
"Baiklah, besok kau pintakan nomor Lupi dan kirim padaku, aku sendiri yang akan bicara dengannya."
"Baik Tuan!
Harlan mendes*h kasar dan menyandarkan kepalanya ke belakang jok. "Ma'afkan aku Lupi, aku harus pergi! ini aku lakukan demi kebaikan kalian, aku tidak ingin Paman ku berbuat nekad dan menyakiti mu dan Mak ku. kalian harus aku jaga!" gumam Harlan lirih, sudut matanya menetes kristal bening.
Tiga jam sebelum berangkat ke bandara.
Ruangan metting disebuah Hotel
"Tuan telpon Anda bergetar, sepertinya tuan Alfonso yang telepon." bisik Wiliam
"Biarkan saja, aku malas mengangkat nya."
"Tolong diangkat dulu, barusan Paman tuan marah-marah padaku."
Harlan mendesah kasar. Baiklah aku keluar sebentar, Kau urus meeting ini."
"Baik Tuan,"
Harlan mengundurkan diri ruangan rapat itu setelah di depan lobby Hotel ia mulai mengangkat telepon dari pamannya Alfonso
"Hallo Paman!
"Harlan kemana saja kau? sejak tadi Paman menelpon mu, tapi tidak pernah kau angkat!"
"Maaf Paman, Aku sedang ada meeting dengan Cliant. Ada apa menelponku?!
"Cepat kembali ke Belanda hari ini juga!
"Tidak bisa mendadak seperti ini Paman, masih banyak pekerjaan yang harus aku urus disini!
"kau selalu saja membantah paman, ingat! tujuanmu ingin membalaskan dendam kedua orang tua yang telah mati dibunuh oleh orang-orang biadab seperti mereka! Apa kau lupa janjimu kepada paman!"
Tarikan nafas Harlan terdengar lirih "Paman! sebaiknya kita lupakan permusuhan dengan mereka, aku sudah mengikhlaskan kepergian kedua orang tuaku, mungkin memang itu sudah nasibnya, walau sebenarnya aku juga tak terima penjahat itu membunuh dengan cara keji." ucap Harlan terdengar kasar.
"kau ini anak macam apa, Hah! bisanya kau bicara seperti itu! dimana pikiranmu? di mana hati nurani mu! Kau hanya memikirkan dirimu sendiri tanpa peduli dengan penderitaan kedua orang tuamu itu, dan tidak ingin membalaskan dendam kedua orang tuamu yang mati sia-sia! sungguh aku menyesal memiliki ponakan sepertimu! aku malu pada Alfredo dan Anjelika, aku tidak bisa mendidik anaknya!
"Paman jangan seperti ini! Aku hanya tidak ingin menambah musuh dalam kehidupanku, kecuali bila mereka yang memulai permainan lagi! Aku sendiri yang akan turun tangan! Aku percaya Paman bijak dalam mengambil sikap."
Kau tidak perlu menceramahi Paman! bila kau tidak mau pulang ke Belanda, jangan salahkan paman bila orang-orang kesayanganmu akan hidup dalam kesengsaraan!
"Apa maksud Paman mengancam aku seperti itu!"
"Kau pikir Paman tidak tahu apa yang sudah kau lakukan disana! baiklah akan Paman kirimkan sesuatu.
Ting!
Harlan membuka sebuah foto yang dikirim Alfonso. Seketika mata Harlan terbelalak melihat foto dirinya dengan Lupita di Bali.
__ADS_1
"Darimana Paman bisa tau aku berada di Bali dengan Lupita." gumamnya pelan dengan sorot mata tajam.
Bagaimana? kau sudah melihatnya bukan?!
"Apa tujuan Paman sebenarnya! Ucap Harlan lantang.
"Aku tahu, kau tidak ingin wanita itu mendapat celaka bukan? kurasa kau lebih mencintai wanita itu daripada ibu asuhmu sendiri! atau... aku buat kedua-duanya pergi dari kehidupan mu selamanya."
"Cukup Paman! Jangan pernah kau sentuh atau menyakiti mereka berdua! mereka tidak ada urusannya dengan kita! Baiklah aku akan turuti kemauan Paman, aku akan berangkat hari ini juga ke Belanda, tapi dengan satu syarat! jangan pernah ganggu ibu asuhku dan wanitaku! biarkan mereka bahagia di sini tanpa ada menyakitinya."
Ha-ha-ha... Georgie Vandeles, berarti kau benar-benar ada hubungan dengan wanita itu! sudah sedalam apa hubungamu dengan wanita itu!
"Itu bukan urusan paman! Oke, aku akan pulang ke Belanda, jangan Paman menyakitinya, bila Paman ingkar janji aku tidak akan segan dengan Paman!
"Woww! keponakanku sayang, semakin kau tumbuh besar, semakin terlihat sifat aslinya. Sepertinya kau sudah berani melawan pamanmu sendri. Baiklah kalau itu maumu, Paman tidak akan pernah menyentuh wanitamu atau Ibu asuh mu, selama kau menuruti perintah Paman!
"Baiklah! ucapnya tegas. Harlan langsung memutuskan telepon pamannya dengan kesal.
"Astaga! ya Tuhan... Lupi! Harlan memijit keningnya "ini yang aku takutkan, pamanku bisa tekad, tidak peduli keponakan, teman atau lawan! Kini Paman sudah tahu siapa Lupita! ternyata Paman menaruh mata-mata disini, berarti Paman tahu semua aktifitas ku? apakah Wiliam berkhianat dengan ku? demi kebaikan Lupita dan ibu Asuh, biarlah aku Pergi untuk sementara, aku akan memantau mereka dari jauh."
"Tuan Georgie...?
"Will!
"Apa ada sesuatu? sepertinya tuan kurang sehat?"
"Tuan Haruka mencari, Anda!"
"Siapkan tiket penerbangan ke Belanda hari ini! malam ini juga aku harus berangkat kesana!"
William membelalakkan matanya "Hari ini juga Tuan?"
"Iya, kau tahu sendiri seperti apa sifat Paman! kemauan paman tidak akan bisa dibantah! aku tidak ingin, orang-orang yang aku sayangi terluka!"
"Baik Tuan, segera saya pesankan tiket ke Belanda malam ini juga. Oh iya, tadi Della telepon, ibu asuh sudah menunggu di Cafe."
kita temui Tuan Haruka dulu, baru kita temui Mak di Cafe, selanjutnya berangkat ke Bandara."
Harlan masih menatap keluar jendela, menikmati jalanan raya ibu kota. Sesekali ia hempaskan nafas kasar untuk menghilangkan sesak di dadanya.
"Tuan, sudah sampai Bandara."
"Tuan! panggil Wiliam sekali lagi.
Harlan menoleh dan membuka pintu mobil. Wiliam memarkirkan mobil di sisi jalan. Dan keluar dari dalam mobil, mengikuti langkah Harlan yang berjalan cepat masuk kedalam Bandara.
"Tuan ini pasport nya, ku harap tuan baik-baik saja disana!"
"Will, jaga istriku! apapun yang kau ketahui tentang Lupita kabari aku! sungguh aku sangat takut Lupi kenapa-napa, namun, aku tak berdaya menentang pamanku yang berkuasa, aku ingin akhiri semuanya. Dan menetap selamanya tinggal disini bersama istri dan ibu asuhku." ucap Harlan dengan mata berembun.
__ADS_1
"Bila tuan ingin menetap tinggal di negara ini, Lalu bagaimana dengan perusahaan tuan yang berada di Belanda."
"Aku sudah tak peduli, biar saja paman yang urus, Aku hanya ingin hidup tenang tanpa ada orang yang terus mengganggu."
"Semoga keinginan Tuan cepat terwujud dan secepatnya kembali ke negara ini, Bicarakan dengan tuan Alfonso apa yang menjadi keinginan Tuan, dan hiduplah bahagia bersama istri dan ibu asuh."
"Kalau begitu aku berangkat dulu, seperti pesan ku jaga istri dan ibu asuh, untuk perusahaan kok bisa audit dan kirim melalui email."
"Baik tuan!"
Harlan masuk kedalam ruangan pemeriksaan, punggung lebar itu menghilang di balik pintu. Wiliam pergi meninggalkan Bandara.
****
Setelah sampai rumah, Lupita membersihkan diri, Inez sudah pulang sejak tadi dan tidak mau masuk karena sudah malam.
"Ahh.. seger juga." Lupita meregangkan otot-ototnya selesai mandi."
"Ini sudah jam sepuluh, kenapa Mas Harlan belum juga pulang ya? biasanya kalau aku sudah ada di rumah, mas Harlan pasti sampai juga"
Seluruh ruangan dalam rumah Lupi tampak kosong, tidak ada lagi mesin cuci, kulkas, kipas angin dan TV. kebetulan ada ponsel pemberian suaminya, Lupi masih terus kagum dengan ponsel itu.
"Mas Harlan, uang dari mana bisa beli ponsel semahal ini? biar aku tanyakan klau ia sudah pulang. Lupi mulai menguap dan menoleh jam di dinding "Hah! sudah jangan setengah dua belas? kenapa mas Harlan juga belum pulang ya?..
Karena lelah, akhirnya Lupita tertidur nyenyak. Suara Kokok ayam tetangga membangunkan tidur Lupita yang berada di sofa. Rupanya ia menunggu suaminya pulang dan tertidur di ruangan tamu.
"Ya Tuhan sudah jam enam, aku kesiangan" Buru-buru Lupita beranjak dari Sofa dan masuk kedalam kamar mandi, seperti biasanya ia masak dan membawa bekal untuk di kantor.
Tiga hari sudah Lupi berangkat kerja dan pulang tanpa kehadiran Harlan disisinya. Hari-harinya terasa hampa dan tak bergairah.
"Mas kau dimana? kenapa tidak memberitahu aku? bahkan aku tidak tahu nomor mu? kau pun tidak pernah menghubungiku." butiran bening menetes begitu saja dari sudut mata Lupi. "Aku merindukan mu Mas..." hiks..
"Kemana aku harus mencarimu, Mas?!
Lupita di kagetkan dengan suara dering ponsel. ia melihat tidak ada nama si penelpon, hanya tertera nomor saja.
πππ
Yuk ikuti terus kelanjutan nya, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
πLike
πVote
πGift
πKomen
@Bersambung........ππ
__ADS_1