
WELCOME BACK READERS!!❤️❤️
Tolong kasih jejak kalian setelah membaca!! HAPPY READING ❤️
...•••••...
Satu minggu sudah Marvel dan si kembar tinggal di Indonesia. Mereka tidak tinggal di mansion Grizelle maupun mansion Smith karena Rafael yang melarang.
Walaupun mansion Grizelle masih ada tapi Rafael tidak ingin ketiga anaknya merasa sedih melihat photo sang mommy, kakek dan neneknya. Sedangkan untuk mansion Smith sudah rata dengan tangah akibat ledakan yang sangat besar.
Marvel sudah duduk di meja makan untuk sarapan tapi jam hampir menunjukan pukul 7 tidak ada tanda tanda kedua adiknya turun.
Habis sudah kesabaran Marvel. Ia berjalan naik ke lantai 3 menggunakan lift.
Kamar si kembar berdampingan dengan warna pintu yang berbeda. Pertama, Marvel berjalan menuju pintu warna putih. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Marvel langsung masuk dan berdiri di ambang pintu dengan tangan dilipat di dada.
Akan tetapi saat pandangannya menyapu seluruh kamar tidak ada gadis yang sedang ia cari. Lalu kakinya melangkah menuju walk in closed. Benar saja disana ada Retha yang sedang berdiri menatap deretan sepatu sneaker dengan tangan disimpan di dagu seperti sedang berpikir.
"Mau sampai kapan kamu lihat sepatu disana".
Tubuh Retha berbalik menatap sang abang. Lalu berjalan mendekat dengan cepat.
"Abang, Retha bingung mau pakai sepatu yang mana! Minta tolong pilihan. Please". Rengek Retha manja.
Marvel menatap seragam yang adiknya pakai lalu berjalan ke salah satu lemari dan mengambil sepatu putih biru. Tanpa memberikannya kepada Retha, ia menggandeng tangan Retha pelan meninggalkan kamar tak lupa membawa ransel yang ada di atas tempat tidur.
Saat Marvel keluar dari kamar pas bertepatan dengan Arga yang baru keluar juga dari kamar bercat hitam.
"Come on". Marvel menarik earphone yang menutup telinga Arga lalu berjalan ke lift masih menggandeng tangan Retha.
Di meja makan
Kedua adiknya sudah duduk di meja makan dengan sarapan sandwich. Sedangkan Marvel sekarang sedang berjongkok memakaikan Retha sepatu.
"Kalian lupa pesan Daddy agar menghargai waktu? Gak lihat jam?". Ucap Marvel tegas membuat si kembar diam sambil sarapan.
"Sorry bang". Ucap keduanya bersama dengan nada bersalah.
Mata Marvel tertutup menetralkan emosi yang tiba tiba datang. Biasanya Marvel tidak seperti ini tapi kalau kedua adiknya tidak menghargai waktu, emosinya akan muncul gitu saja.
"Retha akan Abang antar. Ingat, jangan perkenalkan nama lengkap kalian. Paham". Marvel menatap Retha. Untuk Arga, Marvel sudah mengerti.
Jangankan menyebutkan nama panjangnya, bicara saja sangat sangat irit saat di luar rumah.
"Paham bang". Jawab Retha.
Setalah sarapan selesai, mereka berangkat dengan Marvel yang akan menghantarkan Retha sebelum ke perusahaan.
Arga sudah melesat berangkat terlebih dahulu dan akan menunggu di ruang kepala sekolah nanti. Marvel memang meminta Arga menyembunyikan bahwa mereka kembar lagian wajah mereka juga terlihat berbeda jika tidak dilihat secara detail.
__ADS_1
Di dalam mobil Marvel hanya ada keheningan. Setalah kejadian pagi tadi Retha tidak berani berbicara sama Marvel. Abangnya sangat mengerikan saat sedang marah. Bahkan hanya Marvel saja tapi Arga juga.
"Kalau mah bertanya bilang aja gak usah dipendam". Ucap Marvel tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
Hal itu membuat Retha menengok ke samping. "Boleh?". Pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Retha.
"Apapun buat my princess". Tangan Marvel mengelus kepala Retha lembut.
Seketika bibir Retha tersenyum lebar. "Di sekolah nanti kelas Retha sama Arga beda kan?". Tanyanya penuh harap.
"Kita lihat aja nanti".
Jawaban Marvel membuat Retha cemberut jawaban itu juga bersamaan dengan mobil Marvel berhenti di depan sekolah.
Saat melihat ke luar, bisa dipastikan Retha akan menjadi pusat perhatian.
"Udah biasa juga masih kesal aja. Mau Abang antar?".
Retha mempoutkan bibirnya. "Itu malah bakal tambah ramai".
"Ya udah masuk sana, belajar yang rajin. Kalau ada apa apa bilang langsung sama Arga". Pesan Marvel.
"Dih kirain mau bilang kalau ada apa apa bilang sama Abang". Ucap Retha dengan nada menggemaskan.
"Arga juga Abang kamu".
Retha tidak menjawab, dia mengangkat tangan nya sebelum turun.
Tangan Marvel yang terulur malah ditepuk. "Uang jajan". Pinta Retha.
"Gue Abang lo bukan Daddy lo". Sarkas Marvel.
"Tambah tambah lah".
"Kagak malu tuh sama cards di dalam dompet".
"Ish, pelit banget". Gerutu Retha lalu mencium tangan Marvel dan dibalas dengan kecupan di kening Retha dari Marvel.
Sebelum mengangkat pantatnya untuk keluar, Retha berbalik lagi menatap Marvel. "Buat Retha". Gadis itu menunjukan uang berwarna merah yang ada di samping kursi. Tidak tahu sejak kapan disana ada uang.
Setelah mengatakan itu adik nakalnya keluar dan herannya wajahnya sudah berubah menjadi datar tidak ada senyuman sama sekali.
"Memang gen dari Maureen Grizelle sama Rafael Smith sangat kental". Gumam Marvel lalu melajukan mobilnya menuju perusahaan.
Jalan dari rumah ke sekolah dan perusahaan memang satu arah. Maka dari itu Marvel pasti akan sering antar jemput Retha.
....
15 menit perjalanan dari sekolah ke perusahaan akhirnya Marvel menghentikan mobilnya di depan lobi. Tak perlu mengurus mobilnya untuk diparkirkan karena ada orang akan bertugas untuk itu.
__ADS_1
Kaki Marvel melangkah memasuki lift lalu menekan tombol lantai 50 dimana tempat ruangannya berada.
Namun saat masuk ke dalam ruangan alisnya terangkat menatap heran seseorang yang ada di sana.
"What up bro!!".
Dengan wajah tanpa ekspresi kedua bertos ria ala cowok. Lalu Marvel membuka suara. "Ngapain lo disini?". Tanya Marvel sarkas.
Gak lama pintu dibuka dengan menampilkan seorang pemuda yang gak kalah tampan dari keduanya membawa beberapa berkas.
"Lo pada pindah kesini ya gue juga lah". Jawab pemuda itu menatap ke arah pemuda lain yang tadi masuk.
"Recokin orang buat apa".
"Ya!!, Richard Tirta Pratama!!".
"Ya!! Felix Xian Leonard". Ucap Richard berbicara dengan gaya dan nada yang sama.
Melihat kedua sahabatnya yang akan perang membuat Marvel melenggang pergi menuju kursi kerjanya mengurus berkas yang menumpuk. Daripada pusing dengan kelakuan mereka mending kerja biar cepat pulang.
Meninggalkan Richard sama Felix yang sedang bertengkar dan Marvel sibuk dengan berkas. Beralihlah kepada si kembar yang ada di dalam ruang kepala sekolah.
Retha yang baru masuk memutar bola matanya malas menatap Arga yang sudah santai duduk di hadapan kepala sekolah.
"Silahkan duduk". Ucap kepala sekolah menatap dua murid baru itu. "Hanya kalian kan?".
Retha mengangguk sedangkan Arga diam tanpa ekspresi.
"Kenapa kalian pindah saat sebentar lagi ujian kenaikan kelas?". Tanya si kepala sekolah membuat Retha kesal.
"Pak, kita disini untuk belajar bukan untuk di introgai seperti ini". Keluh Retha.
"Kelas?". Sahut Arga membuka suara dengan aura dingin membuat bulu kuduk kepala sekolah merinding.
"Hah?". Cengo kepala sekolah. "Baiklah, kalian ikut saya ke kelas". Lanjutnya.
"Kita? Wait, kita satu kelas?". Tanya Retha menatap ke arah Arga.
Sedangkan Arga acuh tanpa ingin menjawab berjalan mengikuti kepala sekolah yang sudah keluar duluan untuk pergi ke kelas yang akan mereka tempati.
"Arga!!". Panggil Retha kelas. "Aish. Gini caranya gimana gue tenang disekolah". Gerutu Retha berjalan dengan sambil menghentak-hengakkan kakinya kesal.
Keduanya berjalan ke kelas yang ada di lantai 2 mengikuti kepala sekolah di depan. Sampailah mereka di salah satu ruangan bertuliskan XI MIPA 1 di atas pintu.
...•••••...
TBC
__ADS_1
Jangan lupa like dan commentnya kalo kalian suka cerita ini ❤️ See u next part 🥰