
Inez tersenyum dan mencium pipi pria tampan yang sudah sah menjadi tunangannya.
"Ayo cepat kita pulang. Kita tidak akan pernah sampai kalau kau terus menciumi ku." goda inez. keduanya terkekeh bersama.
Malam itu Inez sungguh bahagia, ia tertidur dengan lelap setelah Wiliam mengantarkan sampai rumah. Andaikan semua itu mimpi dia tak ingin bangun dari mimpinya dan berharap setelah bangun dari tidur, adalah sebuah kenyataan.
*
*
Mentari mulai menunjukkan sinar cahaya keemasan. Sepasang suami-istri yang telah merajut kasih semalaman penuh, terlelap dalam pembaringan diatas ranjang.
Harlan terbagun dari pembaringan hangatnya, dan menatap wanita cantik yang sudah sah menjadi istrinya. Di pandangi dan di kecup nya wajah cantik Lupita penuh cinta. Hari ini ada tugas kantor dan harus bertemu dengan cliant yang sudah menunggu lama.
Lupita terbangun dan tidak mendapati keberadaan suaminya di samping. Ia beranjak dari ranjang dan mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Lupita masuk kedalam Walk in closed untuk mengambil pakaian kerja suaminya.
"Sayang.. sudah bangun?" Harlan berjalan mendekat dan mencium kening istrinya.
"Ini pakaiannya Mas, aku akan buat sarapan dulu."
Harlan menarik pinggang istrinya kedalam pelukan "Sudah ada dua ART, tidak perlu banyak kegiatan di rumah. istriku khusus mengurus dan melayani suami saja."
"Itu sudah pasti sayang, Semua yang aku punya adalah milikmu."
"Aku ingin mandi dulu, kita sarapan bersama."
"Aku akan menunggu mu dan mengecek schedule hari ini."
Lupita berjalan kearah kamar mandi. Tiga puluh menit kemudian ia sudah selesai mandi dan berhias diri di depan cermin.
"Isteri ku sangat cantik, rasanya Mas malas pergi ke kantor." ucap Harlan seraya memeluk istrinya dari belakang.
"Kita sudah lama liburan nya Mas, kalau mas tidak mau kekantor, cliant pada mundur untuk bekerja sama."
"Sekarang istriku sudah pintar ceramahin suaminya ya." mencium ceruk jenjang Lupita.
"Geli sayang...."
"Tapi enak kan?" goda Harlan terkekeh.
"Sudah Mas, kapan berangkatnya. Ini sudah telat jam kantor loh!"
"Aku CEO nya jadi bebas jam masuk kamar."
"Ish! Dasar CEO keras kepala." gerutu Lupita seraya berjalan keluar kamar menuju ruangan makan bersama Harlan. Tangan mereka saling bergandengan mesra.
Dari kejauhan Lupita melihat seorang wanita duduk membelakanginya di kursi makan dengan rambut sebahu berwarna merah kecoklatan. Rasa penasaran membuatnya melangkah lebih cepat menuju meja makan.
__ADS_1
"Siapa kau..?"
"Hey kak Lupi, selamat pagi.." sapa wanita itu percaya diri.
"Kau...?? Lupita terpekik
"Kak Harlan apa kabar? hampir sepuluh hari kita nggak pernah ketemu, terakhir di pernikahan kakak kan kita bertemu." imbuhnya tersenyum ramah.
"Kau mau apa kesini Della..!!" tanya Lupita kesal.
"Loh emang salah aku datang? padahal aku kesini mau lihat kabar kalian loh!
"Nggak usah basa-basi, aku tidak mengundangmu untuk datang ke rumahku!"
"Oh-ya...? jadi kak Lupi ngusir aku! okey.. aku hanya mengantarkan pesanan kue dari Bibi untuk kak Harlan." Della memberikan kotak putih berisi kue pada Harlan.
"Ini buatan Bibi sendiri, jadi jangan takut aku kasih racun." sindir Della dan langsung mendapat tatapan tajam dari Harlan.
"Aku tidak bilang mengusir mu! jadi kau jangan salah paham atau mengada-ada."
"Itu sama saja bukan?"
"Aku pulang dulu kak! sepertinya Istri kakak tidak suka kehadiran ku disini." Della melangkah pergi meninggalkan ruangan makan.
Lupita berdecak "Ayo Mas kita sarapan." imbuh Lupita seraya mengambil kotak kue dari tangan Harlan.
"Mas! wanita ular seperti Della jangan pernah di kasih celah, bila ada kesempatan ia pasti akan berulah lagi."
Harlan hanya mendesah pelan dan mulai menikmati hidangan di meja makan bersama Lupita. Pagi-pagi Mbak Nur, dan Bi ijah sudah membuat sarapan untuk Tuan dan Nyonya nya.
"Aku berangkat dulu ya." mencium lembut pipi dan kening istrinya.
"Mas, ijinkan aku kerja lagi di kantor ya."
"Untuk apa? tugas mu dirumah saja ngurus suami, semua kebutuhan sudah Mas penuhi."
"Bukan masalah materi Mas, tapi aku butuh asah otak ku biar tidak tumpul."
"Kalau sesekali datang ke kantor gak apa-apa, tapi kalau untuk bekerja lagi, Mas nggak ijinin."
"Ya sudah Mas berangkat dulu."
"Hati-hati di jalan Mas."
Mobil melaju dengan kecepatan normal menuju Perusahaan Vandeles. Satu jam kemudian kendaraan Harlan sudah memasuki gedung perkantoran. Seorang bodyguard membukakan pintu mobil untuk CEO tampan berkarisma itu. Harlan memasuki sebuah perkantoran bersama beberapa orang bodyguard di belakangnya. Para karyawan membungkuk memberi hormat saat berpapasan dengan CEO dingin tanpa ekspresi itu.
Setelah keluar dari pintu lift, Harlan melangkah menuju ruangan nya. Sekertaris Alexa yang sejak tadi menunggu kedatangan Harlan buru-buru mendatanginya sebelum ia masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Pagi Tuan, maaf bisa kita bicara sebentar." tanya Alexa dengan mata menatap pintu ruangan kerja Harlan.
"Iya, memang ada apa...?!
"Maaf Tuan kalau saya lancang, di dalam ruangan Tuan, ada seorang Pria paruh baya. Ia terlihat masih gagah dan tampan, ia datang bersama seorang wanita? sepertinya dia ayah dari wanita cantik itu, mungkin saja Ingin menjodohkan Tuan Georgie pada anaknya."
Harlan menautkan kedua alisnya "Pria paruh baya dan seorang wanita? kenapa kau tidak melarang mereka masuk kedalam ruangan ku, kalau kau sendiri tidak mengenalnya!" ucap Harlan kesal, sambil berjalan kearah ruangan melewati Alexa.
"Kata nya mereka mengenal Tuan?"
"JGKEK!
"Hallo sayang...." sapa wanita seksi dan cantik dan tersenyum padanya.
Seketika Harlan terpaku dan bergeming di tempatnya berdiri dengan ekspresi kaget.
Wanita itu berjalan mendekat kearah Harlan berdiri dan memeluk tubuh kekar Pria tampan didepannya "Sayang, aku sangat merindukanmu."
Harlan mendorong tubuh seksi wanita itu "Untuk apa kalian datang kemari?"
"Hebat anakku! Ayahmu datang dari Belanda jauh-jauh kesini, hanya untuk melihat keadaan mu, tapi.. seperti inikah penyambutan mu?
Harlan mendesah kasar, seraya berjalan masuk dan berdiri didepan jendela keca menghadap gedung-gedung perkantoran yang menjulang.
"Apa kabar Paman? tanya Harlan basa-basi. "Angin apa yang membuat Paman dan Margaret datang kemari?"
Alfonso beranjak dari kursi presdir milik Harlan dan berdiri bersejajar dengannya "Apa kau tidak ingin memeluk Ayahmu Nak? padahal aku sangat merindukan mu."
Harlan tergelak "Rindu...? jangan bercanda Paman! apa kau sudah lupa? bagaimana kau menahan paspor ku untuk kembali ke Indonesia! aku tidak akan pernah lupakan itu!"
"Came-on jangan panggil aku Paman, Panggil aku Daddy! kita lupakan kejadian empat bulan yang lalu, aku ingin berada dekat denganmu."
"Ma'af, tapi aku belum bisa merubah panggilan untuk mu Paman!
"Ok no problem, i accept your decision."
"Boleh kita bicara? aku sengaja datang kemari untuk membicarakan kerjasama dengan perusahaan mu."
Harlan mengangguk dan mereka duduk di Sofa bersama Alfonso dan Margaret.
"Katakan lah Paman! apa tujuan Paman dan Margaret datang ke kantor ku?" tanya Harlan penuh selidik dengan tatapan mengintimidasi.
🔥
🔥
🔥
__ADS_1
@Bersambung.......