
"Warung ku habis terbakar bersama barang barang didalam nya! imron jatuh terduduk di tanah. Sebagian orang-orang sudah membantu memadamkan api dengan membawa air di dalam ember.
Seketika Api padam. tersisa puing puing bangunan bata yang hancur, sebagian warung itu memakai kayu dan triplek sudah habis terbakar. Imron terus meratapi nasib dan warungnya. Kini tidak ada lagi mata pencarian untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari. Lupita hanya menatap iba pamannya dan membujuk untuk pulang.
Esoknya Imron tidak keluar kamar ia terkunci seharian di dalam kamar. Pukul 9.00 Lupita sudah selesai masak. ia mengetuk pintu kamar Pamannya.
Tok, tok, tok,
"Paman aku sudah selesai memasak. Ayo kita sarapan dulu." Lupita terus mengetuk pintu kamar Imron.
"Paman! buka pintunya! Tok, tok, tok,... Lupita begitu panik dan ia berlari keluar rumah mengetuk jendela kamar Imron yang berada di depan.
"Paman buka pintunya! seru Lupita terlihat Panik.
Lupita berjalan kearah kamar Lolita dan mengetuk pintu kamar yang tertutup.
Lolita bangun! Tok, tok, tok,...
"LOLITA! seru Lupita terlihat cemas karena tidak juga dibukanin pintu.
"Heh' berisik! bisa diem gak sih! jangan ketok pintu kamar, gue masih ngantuk! teriak Lolita dari dalam kamar
"Aku membangunkan mu karena sejak kemaren Paman tidak bangun-bangun!
"Udah biarin aja ntar kalau lapar juga bangun sendiri!"
"kamu kenapa tidak mau peduli pada ayahmu sendiri Loly! cepat bantu aku untuk membangunkan ayahmu! dari kemarin Paman tidak mau keluar kamar, aku takut terjadi apa-apa! teriak Lupita masih didepan pintu kamar.
"Ceklek!
Hadeuu ganggu tidur gue ajah! Lolita berdiri di ambang pintu sambil menggaruk garuk kepala.
"Cepat kau bantu aku! panggilkan ayahmu Loly! seru Lupita geram.
"ini semua gara-gara luh, Lupita!
"Kenapa kau selalu saja nyalahin aku!
"Kalau saja luh mau kawin sama juragan karyo. Ibu nggak bakal pergi dari rumah ini! warung ayah gue tidak mungkin dibakar habis oleh anak buah juragan Karyo!
"Kenapa kau terus melempar semua masalah ini pada aku! itu salah kalian kenapa berani menjodohkan orang dan mengambil uang dari juragan Karyo! seru Lupita tidak mau kalah.
karena mengajak bicara Lolita membuatnya kesal. Akhirnya Lupita memanggil tetangga samping rumahnya untuk mendobrak kamar Imron.
"Pak tolong paman ku dari kemaren tidak keluar kamar! ujar Lupita berbicara pada dua orang pria tetangganya itu.
Pak Agus tetangga sebelah ikut menggedor gedorkan pintu, tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar Imron. setelah meminta izin pada Lupita. mereka berdua mendobrak pintu kamar Imron.
BRAKK!
__ADS_1
Lupita dan kedua orang tetangganya sangat terkejut melihat Imron sudah terkapar jatuh ke lantai.
"Paman! teriak Lupita.
"Pak tolong diangkat ke atas ranjang."
Lupita dan dua orang tetangganya mengangkat tubuh Imron keatas ranjang.
"Lebih baik bawa kerumah sakit ajah! kata pak Mamat tetangga sekitar rumah Lupita.
"Kalau di bawa kerumah sakit biayanya pasti mahal, aku tidak punya uang." kata Lupita bersedih, ia sudah tak berdaya. "Apa lagi aku baru saja di berhentikan dari pekerjaan ku." mata Lupita mulai berkaca-kaca.
"Lupi yang sabar ya, emang istrinya pak Imron kemana? tanya bu any yang ikut berkumpul di rumah Lupita.
"Sedang pulang kampung bu!
"Lebih baik kita bawa ke Puskesmas ajah. kadang di rumah sakit proses nya sulit dan harus bayar dulu" kata pak Agus.
Akhirnya mereka sepakat membawa Imron ke puskesmas di bantu tetangga. jam 10.00 Imron langsung ditangani. Lupita menuggu di luar ruangan bersama Lolita yang asik dengan ponselnya.
"Kau malah sibuk main ponsel. memang kau tidak punya hati Loly! lihat ayahmu sedang sakit tapi tidak ada rasa peduli mu! sindir Lupita kesal.
"Gak usah usil dengan urusan orang lain! menatap sinis pada Lupita.
Lupita masuk kedalam ruangan setelah Suster memanggil nama keluarga Pak Imron.
"Pak Imron mengalami Struk.
Lupita tercengang tak percaya kalau pamannya mengalami struk. "Apa yang mengakibatkan paman saya Struk Dok?
"Banyaknya beban pikiran dan tekanan yang membuatnya stress. pak Imron juga punya darahnya tinggi. kami sudah berusaha menangani tapi kondisinya sudah parah. ini ku beri resep, beli obatnya di apotek kalau disini stok obat struk sangat terbatas.
"Terima kasih Dok!
Kini Hari hari Lupita mengurus Paman nya yang sakit Struk. ia sudah tidak bekerja lagi. Sedangkan sisa uang di tabungan tinggal satu juta tiga ratus ribu. semua pengeluaran kebutuhan sehari hari dan obat Pamannya Lupita yang menanggung.
"Aku harus mencari pekerjaan lagi. sekarang warung Paman sudah tidak ada, aku sudah tidak punya penghasilan lagi." batin Lupita sedih.
"Loly kapan bi Surti pulang? kasihan Paman sedang sakit struk." tanya Lupita setelah menyuapin Pamannya makan. sebab Imron sudah tidak bisa apa-apa sama sekali. bicara pun sangat sulit, tapi sedikit sedikit Lupita mengerti ucapan paman nya yang sering mengucapkan terima kasih padanya dengan tetesan air mata.
"Ibu nggak bisa di hubungi ponselnya! kau nggak usah cerewet nanti ibu juga balik bawa uang! puas!
Lupita hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Lolita yang tidak pernah peduli dengan keadaan Ayahnya.
"Suatu saat kau akan menyesal Lupi! sindir Lupita dan berjalan pergi.
Pagi itu Lupita bersiap untuk pergi setelah memberi sarapan untuk Paman nya."Loly Kau jaga Paman ya, aku mau cari pekerjaan. Aku sudah masak nanti siang kau beri Paman makan.
"Iya cerewet! gerutu Lolita, duduk di sofa sambil bermain ponsel tanpa menoleh padanya.
__ADS_1
Seharian Lupita mencari pekerjaan, keluar masuk kantor dengan membawa ijasah diploma yang ia miliki. tapi tidak ada satupun yang menerima dirinya dengan alasan sedang ada pengurangan karyawan.
"Aku tidak akan menyerah, besok aku cari kerja lagi. sebenarnya aku kasihan pada paman sudah seminggu sakit struk. tapi bi Surti tidak pernah pulang untuk mengurus suaminya." gumam Lupita bicara sendiri sambil menunggu angkot lewat.
Lima belas menit menunggu, akhirnya angkot lewat juga. Ia naik angkot dan duduk di pojokan. tiba-tiba hati Lupita merasa was-was dan tak enak hati. Ia turun di depan gang setelah membayar supir angkot. Saat berjalan ke rumahnya Lupita kaget'. Begitu banyak orang berkerumun dirumahnya. ia melihat ada tanda bendera kuning di depan rumah. Lupita berlari dan menerobos masuk kedalam rumah. Di ruangan tamu ia melihat Paman nya sudah terbujur kaku tak bernyawa. Para tetangga berdatangan dan membaca Yasin. Seketika Lupita menangis pilu terduduk lemas di samping jenazah Paman nya.
"Paman!! hiks... hiks...
πAmsterdamπ
Pagi itu Harlan sudah menghadiri acara peresmian gedung perkantoran Bank' bersama Margaret. Acara sambutan dari Harlan sebagai pemilik Bank berjalan sukses. Saat sedang berbincang dengan para investor Wiliam berjalan mendekat dan berbisik pada Harlan.
"Tuan bisa bicara sebentar."
Harlan mengangguk pelan dan berpamitan pada para tamu. Harlan mengikuti langkah Wiliam menjauh dari acara itu.
"Ada apa Will!
"Saya baru dapat info hari ini, Saat menanyakan Nona Lupita seperti yang tuan minta."
"Bagaimana keadaannya aman-aman saja bukan?"
"Lupita sudah tidak bekerja lagi di kantor Vandeles!"
"Apa! Harlan terkejut, alisnya terangkat karena bingung. "Apa maksudmu tidak bekerja lagi?"
"Sudah seminggu yang lalu Lupita dipecat oleh Direktur utama tuan Andreas. karena ia telah mencuri Desain milik Pak Yono."
"Tidak mungkin! Lupita bukan orang seperti itu. Aku tau sendiri sifat dan kepribadiannya. Ia memiliki ide brilian dan pembuatan desainnya beda dari yang lain. Lupita mempunyai karakter dalam mendesain yang tidak dimilik banyak orang. Aku percaya Lupita bukan pencuri! terlihat Harlan sangat geram dengan rahang mengeras..
"Will!
"Saya Tuan!
"Sore ini kita berangkat ke Jakarta. urusan ku sudah selesai disini!
"Siap Tuan!"
'
'
'
'
'
Bersambung....πππ
__ADS_1