
"Mas Harlan sudah berangkat kerja. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" untuk apa aku bertahan dirumah ini, bila dia saja menyesal menikah denganku!" Luvi mengingat obrolan suaminya semalam dengan Wiliam. Ternyata ia tidak bisa tidur dan mengikuti langkah Harlan menuju ruangan kerja, niat ingin menemani suaminya yang sedang lembur, Namun, tak sengaja ia mendengar curhatan suaminya.
Tok, tok, tok...
Luvita tersentak dari lamunannya, saat suara ketukan pintu terdengar diluar pintu.
"Masuk!
"Nyonya maaf mengganggu." Suster Susi masuk kedalam kamar dengan membawa nampan berisi sarapan dan susu putih. Menaruh nampan diatas meja.
"Nyonya, silakan makan dulu dan minum susunya. ini obat yang harus diminum, jam sembilan Dokter akan datang untuk melihat kondisi Nyonya."
"Aku mandi dulu sus." Luvita bangun dari sofa dan berjalan kearah kamar mandi.
Tepat pukul delapan Dokter Ilyas datang di kediaman Harlan. Suster Santi membawa Pak Dokter kedalam ruangan kerja. Luvita sudah menunggu disana. Selesai pemeriksaan dan terapi selama dua jam, Dokter Ilyas pamit.
~Perusahaan Vandeles~
Inez masih sibuk mendesain sebuah Apartemen, Wiliam telah memberikan proyek desain pada Inez yang dianggap mampu. Sesekali ia melihat kearah meja kerja Luvita yang tampak kosong. Sampai saat ini belum ada karyawan yang menggantikan posisi Luvita. Bahkan mereka semua belum ada yang mengetahui hubungan Luvita dengan Goergie Vandeles, yang ternyata sepasang suami istri. Inez ingat bagaimana Wiliam datang padanya dan meminta untuk merahasiakan hubungan sahabatnya dengan atasnya CEO Goergie.
Suara repsesionis menggema tepat pukul jam 12 siang. pemberitahuan jam istirahat untuk seluruh karyawan sudah dimulai.
"Nez, ke kantin yuk!
"Masih tanggung, nanti saja aku ke kantinnya." ucap Inez saat Mery yang duduk di belakangnya mengajak untuk makan siang.
"Ya sudah, aku duluan ya!"
"Oke!
Rombongan karyawan desain bergerombol keluar ruangan untuk menjalankan sholat Dzuhur dan makan siang di kantin.
Dering ponsel membuyarkan konsentrasi inez yang masih terus mendesain diatas laptop. Inez mendesah pelan, menghentikan kegiatannya dan mengambil ponsel didalam laci, tertera nama sahabatnya.
"Hallo Vit!"
"Inez, apa aku mengganggumu?
"Ahh tidak! ada apa memang?"
"Aku sengaja menelpon di jam istirahat agar tak menganggu kerjamu."
"Iya, katakan lah!"
"Nez, bisakah pulang kerja kau kerumah Mas Harlan? aku membutuhkanmu."
"Akan aku usahakan, share saja lokasinya aku akan datang. Tapi tidak bisa tepat, soalnya banyak tugas yang Tuan Wiliam berikan."
"Tidak apa-apa Nez, tapi bila kemalaman, kau tidak usah datang kemari. Pasti kau lelah karena banyak tugas yang dilimpahkan padamu. kau bisa datang besok atau lusa di saat pekerjaanmu tidak banyak."
"Tenang saja vit, aku akan atur jadwalnya, demi sahabat aku akan usahakan datang."
"Terima kasih Nez, aku matikan ya telponnya, kau teruskan saja pekerjaannya."
"Okeh! Inez menaruh ponselnya kembali setelah mengakhiri panggilan telpon dari Luvi.
"Ya Tuhan! perutku sudah tidak bisa diajak kompromi, cacing-cacing dalam perutku sudah demo." Inez menghentikan pekerjaannya dan beranjak dari duduk menuju pintu lift. Di kantin sebagian karyawan sudah ada yang selesai makan, jadi masih ada bangku dan meja yang kosong. inez menuju warung yang berjejer di kantin. Ia memesan pecel ayam dan juice jeruk.
Setelah mendudukkan tubuhnya di bangku kosong, tak sengaja kakinya melewati kursi. Tiba-tiba seseorang jatuh kelantai karena keselengkat kaki Inez.
__ADS_1
"Brukk!
"Auw! teriak wanita itu. Inez terkejut dan ingin bantu membangunkan. Tapi wanita itu menepis tangannya. ia di bangunkan oleh rekannya yang lain.
"Hey! mata empat! jangan seenaknya kaki loe di taruh di jalanan, emng ini kantin punya nenek moyang loe!"
"Wah, aku harus berurusan dengan wanita angkuh ini, dia pikir aku akan mengalah begitu saja, wanita ini juga yang sudah nyakitin sahabat ku Luvi, akan aku buat perhitungan dengannya!" gumam inez dalam hati.
"Aku tidak sengaja! ucapnya malas "kau saja yang jalannya kaya peragawati, coba kalau matamu jalan kebawah bukan keatas, pasti kau lihat disitu ada kakiku."
"Hey berani loe yah! Della berjalan mendekat dan menunjukkan jarinya ke dada inez "Apa loe nggak tau siapa gue!"
"Emangnya Kamu siapa?!" tantang inez pura-pura nggak tahu.
"Gadis bodoh! semua karyawan juga tahu kalau gue ini sepupu dari Georgie Vandeles, pemilik perusahaan ini! paham loe!!" ujarnya dengan mata melotot.
Inez melipat kedua tangannya didada "Ckckck... kalau anda sepupu Tuan Goergie, sepertinya aku tidak percaya. Sungguh sangat berbeda bagai langit dan bumi. Tuan Vandeles sangat bijaksana, terhormat dan tidak kasar. Tapi anda?! yang katanya wanita terhormat, tutur katanya saja tak di jaga!" cetus inez menajamkan bola matanya.
"Beraninya kau menghina aku!" Della menarik syal yang tersemat di leher Inez. ia melilitkan syal itu ke lehar inez, namun tangan Inez berhasil menampar wajahnya sebelum ia tercekik dengan syal nya.
Plakk!
"Auw!! Della memengagi pipinya yang terasa panas.
"Brengsek! beraninya kau menamparku!" saat Della ingin membalas, tangannya sudah ditangkap lebih dulu oleh Inez.
"Awas kau! akan aku adukan pada kak Georgi, biar kau di pecat!" teriak Della, menunjukkan kekuasaan atas nama Georgie.
Inez mengangkat sudut bibirnya. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah warung untuk di bungkus pecel yang tadi ia pesan. Ia sudah tidak berselera untuk makan di kantin. sebagian Orang-orang yang masih berada di kantin, hanya jadi penonton dan sibuk mengabadikan dua wanita itu di ponselnya.
"Dasar wanita jelek! cu'lun! norak! nggak ada bagus-bagusnya!" umpat Della, mengeluarkan unek-unek nya.
Inez tidak menggubris hinaan Della, ia pergi menjauh meninggalkan kantin.
Inez menghempaskan kasar tubuhnya diatas kursi, tempat dimana ia mengerjakan aktivitas nya. "Huft!" sangat melelahkan." desahnya pelan
"Nez! tadi kau ribut di kantin dengan sepupu Tuan Goergie?" tanya Mery yang langsung mendapat berita dari rekannya yang lain.
Inez tersenyum kecut. "Wah! beritanya sudah menyebar nih!
"Bahkan Vidio mu viral loh Nez!
Inez melebarkan matanya "Ap-apa? heum... biarlah sudah terlanjur juga!" ucapnya pasrah.
"Kalau nanti aku di panggil Tuan Goergie, akan aku jelaskan semuanya dan vidio itu salah satu bukti." gumamnya pelan.
Inez meneruskan pekerjaannya, ia sudah tidak berselera makan dengan kejadian tadi, pecel ayam yang tadi di bungkus ia berikan pada anak cleaning servis. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Pekerjaan sudah selesai, Inez bersiap untuk pulang setelah menyerahkan desainnya pada Wiliam.
Inez berjalan menuju lift, ia masuk kedalam lift setelah pintu terbuka. Tangan lentiknya menekan angka 33 dimana ruangan asisten Wiliam berada di sana.
Ting! pintu lift terbuka lebar
__ADS_1
Inez melangkahkan kaki jenjangnya menuju ruangan William, ia mengetuk pintu saat sudah berdiri didepan ruangan. Terdengar suara perintah Wiliam.
"Masuk!
JGLEK!
"Sore Tuan, ma'af menganggu. saya akan menyerahkan Desain yang Tuan minta."
"Kemarilah!"
Dengan perasaan gugup Inez berjalan kemeja kerja Wiliam. ia sudah berdiri di samping Wiliam duduk. Mata Wiliam masih menatap layar laptop didepannya, dengan kedua tangan mengetik diatas keyboard.
"Ngapain masih berdiri, taruh saja di meja!" ucapnya dingin tanpa menoleh pada Inez.
"Eh-iya! ucap Inez gugup dan meletakkan gambar desain keatas meja kerja Wiliam, karena grogi tak sengaja tangan Inez menyenggol kopi dan tertumpah diatas kertas juga mengenai laptop Wiliam.
"Ya Tuhan! Inez terpekik "Ma'afkan saya Tuan, saya tidak sengaja." Inez sangat ketakutan dan serba salah, ia mencari lap untuk bisa membersihkan tumpahan kopi diatas meja.
"Apa yang sudah kau lakukan, Hah! teriak Wiliam. menatap tajam wajah Inez dengan ekspresi kesal.
"Sekali lagi saya minta Ma'af Tuan." ucapan inez memelas dan memohon pengampunan, seraya tangannya membersihkan meja dengan tissue yang ia ambil dari dalam tasnya.
"Kerja tidak pernah becus! kau ini seorang sarjana tapi kelakuanmu tidak jelas dan selalu buat aku kesal! umpat Wiliam. "Apa ibumu tidak pernah mengajarimu kerja yang benar!"
Inez mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk, dadanya bergemuruh dan hatinya begitu terluka saat William menyinggung nama ibunya. kini mata itu balik menatap tajam kearah William.
"Tuan boleh saja menghinaku! mengejek aku! bahkan merendahkan ku! tapi jangan pernah bawa-bawa nama ibuku!" Dia wanita yang sangat aku hormati dan ku junjung tinggi!" air mata inez sudah menggantung di pelupuk matanya.
"Iya! aku memang tidak becus bekerja! aku bodoh, aku wanita tidak jelas. Bahkan aku wanita yang paling buruk dimata Tuan!" teriak Inez dengan deraian airmata, airmata itu tumpah begitu saja, merasakan sakit hati yang Wiliam goreskan.
"Aku bekerja di sini bukan untuk di maki-maki atau terus anda hina! aku menyerah, aku akan mengundurkan diri!" Inez melangkah cepat meninggalkan ruangan Wiliam.
Wiliam terkejut dengan perkataan Inez, ia merasa egois dan bersalah. Dengan cepat Wiliam mengejar Inez.
"Inez tunggu!"
🌸🌸🌸
@Hari ini bunda kasih dua bab loh, jangan lupa kembang setaman sama kopi buat sesajen 🤣🤣
@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
💜Like
💜Vote
💜Gift
💜Komen
@Bersambung........
.
__ADS_1