Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Perlakuan Harlan


__ADS_3

"Lupi! bangun..." menepuk-nepuk pelan pipi istrinya. "Ia pingsan. Ma'afkan aku Lupi sudah salah paham padamu." ujarnya dengan mata sendu dan perasaan gusar.


"Aku harus segera membawanya kerumah sakit." Harlan mengambil ponsel dan memesan taksi online.


Sepenuh menit kemudian, ponsel Harlan berdering, taksi sudah menunggu di depan gang. Ia mengangkat tubuh Lupi ala bridal style. Setelah pintu di kunci, ia berjalan cepat kearah gang. Supir taksi membukakan pintu untuk Harlan masuk di belakang kemudi.


"Pak! cari rumah sakit terdekat." pinta Harlan yang masih terlihat gusar. Membetulkan posisi Lupi kedalam pelukannya.


"Baik pak! apa Ingin saya antar ke rumah sakit "Pelita" tidak terlalu jauh dari sini, hanya 20 menit."


"Baik pak, lebih cepat lebih baik!"


Mobil berjalan melewati jalanan raya, kebetulan diatas jam sembilan, jalanan sudah tidak terlalu macet. Harlan terus menatap wajah istrinya, bibir tipisnya terlihat pucat, kedua pipi Lupi merah merona karena panas yang tinggi.


Dua puluh menit, mobil sampai di depan pelataran Rumah Sakit. Harlan mengeluarkan uang lembaran seratus ribu dan memberikan pada supir.


"Ini Pak kembalian nya."


"Tidak usah!


"Terima kasih banyak pak! imbuh supir taksi senang, ia membukakan pintu untuk Harlan keluar. Dengan cepat Harlan masuk kedalam rumah sakit Yang tak terlalu besar itu. Seorang suster datang membawa kursi dorong. Harlan meletakkan tubuh Lupi keatas kursi roda.


Lupi dan Harlan masuk kedalam ruangan pemeriksaan. Dokter mengecek keadaan Lupi yang terbaring lemah di atas ranjang matras. Setelah pengecekan, Dokter berjalan kearah Harlan dan duduk di meja kerjanya.


"Setelah pemeriksaan, kondisi istri bapak, kurang darah dan panas yang disebabkan gejala typus."


"Jadi istri saya kena typus, Dok?


"Iya Pak, tetap harus di rawat dan mendapatkan infusan karena darahnya rendah."


"Baik Dok, lakukan yang terbaik untuk istri saya, dan rawat inap di kelas Vip."


"Suster akan membawa kerungan Vip, setelah saya selesai periksa intensif, dan pembayaran langsung kebagian adminitrasi.


Harlan mengangguk dan keluar dari ruangan pemeriksaan, ia berjalan ke bagian administrasi.


Lupita sudah berada di ruangan rawat inap, dengan selang infus di tangan kirinya. Harlan berjalan mendekat Setelah Dokter dan suster periksa dan memasang selang infus.


"Saya pamit dulu, kalau ada perlu atau kondisi istri bapak tidak baik, bisa tekan tombol di sini." Dokter Ilyas menunjuk tombol diatas ranjang pasien.


"Baik Dok, terima kasih."


Dokter dan dua orang suster berjalan menjauh, meninggalkan ruangan. Harlan duduk di tepi ranjang, menatap haru istrinya yang kurang dari dua bulan ia nikahi. Rasa bersalah menyeruak dalam dada, begitu sakit yang Harlan rasanya.

__ADS_1


"Lupi ma'afkan aku." gumamnya pelan, satu tangannya mengusap lembut kepala Lupi, dan mendaratkan bibirnya di kening, hal yang tidak pernah Harlan lakukan pada istrinya. Ia bukan hanya merasa bersalah, Namun, menyesal tidak bisa menjadi suami yang baik. Ia merasa menjadi pria egois yang tidak bisa membahagiakan istrinya. Lalu siapakah yang bersalah dalam hal ini? takdir kah?! Bukankah jodoh, rezeki dan maut adalah kehendak-Nya. Pertemuan yang tidak pernah ia sangka. Menyipratkan tubuh Lupi dengan genangan air hujan, awal pertemuan yang tidak pernah ia sangka. Menjadi seorang pelindung bagi Lupi, yang awalnya hanya rasa iba dan ingin menolong dari jeratan bibinya yang materialistis.


Lupi seorang anak yatim-piatu, sama seperti dirinya. Namun, nasibnya lebih beruntung daripada Lupi. Ia memiliki segalanya, harta, kedudukan dan kekuasaan. Bahkan, Peninggalan kedua orangtuanya mampu membuatnya hidup layak dan berkecukupan hingga tujuh turunan. Pernikahan singkat tanpa ia sadari, adalah fitnahan dari orang yang tak bertanggung jawab, Namun, ia sadar jodoh sudah di atur oleh Tuhan.


"Lupita, aku berjanji sampai kapan pun tidak akan pernah meninggalkan mu." ucapnya lirih. ada cairan bening disudut mata Harlan. Sudah kedua kalinya ia meneteskan airmata karena wanita. pertama saat harus pergi meninggalkan Nadine ke Belanda. kedua melihat istrinya yang berbaring tak berdaya. Harlan menggenggam erat tangan Lupi yang tidak diinfus.


Kesadaran nya mulai bangun, saat suara bunyi ponsel berdering. Harlan yang tertidur di kursi samping istrinya, melepas genggaman tangan Lupi. ia melihat jam sudah menunjukkan pukul dua dinihari, tertera nama William di layar ponsel. Harlan beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh.


"Hallo, Will..."


"Tuan, bagaimana keadaan Nona?!


"Maaf, aku lupa mengabari mu. Tadi saat kau telepon aku sangat panik, Sekarang istriku sedang di rawat."


"Apa separah itu kondisi Nona?


"Aku sangat bersalah, telah mengabaikan dirinya, Lupi mengalami gejala typus dan demam panas tinggi."


"Semoga Nona baik-baik saja dan kembali pulih."


"Aamiin..., Bagaimana keadaan Emak? apa iya menanyakan ku?!


"Iya! ibu asuh terbagun dari tidurnya tadi jam dua belas, ia menanyakan keberadaan Tuan. Aku berbohong dengan mengatakan pulang ke rumah, karena sedang tidak enak badan, takut kalau berada di rumah sakit akan drop kondisinya, dan aku yang menyuruh istrahat di rumah. ibu asuh akhirnya mengerti."


"Will, aku belum ganti pakaian kerja. Semalam aku sangat panik dan terburu-buru. Lupi hampir curiga, mungkin karena kondisinya sedang sakit, jadi ia tidak bertanya lagi. Besok pagi suruh pak Basir menemui ku di depan lobby rumah sakit "pelita," bawakan pakaian ku."


"Tidak bisa, mana mungkin aku meninggalkan istriku dengan kondisi seperti ini, Lupi adalah tanggung jawabku. Aku tidak ingin ia kecewa, karena kesalahan ku padanya."


"Baiklah Tuan, aku akan menyuruh Pak Basir. Tapi bagaimana bila pak Basir bertanya? dia adalah supir pribadi Ibu asuh."


"Kau tidak usah menjelaskannya, aku yang akan bicara padanya nanti. kau urus perusahaan selama aku tidak ada."


"Baik, Tuan!"


Harlan melihat gerakan kecil tubuh Lupita diatas ranjang Seperti ia sudah terbangun.


"Ya sudah, aku matikan ponsel ku dulu, istriku sepertinya sudah bangun."


Setelah telpon terputus, ia berjalan mendekat dan duduk di samping Lupi diatas kasur.


"Sayang...kau sudah terbagun?!"


Terdengar suara lembut Harlan memanggil sayang, Lupi membuka matanya dan menatap sayu laki-laki di depannya. Tatapan lembut Harlan membuat Lupi mengerjab kan mata. "kenapa bangun? ini baru jam tiga."

__ADS_1


"Aku dimana Mas?!


"Kau di rumah sakit, semalam kau pingsan." mengusap lembut pipi Lupi yang mulai hangat tidak sepanas tadi.


"Kenapa Mas memakai pakaian itu, sebenarnya Mas siapa?! tanya Lupi dengan suara datar.


Deg! jantung Harlan berdebar. "Ma'afkan, Mas sayang. Sebenarnya kemaren malam Mas tidak pulang, karena Mas sedang berada diluar kota, Bos mengajak mendadak ke pesta pernikahan saudaranya. mau menolak tidak enak. Dan baju ini Bos yang pinjamkan, belum sempat Mas kembalikan, karena Mas langsung menemui mu semalam." dusta nya tersenyum pahit.


"Ma'afkan aku Lupi, masih terus berbohong. Aku janji suatu saat aku akan mengatakan semuanya, Siapa diriku ini, aku masih harus merahasiakan ini dari paman. Bersabarlah." batin nya lirih.


Lupi terdiam, sepertinya ia percaya ucapan suaminya.


"Lain kali kabari aku bila Mas berada di luar kota, jadi tidak membuat aku khawatir."


"Baiklah, sayang..."


"Deg! jantung Lupita berdesir, Seperti ada ribuan cinta menghujam hatinya. Ia begitu tersanjung, Harlan manggilnya kata sayang."


"Apa kau mau minum? tawar Harlan


Lupita mengangguk pelan.


Harlan membangunkan tubuh lupi untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang. Harlan begitu lembut memperlakukan istrinya. Membuka botol kemasan dan memasukkan Pipiet ke bibirnya.


"Sayang, ma'afkan Mas ya, sudah menuduh mu yang tidak-tidak semalam." ucapnya lirih, terlihat penyesalan dari ucapannya


"Mas, memanggil ku sayang...? Lupi tertunduk dan tersenyum samar, ada perasaan malu bercampur senang, dari wajahnya yang masih terlihat pucat.


"Iya sayang." menyentuh tangan Lupi "Kau adalah istriku, sudah seharusnya aku menyayangimu."


"Cup! tanpa malu-malu Harlan mengecup lembut pipinya, Lupita di buat tersipu.


"Tidur lagi ya, Mas temenin disini." menepuk kasur yang ia duduki. Lupi mengangguk setuju, ia melihat wajah Harlan yang sudah mengantuk. Kini Harlan bernafas lega karena Lupi sudah memaafkan nya.


*


*


*


@Bersambing.........


YUK IKUTI NOVEL BUNDA YANG LAIN

__ADS_1


"TUAN JENDERAL CINTAI AKU" PASTI BIKIN BAPERRRRR 😍😍



__ADS_2