Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Minta Pulang


__ADS_3

"Sudah! Ayuk kita pulang saja."


"Loh, kenapa kerang nya tidak dimakan dulu.'


"Nanti saja di penginapan, aku sudah lelah." sebenarnya Lupita sudah tidak berselera makan kerang itu, ia masih terus kepikiran ucapan Pria buta tadi.


"Ya sudah, ayok kita pulang. ini juga sudah senja."


Setelah membayar dua buah es kelapa, mereka berdua berjalan kearah resort tempat mereka menginap.


Lupita merebahkan tubuh lelahnya di sebuah Sofa. Masih terus memikirkan ucapan orang buta tadi. "Orang buta itu bilang, suamiku bukan orang sembarangan? apa maksudnya? aku sendiri selama menikah dengan Mas Harlan belum pernah sekalipun bertemu dengan keluarganya." batinnya terus bertanya-tanya.


"Sayang...? apalagi yang kau pikirkan?! Harlan berjalan mendekat dan berjongkok di depan Lupi.


"Tidak ada Mas, ini sudah sore. Aku ingin mandi dulu, lihat pakaian kita kotor."


"Kita mandi bareng yank?! mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Lupi.


Lupita mendorong tubuh kekar Harlan "Gantian ajah Mas! jawab Lupi acuh tak acuh, ia beranjak dari sofa dan berjalan kearah kamar mandi. Helaan nafas panjang terhempas begitu saja dari bibir Harlan.


"Kenapa sikap Lupi aneh, semenjak tadi pagi dan pulang dari pantai, bahkan kerang yang ia beli belum sama sekali di sentuhannya." Harlan terus menepis kegundahan hatinya atas sikap Lupi yang tiba-tiba tidak semanis malam pertama.


Senja sudah di ufuk barat, langit tidak secerah mentari. Lupita berdiri atas balkon seraya menatap lautan lepas didepannya, hawa dingin menyeruak masuk kedalam pori-pori kulitnya. Ia mendekapkan kedua tangannya didada. Sebuah mantel tersematkan di pundak Lupi. ia menoleh kesamping, melihat suaminya sudah merangkul pinggangnya dari belakang.


"Apa kau kedinginan, yank?! suara lembut Harlan terdengar merdu di telinganya. Gigitan kecil di ujung daun telinga membuat Lupi menggeliat.


"Geli, Mas..." Lupi memiringkan telinga ke kiri, ia tidak ingin hasrat nya kembali bangkit.


"Sayang... sebenarnya ada apa dengan mu? kenapa sikap mu tidak manis lagi padaku? Harlan menatap lekat netral lupita "Aku tahu ada sesuatu yang kau tutupi. Katakan saja, aku siap mendengar kannya."


"Kapan kita kembali ke Jakarta, Mas? aku ingin pulang! tanya Lupi dengan wajah tertunduk.


"Kenapa kau menanyakan kapan pulang? Apakah kau tidak bahagia kita berada di Bali? Harlan terus menatap netra yang sudah berkaca-kaca. "Baru saja tiga hari kita disini, Lupi! kita sedang bulan madu! ucapan Harlan terdengar kecewa. "Bukankah kau sudah setuju, satu minggu kita berada di Bali?!


"Aku memikirkan pekerjaanku, Mas! aku takut kelamaan libur dan berimbas pemecatan di perusahaan. Kau tahu sendiri bukan? aku hanya bekerja sebagai karyawan magang.


"Kenapa kau takut, siapa yang berani memecat mu!" tanyanya tegas.


"Tentu saja perusahaan. Kau pikir siapa lagi?!


"Kau pasti sedang merindukan seseorang di kantor mu, makanya kau ingin cepat pulang, benar bukan?" Harlan melepas pelukannya dan berdiri dengan kedua tangan didalam saku.


"Mas! coba jangan gampang menafsirkan sesuatu yang tidak ada dalam pikiranku! jadi kau tidak percaya padaku?! menarik tangan Harlan dari saku celananya. Harlan menoleh sekilas dengan sorot mata dingin dan membuang pandangan nya kedepan.


"Baiklah bila kau ingin kita pulang! besok pagi kita kembali ke Jakarta! ucap Harlan seraya melangkah pergi meninggalkan Lupita.


"Mas Harlan kenapa bisa berfikir, kalau aku ada hubungan dengan Damar? siapa lagi yang ia bahas kalau bukan Damar! aku harus menjelaskan kalau tidak ada hubungan apapun dengan Damar, dan aku akan menanyakan siapa wanita bersamanya, aku ingin kejelasan semuanya."


"Mas!

__ADS_1


BRAKK!


Suara pintu kamar di banting. Lupita terkejut melihat sikap Harlan yang tak biasanya. ia berlari dan membuka pintu kamar.


"Mas.......!!"


"Mas mau kemana?! seru Lupi berlari mengejar Harlan yang sudah berjalan menjauh.


"Mas Harlan! dengarkan aku dulu, biar kita bicarakan!"


Harlan sudah menjauh tanpa menghiraukan panggilan Lupi. "Mas Harlan, kenapa kau pergi tanpa mendengar penjelasan dari ku, kau marah saat aku minta pulang besok, ma'afkan aku mas, sudah membuatmu kecewa."


Dengan langkah gontai Lupi masuk dalam penginapan. jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, berarti sudah tiga jam Harlan belum kembali. Lupita mengambil ponsel dan mulai menghubungi suaminya. Namun, Harlan tidak mau mengangkatnya, berulang kali Lupi menelpon tetap tidak ada jawaban.


"Mas, apa kau semarah itu padaku? telpon aku tidak kau angkat." Lupi menahan getir dihatinya. "Apa benar, ramalan bapak buta itu?! aku akan mengalami banyak ujian dalam rumah tangga, bila kami tidak kuat menghadapi kerikil kecil dalam rumah tangga, sudah pasti ujungnya sebuah perceraian, aku tidak mau itu terjadi. Lalu apa maksud bapak buta itu? akan terpisah jarak dan waktu." Lupita menautkan kedua alisnya sambil terus merenung dan mencari jawabannya sendiri.


"Dia bilang suamiku bukan orang sembarangan? siapa Mas Harlan sebenarnya? apa yang sudah ia rahasiakan padaku?!


"Hah! Lupi menghela nafas panjang "Buat apa di pikirin, belum tentu benar perkataan orang buta itu! Lupi masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuhnya diatas kasur, tangannya mulai mengetik sebuah pesan.


["Mas kau berada dimana?! cepatlah pulang, aku minta maaf bila ada salah."]


Send .....


****


Seorang Pria duduk di sudut meja, meneguk minuman bersoda, jemarinya menjentikkan abu rokok diatas bara, menghisap kuat rokok dalam bibirnya dan di hembuskan ke atas.


Seorang wanita cantik dengan fostur tubuh seksi berlenggak-lenggok mendekati pria yang terduduk sendiri.


"Hay! boleh saya temani? ucapnya seraya duduk di sebelah Pria dingin itu.


Pria dingin itu meneguk root bear di depannya tanpa menoleh sedikitpun pada wanita seksi itu. wanita itu terus menggoda dengan bahasa tubuhnya.


Pria itu mengambil ponsel yang sejak tadi berdering, ia hanya membaca pesan tanpa membalas pesan itu.


"Lupi, ma'afkan aku, aku hanya ingin sendiri dan menenangkan diri, mungkin aku mulai cemburu dengan Damar, entahlah baru kali ini aku merasakan cemburu pada laki-laki. Ku kira Damar juga menyukai Lupi, haruskah aku memecat Damar agar tidak lagi mendekati istriku!'


Harlan menarik satu batang rokok dari tempatnya dan menyelipkan di bibir. wanita itu menyalakan pematik api, lalu menyulutkan nya ke ujung rokok. Harlan menghisap dalam rokok itu, kepulan asap mengitari diwajahnya. Melihat ada wanita di sampingnya, Harlan teringat Lupita sendiri di penginapan. Ia mematikan rokok di asbak, mengeluarkan 10 lembar uang merah diatas meja dan pergi meninggalkan wanita itu yang kegirangan, sebab Harlan memberikan uang satu juta cuma-cuma.


Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Harlan membuka Pintu ruangan yang tampak sepi. ia berjalan dan masuk kedalam kamar. Melepas seluruh pakaiannya yang bau asap rokok, lalu masuk kedalam kamar mandi. Selesai bersih-bersih, ia mengambil kimono dan naik keatas ranjang. Harlan melihat Lupita sudah tertidur memunggunginya. saat ia merebahkan tubuhnya, Harlan melihat isakan kecil Lupita dengan pundak turun naik.


"Lupi.., kenapa kau menangis? menyentuh pundak Lupita. Lupita membalikkan tubuhnya dan memeluk erat suaminya.


"Mas, ma'afkan aku." hiks..


Harlan mendes*h pelan seraya mengusap lembut kepala istrinya, dan mencium keningnya.


"Mas juga minta maaf ya, tadi meninggalkan mu, kalau mas sedang marah pasti akan pergi dulu, setelah tenang pasti akan kembali lagi."

__ADS_1


"Mas jahat nggak mau angkat telpon dan balas pesanku. Mas ada dimana tadi?


"Ada di hatimu donk." goda Harlan terkekeh.


"Ish! aku tanya benar-benar malah bercanda." mencubit perut Harlan.


"Aaawwww "Sakit sayang."


"Biarin! abis kau nyebelin."


"Biar gak tegang, sayang.." menarik hidung mancung Lupita "Gimana, besok pagi kita jadi pulang?!


Lupita menggeleng pelan "Aku nggak mau."


"Kenapa? ko nggak mau, tadi kau yang ngotot minta pulang."


"Aku masih betah disini, belum pernah naik banana boat juga berenang ke dasar laut."


"Kau mau main boat dan berenang ke dalam laut?!


"Iya, Mas! ucap Lupita semangat.


"Baiklah, besok kita ke laut!" mencium bibir Lupita.


Hammpp...


"Mas, ko bibirnya manis, habis minum apa sih! sela Lupita setelah melepas ciumannya


"Habis ngerokok sama minum sirup."


"Pantas manis."


Hammppp!


Harlan mencaplok bibir ranum Lupita yang sudah menjadi candu.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


πŸ’œLike


πŸ’œVote


πŸ’œGift


πŸ’œKomen


@Bersambung........πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ

__ADS_1


__ADS_2