
Saat melangkah terdengar bunyi notif dari ponselnya. Ia membuka pesan.
["Mas... jadi pulangkan? aku sudah mengganti seprai baru."]
Harlan tersenyum tipis, dan ia membalas.
["Aku pasti pulang. Besok akan mengantarmu belanja."]
Send.....
["Terima kasih Mas, aku tunggu!]
Selesai bersih-bersih, Harlan memakai kaos oblong biru dipadu celana jeans hitam, jaket kulit berbentuk indah ditubuhnya. ia menuruni anak tangga menuju meja makan.
Della sudah menyiapkan segalanya diatas meja. Harlan menarik satu kursi dan duduk. Dengan cekatan Della menaruh nasi lauk pauk diatas piring.
"Sudah cukup! perintah Harlan.
Tanpa sungkan Della duduk di samping Harlan layaknya seorang kekasih. Dengan cepat Harlan menghabiskan makannya. Della menatap intens wajah tampan Harlan, rambutnya basah terlihat cool dan macho.
Harlan menyudahi makannya, mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya hingga tandas. Harlan berdiri dan meninggalkan meja makan tanpa menghiraukan Della yang sejak tadi menunggu. Della terus mengikutinya.
"Kau mau kemana Lan? tanya Mak Isah yang melihat Harlan akan pergi.
"Mencari angin dulu Mak, biar pikiran ku tak stres bekerja seharian mengurus perusahaan."
"Tetap pulang Lan! jangan di biasakan tidur di sembarang tempat."
Harlan hanya mengangguk tanpa bicara lagi. "Aku pergi dulu Mak!"
Harlan meninggalkan Mak Isah yang terlihat murung. Ia mengeluarkan motor bebek nya dari dalam garasi.
"Kak tunggu! panggil Della.
"Ada apa?!
"Besok hari minggu, bisakah kaka ajak aku jalan-jalan."
"Kau minta saja pada Pak Basir, untuk mengantarkan mu jalan-jalan." ujarnya seraya melajukan motornya tanpa menunggu ucapan dari Della.
Motor Harlan melaju dengan cepat, membelah jalanan raya ibu kota. Malam hari tidak begitu macet, satu jam kemudian motor Harlan sudah berhenti di depan rumah Lupita.
"Lupi! Panggil Harlan seraya mengetuk pintu.
"Lupi....."
Krekkk....
"Mas...!" Senyuman manis tersungging di bibir tipis Lupita, saat pintu terbuka.
Mendapat senyuman manis dari sang istri membuat Harlan bahagia, ada binar cerah di mata coklatnya.
"Ini ambilah." memberikan kantong kresek berisi makanan.
__ADS_1
"Apa ini Mas?!
"Martabak!
"Wah, martabak makanan kesukaan ku."
"Masuklah dulu, aku akan masukan motor."
Lupita berjalan kearah dapur, dan mengambil piring, lalu menaruh martabak keatas piring.
"Mas, mau ku buatkan kopi?
"Boleh! menarik satu kursi dan mendudukkan tubuhnya. Mengambil potongan martabat yang sudah berada diatas meja makan.
"Ini Mas." Menaruh kopi di depan Harlan.
"Makan dulu martabak nya."
Lupi duduk di depan Harlan dan mencomot satu potong martabat.
"Mas! Kenapa setiap pulang kerja tidak langsung pulang ke rumah dulu, selalu pulang dalam keadaan bersih dan sudah mandi. Mana pakaian Mas? tidak di bawa kan? tutur Lupi terlihat kecewa.
Brondong pertanyaan dari bibir Lupita, Harlan hanya tersenyum tipis.
"Mas tidak ingin merepotkan mu, Mas tahu pasti kamu kelelahan sepulang kerja, jadi Mas ganti baju di rumah."
"Rumah? rumah siapa, Mas? bukankah tinggal di kos-kosan? tanya Lupita curiga.
"Iya maksud Mas juga kos-kosan." timpal nya seraya memasukkan martabak kedalam mulutnya.
"Hemmm...
"Boleh aku tanya soal pribadi?
"Tanya apa? mengambil cangkir kopi dan meyerumput nya perlahan.
Lupi tampak ragu untuk bertanya, tapi hatinya selalu mengganjal bila tidak di ungkapkan.
"Aku baru mengenal Mas Harlan. Apakah sebenarnya, Mas sudah punya seorang istri di rumah?! jujur Mas." desak Lupita "Melihat sikap Mas dan pulang ke rumah ku dalam keadaan bersih, aku semakin curiga." menjedah ucapannya seraya menarik nafas dalam "Aku tidak ingin di duakan, maaf kalau pertanyaan ku ini menyinggung." Lupi menundukkan wajahnya, tangannya meremas ujung baju.
Harlan tersenyum samar dan ia berniat ingin mengerjai Lupita dan mengetahui isi hatinya.
"Tak! menaruh cangkir kopi diatas tatakan.
"Bagaimana bila aku sudah memiliki seorang istri?! apa kau masih mau dengan ku? mengangkat satu alis. menunggu Jawaban Lupita.
"Apa?! Lupi membelalakkan matanya, "Ternyata Mas sudah menikah dan memiliki seorang istri! Lupi tidak bisa menutupi keterkejutan dan kekecewaan nya.
"Jadi kau tidak terima kalau aku sudah menikah dan memiliki istri selain dirimu?"
Tiba-tiba dada Lupi terasa sesak, nafasnya terdengar kasar, ia ingin menumpahkan kekesalan dan air matanya di depan Harlan. tapi tidak bisa, lidahnya terasa kelu dan suaranya tercekat.
"Apa kau masih ingin melanjutkan pernikahan ini? tanya Harlan lagi, ia terlihat santai dengan kedua tangan dilipat. Menatap wajah lupita yang semakin tertunduk dalam, Harlan terus mengintimidasi istrinya yang sudah terlihat kesal, pundaknya terguncang menahan tangisan.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Ya Allah kenapa Mas Harlan begitu tega mempermainkan perasaan ku, padahal aku sudah menaruh harapan padanya? gumamnya dalam hati.
Tik! tetesan air mata sudah jatuh ke pipinya.
"Apakah aku sanggup di madu? tidak! aku tidak mau dimadu. Lebih baik aku akhiri pernikahan ini sebelum aku di sentuh olehnya." Lupi membatin, hatinya sangat sakit bagai di tikam belati, setelah mengetahui kejujuran Harlan.
"Kenapa kau diam..? masih menatap lekat wajah cantik istrinya.
Lupita mengangkat wajahnya dan menatap netra Harlan, ada sorot mata kebencian yang Lupi berikan. Senyuman manis itu berangsur hilang, berganti dengan wajah kekecewaan dan penderitaan.
Lupi sudah tak tahan lagi, ia beranjak dari duduknya dan berlari ke kamar. Setelah pintu terkunci ia naik keatas kasur dan menangis sesenggukan, menumpahkan segala sakit hatinya dengan menangis.
Harlan merasa bersalah telah membohonginya. ia berjalan kearah kamar Lupi dan mengetuk pintu.
"Lupi buka pintunya..."
"Lupi, ma'afkan atas kejujuran ku."
Tangisan Lupi semakin dalam dan terdengar lirih, ia tidak mau membukakan pintu.
"Kini aku sudah tahu perasaan mu Lupi, terlihat dari matamu tidak ada kebohongan, kau sudah menerima diriku. kini aku semakin yakin dan tidak salah pilih menikahi mu." gumamnya pelan.
"Lupi..., tolong buka dulu pintunya. Aku akan mengatakan kebenarannya."
"Pergilah Mas, biarkan aku sendiri."
"Kalau kau tidak mau membukanya, aku akan mendobrak pintu ini."
"Untuk apa Mas ingin mendobrak pintu! ini sudah malam, pasti tetangga akan berpikir yang tidak-tidak."
"Biarlah tetangga mendengar semua, kau yang meminta kan? ku hitung sampai tiga, bila tidak dibuka juga, akan aku dobrak!
"Tiga.. dua.. sa...
Ceklek!
Terlihat wajah sembab Lupita. ia membuang wajahnya, dan berjalan kearah ranjang, dengan cepat Harlan menarik tangannya.
"Ma'afkan aku, semua yang ku katakan bohong. Aku belum pernah menikah sama sekali, selain dengan mu. Tadi aku hanya mengetes dirimu." senyuman samar tersemat di bibir Harlan.
Lupita balik menatap wajah Harlan, mencari kebenaran di netral coklatnya. "Aku hanya memiliki satu istri yaitu dirimu." mencium lembut punggung tangan Lupi.
"Kau jahat mas...huwaaa..." tangisan Lupita seketika meledak seraya memukul-mukul dada bidangnya. Harlan bukannya marah, ia malah membiarkan Lupita melampiaskan kekesalan pada dadanya. Setelah lelah, Harlan memeluk erat tubuh Lupi masuk kedalam dekapannya. Lupita tidak menolak dekapannya, merasakan kehangatan dalam pelukan suaminya. Senyuman sumringah tersungging di bibir Harlan, ia telah berhasil mengetahui isi hati istrinya.
Baru pertama kalinya Harlan dan Lupita bersentuhan, dari sejak pertama kali mereka saling mengenal, hingga akhirnya menikah. Belum pernah tersentuh sama sekali, apalagi berpelukan. Dengan lembut Harlan mencium kening istrinya.
❣️
❣️
❣️
BERSAMBUNG......
__ADS_1
Yuk ikut terus kisah "TUAN JENDERAL CINTAI AKU..." ceritanya beda dari novel yang lain loh...