Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Kehilangan Inez


__ADS_3

"Mas! luvita mengetuk kaca mobil, ia datang bersama tiga perawat.


Harlan membuka pintu dan keluar, kemudian membuka pintu belakang. Tiga perawat menggotong tubuh Della ke atas banker dan membawa kerungan UGD.


"Seminggu yang lalu kau hampir membuat ku gila dengan rasa gatal yang menyengat, kini kaupun masuk ketempat ini! semoga kau bisa jera dan belajar dari kesalahan!" gumam Luvi dalam hati, di sela langkah kakinya menyusuri lorong rumah sakit.


Satu jam kemudian Della sudah di pindahkan keruangan rawat inap. Luvi dan Harlan masih menunggu di dalam ruangan dan duduk di Sofa. Selang infus berada di punggung tangan Della.


"Mas sampai kapan kita menunggui Della, bukankah besok pagi kau harus kerja?"


"Ya mau bagaimana, lagi? nggak mungkin aku tinggalkan Della sendiri, kalau kau lelah pulang saja dengan supir, nanti Wiliam datang kemari aku pulang bawa mobil Wiliam.


Mata Luvi melotot "Jadi Mas lebih perduli pada wanita itu daripada istri sendiri!" Luvita mendengus kesel.


"Bukan begitu sayang, ini demi kemanusiaan."


"Aku tidak akan pulang, bila suamiku tidak pulang."


Harlan mendesah pelan "Baiklah kita tunggu Wiliam datang."


"Kak! aku haus..." tiba-tiba Della memanggil.


Harlan yang sedang duduk beranjak berjalan.


"Apa..? wanita licik itu mulai cari perhatian, tidak akan aku biarkan kau mencuri kesempatan dari suamiku!" gumamnya kesal.


Luvita berjalan mendekat. Ia melihat suaminya sudah membuka tutup botol dan menaruh pipet kedalam botol. "Biar aku saja yang berikan!" menarik botol mineral itu dari tangan Harlan.


"Ayo minum!"


"Aku tidak mau dengan kau! wanita busuk!" bentaknya.


Mata Luvi melotot "Apa kau bilang?! aku wanita busuk! apa mulutmu sejak kecil tidak pernah di sekolahin, Hah!" hampir saja Luvi menyiram wajah Della, Namun dengan cepat Harlan menarik botol itu.


"Biarkan aku menyiramkan ke wajah wanita sombong ini, Mas!"


Harlan menggelengkan kepala.


"Kau tidak pantas bicara begitu Del, Luvi itu istriku!"


"Kenapa kakak mengajak wanita ini kesini! dia hanya ingin merusak mental ku saja!" hiks...


"Hebat kau, sungguh pintar membulak-balikan fakta Dell!" batinnya geram.


"Jaga mulutmu itu Dell! kau yang selalu berbuat jahat padaku, bahkan Tuhan saja masih melindungi ku!"


"Luvi, diam dulu, ini rumah sakit! ucap Harlan pelan tapi penuh penekanan.


"Cih! sekarang suamiku sudah berpihak padanya!" gumamnya dalam hati seraya melipat kedua tangan didada.


Harlan menaruh tumpukan bantal di belakang punggung Della, dan memberikan botol kedepan bibirnya. Luvi yang melihat Harlan perhatian pada Della mencabik kesal dan pergi keluar dari ruangan. Della tersenyum puas saat Luvi cemburu melihat suaminya lebih peduli padanya.


Harlan menoleh ke samping, istrinya sudah tidak ada. Saat Harlan ingin menyusul, Della menarik tangannya "Kak! jangan tinggalkan aku, kalau Kaka pergi bagaimana dengan ku? aku takut sendiri." rengek Nya.


Melepas tangan Della. "Kau tidak usah takut, aku akan membayar suster khusus menjaga mu dan menemaninya disini." Harlan melangkah cepat meninggalkan ruangan.


"Aaggrh!" kenapa wanita norak itu bisa menguasai kak Harlan sih! tidak akan aku biarkan kau menang Luvi!"


Harlan mencari keberadaan istrinya, Namun tidak juga ia temui "Kemana kau perginya Luvi? kenapa istriku sekarang banyak berubah. Tidak kalem seperti biasanya, apa karena sakit kemarin telah merubah pribadinya?" Ahh! Harlan menghela nafas panjang seraya menelpon istrinya "Kenapa tidak diangkat?" apa istriku benar-benar marah, aku hanya membantu memberikan minum pada Della."


"Tuan!


Harlan menoleh sumber suara itu.


"Will!"

__ADS_1


"Tuan sedang mencari siapa?" tanyanya di sela langkahnya.


"Istriku, tiba-tiba pergi begitu saja."


"Nyonya sudah berada di lobby, berdiri di samping mobil."


"Astaga, Luvi.. aku mencarinya kemana-mana." helaan nafas lega terdengar lirih "Ya sudah aku pulang dulu, sejak dari kantor aku belum sempat ganti baju dan mandi."


"Kenapa dengan Non Della,?"


"Apa Mak tidak memberitahu mu?"


"Aku pulang terburu-buru, setelah menaruh pesanan Nyonya, langsung ke rumah sakit."


"Della mengalami diare akut, tapi sudah di tangani Dokter. Kau jaga Della dulu, tadi aku sudah membayar suster khusus yang akan menemaninya 1x24 jam."


"Baik Tuan."


"Terimakasih, Will!" menepuk pundak Wiliam "Aku pulang dulu." Harlan berjalan keluar koridor dan mendapati Istrinya berdiri dan bersandar di sisi mobil dengan tangan menyilang."


"Ngapain diri disitu? mau pamer sama cowok yang lewat!"


"Ish! apaan sih! cepetan buka pintu mobilnya."


Harlan menyalakan remote mobil dan pintu terbuka. Mobil meninggalkan rumah sakit. Tidak ada obrolan dari keduanya. Sama-sama diam dengan pikiran masing-masing. Sesekali Harlan menoleh pada istrinya, namun tatapan Luvi keluar jendela dengan ekspresi datar.


"Masih marah! akhirnya Harlan mengalah untuk berbicara.


"Siapa yang tidak marah, suami peduli dengan orang lain." dengus nya kesal.


"Sayang, aku hanya ingin memberikan Della minum. kau jangan punya pikiran aneh-aneh, tidak mungkin juga aku suka Della.'


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Mas! semua bisa terjadi, aku hanya tidak mau suamiku terperdaya dengan wanita licik itu!"


"Della tidak seperti itu, sayang.."


Mobil sudah masuk kedalam teras Manson. Luvi lebih dulu masuk kedalam kamar di ikuti Harlan.



Sepuluh hari Inez tidak ada kabar. di ruangan kerjanya Harlan tampak bingung. sebab ada beberapa desain buatan Inez belum selesai di rancang, masih tinggal 30% lagi yang seharusnya desain itu sudah rampung dibuat.



"Bagaimana Will sudah dapat jawaban dari kantor cabang?"



"Ternyata Inez juga tidak ada di kantor cabang."



"Ck!" Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Inez? ponselnya pun tidak aktif! kita tidak mungkin menyuruh karyawan untuk mendesain sisanya, pasti ide nya akan beda. Kau tahu will? Desain ini harus sudah selesai tiga hari lagi untuk launching apartemen perdana kita!"



Aaggrrh! Harlan mendesah kasar seraya mendudukkan bolong di kursi presdir. ia begitu frustasi.



"Tuan! ma'afkan saya, Sebenarnya semua ini salah saya."



Harlan yang sedang membaca lembaran file di tangannya mengangkat wajahnya dan menatap bingung pada Wiliam. "Maksud mu apa?!"

__ADS_1



Dengan perasaan kalut dan bibir gemetar, Wiliam menceritakan semua kejadian yang akhirnya membuat Inez pergi meninggalkan perusahaan Vandeles.



"Apa..? Harlan membulatkan matanya dan berjalan mendekat "Dasar bodoh! bisanya kau menghina seorang wanita, Will!" bentak Harlan geram setelah mendengar semua cerita asistennya. "Kaupun terlahir dari seorang wanita! apa kau pikir kau ada di dunia terlahir dari bokong Ayam! Menarik jas hitam William. "Bisa-bisanya kau berkata seperti itu pada karyawan andalan ku! dia wanita cerdas dan jenius, insting nya sangat kuat, dan nyatanya desain untuk sebuah proyek apartemen yang Inez buat, banyak di minati cliant!" menghempaskan kasar jas Wiliam, hingga ia mundur beberapa langkah.



"Ma'afkan saya Tuan." ucapnya dengan wajah tertunduk dalam.



"Kau harus mencari Inez sampai ketemu! bila tidak, akan aku pulangkan kau ke Belanda!" bentak Harlan emosi.



"Selama ini saya sudah mencarinya tuan. Namun tidak ada. Sejak kejadian itu saya merasa bersalah dan menyesal."



"Aku tidak mau tahu, Kau harus kembalikan inez ke Perusahan ini, sebelum pertemuan kita dengan para Cliant!"



"Baik Tuan."



Siang itu terik matahari bersinar dengan cerah. Luvita tampak gelisah, karena sudah sepuluh hari inez tidak bisa di hubungi. "Aku harus mencari Inez kemana sekarang?" kata Wiliam di rumah kontrakan nya Inez sudah tidak ada lagi."


Karena haus Luvi menyedot orange juice hingga habis. "Kenapa aku kangen pulang ke rumah ya?" sudah sebulan lebih aku tidak menengok rumahku, pasti sangat kotor. Aku harus pulang sekarang."


"Tapi bagaimana? kalau Mas Harlan tidak mengizinkan aku pulang sendiri?" hmm.. nanti saja aku telepon kalau sudah rumah."


Tubuhnya masuk kedalam kamar untuk bersih-bersih. Ia memakai kemeja kotak-kotak dan celana jeans, di padu sepatu kets putih.


Luvita tidak memakai mobil pribadi, ia hanya bilang mau jalan-jalan ke Mall sebentar pada Pak Basir.


Taksi online sudah berhenti di depan gerbang. Mobil berjalan setelah Luvita masuk kedalam mobil, membelah jalanan raya di siang terik matahari.


Satu jam kemudian, mobil berhenti di depan gapura. Setelah membayar taksi ia masuk kedalam gang kecil menuju rumahnya. Para tetangga yang melihat kedatangan Luvi, bertanya kabarnya. Banyak tetangga yang belum tahu kalau luvita menikah dengan seorang CEO pemilik perusahaan asing, yaitu Harlan suaminya yang mereka nikahkan dengan cara di gerebek.


Setelah berbasa-basi sebentar, Luvi meneruskan langkahnya yang tinggal beberapa langkah lagi, menuju rumah peninggalan kedua tangannya. Saat sudah di depan teras Luvita terkejut, rumahnya tampak bersih dan rapih. banyak pot-pot tanaman bunga yang terawat.


"Siapa yang sudah tinggal di rumah ini, tanpa seizin ku?"


Ceklek.. Ceklek..


Terdengar suara kunci pintu dibuka.


Mata luvita terbelalak saat melihat seseorang berdiri di depan pintu.


"Kau....?!"


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


@Bab nya lebih panjang, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


๐Ÿ’œLike


๐Ÿ’œVote


๐Ÿ’œGift

__ADS_1


๐Ÿ’œKomen


@Bersambung........


__ADS_2