Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Chapter 5 : Sore hari


__ADS_3

WELCOME BACK READERS!!❤️❤️


Tolong kasih jejak kalian setelah membaca!! HAPPY READING ❤️


...•••••...


Bugh


Sebuah bantal melayang pas mengenai kepala Felix yang asik tiduran sambil bermain game di ponsel yang ada di ruangan Marvel.


"Balik sono". Usir Richard datang membawa beberapa dokumen di tangan kanan.


"Dih siapa elo, yang punya ruangan juga fine fine aja dari tadi".


Bugh


Lagi lagi Felix merintih kesakitan yang kedua kalinya. Kali ini bukan pakai bantal melainkan menggunakan buku tebal yang ada di atas meja.


"Mampus".


Mata felix menatap kesal ke arah Marvel tapi apa daya, dia tidak bisa apa apa daripada kepalanya berlubang oleh pistol kesayangan Marvel.


Pasrah adalah jalan utama Felix daripada singa jantan ngamuk.


"Lo berdua mau kemana?". Tanya Felix saat melihat dua sahabatnya sudah rapih.


"Meeting, sebaiknya lo pulang. Urusin skripsi lo".


"Satu semester lagi baru gue skripsi tolol". Ucap Felix makan cemilan yang ada di atas meja.


Keduanya tidak merespon lagi, mereka berjalan keluar ruangan. Namun Richard kembali membuka pintu.


"Beresin sekalian bekas makanan lo, kalau lo gak mau balik gue kunci dari luar".


"Lah, Lo kagak balik lagi?". Pekik Felix agak keras.


"Lihat jam makanya". Richard menunjuk jam di dinding menggunakan dagu.


"ABIS MEETING?".


"NGGAK". Teriak Richard dari luar saat pintu akan tertutup rapat.


Mau tidak mau Felix yang ditinggalkan segera membuang bungkus makanan kosong ke tempat sampah lalu pergi untuk pulang terlebih dahulu.


Tidak mungkin Felix menunggu dia sahabatnya yang gila kerja di usianya masih muda.


Umur mereka sama namun bedanya Marvel sudah lulus kuliah bahkan S3 sedangkan Richard dan Felix masih kuliah. Richard mengambil kuliah online dan Felix tidak. Bisa saja Felix kuliah sambil mengurus perusahaan ayahnya tapi pemuda itu menolak karena harus tinggal di London saat kedua sahabatnya sedang ada di Indonesia.


Jam sudah menunjukan pukul 3.00 AM tapi Marvel harus memimpin rapat. Ditambah rapat kali ini membutuhkan waktu lama bahkan bisa sampai 3/4 jam.


••••••••

__ADS_1


Di sisi Retha saat ini kelasnya yang baru selesai pelajaran terakhir sedang bersiap untuk pulang. Tapi game yang sedang dimainkan belum juga selesai membuat Arga sabar menunggu tanpa ada keluhan.


Mau pulang malah buka game, lama kan jadinya. (Dasar retha)


"Kalian gak balik?". Tanya Roby sudah siap menggendong tas di bahu kanan.


"Duluan aja". Retha meletakan handphone nya dengan room game yang sedang dimainkan di depan Arga.


Arga yang paham langsung melanjutkan permainan itu tanpa di pinta.


"Kalian langsung pulang?". Tanya Retha lagi saat melihat galih membawa baju, sepertinya baju basket.


"Nggak, kita ada ekskul basket dulu". Jawab Roby membuat Retha mengangguk. "Oh ya, semua murid kan wajib masuk ekskul? Lo mau masuk apa tha?". Tanya Roby penasaran.


"Basket boleh lah". Jawab Retha berbinar.


"Basket cewek gak ada".


Namun kesenangannya hilang seketika. "Why?".


"Para cewek gak tertarik, kebanyakan masuk cheerlider. Paling ada satu dua doang yang minat". Jelas Roby.


"Yuk, dah ditunggu yang lain". Ajak galih.


"Gue duluan ya". Ucap Roby kepada Retha lalu beralih ke Arga yang fokus main game. "Kalau Lo minat basket bisa daftar langsung sama Rey, dia kapten basket. And minggu depan kita ada turnamen antar sekolah juga". Lanjut Roby tapi tidak ada respon.


"Biar gue yang urus". Sahut Retha lalu kedua teman sekelasnya melenggang pergi meninggalkan kelas.


Tanpa mereka sadari ternyata ada seseorang yang tak sengaja melihat mereka berdua. Ditambah lagi dengan melihat Retha dan Arga sedang bermain handphone yang saling tukar.


Karena pemuda itu ingat casing handphone Retha yang berwarna putih ada di tangan Arga.


....


Hampir satu jam Arga bermain game milik Retha yang tak kunjung selesai. Tidak tahu kenapa Retha malah memilih misi yang itu.


"Kok lama sih". Keluh Retha mulai bosan.


Belum ada satu menit berbicara, Arga memberikan handphone itu ke hadapan Retha. Dengan antusias Retha mengambilnya dan benar saja permainan sudah selesai dengan skor yang memuaskan.


"Good, you is the best". Puji Retha.


Arga bangun dari duduknya menaruh tasnya di punggung kiri dan tangan kanan terulur ke hadapan Retha.


Gadis itu paham. Dengan cepat menggandeng lengan Arga berjalan keluar untuk pulang. Mereka berdua pulang dengan Retha menggandeng lengan Arga sangat posesif.


Beberapa orang yang masih ada disekolah melihat itu berteriak heboh. Mereka beranggapan bahwa Arga dan Retha adalah sepasang kekasih setelah melihat kejadian di kantin. Ditambah sekarang mereka pulang berdua.


Sebagian murid juga mengikuti mereka sampai Retha masuk ke dalam mobil Arga seperti dijadikan ratu.


Kejadian itu juga dilihat olah Ray CS yang akan pulang setelah latihan basket.

__ADS_1


"Wah, sepertinya mereka pacaran deh masa iya kagak dengan Arga memperlakukan Retha seperti itu". Ucap Dirga mengucapkan apa yang ada di otaknya.


"Yah gak jadi dong biar gebet yayang Retha". Sahut Roby dengan suara sedih.


"Retha gak pantes buat lo, dah kaya langit dan bumi".


"Diem lo, sekali ngomong nyakitin terus". Keluh Roby kepada Reza.


"Emang iya by".


"Ck, gue Roby". Roby emang gak pernah suka dipanggil seperti itu. Berkesan seperti orang pacaran apalagi Dirga selalu mengucapkan kata by dengan lembut. Walaupun becanda tapi membuat Roby merinding.


"Ta--, , ".


Saat Dirga ingin berbicara kembali tiba tiba Ray yang sedari tadi dan pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun membuat semua orang yang ada disana bingung.


Ditambah dengan Ray yang melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


"Pak bos kenapa?". Tanya Dirga heran.


"Lah kok anda tanya saya". Setelah mengucapkan itu Roby melenggang pergi mengikuti galih yang berjalan terlebih dahulu.


"Kampret lo Roby". Pekik Dirga kesal.


......


Di dalam mobil Retha asik makan cemilan yang tadi Arga beli di pinggir jalan. Retha yang mengeluh lapar membuat Arga mencari jajanan terdekat.


Retha yang doyan makan tidak pernah pilih pilih menu apalagi saat perutnya sedang lapar. Yang ada di otaknya hanya makanan masuk ke dalam perut.


"Jangan dihabisin sekaligus, Lo belum makan nasi". Ucap Arga memperingatkan Retha saat makanan yang dia belum cukup pedas semua.


Kepala Retha mengangguk paham. Tapi mulutnya asuk mengunyah batagor yang belum habis.


Sesekali Retha juga menyuapi Arga yang sedang mengemudi karena ia tahu Arga juga pasti lapar. Ditambah jalanan pulang sangat macet parah.


Gak lama saat mobil Arga terjebak macet karena ada kecelakaan didepan tiba tiba disampingnya terdapat beberapa motor sport yang berjalan menyelip mobil.


"Besok kita pakai motor lah, gimana?".


"Tanya bang El dulu".


Kepala Retha mengangguk-angguk paham. Mereka tidak mungkin melakukan apapun tanpa izin Marvel apalagi Retha. Hal itu membuat Retha terbiasa untuk minta izin saat melakukan apapun kepada Marvel dari kecil sampai sekarang.


Jika Marvel berkata iya berarti boleh tapi juga nggak Retha gak berani membantah. Sebab Marvel adalah orang yang merawat dan menjaganya serta Arga dengan sekuat tenaga disaat daddynya Rafael sibuk bekerja.


Bukan apa, Rafael memang tidak mau menyewa pengasuh untuk anak anaknya karena kepercayaan mereka sangatlah susah kepada orang baru. Maka dari itu Marvel berusaha menjaga kedua adiknya sendiri dari usia 7 setelah mommy-nya meninggal.


...•••••...


TBC

__ADS_1


Jangan lupa like dan commentnya kalo kalian suka cerita ini ❤️ See u next part 🥰


__ADS_2