Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Pertengkaran


__ADS_3

"Hahahaha... lihat saja, tak lama lagi kak Harlan akan melempar mu ke jalanan!"


Luvi mengangkat sudut bibirnya "Kita lihat saja, kau jangan terlalu percaya diri Della!"


Tak menghiraukan ocehan Della yang sengaja memancingnya. Luvi kembali melangkah dan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Saat di depan pintu, dadanya berdegup kencang. Luvi merapal kan do'a agar suaminya tidak marah.


Tangan Luvita sudah menegang handel pintu, rasa cemas dan gusar mulai menjalar di otaknya, karena ia lupa mengabari suaminya.


"Ceklek...!"


Lupa membuka pintu perlahan dan mendorong daun pintu, tak ada siapapun di dalam kamar, kecemasannya sedikit berkurang. Luvi mulai mencari keberadaan suaminya didalam kamar, bahkan di balkon juga tidak ada.


"Pasti Mas Harlan ada di ruangan kerjanya, sebelum ia masuk kamar dan marah-marah, lebih baik aku mandi dulu."


Luvi menanggalkan semua pakaiannya dan berjalan masuk kedalam kamar mandi. Setelah air hangat terisi, ia masuk kedalam bahtub dan berendam, aroma aneka bunga-bunga di dalam air membuat tubuhnya segar.


Selesai dengan ritualnya mandi, Luvi memakai kimono. wajahnya terlihat fresh setelah perawatan bersama inez. Ia berjalan keluar kamar menuju ruangan kerja suaminya.


Sekali lagi jantungnya berdebar tak karuan, tangan Luvi memegang handle pintu dan


Kreek!


Mata Luvi terbelalak saat melihat Harlan memasukkan jari Della kedalam mulutnya.


"Mas! apa yang kau lakukan bersama Della!" pekik Luvi emosi.


Harlan melepas jari Della dan meludah ke samping. ia pun terperanjat kaget melihat istrinya sudah berdiri di depan pintu.


"Sayang, jangan salah paham ini tidak seperti yang kau lihat. Della tadi mengantarkan aku kopi, lalu gelasnya terjatuh ke lantai, saat Ia mengambil pecahan gelas tiba-tiba tangannya tergores dan mengeluarkan banyak darah. Aku hanya membantu menghentikan darahnya dengan cara menghisap jari Della, agar darahnya tidak banyak keluar."


Luvita melihat pecahan gelas dan tetesan darah di lantai. "Tetap saja yang Mas lakukan salah! di belakang ku berani melakukan hal itu!


"Kak Luvi tidak usah cemburu, aku dan kak Harlan sudah sejak kecil bermain bersama dan seperti ini sudah sering Kaka lakukan padaku!" sungut Della.


["Dasar wanita licik, dia sudah berani menunjukkan taringnya dengan berpura-pura mengantarkan kopi lalu sengaja ia jatuhkan, agar suamiku simpati dan kasihan padanya]


"Della keluarlah!" perintah Harlan.


"Aku akan bersihkan pecahan gelas itu kak!"


"Nanti saja biar bibi yang bersihkan!"


Della berjalan kearah pintu, saat bersitatap dengan Luvi, ia menyunggingkan senyum licik.


"Seharusnya aku yang marah padamu! kau kemana saja tanpa kabar? dan pergi tanpa izin padaku!"


"Mas! Luvi berjalan mendekat "Aku mengaku salah pergi tanpa izin dulu padamu, Ma'afkan aku Mas, aku tadi pulang kerumah untuk beres-beres dan sorenya aku pergi ke Mall."


"Kau pergi dari siang sampai tengah malam, tapi untuk menghubungi ku saja atau memberi pesan tidak bisa. Apa saja yang kau lakukan di luar sana Luvi! bentak Harlan dengan sorot mata tajam.


"Aku sudah jelaslah bukan? aku...


"Sudah cukup! Harlan memotong ucapan Luvi. "Bila kau butuh kebebasan, akan aku berikan!"

__ADS_1


Luvi membulatkan matanya "Apa maksudmu Mas!"


Harlan mendengus kesel "Sifat mu sudah banyak berubah Luvi, kau bukan Luvi yang aku kena dulu! kalau kau memang Istri yang baik tetap lah di rumah dan menunggu suamimu pulang."


"Aku tetap Luvi yang dulu, Mas! kalau sifat ku berubah lebih tegas itu karena Della sudah berbuat licik padaku!"


"Kenapa kau selalu melemparkan kesalahan pada Della? dia datang hanya membawakan kopi untuk ku! sementara itu adalah tugas mu, lalu kau pergi kemana?" menatap lekat wajah istrinya dengan nafas kasar.


["Ahh! sial! kenapa istriku semakin cantik, banyak perubahan pada wajahnya, walau dengan wajah natural pun ia sudah sangat cantik]


"Percuma aku membela diri, kau tetap saja bela Della! siapa yang tidak sakit hati di depan mataku kau begitu mesra menghisap jari wanita licik itu!"


"Huft! Harlan meniup kuat seraya menghempas bokongnya di kursi kerja. "Apa yang kau cemburukan dari sosok Della? aku lelah seharian bekerja, Namun, saat aku pulang tidak ada istriku di rumah! bahkan kaupun tidak berpamitan pada Mak, yang jelas-jelas ia ada di rumah seharian. Dan apa salah Della membawakan aku kopi? karena kopi itu panas tak sengaja terjatuh, apa aku harus diam saja saat jarinya terkena pecahan gelas, aku juga punya hati nurani,Vit!"


"Della itu sengaja Mas, dan hanya ingin mencari perhatian padamu!"


Harlan gelengkan kepala "Kini aku baru tahu, kalau kau sungguh keras kepala. Sudah salah masih tak mengakui, sudah kau pergi saja. Masih banyak pekerjaan yang harus aku urus."


"Tes! tak terasa airmata Luvi membasahi pipinya, ia mengusap dengan punggung tangannya.


"Mas! dengarkan aku dulu? aku bisa jelaskan semuanya, kenapa aku pergi keluar rumah dan menemui seseorang. Sekali lagi aku minta maaf, aku mengaku salah, aku lupa untuk memberitahu mu dan sebelum berangkat aku sempat mencari Ibu, tapi ibu tidak ada, ku pikir pasti sedang tidur."


"Itu bukanlah alasan Luvi! kau bisa pergi seharian dan lupa menghubungi suamimu atau memberikan pesan. Bahkan kau pulang larut malam setelah puas pergi seharian!"


"Asal kau tahu Mas, aku pergi juga untuk kepentingan mu, aku menemui In..


"Sudah cukup! Harlan memotong kembali ucapan Luvi "Sekarang keluarlah dari ruanganku, plis! aku butuh ketenangan!"


"Aarrgh! Harlan mengerang kesal seraya memijit keningnya yang terasa pusing.


Didalam kamar Luvi termenung, ia mengaku salah, Namun, harus kah Harlan semarah itu dan membela Della? ia baru saja ingin menjelaskan kalau bertemu Inez dan membujuknya untuk kembali ke perusahaan.


Jam menunjukkan pukul 12 malam, namun Harlan tidak juga kembali ke kamar. Karena lelah Luvi tertidur pulas.


Ceklek!


Harlan masuk kedalam kamar tepat pukul dua dinihari, ia melihat wajah cantik istrinya yang tertidur dengan tenang.


"Luvi, Kenapa kau begitu mengecewakan ku hari ini, ada supir yang bisa mengantarkan mu pergi kemanapun, kau bertemu dengan siapa? seorang pria kah?" rasa kesal masih terasa di hatinya. apalagi melihat istrinya tambah cantik dan pergi sendiri tanpa izin. Harlan merebahkan tubuhnya diatas kasur dan memunggungi tubuh istrinya.


Jam sudah menunjukkan pukul 3.30 subuh, saat terbangun ia melihat suaminya tertidur pulas. Luvi mendekatkan wajahnya dan mencium kening lembut suaminya. ia turun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi.


Tanpa Luvi sadari, Harlan membuka matanya dan tersenyum samar. ia merasakan ketulusan ciuman istrinya. Pintu kamar mandi terbuka, Luvi mengganti jubah handuknya dengan dress selutut dan ia menjalankan ibadah subuh.


Melihat suaminya belum terbangun, ia turun ke bawah untuk membuatkan kopi. Seperti biasa para pelayan membuat sarapan pagi untuk penghuni mansion.


"Non, mau saya buatkan apa untuk sarapan? tanya bi Sumi, ART yang biasa bagian memasak.


"Nasi goreng seafood juga boleh, sudah seminggu tidak makan nasi goreng."


"Baik Non, bibi buat sekarang."


"Terima kasih ya bii..."

__ADS_1


Setelah menyeduh kopi untuk suaminya, Luvi berjalan kearah tangga.


"Ceklek!"


Pandangannya tertuju pada sosok suaminya yang selesai mandi dan berdiri di depan cermin, ia sudah rapih dengan tuxedo yang melekat di tubuh kekarnya. Luvi menaruh kopi diatas meja dan berjalan mendekat.


["Tidak akan ku biarkan Pelakor seperti Della menguasai suamiku, ia sudah menang satu langkah, aku tidak boleh lengah."] ujarnya dalam hati, di sela langkahnya mendekati suaminya


"Mas! Luvi memeluk tubuh Harlan dari belakang "Ma'afkan aku, jangan marah lagi ya?" Luvi merayu dengan melembutkan suaranya.


Harlan bergeming, lalu memutar tubuhnya dan menghadap istrinya. Mata mereka saling bersitatap. Mata coklat Harlan seakan menusuk hati Luvi, ia tertunduk. Harlan mengangkat dagu istrinya "Jangan pernah kecewakan aku lagi. Aku mema'afkan mu, tapi tidak ada lain kali. Harlan mencium bibir istrinya tanpa jedah.


"Dengan siapa kau pergi kemaren?" tanya Harlan menelisik penuh curiga.


Luvi tersenyum "Bertemu Inez!"


"Ap-apa? kau sudah menemukan Inez?"


Luvita mengangguk.


"Dimana Inez sayang? beritahu aku, dia harus menyelesaikan desain nya, dua hari lagi perusahaan ku akan mengadakan meeting para investor."


"Tidak mau! Mas sudah marah-marah dengan ku semalam."


Menarik pinggang istrinya agar lebih dekat "Sayang, itu salahmu. kenapa semalam tak jujur kalau bertemu dengan Ines, jadi aku tidak terus curiga."


"itulah kalau Mas selalu dekat dengan Della!


"Kenapa kau masih bahas Della lagi sih! sudah ya jangan bahas Della, cukup kita berdua saja! merapikan anak rambut kebelakang telinga Luvi.


luvita mendesah kasar "Semalam aku ingin memberitahu, kalau aku berjalan dengan Inez, tapi Mas malah marah-marah dan tidak mau mendengar penjelasan ku!" ucap Luvi kesal.


"Iya, Ma'afkan Mas ya.." menarik Luvi dalam pelukannya.


"Iya, tapi tidak ada lain kali ya Mas!


"Kok ngebalikin ucapan Mas sih! Harlan terkekeh.


"Yank!


"Heum!


"Kamu tambah cantik sekarang, Mas tambah cinta! Harlan menciumi istrinya bertubi-tubi.


"Ish gombal!"


💜


💜


💜


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2