasi goreng. Tidak ada obrolan dari keduanya mereka sibuk dengan nasi goreng didepannya.


"Aku harus berangkat sekarang, tidak langsung ke kantor, akan menemui Paman di hotel." ucapnya seraya mengelap bibirnya dengan tissue.


"Jam berapa sudah berada di kantor."


"Aku tidak bisa pastikan! aku sudah berfikir sepertinya kau butuh kendaraan pribadi khusus untuk mu, nanti pergilah ke showroom mobil bersama Pak Udin supir kantor."


Lupita menghentikan makannya, ia menghela nafas kasar "Tidak usah, aku akan naik taksi saja."


Harlan berjalan mendekat dan mencium keningnya "Aku pergi dulu." ia melangkah keluar teras. Lupita tidak seperti biasanya mengantarkan suaminya sampai depan, atau berangkat bersama seperti yang sudah ia lakukan beberapa hari ini.


"Bi.. masih ada nasi goreng nya?


"Ada Nyah.."


"Tolong nasi gorengnya di taruh tempat makan ya, aku mau bawakan untuk sahabat ku."


"Iya Nyah!


Jam sudah menunjukkan pukul 6.30. Lupi sudah memesan taksi, ia masuk kedalam mobil menuju perusahaan milik suaminya.


"Kenapa Mas Harlan buru-buru sekali berangkatnya, tidak seperti biasanya." Lupi terus berperang dalam hatinya "Apakah sikap cemburu ku sangat berlebihan pada suamiku? apa sebenarnya yang suamiku inginkan? kenapa setelah kedatangan Paman dan si pirang itu suamiku sedikit berubah, Nggak semanis biasanya."

__ADS_1


Satu jam dalam perjalanan, taksi berhenti di depan gerbang Vandeles. Setelah Lupi membayar taksi ia berjalan masuk kedalam.


CEKLEK!


"Hay baru datang."


"Aku baru sampai 15 menit kok!


"Ini aku bawakan nasi goreng."


"Wah, aku sudah sarapan di rumah."


"Ya buat nanti siang saja."


"Pasti udah dingin, ya sudah aku makan sekarang."


"Hey, kenapa dengan wajahmu?


"Hah! ada apa dengan wajahku?


"Wajahmu terlihat murung. Apa ada masalah dengan suami mu."


Lupi menghempaskan nafas kasar "Aku melihat ada perubahan pada Mas Harlan. Entahlah atau mungkin perasaan ku saja."


"Inilah kadang yang buat aku takut untuk menikah, meski umurku sudah cukup, harus menyatukan dua pribadi yang berbeda emang tidak mudah, penuh kesabaran dan perjuangan untuk menuju tangga berikutnya." imbuhnya seraya memasukkan nasi goreng kedalam mulutnya.


"Jadi sekarang kau mau kembali lagi sama mantanmu atau balik lagi dengan Wiliam?


"Tidak dua-duanya. Aku memilih untuk sendri."


Lupi berjalan kearah jendela dan menghirup udara dalam-dalam "Dulu aku berpikir tidak akan menikah secepatnya ini, tapi Tuhan berkehendak lain, kami menikah dengan tuduhan berbuat mesum. Dan aku tidak pernah menyangka kalau suamiku seorang CEO, bahkan bermimpi saja tidak pernah! Dan baru menyadarinya Kalau suamiku tidak akan pernah terlepas dari sosok wanita di sekitarnya, karena ia harus berhadapan banyak cliant."


"Tidak begitu juga Lupi, yang terpenting suamimu setia walau di kelilingi banyak wanita."


"Ya sudah yuk kita kerjakan tugas ini, nanti jam sembilan aku harus ikut meeting, bersama bu Lita. kepala devisi design.


Mereka mulai fokus bekerja. Sedang Lupita menggambar sebuah desain interior sebuah rumah hunian sederhana. "Aku akan buat desain ini untuk koleksi ku, suatu saat ada yang membutuhkan dan akan aku jual. Aku tidak berniat membelot dari perusahaan suamiku, tapi ini untuk menjaga-jaga." batinnya dan berusaha fokus untuk mengusir kekesalan pada suka suaminya


Di sebuah Hotel.


"Jadi Paman akan tinggal disini? bukankah ada Perusahaan di Belanda yang harus Paman jaga?


"Tenang saja, Perusahaan di pegang oleh orang kepercayaan Paman! kau tidak usah khawatir? Carikan perumahan mewah untuk ku!"


"Baiklah akan aku rekomendasi kan dari beberapa desain di perusahaan ku!"


"Usahakan dekat perumahan mu."


Harlan menarik nafas dalam-dalam "Kita lihat saja nanti!"


"Aku akan mengucurkan dana untuk perusahaan mu, 500 Milyar."


"Kurasa tidak perlu! perusahaan ku tidak mengalami masalah, justru sedang berkembang."


"Itu hak mu Georgie, keuntungan dari perusahaan permata dan Berlian yang aku kelola di Belanda."


"Simpan saja paman, aku belum membutuhkannya! Ya sudah bila tidak ada yang perlu di bicarakan aku pergi!"


Alfonso mengangguk.


Saat Harlan membuka pintu dan keluar dari kamar Alfonso, Margaret membuka pintu kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Alfonso.


"Goergie? kau mencari siapa kesini?

__ADS_1


"Kau pikir cari siapa? tentu saja Paman!


"Ku pikir mencari ku?! ucap Margaret percaya diri tersenyum malu-malu.


Harlan gelengkan kepala "Jangan melewati batasan mu, dan aku tegaskan dari sekarang, jangan pernah bawakan aku makanan apapun kedalam ruangan ku, gara-gara kau Lupi marah padaku!"


"Maksud mu Lupi siapa?


Harlan langsung terdiam, dia tak sadar menyebutkan nama istrinya.


"Sudah lupakan! ucapnya dan melangkah pergi.


"Georgia tunggu! aku ikut bareng ke kantor.


"Kau cari taksi saja. Aku tidak langsung ke kantor! Harlan berkata tegas dan berjalan cepat. Margaret menghentakkan kakinya karena kesal.


"Sialan! jauh-jauh aku datang kesini tapi kau masih sulit aku taklukkan! tidak.. aku tidak boleh menyerah!"


Sementara Harlan sudah keluar dari pintu lift dan berjalan keluar lobby, saat melewati pintu kaca, tiba-tiba Harlan bertabrakan dengan seseorang.


"DUKK!!


Harlan mengambil paper bag yang terjatuh di lantai "Ma'af.."


"Goergie...?"


"Tiffany..? benar kah ini kau?


"Iya! aku menginap di hotel ini."


"kapan kau berada di Indonesia."


"Kalau begitu, kita ngobrol di Cafe."


Pria tampan berjas biru navi itu sudah duduk di sebuah kursi bersama Tiffany memesan dua cangkir kopi dan red Velvet. Mereka mengobrol bersama.


"Bagaimana kabar Mama...?


"Sangat baik, dan Mama pernah mencarimu Goe? kenapa kau meninggalkan Belanda mendadak."


"Aku ada urusan di Jakarta."


"Kau tinggal di mana Geo? boleh minta nomor telepon mu?


Harlan mengeluarkan kartu nama. " Kau bisa hubungi ke nomor kantor ku"


Tiffany menerima kartu nama itu dan menatapnya "Kau membangun Perusahaan di sini?


Harlan mengangguk


"Aku juga bekerja di perusahaan kakak dari Ayahku disini."


"Oke fanny aku pergi dulu kekantor, lain kali kita bisa ngobrol lagi."


"Baiklah Geo, sampai ketemu nanti.


Harlan beranjak dari duduknya dan meninggalkan Tiffany setelah menyeruput habis kopi hitam.


🔥


🔥


🔥

__ADS_1


@Bersambung


__ADS_2