
"Boleh kita bicara? aku sengaja datang kemari untuk membicarakan kerjasama dengan perusahaan mu."
Harlan mengangguk dan mereka duduk di Sofa bersama Alfonso dan Margaret.
"Katakan lah Paman! apa tujuan Paman dan Margaret datang ke kantor ku?" tanya Harlan penuh selidik dengan tatapan mengintimidasi.
Alfonso mulai membetulkan duduknya agar terlihat nyaman. "Kau tahu bukan, perusahaan yang kau bangun ini juga milikku."
Harlan mengeryitkan keningnya "Apa maksud Paman?! jadi ingin mengambil alih perusahaan ku dengan alasan juga milik paman!"
"Bukan begitu maksudku, kau dengarkan dulu penjelasan ku sebelum kau bicara!
Harlan mendengus kesel.
"Aku tidak akan mengambil perusahaan mu, justru aku ingin menambahkan beberapa anak cabang perusahaan Vandeles. Dan Margaret salah satu pemegang anak perusahaan baru."
"Tidak bisa begitu Paman, aku tidak setuju!
"Aku tidak akan mengusik perusahaan mu Goergie! aku hanya buat anak perusahaan baru di bawah naungan Vandeles."
"Huft! Harlan meniup kuat "Sebenarnya Paman bisa buat perusahaan baru tanpa harus melibatkan perusahaan ku! Bahkan di Belanda sudah ada perusahaan milik keluarga Margaret, buat apa repot-repot buat perusahaan disini!"
"Justru kami ingin memperluas dan mengembangkan jangkauan kami di berbagai negara termasuk Indonesia."
******* panjang Harlan terdengar lirih.
"Kenapa kau tidak mau bantu Ayahmu. kau tidak usah khawatir Goergie, perusahaan permata dan Berlian akan menjadi milikmu. Cuma satu permintaan ku, mari kerjasama untuk memajukan perusahaan mu lebih berkembang."
"Kalau aku sudah meninggalkan Belanda, berarti aku sudah tidak berharga dengan perusahaan Berlian, paman sumbangkan saja untuk yayasan panti jompo, anak-anak telantar yang butuh biaya."
"Kau itu sudah gila Goergie! mana mungkin aset berharga itu akan aku sumbangkan ke yayasan! Perusahaan itu milik keluarga Vandeles, nenek moyang kita yang sudah turun menurun memberikan semua itu!
Harlan mengusap wajahnya berkali-kali. "Baiklah, aku akan bantu meluluskan keinginan Paman. Tapi hanya untuk anak perusahaan, dan jangan mengatur apalagi ikut campur di dalam perusahaan ku!"
"Kau tenang saja, Ayah tidak selicik itu!
Alexa datang dengan membawa dua cangkir coklat panas dan juice jeruk permintaan Margaret dan cake. "Silakan Tuan, Nona..."
"Terima kasih.." ucap Margaret. Alexa keluar kembali dan menutup pintu.
"Kalau begitu, kau harus ajari Margaret untuk bisa menjalani bisnis yang akan berjalan, sampai anak perusahaan selesai dibangun."
"Membuat anak perusahaan butuh waktu lama dan tidak sedikit."
"Kerahkan pekerja yang handal dan banyak untuk membangun proyek ini."
"Kalau Margaret ingin belajar, biar Wiliam yang menangani."
"Dimana tempat tinggal mu, Ayah ingin berkunjung ke rumah mu dan bertemu ibu asuh."
"Nanti aku kabari ibu Asuh!"
"Baiklah, Ayah pulang dulu ke hotel. Kalau ada perlu kau bisa menemui Ayah di hotel."
"Sialan tua bangka ini, percaya diri sekali menyebut Ayah!" maki Harlan dalam hati.
"Goergie bisa kita makan siang bersama, aku juga ingin tahu kebudayaan orang Indonesia. Kau bisa bantu aku bukan?" ucap Margaret manja, rupanya ia sedang mencari perhatian. ini
"Aku bukan pemandu wisata, aku juga bukan orang asli Indonesia. Kau bisa mencari orang untuk membantu mu mengerti budaya Negera ini!'
__ADS_1
"Maaf aku harus meninggalkan ruangan ini, karena hari ini ada meeting dengan Cliant."
"Permisi! Harlan beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan itu.
"JGLEG!
"WIll...
"Tuan ..!"
"Sejak kapan mereka sudah berada di ruangan ku!" tanya Harlan dan berjalan masuk kedalam ruangan Wiliam.
"Sejak pagi, saya juga kaget dengan kedatangan Tuan Alfonso dan Nona Margaret."
Harland menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskan kasar. Ia mendudukkan bobot tubuhnya di sofa.
"Apa Tuan sudah bicara dengan Tuan Alfonso?"
Harlan mengangguk "Mereka ingin membuka Anak perusahaan di bawah naungan Vandeles."
"Hah??!" Bukankah perusahaan Tuan Alfonso sangat besar di Belanda. untuk apa ingin membuka anak perusahaan baru di bawah naungan Tuan."
"Aku juga tidak mengerti apa maksud dan tujuannya."
"Apa Tuan menyetujui nya?"
"Iya! dan aku punya rencana untuk menyelidikinya. Apa tujuan Paman dan Margaret ingin membuat perusahaan disini." Harlan menatap Wiliam yang terlihat terkejut.
"Tuan yakin? apa tidak akan tergoda dengan Nona Margaret."
"Aku yakin! aku sengaja menyetujuinya dan kita akan buat rencana. Masalah Margaret kau tidak usah khawatir, aku sudah memiliki istri dan tidak akan mudah tergoda. Kalau aku tergoda dengannya sudah dari dulu bukan?
"Ak-aku Tuan?"
"Memangnya kenapa?"
Wiliam garuk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, terlihat ia gusar "Bila saya yang mengajari Nona Margaret, sudah pasti akan selalu bersama kemana-mana berdua."
"Terus masalah nya dimana?"
"Anu Tuan... saya sedang menjaga hati seorang."
"Maksud mu? Harlan mengeryitkan alisnya.
"Saya dan Inez sudah tunangan, walau belum di resmikan."
"Ohh-ya? jadi kau dan inez...?"
Wiliam tertawa malu-malu.
"Kau bisa jelaskan pada Inez, aku yakin Inez tidak akan cemburu dan berpikir macam-macam, lagian tujuan kita untuk mencari tahu apa tujuan mereka disini."
"Baiklah Tuan, kita akan cari tahu semuanya."
*
*
Lupita sudah bersiap untuk pergi ke kantor suaminya, sebelumnya ia sudah janjian dengan Inez untuk bertemu di kantor Vandeles. Pak Andi seorang supir yang di pekerjakan oleh Harlan untuk mengantarkan istrinya.
__ADS_1
Mobil meluncur meninggalkan perumahan Komplek Elite. Saru jam kemudian mobil berhenti tepat di depan lobby perkantoran. Lupita mengambil gawai dalam tasnya dan menghubungi Inez.
"Hallo Nez! aku sudah di lobby. Temui aku di kantin tempat kita biasa ya."
"Masa istri bos tongkrongannya kantin karyawan." seloroh inez terkekeh.
"Justru aku kangen sama kantin itu dan banyak sejarahnya. Udah ya aku tunggu di warung Ayam geprek."
"Oke siap, aku siap-siap kesana."
Inez berjalan keluar dari ruangan, jam makan siang sudah selesai sejak setengah jam yang lalu, ia berhasil menemukan Lupita yang sedang duduk di counter Ayam geprek. kebetulan kantin sepi karena karyawan sudah bubar untuk kembali bekerja.
Mereka memulai obrolan serius dan sesekali terdengar candaan gelak dan tawa. Inez juga menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutupi dari sahabatnya itu
"Jadi beneran, kalian sudah jadian? wah kita harus merayakan nih! Lupita terkikik.
"Tapi tunggu... apa kau yakin dengan Wiliam yang tiba-tiba mengajak mu tunangan?
"Kau begitu meragukan Wiliam ya lup? awalnya akupun ragu, tapi melihat ketulusan dan pembelaan Wiliam di depan karyawan, itu sudah suatu pembuktian."
"Bukan begitu, tapi baru aku tinggal honeymoon seminggu kalian sudah jadian, secepat itu?" Lupita terkekeh sambil mengaduk es jeruk di depannya. Lalu ia tersenyum "Tapi aku salut padamu, pada akhirnya Pria dingin itu bisa kau taklukkan. Semoga kalian langgeng sampai ke pelaminan."
"Terima kasih ya Lup, kau selalu mendukung aku." Inez tersenyum lebar "Oiya apa kau mau menemui suamimu."
"Iya, aku akan diam-diam buat suprise. Pasti Mas Harlan senang aku datang."
"Oke ibu CEO, apa perlu aku antar?
"Tidak usah, nanti karyawan ada yang tahu. Aku akan memakai masker biar tidak ada yang curiga kalau aku Lupita."
"Okeh kah kalau begitu, aku akan kembali bekerja. Ayo kita ke atas." Setelah Lupita membayar minumannya. ia masuk kedalam lift.
Harla sudah selesai meeting. Ia kembali ke ruangannya. Saat ia membuka pintu auranya terlihat kesal "Kenapa kau masih berada di ruangan ku?"
"Goergie..."
"Ku kira kau sudah pulang bersama Paman!" Harlan berjalan dan berdiri di depan kaca, melihat pemandangan luar dari lantai 18.
"Paman katanya lelah, dia butuh istirahat karena perjalanan cukup jauh." Margaret berdiri dan berjalan kearah Harlan.
"Harlan aku ingin bicara."
"Bukan kah tadi sudah di bicarakan. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan."
"Tapi Harlan..." tiba-tiba Margaret memeluk tubuh kekar Harlan dari belakang.
Disaat itulah Lupita yang langsung masuk karena melihat pintu ruangan suaminya sedikit terbuka. Ia di kejutkan dengan pemandangan yang menyakitkan, bola matanya memanas. Tak ingin menyapa atau menegur suaminya Lupita berlari meninggalkan ruangan itu.
"Lepaskan Margaret! Kau jangan lancang!" hardik Harlan, melepaskan kedua tangan Margaret dengan kasar.
🔥
🔥
🔥
@Sabar ya All, dari awal kisah Margaret sudah ada, Nggak mungkin tiba-tiba ceritanya hilang dan gantung.
@Bersambung....
__ADS_1