Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Dengan cepat Luvi menukar gelas berisi teh manis itu."


"Ini kak!"


"Ahh iya terima kasih Dell!"


"Ayo habiskan Della dan rasakan senjata makan tuannya." Lupita tertawa jahat dalam hati.


Mereka berdua duduk dalam satu meja makan yang sama, yang berada di dalam dapur. Luvi sengaja memainkannya ponselnya sambil menunggu Della meminum teh manis itu.


"Loh kak! ko teh manisnya nggak di minum."


"Eh-iya tadi nunggu dingin dulu." Tidak ingin Della curiga, Luvi menyeruput teh manis itu perlahan dengan santai.


Melihat Luvita sudah meminum teh manis buatannya, Della tersenyum puas. Ia ikut meminum teh manis buatannya sendiri.


"Oiya kak, ini ada biskuit kaleng, pasti enak kalau di celupkan ke dalam teh manis."


"Ohhya...?


Della mengambil biskuit dari dalam kaleng dan mencelupkan kedalam teh manis.


Luvita tersenyum samar "Ayo habiskan Della, setelah ini aku akan melihat drama yang kau buat sendiri." gumamnya dalam hati.


"Kak, kok malah bengong. Ayo ambil biskuitnya, habiskan donk teh nya. Hargai yang sudah buatin."


"Oohh... tentu saja." Luvi mengambil biskuit dari dalam kaleng dan mencelupkan kedalam teh manis seperti saran Della. "Kau benar Dell, ini sangat enak." Luvi tertawa renyah


Della meneguk sisa teh manis itu hingga habis. "Hmmm... akhirnya kenyang juga."


"Pinter Della kau sudah menghabiskan teh buatan mu sendiri. Kau pikir aku bodoh, aku melihat kau memasukkan sesuatu didalam gelas itu. Aku tidak akan jatuh kedua kali ke lubang yang sudah kau buat!" Luvi mengagkat sudut bibirnya.


"Ayo kak, habiskan. Sayang kan tehnya belum habis."


"Hadue.. kenapa tiba-tiba perutku tidak enak ya? Luvi bersandiwara dengan mimik muka kesakitan seraya memegangi perut.


"Wah, secepat itukah reaksinya? bagus obat itu langsung bekerja. Tapi teman ku bilang reaksinya setengah jam setelah diminum, ternyata secepatnya itu sudah terlihat hasilnya. Ahh! aku sangat senang melihatmu kesakitan seperti itu, Luvita!" Della tersenyum penuh kemenangan.


"Aku mau ke kamar dulu, tiba-tiba perutku kram!"


"Kok bisa tiba-tiba sakit? atau kakak punya sakit maag kali?" Della berargumen.


"Nggak ada kok! ya sudah aku keatas dulu!" Luvi berdiri sambil terus memegangi perut.


"Apa perlu aku antarkan kak!"


"Tidak usah! nanti juga sembuh sendiri!" luvi berjalan meninggalkan dapur dan menaiki anak tangga.


"Nikmatilah hasil perbuatan mu sendiri!" Luvi tertawa renyah di sela langkahnya menuju kamar miliknya bersama suami tercinta.


Setelah Luvi sudah hilang dari pandangan, kini gantian Della yang terbahak sambil memukul- mukul meja. "Kita lihat saja Luvi sebentar lagi kau akan kejang-kejang." Della terus terpingkal-pingkal merayakan kemenangannya.


"Della! apa ada yang lucu? Tiba-tiba Mak Isah masuk kedapur sambil menaruh piring kotor. "Anak perempuan kok ketawanya seperti itu? ingat, ini malah Jum'at." nasihatnya pada keponakannya itu.

__ADS_1


"Ck." Apa hubungannya ketawa dengan malam Jum'at Bii..."


"Awas, nanti ada yang ikutin ketawa kamu." celetuk Mak Isah berjalan pergi dari dapur.


"Ehh, benar juga ya? ini kan malam Jum'at, mana di belakang dapur ada pohon beringin, kan serem." Ihhh... Della bergidik. kepalanya terlintas bayangan kuntilanak yang melayang. buru-buru ia keluar dari dapur.


Di ruangan keluarga Mak isah dan Della sedang menonton film *ikatan Rindu* tak lupa cemilan diatas meja dan dua juice alpukat.


"Bii, Della lihat sekarang sikap Bibi kok jadi baik dengan wanita itu!"


"Wanita itu ciapa?"


"Ya Luvita, siapa lagi emang."


"Ohh itu. Iya bibi nggak mau kecewain Harlan, kalau bibi benci istrinya, nanti Harlan pergi dari rumah ini ninggalin kita. Bibi nggak mau itu."


"Ish! Bibi ini gimana sih! gagal donk rencana kita!" Della mengerucut kesal.


"Lagian kan Luvita anaknya baik, suka nemenin Bibi ngobrol kalau lagi suntuk, terus buatin kue yang enak-enak, pokoknya dia pinter masak." puji Mak isah tanpa basa-basi.


"Kok Bibi malah muji dia terus sih! apa Bibi yakin dia akan jadi istri yang baik buat Kak Harlan." gerutu Della, mendesis kesal


"Ya kita lihat ajah nanti Dell, Harlan sepertinya sangat cinta sama istrinya. Kau lihat sendiri kan? kemaren gimana Harlan marah gara-gara istrinya masuk rumah sakit, ngebayangin si bule itu marah Bibi jadi ngeri."


"Bibi kan ibu asuhnya, masa tidak bisa kendalikan kak Harlan!"


"Auw! tiba-tiba Della merasakan perutnya sakit, ia memegangi perutnya sambil membungkuk.


"Kau kenapa Dell?" Mak Isah terlihat panik, melihat wajah Della pucat. Dengan cepat Della berlari masuk kedalam kamar mandi.


"Ada apa dengan perut mu?


"Nggak tahu bii, tiba-tiba perutku mules dan melilit."


"Mungkin kau ada salah makan."


"Ahh, aku biasa saja makannya nggak ada yang aneh-aneh."


Saat sedang berbicara, lagi-lagi Della merasakan sakit yang luar biasa diperutnya. Ia berlari lagi masuk kedalam kamar mandi. Terus berlanjut sampai 7x bulak-balik.


Keringat dingin mengucur deras dari pori-pori kulitnya, Mak Isah yang sejak tadi melihat keponakannya bulak-balik ke toilet, berjalan mendekat saat ia sudah keluar dari kamar mandi.


"Dell, minum obat ini dulu untuk pereda sakit perut, lihat tubuhmu gemetar begini dan terlihat lemas.


"Della kenapa Bu?" tiba-tiba Luvi sudah berdiri di depan pembatas ruangan. Mata Della terbelalak sempurna melihat Luvita segar bugar tanpa ia merasakan sakit sama sekali.


"Sepertinya ada salah makan. Tiba-tiba mules dan buang-buang air terus-menerus."


"Ohh itu, mungkin diare. Kasih minum air garam ajah Bu, supaya diare nya berhenti. Kasihan loh kaya nya Della lemas." Luvi tersenyum jahat dengan sorot mata intimidasi.


"Ko Luvi nggak kenapa-napa sih! bukannya tadi ia sakit perut. Apa aku salah taruh teh manis ya? Ahh, nggak mungkin. Atau jangan-jangan? Della menatap Luvi tersenyum mengejek padanya. "Sialan!! pasti dia yang sudah menukar teh manis itu!! umpatnya dalam hati.


"Aagrr! Della menggeram kesal seraya masuk kembali kedalam kamar mandi, karena perutnya kembali melilit."

__ADS_1


"BRAKK!"


"Kau yang menabur kau yang menuai hasilnya Della! Luvita gelengkan kepala seraya meninggalkan dua wanita yang sedang panik itu. Ia berjalan keteras menghampiri sang Arjuna yang baru pulang kerja.


Harlan keluar dari mobil setelah Wiliam membukakan pintu. Terlihat senyum terbit di bibir istrinya yang menunggu di depan teras.


"Tumben istriku menunggu suaminya pulang." Harlan mencium kening istrinya "Kamu cantik sekali malam ini, sepertinya kau sedang bahagia." mengusap lembut pipi mulus Luvita


"Tentu saja, karena aku habis menang perang." Luvita tergelak.


Kedua alis Harlan mengeryit "Menang perang? maksud nya."


"Sudah lah nggak usah di bahas. Mas nggak akan ngerti."


"Mulai nakal ya." mencubit dagu istrinya


"Ayo masuk Mas!" menarik tangan suaminya.


"Sun dulu donk." tersenyum menggoda.


"Ish, Mas apaan sih. ini kan diluar, udah ahh nanti ajah di kamar." Luvi membalikkan tubuhnya ingin masuk kedalam, Namun Harlan menariknya hingga terjatuh kedalam pelukan suaminya. Sebelum istrinya protes Harlan sudah membungkam bibir Luvita.


Apa daya Luvi tidak dapat berontak keinginan suaminya yang keras kepala. Sebenarnya ia malu karena berada di depan teras. sudah pasti satpam melihatnya walau dari jarak yang jauh sekalipun. Sementara Wiliam yang masih berada di belakang Harlan menelan salivanya.


Glek!"


"Ck." Bikin mataku ternoda!" mengalihkan pandangannya ke samping.


"Ehemm!


Suara deheman menghentikan aktivitas mereka berdua, Luvi tampak bersyukur bisa lepas dari jeratan bibir suaminya.


Harlan menoleh asal sumber suara itu "Astaga Will!" Harlan tersentak kaget melihat Wiliam masih berdiri di belakangnya.


"Ngapain kau disitu? ngintip ya...?


"Tadinya saya mau masuk kedalam, tapi badan tuan menghalangi jalan." ucapnya lirih tanpa bersalah.


"Cih! bisa-bisanya cari alasan, bilang ajah kau iri kan? melihat aku bermesraan. Siapa suruh jadi jomblo abadi! sana cari pacar biar nggak ganggu orang bermesraan!" ledek Harlan, merangkul pinggang istrinya dan berjalan masuk kedalam. Luvita terkekeh melihat atasan dan bawahan itu selalu berdebat.


Seketika raut wajah Wiliam berubah merah, ia berjalan masuk kedalam rumah dengan hati dongkol.


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


@Bab nya lebih panjang, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


๐Ÿ’œLike


๐Ÿ’œVote


๐Ÿ’œGift


๐Ÿ’œKomen

__ADS_1


@Bersambung........


.


__ADS_2