Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Datang Disaat Yang Tepat.


__ADS_3

"Mau apa kalian! teriak Lupita "Turunkan aku disini!!


Tiba-tiba pria yang duduk di sebrang Lupita mendekat dan mengeluarkan pisau "Diam jangan berisik, atau aku tusuk perutmu! ancamannya seraya menodongkan pisau ke perut Lupita.


Lupita terkejut dan tak berani berkutik, spontan ia menutup perutnya dengan tas besarnya dan jantungnya berdebar sangat cepat.


Mobil angkot terus melaju melewati jalanan Kampung yang jarang di lalui roda empat. pria di sebrangnya seperti memberi kode pada temannya. Ia mengambil saputangan dari saku celananya dan mendekat kearah Lupita.


"Mau apa kalian!! teriak Lupita, percuma saja berteriak di dalam mobil yang sepi dengan jalanan kampung yang tidak ada satupun kendaraan lewat, pria itu semakin mendekat dan Lupita menggeser tubuhnya makin ke sudut.


"Jangan mendekat!


Tangan kekar itu membekap mulut Lupi dengan saputangan, dan Lupita tak sadarkan diri.


*****


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Inez membereskannya berkas diatas meja. Meeting baru saja usai, para cliant sudah pergi meninggalkan ruangan. Inez menoleh pada Wiliam yang masih terpaku pada tempat duduknya seraya membaca sebuah laporan ditangannya.


"Ma'af tuan saya permisi? ucap Inez sopan, membungkuk memberi hormat.


William hanya menoleh sekilas pada Inez dan mengangguk, lalu melanjutkan aktivitasnya.


Inez berjalan keluar pintu ruangan bersama dua orang rekan lainnya.


"Cihh! masih saja sombong dan angkuh, padahal aku sudah berjuang untuk perusahaan ini dengan meyakinkan cliant!" gerutu Inez kesal dengan menghentakkan kaki ke lantai.


"Mba Inez kenapa? tanya karyawan lain yang melihat ulah inez saat sudah keluar ruangan.


"Ehh! tidak ada, tadi kaki ku kesemutan." kilah Inez berbohong.


Dua Pria itu hanya gelengkan kepala sambil berjalan mendahului inez.


"Astaga malu nya aku, ternyata ada yang melihat kelakuan ku tadi." gumamnya pelan


Saat sudah mendekati lift, Inez memilih untuk ke toilet. Ia sengaja menghindari dua pria tadi yang masih berdiri didepan pintu lift.


Di dalam toilet Inez membasuh wajahnya dan merapikan riasannya yang sederhana, dengan memakai bedak tipis dan lipstik pink. Tanpa kacamata tebal, sebenarnya Inez terlihat cantik, namun ia tidak suka berdandan pada wanita umumnya. Tak lupa ia merapikan rambutnya yang panjang bergelombang dan menguncinya jadi satu. Inez keluar dari toilet dan berjalan kearah pintu lift, Ia menekan tombol turun dan masih menunggu di depan pintu lift.


Inez melirik Arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah jam setengah sembilan? duh aku harus jemput Lupi dulu kerumahnya."


Ting!


Pintu lift terbuka, Inez masuk ke dalam ruangan berbentuk kotak itu. Tiba-tiba dari belakang punggung Inez masuk berbarengan seorang pria berjas hitam, dan pintu lift tertutup. Inez tidak perhatikan Pria berjas di depannya, ia mengambil ponsel untuk menghubungi Lupi.


"Lupi kenapa telpon mu tidak diangkat sih? gerutu Inez, masih terus menaruh benda pipih itu di telinga.


BLUM!


Tiba-tiba lampu di dalam lift mati.


"Ya Tuhan, ada apa ini? Inez terkejut dan ponselnya terlepas. "Ponsel ku! Inez berjongkok sambil tangannya meraba-raba mencari ponsel, tiba-tiba ada sesuatu yang menginjak tangannya.


"Huwaaaaa....! Inez menangis kencang.


"Berisik! bentak seorang pria yang berdiri didepannya. Sedang mereka hanya berdua didalam lift itu.


"Tangan ku keinjek sepatu anda Tuan!


"Eh, sorry! pria itu ikut berjongkok dan meraih tangan Inez.


"Sakit ya...?


"Nggak! cuma rasa di gigit semut merah! seru Inez kesal. Menarik tangan nya.


JUGLEK!


Tiba-tiba lift berhenti dengan hentakan keras.


"Huwaaaaaa....! Inez spontan menubruk pria itu dan memeluknya karena ketakutan.


"Hey! apa-apaan ini!


"Saya takut kegelapan!! tubuh Inez gemetaran, pria itu tidak melepas pelukan Inez, ia membiarkan Inez memeluk tubuhnya. Aroma maskulin tercium dari Indra penciumannya, ia begitu nyaman dan tidak ingin melepaskan.


"Wangi aroma ini seperti aku kenal. jangan-jangan pria ini...?


Ting!


Lampu menyala berbarengan dengan Pintu lift terbuka. Benar saja Inez terkejut dengan pria yang ia peluk.


"Tuan Wiliam!! pekik Inez

__ADS_1


Wiliam langsung mendorong tubuh Inez dan bangkit. Will berjalan keluar lift tanpa menoleh pada Inez.


"Sial!! Inez merasa kesal, ia memungut ponsel yang terjatuh, bangun dengan cepat dan keluar dari lift.


"Kenapa juga aku harus satu lift dengan pria angkuh itu sih! tidak punya hati mendorong tubuhku kasar! gerutu Inez, seraya berjalan keluar gedung perkantoran Vandeles.


"Suatu saat aku akan buat pelajaran untukmu, tuan Wiliam!! umpat Inez meluapkan kekesalan.


Motor Inez berjalan kearah rumah Lupita, ia terus khawatir karena telpon Lupita tidak juga di angkat. Satu jam kemudian motor inez sudah berhenti di depan pagar rumah Lupita.


"Kenapa rumah Lupi masih gelap."


"Tok, tok, tok...


"Lupita..!!


"Lupita...!!


Karena penasaran Inez mencoba menelpon Lupita kembali, namun telponnya sudah tidak aktif. "Kemana telponnya sudah tidak aktif?


"Maaf Bu mau tanya? apa tadi ibu melihat Lupita pulang kesini? tanya inez pada tetangga samping rumahnya yang sedang berdiri depan teras.


"Sepertinya Mba Lupi tidak datang kesini? bukankah waktu itu perginya sama Mba juga?"


"Iya, tadi pulang dari kantor katanya mau pulang kerumah. Ya sudah Bu, kalau begitu saya permisi dulu. maaf mengganggu."


"Iya Mba, tidak apa-apa."


Inez melajukan kembali motornya untuk pulang ke kontrakan, ia berfikir Lupita sudah kembali ke kontrakannya.


*****


"Aku berada dimana?


Lupita membuka kelopak matanya perlahan dan memutar bola matanya untuk melihat sekelilingnya "Sebuah kamar? kamar siapakah ini? bukankan tadi aku berada di angkot, kenapa tiba-tiba aku ada disini? Lupita terus mengingat kejadian yang baru beberapa jam terjadi. Ia berjalan kearah pintu dan mengendor-gedornya.


"DOR... DOR... DOR..!!


"Buka pintunya! keluarkan aku dari sini!! teriak Lupita dan terus memanggil, namun tidak ada seorang pun yang membukakannya.


"Inez tolong aku!!! hiks.. hiks...


Karena lelah dan terus berteriak-teriak akhirnya Lupita terlelap karena lelah.


"Makanlah Nona! ucap wanita paruh baya itu datar tanpa ekspresi.


"Aku berada dimana Bu? tolong keluarkan aku dari sini!"


Wanita itu tidak menyahut, ia langsung melangkah pergi meninggalkan Lupita dan menutup pintu kembali.


"Tolong keluarkan aku dari sini!! teriak Lupita di sela isak tangisan nya.


Seharian Lupita berada di dalam kamar, ia sangat bingung siapa orang yang telah menculiknya. karena gerah dan belum mandi sejak kemarin, ia membersihkan diri dalam kamar mandi yang menyatu dengan kamar.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Lupita seperti mendengar sebuah percakapan di luar pintu.


"Bagaimana Bu? sudah dapatkan uangnya dari juragan Karyo?


"Sudah sepuluh juta! cepat kita pergi dari sini sebelum Lupi tahu kalau kita yang menjual dirinya pada juragan karyo untuk jadi istri ke-lima." hehehehe...


"Ayo Bu kita cepat pergi dan pindah dari kontrakan itu!


"Itukan suara Bi Surti dan Lolita, ternyata dia yang telah menjual ku!


DOR, DOR, DOR....


"Bi Surti... Lolita....!! jahat kalian semua, aku pasti akan cari kalian berdua!! dan akan aku balas perbuatan kalian!! seru Lupita penuh emosi.


JEGLEK!


Dua orang wanita paruh baya masuk kedalam kamar dan membawa sebuah Kebaya putih.


"Ayo cepat ganti baju mu, sebentar lagi kau akan menikah dengan juragan karyo."


"Aku tidak mau!! aku sudah punya suami dan sekarang aku sedang mengandung! tolong bu jangan nikahkan saya dengan juragan Karyo! hiks... Lupita menangis dan memohon.


"Maaf Mba, saya juga hanya disuruh merias dan mengganti pakaian Mba.'


"Lebih baik Mbak ikuti kemauan juragan Karyo Kalau mau selamat, anak buahnya sudah menunggu di depan pintu, daripada Mbak di tarik paksa sama mereka!" ucap ibu satunya.


"Benar kata ibu ini, anak buah juragan Karyo banyak di mana-mana, melawan mereka tidak mungkin. Lebih baik aku bersandiwara dulu dan mau mengikutinya. Setelah keluar dari kamar ini baru aku akan berencana kabur." gumamnya dalam hati.

__ADS_1


"Baiklah, aku mau berganti baju." ucap Lupita pasrah.


Lupita memakai kebaya putih dan kain jarik dengan rambut di sanggul, setelah selesai di hias ia keluar dari kamar bersama dua orang wanita itu.


Dua orang penjaga pintu mengikuti dari belakang.


"Aduh! perutku sakit." Lupita memegangi perutnya


"Bu dimana kamar mandi ya? tanya Lupi pura-pura sakit.


"Ada apa Mba?


"Tiba-tiba perut saya mules! rintih Lupi


"Kau jangan pura-pura, tadi tidak apa-apa! bentak bodyguard juragan Karyo.


"Beneran! ,kalau saya buang disini bagaimana? tolong saya sudah nggak kuat!"


"Sepertinya dia nggak bohong! imbuh temannya.


"Ya sudah kau antar ke kamar mandi belakang, aku tunggu disini!


"Ayo cepat jalan, jangan pake lama! penghulu sebentar lagi datang!"


Lupita mengangguk dan ia mengikuti langkah pria itu kearah kamar mandi.


Saat berada didalam kamar mandi, ia mencari sesuatu untuk bisa kabur. "Kebetulan ada pipa besi, semoga ini bisa bantu aku."


Lupita menarik nafas dalam-dalam dan dengan perlahan membuka handle pintu. Saat pintu sudah terbuka, ia melihat pria itu berdiri membelakanginya. Dengan cepat Lupita menghitamkan besi pipa itu kepalanya.


"BUKK!


"BUKK!


"Aaakkhhh!


Lupi melempar pipa besi itu dan ia berlari dengan mengangkat kain. untung semua orang sedang fokus dan tidak menyadari Lupi kabur melewati pintu belakang, kebetulan lagi lampu remang. Saat sudah menjauh seseorang berteriak.


"Hey! kejar wanita itu! dia kabur...!!


Lupita terus berlari tanpa menghiraukan perutnya yang sedang hamil, perutnya ikut terguncang saat ia berlari. Dalam hatinya Lupi selalu berdoa semoga ada pertolongan.


"Aaakkhh! perutku...


Lupita terus berlari tanpa alas kaki, seraya memegangi perutnya yang sakit.


"Tolong....!! teriak Lupita masih terus berlari.


"Itu dia tangkap!! seru mereka


Empat orang pria terus mengejar Lupita, dan Bukk! kaki Lupita kesandung sebuah batu, tubuhnya jatuh aspal.


"Aaahhkkkk....! anakku..... pekik Lupita menahan sakit dan tubuhmu sudah tak berdaya untuk bangkit.


Empat pria sudah berdiri mendekati Lupita dan saat akan menarik tangannya, Dua buah sedan berhenti di depan mereka.


"Berhenti!!


Teriak seorang pria berjas hitam yang keluar dari mobil sedan, ia berlari kearah Lupita. Dari belakang sedan hitam keluar segerombolan orang-orang berjas, mereka menghantam empat orang Pria itu tanpa ampun.


"Lupita...!! ia terkejut mendapati istrinya teraniaya.


"Mas Harlan..." ucap Lupi pelan, dengan mata berbayang, seketika Lupi lunglai dalam pelukan suaminya.


"Lupi bertahan lah, aku akan membawa mu kerumah sakit!!


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


@Membaca komentar sebagian yang julid buat Bunda dag dig dug.., kadang belum tuntas baca udah ambil kesimpulan sendiri,, ck..ck..πŸ˜‚. Dibilang kaya ikan terbang lah🀣, padahal ikan terbang juga ambil cerita dari novel, cerita mbulet lah..( Emng nulis cerita halu gampang yang tiap hari harus mikir) jadi curhat nich πŸ˜‚


@Hari ini udah dua bab loh ya.. dan Bab lebih panjang, Yuk ikuti terus kelanjutannya, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


Kasih kopi buat sesajen sama bunga setaman buat nyantet... kwkwkw...🀣🀣🀣


πŸ’œLike


πŸ’œVote


πŸ’œGift


πŸ’œKomen

__ADS_1


@Bersambung........πŸ’ƒπŸ’ƒ


__ADS_2