Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Menyadari Kesalahan


__ADS_3

Inez hanya terdiam dan terpaku, Otaknya terus berputar, ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia alami. "Apa yang sudah Pria menyebalkan itu lakukan?" tanpa sadar Inez menyentuh bibir dan menggigitnya kuat. Tadi Wiliam menciumnya secara paksa, namun ia merasakan debaran jantung yang tak karuan, di barengi sengatan listrik pada tubuhnya. Aliran darahnya berdesir saat Wiliam mencium bibirnya lembut dan meluma*tnya penuh gairah. Bila ingat itu tubuh Inez merinding.


Mobil berhenti tepat di depan gapura gang rumah Lupita. Inez membuka seat belt dan berusaha secepatnya keluar dari mobil Wiliam.


"Apa kau tidak mengajak ku untuk sekedar minum kopi. look..? bajuku masih basah."


"Hemm! baiklah, tapi tidak bisa lama, aku tidak ingin warga salah paham karena menerima tamu malam hari."


Wiliam menepikan mobilnya di pinggir tanah kosong dan turun dari mobil mengikuti langkah inez masuk kedalam gang.


"Ceklek, ceklek.." pintu terbuka. Inez mempersilakan Wiliam untuk masuk dan duduk di sofa.


"Sebentar aku buatkan kopi dulu." Inez berjalan kedapur dan membuat kopi hitam untuk Wiliam.


"Silakan Tuan, aku mau mandi dulu."


"Inez!


"Iya!


"Apa kau tidak punya kaos untuk aku pinjam? bajuku masih basah."


"Tuan kan tahu sendiri, sekarang tubuh ku imut. pasti kaos ku tidak muat ke badan Tuan. Tapi.. Inez teringat baju Harlan yang tersimpan di lemari kamar Lupita. "Ada baju Tuan Georgie, tapi saya tak berani mengambilnya, saya minta ijin dulu pada Lupita."


"Hemm.. sebenarnya saya juga nggak enak pinjam pakaian Tuan Georgie. Ya sudah tidak usah."


"Sebentar! Inez berjalan masuk kedalam kamar Lupita dan menghubungi nya.


"Hallo Inez?


"Lupi kau dimana?"


"Aku sedang kearah pulang?"


"Memangnya kau ada dimana? ini sudah jam setengah sepuluh, tapi masih diluar."


"Hari ini aku jalan-jalan berdua dengan Mas Harlan, membeli perabotan untuk rumah baru kami. Aku lupa memberitahumu, dua hari lagi aku akan pindah kerumah baru setelah menikah di KUA."


"Wah senangnya mendengar kau akan menikah resmi? apa akan ada pesta meriah?"


"Tidak! hanya sahabat inti dan beberapa kolega Mas Harlan. untuk pesta akan menyusul nanti."


"Kau akan pulang kembali ke sini kan?" ku lihat ranjang mu berantakan." Inez terkekeh.


"Oh my God... Aku lupa membereskan nya." Lupita cengengesan di ujung telpon.


"Ya, ya.. aku paham, tadi ada gempa di kamar mu."


"Ck. kau nanti juga akan merasakannya. Sana cepat kawin, minta Wiliam halalin." suara tawa di sebrang sana semakin kencang.


"Hussszzz, hati-hati ada orangnya di sini!"


"What?? kau sedang bersama William sekarang?"


"Ceritanya panjang, nanti akan aku ceritakan. Oiya kami tadi kehujanan, boleh tidak pinjamkan baju suamimu untuk asisten nya."

__ADS_1


"Oohh, tidak apa-apa kasih saja, baju Mas Harlan banyak kok, ambilkan buat Wiliam."


"Oke, makasih Lupi.."


Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan Lupita, Inez membuka lemari pakaian dan mengambil kaos merk Chanel dan celana jeans milik Harlan, sangat kebetulan tubuh harlah dan William hampir sama, tinggi badan mereka 185 adalah rata-rata tinggi orang bule.


"Aku sudah minta izin pada Lupita, ia membolehkan tuan pakai baju dan celana tuan Georgie." Inez memberikan pakaian dan handuk ketangan Wiliam.


"Terimakasih, maaf sangat merepotkan."


"Tidak apa-apa, Tuan boleh mandi duluan."


"Inez!"


"Heum.."


"Sudah berapa kali aku katakan, jangan panggil aku Tuan bila sedang berdua."


"Tapi, itu tidak akan sopan."


Wiliam beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat.


"Ehh! Anda mau apa Tuan?" Inez mundur beberapa langkah ke belakang, dan berakhir di belakang dinding. "Anda jangan macam-macam Tuan.."


"Diam! perintah Wiliam. Inez menutup mata dengan tubuh gemetar saat Wiliam semakin dekat. "Kena! seru Wiliam.


"Hah..??" sontak Inez membuka matanya.


"Lihat capung ini, ia menempel di rambutmu. apa kau tidak pernah keramas?" Wiliam mengangkat capung dari ujung jarinya, di iringi suara kekehan.


"Astaga hampir saja!" Inez menarik nafas lega sambil mengusap dadanya.


Inez membulatkan matanya dan menatap kesal pada bule tampan yang selalu meledeknya. "Ish! selalu saja bilang begitu! cepat sana mandi dan segera pulang, sebelum warga datang gerebek kita!"


Wiliam menautkan alisnya "Siapa yang ingin berbuat mesum? kita tidak ngapa-ngapain bukan?" Wiliam gelengkan kepala sambil berjalan kearah kamar mandi.


Selesai Wiliam membersihkan diri, Inez menuntaskan tubuhnya dengan mandi air hangat yang ia masak sebelumnya. Diluar hujan masih belum berhenti, Namun tidak sederas tadi. Mereka berdua hujan-hujanan karena drama di Cafe tadi. udara dingin membuat perut jadi lapar. untung Inez memiliki persediaan mie instan yang sengaja ia stok bila malas masak. Inez tahu pasti Wiliam sangat lapar, tadi ia sempat mengajaknya ke rumah makan, Namun ia menolaknya. Rasa tak tega membuat inez luluh untuk memasakkan mie instan. Selesai berpakaian, ia masuk kedalam dapur dan membuatkan mie instan, tidak lupa ia masukkan telur, irisan cabai dan sawi hijau.


"Tuan, saya sudah membuat mie. Ayo kita makan." ucap Inez sopan.


Wiliam yang sedang mengetik diatas ponsel, menghentikan kegiatannya dan tersenyum pada Inez. "Baiklah, aku ingin mencoba masakan mu."


"Itu hanya mie instan, bukan aku yang buat tapi pabrik, aku hanya memasaknya saja."


Wiliam menyerah dan tak ingin berdebat lagi. "Wanita memang selalu ingin menang!" gumamnya pelan.


"Tuan bilang apa?"


"Tidak ada! ucapnya seraya menarik kursi dan menghempaskan bokongnya.


Inez menaruh mangkok besar yang sudah terisi mie di depan Wiliam.


"Apa Tuan Ingin nasi?"


Wiliam mendelik dan menatap Inez "Sekali lagi kau panggil Tuan, aku cium bibirmu sampai bengkak."

__ADS_1


Mendapat ancaman dari pria bule di depannya, inez menutup bibirnya.


"Ayo kita makan, aku sudah sangat lapar." ucap Wiliam tanpa sungkan.


Mereka berdua menikmati mie instan dengan lahap. Inez sengaja membuat dua porsi ke mangkok Wiliam dan sudah tandas tanpa sisa.


"Hujan sudah reda, ini juga sudah malam. Tidak lama-lama disini, aku pulang dulu."


Inez mengangguk dan mengikuti langkah Wiliam sampai depan pintu.


"Terimakasih sudah memberikan mie yang lezat."


"Sama-sama sudah mengantarkan aku pulang."


"Okay! sampai ketemu besok di kantor."


Inez mengangguk lagi, Wiliam berlari kecil untuk menghindari hujan yang masih tersisa. Inez lupa untuk meminjamkan payung. Setalah kepergian Wiliam ia menutup pintu.


***


Mobil Harlan sudah memasuki gerbang dan terparkir sempurna di depan teras. Harlan dan Lupita keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah. Saat membuka pintu, sudah berdiri Mak Isah dengan sorot mata sedih.


"Harlan kau sudah pulang."


"Ini sudah malam, Kenapa Mak tidak tidur?"


"Mak tidak akan bisa tidur sebelum kau pulang. sudah dua malam kau tidak pulang Land?"


"Aku ini bukan anak kecil lagi, Mak! aku bisa tidur dimana saja, yang terpenting aku tidak terlantarkan kelurga ku."


"Mak hanya khawatir padamu Land."


"Ya sudah sekarang Mak tidur, ini sudah jam setengah dua belas."


Pandangan Mak Isah beralih pada Lupita yang berdiri di samping Harlan. "Lupi, Mak minta maaf sudah menyakitimu." tiba-tiba Mak isah memeluk tubuh Lupita dan menangis terisak. Lupita mengusap lembut punggung wanita paruh baya berusia 55 tahun itu.


"Aku juga minta maaf, selama tinggal disini kurang memahami ibu dan jarang komunikasi, hingga terjadi kesalahpahaman." ucap Lupita lembut, seraya melepas pelukannya.


"Mak, Harlan sayang pada Mak, tapi tolong hargai dan sayangi Lupita sebagai istri ku."


"Iya Land, Mak benar-benar minta maaf, sudah salah padamu juga Lupita." ucapnya tulus bersama tetesan airmata.


Mak Isah menggenggam tangan Lupita "Nak masalah foto-foto itu adalah masa lalu Harlan. Mak yang menyimpan nya, tidak tahu kalau Della mengambil dari dalam kotak yang Mak simpan di lemari. Mak minta maaf sekali lagi, percayalah Harlan hanya mencintai mu. foto-foto itu sudah Mak bakar, tidak ada lagi kenangan masa lalu Harlan, kini yang ada masa depan bersama mu." Mak isah mengusap air mata dengan ujung bajunya. "kalian berdua harus bahagia dan secepatnya memberikan Mak cucu. Lupita dan Harlan tersenyum dan memeluk wanita senja itu.


"Iya Mak, semoga secepatnya Lupita hamil, aku sedang berusaha menabung."


Lupita mencubit pinggang suaminya "Apaan sih Mas!"


"Aww! sakit sayang.." Harlan terkekeh.


Mereka bertiga bercengkrama dan tertawa bersama. Tanpa mereka sadari, sepasang mata tajam sedang mengamati dan mengepalkan kedua tangannya "Aku tidak akan biarkan kau hidup bahagia Lupi!" ucapnya geram.


💜


💜

__ADS_1


💜


@Bersambung......😍


__ADS_2