Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Kepergian Harlan


__ADS_3

"Ya sudah tidak apa-apa kau pikirkan saja dulu, kalau sudah siap bisa hubungi aku nomor yang ku misscal tadi."


"Okeh Rick!"


"Ya sudah aku pulang dulu, adikku dan temannya udah nunggu disana."


Lupita mengangguk.


"Ya sudah, ayo kita makan dulu." Lupita dan Inez masuk kedalam sebuah restoran.


Usai makan malam, mereka berdua berpisah dan naik taksi ke tujuan masing-masing. Sebelum berpisah cipika-cipiki.


"Hati-hati ya Luv! jaga dirimu baik-baik dan kalau bisa hindari suamimu dulu, aku takut kalian bertengkar gara-gara aku ajak konser."


"Tenang saja, aku bisa mengatasinya dan tidak akan bawa-bawa siapapun dalam urusan ku dan mas Harlan nanti."


"Okey bay..." Lupita menutup pintu mobil, dan mobil taksi berjalan meninggalkan Senayan. Inez juga masuk kedalam taksi yang ia pesan dan melaju dengan cepat.


Satu jam kemudian mobil taksi berhenti di depan perumahan kompleks Elita. Setelah membayar tagihan taksi, Lupi meminta satpam membukakan pintu gerbang.


"Malam nyonya.. Maaf saya pikir itu bukan nyonya."


"Tidak apa-apa Pak! Oiya tadi suamiku pulang jam berapa?


"Sepertinya sekitar jam tujuh, pas azan isya."


"Ooh.. Ya sudah kalau begitu saya permisi."


Lupita berjalan masuk kedalam rumah. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Didalam ruangan tampak sepi, lampu-lampu penerangan sudah padam, hanya ada beberapa ruangan yang masih terang benderang.


"Apa Mas Harlan akan marah bila aku pulang jam segini? Semoga dia tidak berpikiran buruk." Lupita menghela nafas dalam dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"CEKLEK,!"


"Loh ko lampu Kamar padam? ucapnya pelan. ia mencari saklar lampu dan


"Klik!


Lupita tampak terkejut melihat kamar berantakan dan pakaian berhamburan di lantai, Mata liarnya melihat sosok suaminya sedang tiduran di atas Sofa seraya satu tangannya menghisap kuat nikotin bersamaan kebulan asap rokok di dalam kamar.


"Mas apa maksud semua ini? kenapa kau keluarkan semua pakaian dari dalam lemari?

__ADS_1


"Seharusnya aku yang bertanya kenapa? kau pikir kau siapa? seenaknya pulang di jam segini? Harlan mendudukkan tubuhnya dan bersandar pada sofa. "Apa kau tahu tugas seorang istri itu apa?! menatap malas wajah istrinya, Lupita masih bergeming ditempatnya dengan helaan nafas panjang. Harlan mematikan puntung rokok dan berdiri, lalu berjalan mendekati Lupita.


"Kemana saja kau pergi, Hah! menarik kasar tangan Lupita. "Apa pantas seorang wanita pulang malam tanpa kabar?! mata Harlan begitu tajam menatapnya.


"Apa kau akan peduli, bila aku pergi kemana? jawab Lupita masih dengan suara datar.


"Berani kau membantah aku, Hah! inikah sifat aslimu? bahkan saat aku pulang kerumah kau tidak ada! kenapa kau tak ijin padaku bila ingin pergi, kau anggap apa aku ini!!! teriak Harlan, menghempaskan kasar tangan istrinya.


"Maaf, bila sudah buat mas khawatir." ucapnya merasa bersalah.


"Maaf saja tidak cukup Lupi! kau selalu mudah minta maaf bila sudah berbuat salah!


"Lalu aku harus apa Mas?! ya memang aku bersalah tidak izin padamu, tapi apakah aku minta izin dulu, kau akan menanggapi? sedang kau saja tidak merespon ucapan ku saat kita berpapasan di depan pintu lift!


"Ohh jadi kau marah padaku karena kejadian tadi siang?! lalu kau pergi dan tidak pulang kerumah! kau ingin membalas aku kan? Apa kau tahu saat aku baru sampai dari kantor? kau tidak tahu bukan? Saat itu aku sedang kesal pada Paman!"


"Kalau Mas punya masalah dengan Paman? kenapa harus kesal juga padaku? aku juga punya perasaan Mas, seakan Mas nggak suka aku berada di kantor itu, padahal aku tidak mengaggu pekerjaan dan urusan Mas! aku masih menutupi pernikahan kita agar Mas tidak malu menikahi karyawan biasa yang hanya lulusan D3!"


"Sudah cukup Lupi! terlalu banyak kau bicara!" bentak Harlan seraya mengusap wajahnya kasar dan menatap serius pada istrinya.


"Aku selalu menuruti semua kemauanmu, asal kau tidak marah saat aku dekat dengan Cliant wanita! Kau ingin bekerja dan memiliki ruangan desain sendir aku turuti, padahal tujuanmu hanya untuk memata-matai aku. Sekarang apalagi yang kau pinta?!


"Aaggrrhh! kau selalu saja membuat aku pusing! kecemburuan itu sudah berlebihan, bahkan aku kaget saat kau bertanya pada wakil manager tentang ibu Ririn! padahal ibu Ririn perwakilan dari PT sentosa untuk membuat proyek apartemen. Sampai segitunya kau memata-matai aku, tidak percaya pada suami sendiri!! seru Harlan.


Lupita menarik nafas panjang "Sebenarnya itu bukan cemburuan yang berlebihan, Hari itu tak sengaja aku berpapasan dengan ibu Maria wakil manager Design didalam lift, dia sedang bersama ibu Ririn, aku hanya bertanya ingin mencari siapa?


"Bu Maria bilang mau bertemu CEO Vandeles." ya sudah aku langsung berhenti dilantai tiga dan pergi kerungan ku. lalu dimana cemburu yang berlebihan nya?!


"Sudah lah bicara dengan mu percuma!! selalu ingin menang sendiri! Dasar keras kepala!!


"Bahkan kau tidak akan perduli kalau besok aku harus keluar kota! tadinya aku berniat ingin mengajakmu, tapi melihat kau pulang malam dan melepaskan tangan Jawabmu sebagai seorang istri, Lebih baik aku berangkat sendiri!'


"Ap-apa? jadi Mas akan keluar kota besok?


Harlan tidak perduli pertanyaan Lupi, ia berjalan kearah pintu dan meninggalkan Lupita dengan perasaan bersalah.


"BRAKK,!!


Lupita tersentak kaget saat pintu di banting keras, tubuhnya terduduk dilantai di atas tumpukan pakaian. Airmata berjatuhan membasahi pipinya. Dengan tubuh gemetar ia membereskan satu-persatu pakaian itu, dan dimasukkan kedalam lemari. Dadanya begitu sesak, Lupi berfikir setelah pindah rumah dari Della dan Mak isah, hidupnya akan bahagia, Namun ternyata dia salah, rumah tangga yang selalu ia jaga, ada saja masalah.


"Kenapa kau selalu menilaiku salah matamu Mas?! hiks...

__ADS_1


***


Pagi itu suara kicauan burung di atas pohon terdengar nyaring. Lupita membelalakkan matanya dan menoleh pada jam yang menggantung di dinding. Ia terkejut, Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 menit. ia bangun dari tidurnya dan turun dari atas ranjang. Lupi membuka kamar mandi, tapi tidak ada sosok suaminya, ia berlari ke ruangan kerjanya, juga tidak menemukan suaminya.


"Apakah Mas Harlan sudah berangka? tapi kenapa dia tidak pamit padaku? semarah itukah Mas Harlan padaku?"


Lupita berlari menuruni anak tangga menuju ruangan makan.


"Mbak kau lihat Mas Harlan? tanya Lupi pada Bik Ijah yang sedang menata makanan diatas meja makan.


"Ohh Tuan sudah berangkat jam enam pagi."


"Jadi benar dugaan ku, Mas Harlan sudah berangkat? gumam Lupi lirih.


"Tadi suamiku bilang apa bik?


"Nggak bilang apa-apa, tadi sarapan nasi sama sop iga terus langsung pergi."


Lupita terduduk lemas di kursi makan dengan tatapan kosong. Hatinya menclos begitu saja.


"Siapa yang merapikan pakaian Suamiku bii.."


"Semalam Nona belum pulang, Tuan menyuruh Mbak Nur untuk masukkan pakaiannya kedalam koper."


Lupita manggut-manggut "Sudah bii, aku mau ke atas lagi."


"Non nggak sarapan dulu."


"Nanti saja bii, kepala ku tiba-tiba pusing."


Lupita menaiki anak tangga dengan langkah gontai, tidak ada yang membuatnya semangat pagi itu. Pertengkaran dengan suaminya semalam, telah meregangkan hubungannya.


💜


💜


💜


@Yuk terus dukung karya Bunda, jangan lupa untuk follow IG @bunda.eny_76


@Bersambung

__ADS_1


__ADS_2