Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Dilema


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan setengah enam. Wiliam masuk kedalam ruangannya. Ia belum menemui Harlan dan tidak mengabarinya kalau tadi mengantarkan Margaret ke hotel karena dia memaksa. Raut wajah kesal dan kecewa terlihat jelas di wajah tampan nya yang terlihat tegang dan emosi.


"Baiklah Inez, kalau itu mau mu! kau malah mematikan ponsel ku disaat kau bersama mantan mu. Apa kau akan kembali padanya!"


Rasa kesel membuat mood Wiliam hancur. Ia masuk kedalam ruangannya dan menghempaskan tubuhnya kasar keatas sofa.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya yang sejak tadi mengutak-atik ponselnya.


"Masuk!"


"Sore Tuan Will!"


"Ada apa lagi? bukankah ini sudah jam pulang."


Alexa masuk dan menyerahkan beberapa laporan "Ini ada yang perlu di tandatangani, untuk kunjungan HRD ke sebuah departemen dan melihat lokasinya besok."


"Ck! Kenapa tidak dari pagi kau memberikan laporannya, jangan selalu dadakan begini!" omel Wiliam "Sialan! kalau begini aku bisa kena semprot Tuan Georgie!' gumamnya pelan.


"Ma'af Tuan will, laporan HRD baru saya terima tadi siang, dan saya sudah kesini bulak-balik tapi Tuan tidak ada di ruangannya." bantah Alexa tidak ingin di salahkan.


Wiliam mengambil bolpoin diatas meja dan mulai membubuhkan tandatangan diatas berkas-berkas itu.


"Oiya Tuan.. hmm, tadi di ruangan Tuan Georgie ada dua orang karyawan yang sedang bergosip dan tidak tahu malunya mereka cekikikan."


Wiliam mengerutkan keningnya "Maksud mu siapa mereka? siapa saja yang berada di ruangan Tuan Georgie." setahu Wiliam hanya ada Lupita didalam kantor.


"Seorang wanita mantan karyawan yang dulu pernah bekerja disini, sepertinya dia sedang merayu Tuan Georgie biar bisa kerja lagi."


"Baguslah, berarti dia sedang berusaha bukan."


"Hah?!! jadi Tuan membenarkan kelakuan wanita jal*ng itu!


Mata Wiliam melotot "Berhenti kau panggil wanita itu jal*ng! atau aku robek mulutmu!" bentak Wiliam. ia tidak mau ada gosip berkembang di perusahaan Vandeles, ujung-ujungnya dia yang akan di tekan oleh Georgie.


"I-iya Tuan! ucap Alexa tergagap.


"Jangan pernah kau ucapkan kata itu lagi, apalagi bila Tuan Georgie mendengarnya. kau pasti akan dipecat dari sini!" Alexa hanya mengangguk sebagai respon.


"Sudah selesai semua, ambil berkas-berkas ini!"


Alexa ketakutan melihat aura dingin Wiliam. Dengan cepat ia mengambil berkas diatas meja dan melangkah pergi keluar ruangan setelah berpamitan.


Suara mesin telekom berbunyi di atas meja kerja Wiliam, ia menekan tombol telekom.


"Ya Tuan!


"Kau sudah pulang? cepet keruangan ku!"

__ADS_1


"Baik Tuan!


Wiliam menarik nafas dalam dan melangkah keluar ruangan.


"CEKLEK!


"Hey Will! kau darimana saja!"


"Biasalah Nona Margaret memaksa aku minta diantar ke hotel!" ucap Wiliam lemas dengan wajah muram. ia duduk di sofa dan mengusap wajahnya kasar.


"Ada apa kau terlihat kusut!


"Tidak apa-apa, cuma tadi Tuan Alfonso minta di jemput malam, ia akan menemui ibu Asuh."


"Ya sudah kau turuti saja kemauannya!


Wiliam mengangguk "Dimana Nona Lupita."


"Sedang membuat kopi. Besok kau siapkan ruangan di lantai dua untuk istriku dan Inez."


"Jadi Nona akan kembali bekerja lagi?"


"Setelah kedatangan Margareth kecemburuan Lupi semakin meningkat, ia tidak mau melihat aku berdua dengan Margaret."


"Kelemahan kaum pria tidak bisa melihat Wanita menangis dan marah. Pasti kita kaum pria akan merasa bersalah dan kasihan." imbuh Harlan lagi mengeluarkan argumen nya.


*


Inez dan Rangga berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan berhenti di salah satu ruangan.


"Ceklek!


Setelah pintu terbuka mereka berdua masuk kedalam ruangan rawat inap kelas satu.


"Pak! Bu! lihat siapa yang datang?" suara Rangga mengalihkan pandangan kedua orang tua paruh baya itu pada seorang wanita cantik yang berdiri di samping Rangga.


"Nduk.. kau Inez kan? wanita paruh baya yang tak lain ibu Rangga menghentikan aktivitasnya yang lagi menyuapin suaminya. Ia berjalan mendekat dan memeluk inez.


"Iya Bu...Aku Inez.."


"Walah kau ini semakin cantik dan Ayu." puji Bu Karni, mengurai pelukannya dan membingkai wajah Inez.


"Nduk sini, Bapak kangen Karo koe.." inez berjalan mendekati ranjang dan mencium punggung tangan pak Tono. "Bagaimana kabarmu Nduk, kenapa tidak pernah datang lagi ke rumah lagi, kapan kalian meresmikan pernikahan kalian, bukankah kalian mau bertunangan dulu? tanya pak Tono. sontak inez terkejut dan berusaha tenang seraya memasang wajah senyuman manis walau hatinya kesal.


Inez menoleh ke arah Rangga sejenak dan minta penjelasan dari sorot matanya. Terlihat wajah tegang Rangga dan mengatupkan kedua tangannya penuh permohonan.


"Plis! hanya gerakan bibir yang terlihat.

__ADS_1


"Nduk! kenapa diam..? apa kau sudah tidak mau dengan Rangga.


"Ehh-tidak bukan begitu. Saya sibuk kerja Pak! maklum perusahaan yang saya tangani mengharuskan saya pergi keluar kota, makanya jarang menemui Bapak dan ibu." dusta Inez, ia menelan salivanya karena sudah membohongi kedua orang tua yang sudah seperti keluarganya.


Setelah mengobrol dan memberi semangat pada Pak Tono inez pamit pulang.


"Sering-sering kesini ya Nduk? kalau Bapak sudah sehat, Bapak akan datang menemui ibumu di kampung untuk meminta anak gadisnya mendampingi Rangga yang sudah sukses ini." imbuh Pak Tono bangga.


Inez mengepalkan tangannya di kebelakang dan menahan kesal karena Rangga sudah berbohong pada kedua orang tuanya.


"Ya sudah Bu! pak! saya pulang dulu." setelah mencium punggung tangan mereka berdua. inez melangkah cepat meninggalkan ruangan itu.


"Inez tunggu! Rangga mengejar inez yang sudah tertinggal jauh. Inez menepis tangan Rangga saat menarik tangannya.


"Dasar pembohong! bisa-bisanya kau berdusta di depan kedua orang tua mu! siapa yang mau menikah dengan mu! JANGAN PERNAH BERMIMPI!!! bentak inez dan berjalan menjauh.


"INEZ! Bapak ku sudah stadium empat, dokter bilang kemungkinan hanya tinggal 30% untuk bisa bertahan! apa kau tega menyakiti Bapak ku dan berharap kau menjadi mantunya. Plis Inez... buka hati mu sedikit saja untuk Bapakku! bukankah kau pernah bilang, kau dapat melihat sosok Ayahmu dari diri Bapakku? oke aku mengaku salah telah mengkhianati mu dulu, tapi sekarang aku sudah berubah!"


Inez masih berdiri mematung tanpa menoleh kebelakang, Namun hatinya juga tak tega mendengar penyakit jantung pak Tono yang sudah stadium akhir. Inez meneteskan airmata tanpa sadar.


Rangga menjatuhkan tubuhnya dan bersimpuh dengan kedua lutut di lantai "Inez aku mohon beri aku kesempatan untuk bisa bersamamu, asalkan Bapakku bahagia."


Inez memutar tubuhnya dan ia terkejut melihat Rangga memohon seperti itu, ia berjalan mendekat dan menarik tubuh Rangga untuk bangun "Bangun Ga! jangan seperti ini? malu di lihat orang."


"Aku tidak akan bangun sebelum kau mengatakan mau menerima aku kembali, demi Bapak ku Nez!"


Inez semakin dilema dan bingung. Dia di hadapkan pada dua pilihan yang pasti akan melukai salah satu dari keduanya. Inez tidak ingin mengkhianati dan meninggalkan Wiliam. Namun di sisi lain ada nyawa yang sedang bertaruh dan mengharuskan ia berhubungan kembali dengan anaknya.


"Ga bangun dulu, lihat mereka melihat kearah kita." bujuk Inez. Rangga menggeleng dengan tatapan nanar, matanya sudah berembun.


"Hanya untuk Bapak ku Nez.. aku mohon! Rangga mengatupkan kedua tangannya, bersama jatuhnya butiran bening dari sudut matanya. Inez tak tahan melihat Rangga seperti ini, andai ia belum ada komitmen dengan Wiliam, sudah pasti ia akan menerima Rangga kembali, walau rasa sakit yang Rangga torehkan belum sembuh.


Pada akhir inez mengalah dan mengangguk. yang terpenting bisa membuat Rangga tenang dulu dan mau bangun.


"Benarkah Nez? kau sedang tidak bercanda bukan? kau sudah menerima aku kembali?" tanya Rangga tak percaya. Inez menutup mata dengan linangan air mata dan mengangguk terpaksa.


Wajah Rangga berbinar cerah dan ia sujud syukur karena yakin inez sudah memaafkan dan menerimanya kembali. Rangga bangkit dan memeluk tubuh Inez. "Terima kasih sayang, akhirnya kau menerima ku kembali." tangisan inez semakin pecah, bukan karena dia senang bisa kembali lagi bersama Rangga, Namun ia memikirkan hubungan dan nasibnya dengan Wiliam.


"Will, ma'afkan aku.. hiks, aku harus apa sekarang? aku bingung dan dilema." batin Inez lirih.


🔥


🔥


🔥


@Yuk terus dukung karya Bunda, jangan lupa untuk follow IG @bunda.eny_76

__ADS_1


@Bersambung....


__ADS_2