
"Tidak mungkin! Lupita bukan orang seperti itu. Aku tau sendiri sifat dan kepribadiannya. Ia memiliki ide brilian dan pembuatan desainnya beda dari yang lain. Lupita mempunyai karakter dalam mendesain yang tidak dimilik banyak orang. Aku percaya Lupita bukan pencuri! terlihat Harlan sangat geram dengan rahang mengeras..
"Will!
"Saya Tuan!
"Sore ini kita berangkat ke Jakarta. urusan ku sudah selesai disini!
"Siap Tuan!"
Setelah berpamitan dengan Alfonso Wiliam dan Harlan meninggalkan tempat itu. Mereka di dampingi bodyguard Alfonso. Satu jam kemudian mobil berhenti di depan Schiphol Airport, Amsterdam.
Harlan menggunakan pesawat jet Pribadi. penerbangan harus melewati bandara Amsterdam Karena belum memiliki lapangan penerbangan sendiri.
Sebelum Masuk kedalam ruangan pemeriksaan, Harlan menerima panggilan telpon dari kerabat.
Goergie kau akan pergi dari negara ini? tiba-tiba sebuah tangan memeluk pinggangnya dari belakang. Harlan terperanjat kaget. ia menoleh kesamping terlihat Margaret sedang bersandar di punggungnya. Harlan memutuskan telpon dan melepas kasar tangan Margaret dari depan.
Melihat sorot mata tajam Harlan Wiliam mengambil tindakan dengan memarahi Margaret.
"Nona Metha! Apa anda tidak punya malu! ini adalah di bandara! bentak Wiliam.
"Sejak kapan di bandara di larang berpelukan! heii... ini negara bebas! menunjuk wajah Wiliam "Kau jangan ikut campur, kau hanya seorang pembantu. Berani kau bentak aku anak seorang pejabat!
"Margaret berbicaralah dengan sopan! jangan pernah merendahkan asisten ku! seru Harlan bicara dengan ekspresi dingin.
"Tapi Georgie, apa salah aku peluk dirimu. itu rasa rindu ku yang mendalam karena kau akan pergi lagi dari Negara ini!
"Tuan, sudah waktunya kita berangkat."
Harlan mengangguk dan langsung melangkah pergi.
"Tunggu!
Margaret menghentikan langkah panjang Harlan. Harlan pun berhenti tanpa menoleh kebelakang.
"Goergie kapan kau akan kembali lagi? kau masih ada urusan di sini, bisnis kita baru saja di mulai."
"Maaf Margaret, aku tidak bisa pastikan kapan akan kembali? kau bisa langsung berhubungan dengan pamanku!"
Setelah berbicara Harlan langsung melangkah pergi meninggalkan Margaret begitu saja tanpa peduli dengan kekesalannya.
"Sialan kau pergi begitu satu Goergie! menghentak kakinya kelantai "Aku tidak akan menyerah untuk meluluhkan hatimu Geo! nantikan kedatangan ku ke Indonesia."
Pesawat sudah lepas landas menuju Indonesia.
Setelah jenazah Imron di kebumikan pada pagi hari. Malamnya di rumah Lupita diadakan tahlilan. Begitu banyak tetangga yang datang dan simpati memberikan kue. Tahlilan akan di adakan selama tujuh hari berturut turut. Surti sudah datang bersama adik kandung yang bernama Asmat. Mereka datang setelah Imron sudah di kuburkan.
Setelah tahlilan selesai Lupita membereskan tikar dan piring kue. Di dapur Ia mencuci semua perabotan. Selesai berbenah, saa ia ingin masuk kedalam kamar. Tiba-tiba suara Surti menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Lupi! di mana uang penyelawat tadi pagi! berikan pada bibi! aku berhak tau kemana uang itu! Kau jangan korupsi uang itu! kau tidak berhak pegang uang orang sudah mati!
"Astaghfirullah... Bii?! untuk apa aku korupsi uang para penyelawat. Uang itu masih ada kok. aku berniat mau kasih ke bibi selesai tahlilan, Karena dari siang masih banyak tetangga yang datang nyelawat."
"Tidak usah alasan! pasti kalau nggak ada bibi kau kan yang akan mengambil uang itu!
"Terserah apa kata bibi! aku tidak berniat ambil uang itu satu sen pun! Lupita hanya heran. Belum satu hari Pamannya di kubur, bahkan tanah merahnya saja masih basah. Tapi bibinya sudah ributkan soal uang para pelayat.
"Cepat kesiniin uang nya! minta Surti tak sabaran.
Lupita hanya diam dan geleng-geleng kepala. Ia tidak ingin berdebat lagi dengan bibinya yang tak tau diri. Lupita masuk kedalam kamar, ia mengambil uang itu dari laci lemarinya dan berjalan kerungan tamu untuk memberikan uang pelayat langsung ketangan Surti.
"Ini semua uangnya bii!" menyerahkan kantong kresek hitam di depan Surti, yang lagi duduk diatas karpet bersama adiknya yang terus menatap Lupita.
"Cuma segini? bukannya tadi yang nyelawat banyak!
Lupita menghela nafas dalam-dalam dan di hembuskan nya perlahan menahan kekesalan pada bibinya.
"Bii! belum satu hari Paman dikuburkan. Tapi bibi terus ributkan uang pelayat. Aku hanya simpan uang ini yang berada di baskom. dan selebihnya bibi tanya pada anak bibi Lolita, dia juga tadi menyimpan uang pelayat!
"Ehh diam luh! bacot ajah ye luh bisanya. Lempar batu sembunyi tangan! teriak Lolita yang tak terima.
"Jangan suka nyalahin anak gue Lupi! emang kenapa kalau bibi minta uang pelayat! ini juga buat kebutuhan sehari-hari! apalagi kata Loly kamu sudah nggak bekerja lagi kan! di pecat kan! makanya kerja yang bener, baru kerja tiga bulan udah di pecat!
Lupita udah malas berdebat dengan bibinya yang gak pernah mau kalah. Lupi pergi meninggalkan ruangan tamu dan masuk kedalam kamar.
Jam dua pagi dinihari pesawat sudah landing dan mendarat dengan sempurna di Jakarta. Harlan dan William masuk kedalam mobil menuju kediamannya.
Pintu gerbang terbuka lebar, Mobil masuk kedalam rumah berlantai tiga itu.
"Harlan kau sudah pulang Nak! sapa Mak Isah yang sudah berdiri diambang pintu.
"Mak, maafkan Harlan terlalu lama meninggal kan Mak disini."
Mereka berdua saling berangkulan layaknya ibu dan anak yang lama terpisah jauh. Setelah melepas rindu mereka berjalan masuk kedalam ruangan.
"Bagaimana keadaan Paman mu, apakah sudah sembuh?"
"Sudah Mak!
Harlan duduk di Sofa sambil melepas penat. Pelayan datang membawakan dua cangkir kopi panas untuk Harlan dan William.
"Mak sangat khawatir, takut kau pulang lama, Masalahnya Mak takut perusahaan mu terbengkalai disini."
Harlan tersenyum dan meraih tangan Mak Isah. "Aku sudah pikirkan semuanya Mak, tidak usah khawatir lagi. sepertinya aku betah tinggal disini. rencananya aku akan selamanya tinggal di Jakarta menemani Emak."
Mata Mak Isah berbinar cerah "Benarkah Nak? Emak senang mendengarnya. Semoga jodohmu orang Indonesia." ujar Mak Isah mengusap lembut kepala anak angkatnya.
"Ya sudah Mak, ini sudah jam empat subuh. Aku mau istirahat dulu, besok pagi aku harus kembali ke kantor."
__ADS_1
"Ya sudah istirahatlah."
"Will, kau baik baik saja bukan? tanya Mak Isah ramah.
"Iya Mak, berkat do'a Mak."
"Ya sudah naiklah ke atas. istirahatlah!
William mengangguk pelan dan naik keatas menyusul Harlan.
Pagi hari jam sudah menunjukkan pukul tujuh. suara alarm berbunyi keras. Harlan terbangun dan memaksakan membuka matanya yang masih terasa lengket.
"Tok! Tok! tok!
"Masuk!
"Pagi Tuan! hari ini akan ada pertemuan dengan pejabat tinggi dan direktur utama jam sembilan pagi."
Harlan duduk bersandar pada divan sambil memijit keningnya yang sedikit pusing.
"Sebentar Will, nyawaku baru saja terkumpul."
Setelah sepuluh menit, Harlan beranjak dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi.
Wiliam memberikan setelan tuxedo pada Harlan. selesai berpakaian mereka berdua turun kebawah menuju meja makan. Mak isah sudah menunggu di ruangan makan.
Selesai sarapan bersama. Harlan masuk kedalam mobil di ikuti Wiliam. Mobil pergi menuju kantor.
Mobil sudah masuk kedalam gedung perkantoran ''Vandeles' dan berhenti di depan Lobby. seorang satpam membuka pintu mobil untuk Harlan. Pria tampan dengan ekspresi dingin itu, mengadahkan kepalanya keatas. Menatap gedung bertingkat yang menjulang tinggi miliknya.
Sebelum melangkah masuk kedalam, Harlan berseru "Will!...
"Saya Tuan!
"Siapa saja orang orang yang sudah memfitnah dan mengusir Lupita dari perkantoran ini? kau pikirkan hukuman apa yang tepat untuk mereka!
Tanpa menunggu Jawaban dari Wiliam, Harlan melangkahkan kaki panjangnya berjalan masuk kedalam gedung perkantoran.
'
'
'
'
'
Bersambung.....💃💃💃
__ADS_1