
"Bisa dikatakan begitu, makanya kenapa Tuan Georgie membawa perawat dan dokter ke mari. Dokter akan datang dua hari sekali untuk pemeriksaan."
"Ya sudah kau turun saja! terimakasih infonya!"
Suster Santi mengangguk dan berjalan menuruni anak tangga.
Tersinggung senyuman licik di bibir Della "Kini aku tahu kelemahan wanita itu! siapa suruh kau mendekati kekasihku! Della mencabik dan berjalan ke bawah untuk ikut bergabung makan malam bersama Harlan dan Lupita.
Ruangan meja makan sudah berkumpul Mak Isah, Harlan, Lupita, Wiliam, Suster Santi. Della yang baru datang menarik salah satu kursi di samping Lupita.
"Harlan, Lupita, ayo dimakan. Mak sengaja buat hidangan banyak untuk menyambut kedatangan kalian berdua." Mak Isah berkata dengan ramah dan lemah lembut.
"Wiliam, Suster juga Della, ayo kita makan sama-sama. Semoga kalian suka masakan rumahan."
"Oiya Dell, kau sudah kenal belum. Wanita yang duduk di sebelahmu istrinya Harlan." Mak isah memperkenalkan.
Della menoleh dan tersenyum lirih "Sudah Mak, tadi saat aku manggil kakak untuk makan." ucapnya dengan pandangan kearah Harlan.
"Oiya kita tadi belum resmi berkenalan "Nama ku Della Puspita keponakan Mak Isah." mengeluarkan tangannya.
Lupita tersenyum manis "Aku Lupita!" menyambut uluran tangan Della.
Harlan membalikkan piring didepannya "Kau mau makan apa? tanya Harlan pada lupita "Biar Mas ambilkan"
"Nggak usah Mas, aku bisa ambil sendiri."
"Kak Harlan biar aku ambilkan, seperti biasanya aku yang selalu mengambilkan kakak makan." tiba-tiba Della menyela obrolan dua orang di sampingnya dan mengambil piring dari tangan lupita. Mata Harlan melebar dan menatap tajam pada Della.
Lupita yang berada di sebelah Della, melirik sekilas, pandangan ia arahkan lurus kedepan hidangan. Ada perasaan Lupita yang tidak nyaman.
"Della! biar istriku yang ambilkan!" ucapnya cukup keras.
"Dell, sekarang Harlan sudah punya istri. Biarkan saja istrinya yang mengambilkan. Kau ambil saja buat makan sendiri." Mak Isah ikut berbicara untuk menetralkan keadaan di meja makan.
Della membuang nafas kasar dan menaruh piring itu di depan Lupita.
Lupita terdiam dan tak enak hati "Tidak apa-apa Mas, bila Della ingin ambilkan, kan sama saja."
"Tidak sayang kau istriku. kau yang lebih berhak. Ngerti!"
Lupita berdiri dan menuangkan nasi keatas piring berserta lauk pauk dan sop iga. Mereka mulai mengambil makanan masing-masing dan menikmati tanpa berbicara.
Meja makan yang sempat tegang kembali tenang, hanya suara dentingan piring dan sendok yang terdengar sahut menyahut. Terdengar suara ponsel berdering dari saku celana Harlan. Ia melihat nama si penelpon.
"Sebentar aku terima telepon dulu." Harlan berjalan agak menjauh dari meja makan.
"Kak Lupi!" panggil Della.
"Heum..."
"Ku dengar dari karyawan Vandeles, kalau Kak pernah bekerja disana juga ya?"
"Lupi mengangguk "Iya!"
"Berarti tahu dong kalau Kak Harlan itu seorang CEO?"
"Tidak! aku justru tidak pernah tahu kalau kak Harlan pemilik perusahaan Vandeles."
"Kok bisa begitu ya? aneh bukan?! Della mencibir "Ku pikir kau pura-pura tidak tahu kalau kak Harlan seorang CEO?" mungkinkah ada niat terselubung?"
Lupi yang sedang makan sempat terhenti "Maksud mu apa?" menoleh kearah Della dengan kedua alis berkerut.
"Nona Della! tolong jangan bicara sembarangan, kau tidak pernah tahu yang sebenarnya!" Wiliam memperingati.
__ADS_1
Lupi terlihat kesal, ia hampir tidak ingin melanjutkan makan, Namun karena ia masih menghargai Mak isah, la meneruskan makannya.
"Berpura-pura sakit didepan kak Harlan dengan alasan trauma! kau pintar sekali cari perhatian! ucapnya ketus.
"Uhuk.. uhuk.. uhuk.."
"Nyonya! melihat Lupita terbatuk, suster Santi berjalan mendekat dan memberikan air putih pada Lupita.
"Terima kasih sus!" Lupita menaruh gelas kosong setelah meminumnya habis.
"Del! kau ini bicara apa? jaga perilaku mu, kasihan Lupita." Mak Isah ikut memarahinya, melihat sindiran untuk Lupita.
"Dia nya ajah yang makan seperti anak kecil! makanya jangan sok manja!" Della mencabik dan beranjak dari duduknya meninggalkan ruangan makan.
Wiliam geleng-geleng kepala dan menyudahi makan malamnya "Terima kasih makan malamnya Bu. Nyonya Lupi saya permisi."
Lupita mengangguk pelan, sungguh ia jadi serba salah. Ia membereskan piring kotor diatas meja, kebetulan Harlan sudah tandas makannya, dipiring Lupi masih ada separuh nasi dan lauk yang belum ia habiskan. Tidak ingin meneruskan ia menumpuk piring kotor itu.
"Apa yang kau lakukan, Nak?"
"Aku ingin mencuci piring-piring ini."
"Untuk apa? jangan, sudah ada asisten rumah tangga, Mak tidak mau Harlan marah."
"Bu Sumi! panggil Mak Isah.
"Iya Bu!"
"Bawa piring kotor-kotor itu!"
Bu Sumi mulai membereskan sisa makanan diatas meja.
"Bu maaf, kalau begitu saya mau istirahat di kamar."
"Iya Nak! Oiya Lupi, masalah Della tadi tidak usah diambil hati ya, dia mungkin lagi ada masalah, jadi bicaranya seperti itu."
"Terima kasih atas pengertiannya. Ya sudah istirahat dulu sana, kau baru tadi siang keluar dari rumah sakit."
"Kalau begitu saya permisi Bu." ucap Lupi sopan dan berjalan kearah tangga di ikuti Suster Santi.
"Ada apa Nyah! suster Santi bertanya saat Lupi berhenti di anak tangga.
"Tiba-tiba kepalaku pusing sus!"
"Nyonya hari ini belum minum obat, ayo saya antar ke kamar dan meminum obat.
Lupita berbaring setelah meminum obat dari Suster "Jangan banyak pikiran dulu ya Nyah, apalagi stress akan mempengaruhi kondisi Nyonya Lupi."
Lupi hanya mengangguk pelan dan memejamkan matanya, Tiba-tiba bunyi suara ponsel terdengar nyaring. Lupita sudah tidak bisa tidur lagi. ia meraih ponsel diatas nakas.
"Inez!
Lupita menggeser tombol hijau "Hallo Nez!"
"Lupi! kau berada di ruangan mana sekarang? aku pulang kerja mampir ke rumah sakit, tapi kau sudah tidak ada?"
"Ya Tuhan! maaf aku lupa memberitahumu Naz, aku sudah pulang siang tadi."
"CK." cepat sekali kau melupakan aku?"
"Sekali lagi aku minta maaf, jangan marah ya."
"Hemm... sekarang kau pulang kemana? aku akan menyusulmu."
__ADS_1
"Di rumah suamiku!"
"Jadi kau langsung tinggal di sana?"
"Inginnya aku pulang kerumah, tapi Mas Harlan tidak mengizinkan."
"Tidak apa-apa Lupi, kau sudah tanggung jawab Tuan Georgie sekarang. Masalah rumah tidak usah khawatir, dua hari sekali aku bersihkan."
"Terima kasih Nez!"
"Bagaimana sikap mereka padamu? ceritakan padaku Lupi, aku ini sahabatmu. jangan sungkan minta bantuan padaku."
Lupita menceritakan yang menjadi keluh kesahnya pada Inez, dan perasaan yang berbeda pada suaminya.
"Lupi! kau harus bisa menerima suamimu, walau tidak mudah memaafkan secara bersamaan, kau kehilangan kandunganmu disaat suami mu tidak ada, tapi nyawa mu masih bisa tertolong oleh suamimu, dan kau masih belum bisa menerima kebohongan suamimu yang ternyata ia seorang CEO." izes terus melunakkan hati Lupita.
"Tapi hati ku masih sakit, tidak mudah untuk menerima itu semua." terdengar suara isakan Lupita "Apalagi sindiran pedas dari keponakan ibu asuhnya, membuat ku stres."
"Lupi kau masih dalam pemulihan, lambat laun kau pasti akan menerima suamimu dan memaafkannya dengan tulus."
Lupita terdiam, terdengar helaan nafas panjang di ujung telpon Lupi.
"Soal wanita yang bernama Della, kau tidak usah khawatir. Dia bekerja di bagian kantornya sebagai akuntan. Aku sering bertemu di kantin. Sikapnya sangat angkuh dan selalu membanggakan diri sebagai sepupu Tuan Goergie. Ada sebagian orang yang tidak percaya kalau Della sepupu seorang CEO. Kalau dia menyakitimu, aku yang akan beri pelajaran di kantor." Inez terkekeh.
JGLEK
Suara pintu kamar terbuka, Lupita menoleh. Harlan masuk dan berjalan kearahnya.
"Inez! besok kau datang kesini ya. suamiku sudah masuk kamar. sudah dulu ya." bisiknya dengan mendekatkan ponsel ke bibirnya.
"Oke, sampai besok ya."
Lupita mengakhiri teleponnya.
"Telepon dari siapa yank." tanya Harlan seraya duduk di tepi ranjang.
"Inez, Mas!
"Ma'af ya aku tinggalkan lama, tadi ada telepon penting dari cliant di Jepang." Harlan menatap wajah istrinya "Kau menangis?"
"Tida apa-apa, Mas!" Lupi membuang wajahnya kesamping.
Mengusap tangan istrinya "Ada apa Lupi, kau jangan pendam sendiri masalahmu, katakan padaku?"
"Aku tidak tahu Mas! Lupi beranjak dari ranjang dengan lelehan airmata, suasana hatinya sedang tidak baik. Harlan menarik tangan Lupita. "Lupi, apa kau belum bisa memaafkan aku? kini keduanya saling berhadapan "Katakan isi hatimu, agar aku tahu apa yang sedang kau rasakan."
Lupita mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk "Semua ini seperti mimpi Mas! kenapa semua jadi tiba-tiba dan membuat ku bingung. Aku harus memulai darimana?" airmata Lupi menggantung di pelupuk matanya.
Harlan menarik Lupita dalam pelukannya "Aku tahu, kau masih belum bisa memaafkan ku. Ayo kita mulai dari awal dan jadikan pernikahan ini untuk selamanya."
Airmata Lupi sudah membasahi baju Harlan di pundaknya. "Menangis lah sepuasnya, aku yang akan membalut lukamu." Harlan mengusap lembut kepala istrinya.
πππ
@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
πLike
πVote
πGift
πKomen
__ADS_1
@Bersambung........ππ
.