Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Kekuatan Seorang Istri


__ADS_3

Selesai dengan aktivitas mereka berdua, Harlan dan Lupita membersihkan diri di kamar mandi bergantian. Lupita keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk sedada.


"Sudah selesai yank?" Harlan mematikan sisa rokok yang hampir habis di asbak.


"Sudah Mas, seger banget."


Harlan berjalan mendekat dan mencium kening istrinya "Gimana permainan Mas? kau pasti suka kan? nanti malam kita lanjutkan lagi yank."


"jangan sering-sering kita main di kantor Mas, nanti mengganggu pekerjaan Mas."


"Tidak apa-apa kalau Mas lagi suntuk atau lagi stres, dengan adanya kamu nanti bisa menghilangkan beban mas yang penat."


"Ahh, dasar otak mesum! sungut Lupita "Ya sudah Mas mandi dulu sana, ini sudah lewat dari dua jam, bagaimana nanti kalau cliant Mas menunggu lama di bawah, udah pasti Alexa bingung menunggu Bos nya yang lagi mesum."


"Mesum kan sama istri sah sendri." kekeh Harlan di sela langkahnya masuk kedalam kamar mandi.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari depan pintu ruangan kerja. "Aduh siapa yang mengetuk pintu, Alexa kah? atau Wiliam? aku harus cepat pakai baju."


Lupita mulai memakai dalaman satu persatu dan kembali dress dia sematkan tubuhnya. "Ahh, aku sampai lupa, tidak ada Hair dryer di sini, mana rambut ku basah, apa kata mereka kalau melihat aku berantakan begini."


Setelah mengeringkan rambut dengan handuk seadanya, ia mulai berhias didepan cermin, Lupita tidak pernah ketinggalan menaruh makeup nya didalam tasnya. selesai memoles Foundation dan bedak padat kewajah nya, ia memakai lipstik pink dan merapikan bulu alisnya yang sudah berbentuk. Lupita terlihat segar dan cantik kembali.


Tak lama keluar Harlan dari kamar mandi dan berjalan mendekati istrinya, mencium pipi Lupi gemes "Bagaimana aku nggak akan tergoda melihat istriku cantik begini, kau semakin hari semakin cantik yank." puji Harlan


"Mas cepatlah pakai bajumu, tadi ada yang mengetuk pintu depan."


"Iya sayang." Dengan cepat Harlan memakai pakaiannya kembali.


"Mas, aku nggak berani keluar, rambutku basah, apa kata Alexa bila melihat aku."


"Kau tenang saja, nanti Mas suruh Wiliam membawakan kipas angin untuk mengeringkan rambut mu."


Tak lama pintu di ketok kembali. selesai merapikan pakaiannya Harlan keluar dari ruangan peristirahatan.


"Ceklek! ceklek!


Pintu Harlan buka. Berdiri Alexa dengan wajah terkejut, bagaimana tidak, Harlan keluar dengan wajah berseri dan rambut basah. Suda pasti otak Alexa traveling kemana-manaIa. Lalu ia menelisik wajah Presdir nya dari atas sampai bawah.


"Apa yang sedang kau lihat!" sentak Harlan


"Ehh-Maaf Tuan, cliant nya sudah menunggu lebih dari tiga jam. Apakah masih ingin bertemu? jawab Alexa gugup


"Ahh-iya temui aku di ruangan meeting."


"Baik tuan!"


"Oiya Lexsa, kau panggil Wiliam ke ruangan ku."


"Tapi Tuan Wiliam tidak ada di ruangannya, saya tahunnya saat tadi ingin memberikan laporan padanya."


"Ya sudah kau temui cliant dulu."


"Kemana Wiliam? apa dia mengantar Margaret ke hotel." gumamnya di sela langkahnya masuk kedalam kamar.


"Sayang..."


"Sudah minta kipas angin pada Wiliam, Mas."


"Kata Alexa Wiliam tidak ada di ruangannya, kemungkinan dia mengantar Margaret ke hotel."


"Apa Wiliam tidak izin dulu Mas?

__ADS_1


"Aku tahu betul sifat Margaret, ia sangat memaksa, sudah pasti Wiliam mengikuti kemauannya."


"Parah sekali wanita itu Mas!"


"Aku akan kerungan meeting, cliant sudah lama menunggu. kau tetap di sini bila tidak mau ketahuan rambut mu basah."


"Aku akan menelpon inez dan minta dia pinjamkan hairdray pada temannya."


"Ya sudah, tunggu Mas selesai meeting nanti kita makan di luar."


Lupita mengangguk.


Sementara di ruangan kerja Inez, terjadi lagi gosip yang tidak enak di dengar Inez, Namun mereka tidak membicarakan di depan inez. Irfan datang dengan tergopoh-gopoh selesai dari toilet.


"Nez, bisa ikut gue sebentar."


"Ada apa fan?"


"Udah ayo ikut!"


Karena Irfan memaksa, inez mengikuti langkah cepat pria tinggi manis itu keluar gedung.


"Ada apa sih, kok kelihatannya panik begitu?


"Asisten Wiliam.."


"Ada apa dengan Pak Wiliam?"


"Kau jangan berfikir negatif dulu ya Nez, sebenarnya gue nggak mau loe kecewa atau sakit hati. Yang gue heran belum lama ia mengumumkan di depan karyawan kalau loe adalah kekasih asisten Wiliam."


"Iya maksud nya apa? tolong jelasin tuh jangan setengah-setengah begini?"


Irfan menunjukkan sebuah foto di ponselnya. "Ini liat deh! inez mengambil ponsel dari tangan Irfan dan menatap foto itu, seketika dada Inez bergemuruh dan terasa sesak. Bagaimana tidak, inez melihat foto itu seorang wanita bule cantik nan seksi memeluk tangan Wiliam dan mencium pipinya.


"Dari anak cleaning servis tadi pas lagi di toilet, saat gue tanya katanya dia juga dapat dari karyawan lain. katanya lagi, tuan Wiliam berjalan tanpa beban dengan wanita itu dengan saling berangkulan tangan di depan seluruh karyawan. Mereka yang melihat juga terkejut, padahal belum lama ini tuan will memberikan pernyataan loe adalah kekasihnya."


Inez terdiam, ia sudah tidak bisa berpikir jernih. Melihat foto itu dia juga gak yakin kalau Wiliam benar-benar mencintainya.


"Maafin gue Nez, nggak ada maksud untuk manasin loe, cuma gue nggak habis pikir ajah, kenapa tuan will nggak jaga perasaan loe."


Inez mengigit bibir bawahnya menahan getir. "Nggak apa-apa fan, maksih ya udah ingiten gue, nanti gue akan minta penjelasan padanya." ucap inez dengan suara bergetar menahan tangis.


Dret! dret! dret!


Saku rok Inez bergetar, ia merogoh ponsel dalam sakunya dan melihat nama si penelpon. lalu menggeser tombol hijau


"Hallo Lup..."


"Nez, kau bisa datang kerungan Mas Harlan."


"Iya, kau masih disana?"


"Iya! dan sekalian pinjamkan hair dryer ya. rambut ku basah, nggak enak kalau keluar ruangan Mas Harlan tiba-tiba rambut basah, pasti gosip udah kemana-mana."


"Bukannya nggak mau cari pinjam, kau tahu sendiri aku tidak begitu akrab dengan mereka, tapi aku ada kipas angin kecil, pakai itu ajah ya? lama-lama juga kering."


"Ya udah cepat keatas."


"Okeh!


"Fan, aku keatas dulu ya. mau kerungan dulu sebentar."

__ADS_1


"Loe nggak apa-apa Nez?"


"Nggak apa-apa kok, santai ajah aku bukan wanita cengeng atau mudah putus asa, mati satu tumbuh seribu." inez tersenyum getir.


*


"Mau cari siapa? tanya Alexa menghentikan langkah inez


"Hmm.. Nona Lupita, tadi ia telpon aku, untuk keruangan Tuan Georgie."


"Wah hebat ya, karyawan biasa bisa seenaknya keluar masuk ruangan presdir! aku saja yang sekertaris nya nggak berani keluar masuk kedalam ruangannya."


"Aku juga jarang datang keruangan Presdir kalau tidak disuruh."


Alexa melipat kedua tangan didada dengan angkuhnya dan menatap tak suka pada Inez. "Memangnya ada hubungan apa wanita mantan karyawan Vandeles berada di ruangan Tuan Georgie."


"Aku tidak tahu dan itu bukan urusan ku! bentak inez "Kalau Ingin bergosip carilah gosip yang berkelas dan berkualitas!


"Permisi!" inez melangkah melewati Alexa.


"Tok! tok! tok!


"Masuk Nez!"


Inez membuka handle pintu dan masuk kedalam ruangan, ia melihat Lupita duduk di sofa seraya memakan cemilan.


"Ini kipasnya. lagian loe ngapain sih mandi di kantor."


Lupita tersipu malu-malu "Loe tahu sendiri kan gimana Mas Harlan, libidonya sangat tinggi. Aku harus siap melayani nya agar suamiku nggak jajan diluar."


"Ya aku ngerti, apalagi banyak Pelakor dimana-mana, menjajakan dagangannya demi kenikmatan sesaat."


"Nah itu dia, kita sebagai isteri harus bisa tampil cantik dan jangan kalah sama Pelakor."


Inez mendesah kasar, ia langsung teringat akan foto mesra Wiliam dengan seorang wanita bule dan ia berniat menanyakan kebenaran nya, bila wanita itu kekasih Wiliam, Inez siap mundur.


"Nez, kamu kenapa diem?" ucap Lupita seraya mengeringkan rambutnya dengan kipas yang Inez bawa.


"Ehh, nggak apa-apa kok."


"Wajah mu terlihat murung, coba ceritakan donk. kamu kan sahabat ku."


Inez menggeleng, ia tak ingin menceritakan pada Lupita sebelum tahu kebenarannya.


"Oiya, aku memutuskan akan bekerja kembali dan aku meminta satu ruangan dengan mu, hanya kita berdua tanpa ada orang-orang julid yang menganggu."


"Ohya..? yes akhirnya kita akan satu ruangan kembali." wajah Inez berbinar cerah dan mereka berpelukan "Akhirnya aku ada teman curhat dan nggak bete lagi."


Mereka mengurai pelukannya "Oiya, apa yang membuatmu berfikir untuk bekerja kembali, padahal kau sudah jadi Nyonya Vandeles, apa suami setuju?"


"Awalnya tidak setuju, tapi pada akhirnya dia mau menerima usul ku. Dan tujuan ku hanya satu Mengusir Pelakor dari hidup suamiku!" Lupi mengepalkan tangannya.


"What? suamimu di dekati Pelakor?"


πŸ’œ


πŸ’œ


πŸ’œ


@Semoga bab ini bisa lolos, Karena sekarang sulit untuk lolos cepat, biasanya up sekarang besok baru bisa lolos, sabar ya All😒

__ADS_1


@Bersambung...


__ADS_2