
Ijab Kabul pun dimulai.
"Saya nikahkan dan kawinkan wali dari orang tua Lupita Andriani binti Arman dengan Harlan bin Alfredo. Mas kawin berupa uang tunai seratus ribu rupiah di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Lupita Andriani binti Arman dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
bagaimana saksi dan warga?
"SAH....
"SAAAAAHHHHH......
Alhamdulillahirobbilalamin....
Harlan dan Lupita mengusap wajahnya dengan kedua belah telapak tangan. Rasa syukur mereka panjatkan dalam hati. Karena mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri, walau hanya menikah siri atau secara hukum agama.
"Sekarang kalian berdua sudah sah sebagai sepasang suami istri secara hukum agama. Bila ingin dilanjut, kalian bisa mendaftarkan pernikahan kalian berdua di kantor KUA. Semoga kalian menjadi keluarga yang Sakinah, Mawardah, Warahmah. Dan diberikan keturunan yang soleh dan soleha.
AAMIIN....
Ucap semua orang yang masih hadir menyaksikan pernikahan dadakan itu.
Setelah beramah tamah, Pak ustadz pamit undur diri. Lupita dan Harlan mencium punggung tangan pak ustadz sebagai rasa terima kasih.
"Jaga baik-baik gadis ini. karena dia sudah sah menjadi istri Mas, dan sudah sepenuhnya menjadi tanggung jawab Mas lahir maupun batin." nasehat pak ustadz, sebelum pergi meninggalkan rumah Lupita.
"Insyaallah Pak, semoga saya menjadi imam yang baik untuk istri saya kedepannya."
"Aamiin...."
Assalamualaikum..." Pak ustadz memberi salam, dan beranjak dari rumah Lupita bersama para warga yang ikut membubarkan diri.
"Wa'alaikumsalam...'" jawab Lupita dan Harlan serempak.
Sebelum pergi pulang Pak RT ngobrol sebentar dengan Harlan.
"Pak Rt bagaimana kalau kita ngopi dulu? ajak Harlan.
"Tidak usah, ini sudah jam sebelas lewat, saya harus pulang. Cuma saya mau minta fotocopy KTP Mas nya, untuk data warga RT kita. karena Mas sekarang sudah menjadi suami Lupita. Jadi saya butuh KTP mas.
Harlan terdiam ia masih mengingat dan memiliki KTP lamanya.
"Sebentar Pak saya cari dulu."
Harlan beranjak dari duduknya dan berjalan agak kedalam. Lupita tampak bingung.
Kenapa cuma ambil KTP saja musti menjauh." pikir Lupita.
Harlan mulai mencari satu persatu didalam dompetnya, ia masih belum mau membongkar jati dirinya pada Lupita dan Pak RT.
"Ketemu!
__ADS_1
Harlan berjalan mendekat dan memberikan KTP nya pada Pak RT.
"Nama Harlan, lahir Belanda? Pak RT menyoroti wajah tampan Harlan dan bertanya penuh keraguan "Apa Mas nya asli orang Belanda?
"Benar Pak, saya lahir di Belanda dan kedua orangtua saya asli orang Belanda.
"Tapi kenapa bahasa Indonesia lancar sekali?
"Karena sejak kecil, saya ikut bersama ibu asuh saya dan tinggal di kampung."
"Alamat tinggal di Bandar Lampung?
"Iya, ibu asuh saya asli orang Lampung."
Pak RT mangguk-mangguk tanda percaya. Memang sejak pertama kali melihat Harlan, pak RT begitu kagum dan heran melihat wajah bule nya tapi kental logat bahasa Indonesia, dia pikir Harlan brasteran, tapi nyatanya asli orang Belanda.
"Untunglah aku masih memiliki KTP lama, dan Mak tidak menaruh nama asliku" bergumam dalam hati.
"Nama asli Mas nya siapa? pasti punya nama asli Belanda."
"Deg! tiba-tiba Pak RT menanyakan nama Aslinya yang membuatnya kalang kabut. Harlan sedang berpikir sejenak."
"Albert! jawabannya cepat sambil tertawa.
["Huh! Maafkan aku Lupi, aki harus berbohong. ini semua demi kebaikan bersama."]
"Baiklah kalau begitu saya pamit dulu, sudah malam. Nggak enak sama pengantin baru." celetuk Pak RT terkekeh.
Kini tinggal mereka berdua didalam rumah itu. Lupita terlihat gugup dan gusar. pasalnya ia belum pernah tinggal satu atap bersama seorang pria yang belum lama mengenalya. kalau di hitung hitung Lupita mengenal Harlan baru sekitar empat bulanan, baginya terlalu cepat menikah dengannya.
Lupita membereskan tikar diruangan tamu, Harlan sudah memasukkan sofa kedalam ruangan.
"Lupi! panggil Harlan yang sudah duduk di sofa.
Lupita datang menghampiri Harlan sambil membawa secangkir kopi.
"Duduklah, kita harus bicara.
Lupita duduk di sebrang Harlan dengan pandangan condong ke depan.
"Terima kasih kopinya."
"Lupita menoleh "Tidak perlu berterima kasih, itu sudah kewajibanku sebagai seorang istri." ucapnya lirih.
Harlan tersenyum puas "Lupi, aku minta maaf sekali lagi, Karena telah menyusahkan mu dan sudah membuat malu, Karena kesalahpahaman ini. Menikah di gerebek warga." terlihat penyesalan dari wajah Harlan.
Lupita menarik nafas dalam-dalam, menunduk kan wajahnya sambil mengeratkan jemari tangannya.
"Menyesal pun tiada guna, semua sudah terjadi. Tapi sebelumnya aku minta maaf, kalau aku belum bisa__ ucapan Lupita terputus, terlihat bibirnya gemetar untuk meneruskan kalimatnya.
Harlan sudah paham maksud Lupita, ia tersenyum tipis "Aku sudah tahu maksudmu, Lupi. Aku tidak mau memaksamu, kalau kau sendiri belum yakin dan siap melakukannya, Aku paham semua butuh proses." imbuh Harlan bijak.
__ADS_1
Melati kembali menoleh dengan bola mata berembun. "Ma'afkan aku, Jujur aku masih syok dan bingung harus apa? semua begitu tiba-tiba." cairan bening itu sudah jatuh ke pipi mulus Lupita.
Harlan menatap iba Lupita, dan menggeser duduknya lebih dekat "Haii.. jngan menangis? mengusap lembut punggung Lupita. "Apa kau menyesal menikah denganku? tanya Harlan tiba tiba. Lupita menatap lekat wajah Harlan. Bola mata coklat itu terlihat sangat sejuk. Melihat dari dekat, Lupita begitu terpesona dan tak percaya dengan wajah tampan berkharisma suaminya.
Menggeleng cepat "Tidak Mas, ini sudah takdir ku, justru aku berpikir Mas lah yang telah menyesal menikahi gadis jelek dan miskin sepertiku." imbuhnya merendah.
"Tidak Lupi, justru aku bangga memilikimu. kau gadis yang manis, cerdas dan selalu berpikir positif, kau juga seorang gadis yang baik dan sederhana. Bahkan kejujuran mu mencerminkan ketulusan dan kebersihan hatimu."
"Mas, terlalu berlebihan menilai diriku."
"Lupita, aku mengatakan dari hatiku yang paling dalam. Aku bukan Pria bermulut manis dan gampang merayu. Sejak awal aku begitu simpati dan iba melihat kegigihan dan kerja kerasmu, Sekarang kau adalah istriku, sudah suatu keharusan aku menjaga dan melindungimu."
"Terima kasih Mas, kau begitu pengertian." ujar Lupita, mengusap airmatanya yang hampir mengering. "Diminum dulu kopinya, Mas."
Harlan hampir melupakan kopi itu. "Diambilnya cangkir kopi dan meyerumput nya perlahan.
Takk! menaruh cangkir kopi.
"Tidurlah, ini sudah jam dua belas lewat."
"Apa Mas akan tidur disini, malam ini?
"Hmm... tentu saja, tidak mungkin aku meninggalkan mu sendiri. Apa kata warga bila melihatku pulang malam-malam, sementara kita baru saja menikah."
Apa Keluarga Mas tidak akan mencari?
"Tidak Lupi, mereka pasti akan mengerti. Ya sudah tidurlah cepat, Aku akan tidur di Sofa."
"Mas tidur dikamar ku saja, Aku akan tidur di depan. Dulu kamar yang ditempati bibi dan paman, kamar Ayah dan ibuku."
"Tidak apa-apa di sofa saja."
"Di rumah ini ada tiga kamar, yang paling belakang bekas kamar Lolita, Kenapa harus tidur di sofa kalau ada dua kamar kosong. Mas sekarang suamiku, Aku akan menghormati mas layaknya seorang suami."
Harlan terkekeh "Baiklah, aku tidak bisa membantah istriku lagi."
Setelah menghabiskan kopi dan membasuh muka dikamar mandi. Harlan masuk kedalam kamar Lupita yang sederhana.
"Seprai sudah aku ganti yang bersih. Mas tidur yang nyenyak, besok pagi aku bangunkan."
"Terima kasih Lupi. Kau juga harus istirahat yang banyak. Tidak usah banyak pikiran untuk hari esok. Ada aku yang selalu menemani mu." ucap Harlan lembut.
"Deg! jantung lupita berdebar cepat. Seketika darahnya berdesir. Ada perasaan yang tak biasa dalam hatinya. Lupita mengangguk pelan. Berjalan keluar kamar dan menutup pintu. Setelah mematikan lampu tengah, ia masuk kedalam kamarnya.
'
'
'
@Bersambung.......
__ADS_1