
"Anda telah membunuh calon pewaris Keluarga Vandeles! sekarang terimalah akibat dari perbuatan kalian! Wiliam menoleh pada pak polisi "Cepat bawa dua manusia itu! saya akan kekantor polisi untuk menyelesaikan perkara ini." selesai berbicara Wiliam dan beberapa bodyguard nya pergi meninggalkan kontrakan Surti.
"Bawa mereka berdua! perintah Pak polisi pada anak buahnya. Surti dan Lolita di borgol dan dibawa oleh polisi. Mereka berdua meraung dan terus menangis di sepanjang jalan.
Nasi sudah menjadi bubur, setiap perbuatan pasti ada balasannya. Penyesalan Surti dan Lolita sudah tak berguna. Kejahatan yang ia lakukan sudah di luar batas.
Detak suara jam dinding terdengar lirih. waktu sudah beranjak di angka delapan. Lupita terbangun dari tidurnya. Hening. Tidak tampak seorangpun didalam ruangan.
"Dimana Mas Harlan? matanya terus menyoroti seluruh ruangan, hanya dinding bercat putih dan aroma obat-obatan yang mendominasi. Lupita turun dari ranjang.
"Huft!" Aku sangat haus." diambilnya sebuah teko samping ranjang "Kosong? tidak ada air? aku harus ke pantry."
Kaki Lupita berjalan perlahan meninggalkan ruangan. Aneh, ia celingak-celinguk mencari orang disekitar. Namun, tidak ada. "Tidak ada Wiliam dan Inez? bukankah ia menunggu di luar?" Kakinya terus berjalan di koridor untuk menuju panty, tenggorokan terasa kering, sebab Lupi banyak menangis sejak ia bangun dari siuman.
"Aneh, kenapa tidak ada pengunjung di rumah sakit ini?" apa mereka sedang tidur?" perasaan ini baru jam delapan." Lupi mulai terasa lelah dan tersengal menyusuri lorong dan koridor setiap ruangan. "Dimana pantry itu, kenapa aku berjalan sudah lama tidak sampai-sampai?" Atau jangan-jangan...?" Aagrrh!" Lupi menepis pikirannya yang tidak-tidak.
"Sepertinya aku melihat beberapa pria sedang mengobrol di ujung koridor. Ya benar, itu mereka sedang bersendau-gurau." terdengar suara gelak tawa dari empat pria itu.
"Apa aku bertanya saja, dimana pantry berada? gumamnya pelan. Lupi beranikan diri berjalan kearah Pria itu. Terdengar suara langkah kakinya berjalan. Empat Pria itu menoleh kearah Lupi dan menatap sinis. ia terkejut dan mengingat wajah empat pria itu.
"Bukankan mereka yang mengejarku malam itu? suara Lupi tergagap, Irama jantungku berdebar kencang. ia memundurkan langkahnya saat empat Pria itu berjalan mendekat. ia menoleh kesamping saat sudah berada di belokan koridor. Tak ada kesempatan untuk berada tempat itu lebih lama, Lupi berlari secepat mungkin dan mencari tempat untuk bersembunyi. Empat pria itu berlari mengejar Lupita. Saat sudah di belokan mereka tidak menemukan sosok Lupita.
"Cepat kejar! cari kesetiap ruangan!" perintah salah satu dari Pria itu. Mereka terus membuka satu persatu setiap pintu. Lupita terus pepetkan tubuhnya ke sudut dinding.
Tring!! suara benda jatuh dari meja dorong yang tersenggol olehnya. "Upsst! Lupita membekap mulutnya. Seketika ruangan hening. Tidak ada suara sama sekali, perlahan ia bangkit dan berjalan kearah pintu. "Syukurlah mereka sudah tidak ada." Lupita bernafas lega, baru saja ia melangkah keluar pintu, seseorang menangkap tubuhnya.
"Hahahaha...kau mau lari kemana?!"
"Jangan sentuh aku! tolong......!!
Lupita terus berontak dan menendang salah satu pria itu. ia berlari sekuat tenaga. Namun, tubuh mungilnya kalah cepat dengan pria-pria yang terlihat kelaparan.
"Ku mohon jangan sentuh aku! tolong...
Nafas Lupi tersengal, keringat jagung membanjiri tubuhnya.
"Lupi!
"Lupi, bangun...!" suara Harlan terdengar lembut.
Deg! Lupita terkejut. ia menarik nafas dalam-dalam. Matanya terbelalak sempurna, Lupi memicingkan matanya. Samar ia menatap pria tampan duduk didepannya dengan ekspresi bingung, dan kedua alis mengkerut.
"Ada apa Lupi?" Harlan bertanya lembut.
"Mas Harlan! Lupita bangkit dari tidurnya dan memeluk tubuh kekar suaminya "Aku takut! orang-orang itu ada disini mengejar aku!" tubuh Lupi bergetar, dadanya terasa sesak dengan nafas naik-turun tak beraturan.
__ADS_1
"Jangan takut, ada Mas disini?" kau hanya mimpi tadi." Lupi mengurangi pelukannya.
"Tidak Mas! itu benar-benar nyata dan ia ada disini mengejar ku!
Alis Harlan mengkerut "Dia siapa?"
"Empat orang itu! Dia mengejar ku, Mas! aku nggak bohong!" teriakan Lupita menggema di ruangan. ia terus berteriak ketakutan.
"Will..!"
Suara pintu terbuka, langkah kaki mendekat "Iya tuan! ada apa dengan Nyonya?"
"Cepat kau panggil Dokter! suara Harlan terdengar sedih seperti ada luka dihatinya.
"Baik Tuan! ucapnya disela melangkah cepat.
"Lupi... dengarkan Mas? Harlan menyentuh kedua pipi Lupita yang tertunduk "Tidak akan ada lagi yang menyakitimu, lihat mataku?"
"Tidak...!! orang-orangnya itu mengejar ku Mas! mereka ingin membunuhku juga anakku! Lupita berteriak histeris. Nafasnya memburu dan terdengar kasar bersama deraian airmata.
"Lupi! kau hanya bermimpi, mereka semua sudah meninggal!" Lupita sudah tidak bisa mendengar kata-kata Harlan lagi, tubuhnya terguncang. cakaran demi cakaran ia lampiaskan pada Harlan. Namun, Harlan tidak peduli apalagi membalas. Ia tahu istrinya sedang dirundung musibah dengan kehilangan anaknya.
JEDER!
"Tuan, biar kami yang tangani, bisa menunggu di luar." pinta Dokter berpenampilan bersih itu.
Harlan melepas tubuh Lupita. Dua perawat itu memegangi kedua tangan Lupita yang terus berteriak. ia sungguh tak tega melihat kondisi istrinya. Dengan langkah gontai Harlan berjalan meninggalkan ruangan, seraya mengusap jejak airmatanya.
Wiliam mengerti kondisi Tuannya yang sedang tidak baik. Ia berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. Ia menoleh dan melihat banyak goresan di kedua tangan Harlan. "Maaf tuan, tangan anda..?"
"Tidak apa-apa Will! luka ini tidak sesakit penderitaan yang istriku alami, seharusnya ia sayat-sayat saja tubuh ini, agar aku tidak merasa bersalah! Aku sudah membuatnya menderita! sesal Harlan, mengatupkan kedua tangannya ke wajah.
"Tuan, aku turun prihatin dengan kondisi Nyonya. Aku minta maaf tidak bisa menjaganya dengan baik, selama tuan tidak ada disini. Begitu banyak pekerjaan yang harus aku urus." Wiliam tertunduk sedih. ia pun merasa bersalah karena tidak bisa menjaga amanah yang tuannya berikan.
"Huft!" Harlan meniup berat. "Kau tidak bersalah Will!" semua ini salahku, meninggalkannya cukup lama. Sialnya, pria tua itu menahan ku pulang! kau tau bukan? pasport ku ditahannya dan aku hampir gila tidak bisa menemui istriku. Apalagi saat kau bilang Lupita sedang hamil, kewarasan ku hampir hilang! kau tau? bisa saja aku membunuh pria tua itu bila ia tidak memberikan paspor ku. Andai Margaret tidak datang hari itu, rencana ku sudah pasti berhasil. Sayangnya Margaret adalah penyelamat pria tua itu!"
Mata Wiliam terbelalak "Apa tuan sadar? apa yang baru saja tuan ucapkan?" kalau tuan berhasil membunuh tuan Alfonso, yang ada malah tuan selamanya tidak akan bisa bertemu dengan Nyonya Lupita."
Harlan mendesah panjang "Entahlah hanya itu yang ada didalam otakku."
"Semoga tidak akan pernah terjadi hal itu lagi tuan, apalagi Tuan Alfonso Ayah kandung Tuan." Wiliam bicara tanpa sadar.
Harlan terkejut, matanya menyoroti tajam pada pria didepannya "Kau tahu darimana, Hah!" menarik kasar jas Wiliam.
"Tu-an ak-u...." suara Wiliam tercekat.
__ADS_1
"Katakan, kau tahu darimana?"
"Tu-an lepaskan dulu, ini rumah sakit."
CEKLEK
"Tuan Goergie!"
Harlan melepas jas Wiliam "Ingat, urusan kita belum selesai!" bisiknya seraya bangkit dari kursi.
"Dokter? apa kondisi Istri saya sudah baikan?"
"Bisa kita bicara didalam?" Harlan mengangguk cepat dan berjalan di belakang Dokter itu.
Mereka duduk di Sofa yang berada di dalam ruangan rawat inap Lupita.
"Begini tuan! pria itu membetulkan kacamata minusnya 'Istri anda mengalami traumatis dan halusinasi akut. ia butuh penyembuhan ekstra di samping kondisinya yang melemah pasca keguguran."
Harlan menghela nafas dalam, bola matanya memanas, la mendongak ke langit-langit agar butiran bening tidak jatuh. "Butuh berapa agar istriku sembuh." kini matanya menatap pria berjas putih itu.
"Tergantung dari diri nyonya Lupita, ia tidak boleh ditinggalkan sendirian bila sedang terjaga. Harus banyak yang mendampingi agar ia tidak kesepian dan merasa sendiri. Selain itu kami juga akan Terapi kejiwaan nyonya. Agar rasa trauma itu berangsur pulih."
"Saya setuju dengan pengobatan Dokter. Saya berharap istri saya secepatnya pulih, kasihan lihat kondisinya seperti ini. Rasa kehilangan anak dalam kandungannya membuat ia frustasi, apalagi dengan kejadian dimana ia dikejar para preman." Dengan gamblang dan tidak di buat-buat Harlan menceritakan kejadian yang Lupita alami.
"Huft" Dokter itu mendesah nafas berat. "Sungguh sangat tragis." ucapnya prihatin "Saya berjanji akan membantu istri Tuan untuk kembali pulih."
Wajah Harlan berbinar cerah "Terima kasih Dok, saya percayakan pengobatan istri saya pada Dokter."
"Kalau begitu saya permisi dulu, nanti akan ada dokter yang bertugas jaga malam berkunjung tiga jam sekali. Nyonya Lupi sudah kami suntikan obat penenang. Bila terjadi sesuatu pada kondisi nyonya Lupita, secepatnya kabari kami."
"Baik Dok, sekali lagi terim kasih." mereka saling berjabat tangan. Selesai berbicara Dokter dan suster meninggalkan ruangan rawat inap Lupita.
ππππ
@Bab ini lebih panjang ya, Yuk ikuti terus kelanjutannya, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
πLike
πVote
πGift
πKomen
@Bersambung........ππ
__ADS_1