Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Kepulangan Lupita


__ADS_3

Mak isah menarik nafas dalam "Del! kau jangan bersedih atau menyalahkan Harlan ya. Walau kau tidak bisa menikah dengan Harlan sekarang. Mak yakin, suatu saat nanti Harlan akan menerima dan mau menikahimu?"


Bibir Della menganga dengan kening berkerut "Maksud bibi apa?


"Harlan akan membawa pulang istrinya kerumah ini?"


"Ap-apa...?!" Mata Della membulat.


"Bibi sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Huft!" Mak Isah mendesah kasar, seakan bebannya terasa berat. "kalau bibi tidak setuju Harlan membawa istrinya tinggal dirumah ini, Harlan akan pergi dan tinggal bersama istrinya di villa, rumah yang baru ia bangun."


"Ck!" kenapa kak Harlan tidak memikirkan perasaan Bibi yang sudah membesarkannya." Della memutar bola matanya malas. "Bila kak Harlan tidak bisa aku dapatkan sekarang. Suatu saat aku bisa membuatnya jatuh cinta dan meninggalkan istrinya yang belum sah secara hukum Negara." Della sungguh percaya diri. seringai licik tersungging di bibirnya.


"Kau harus sabar menghadapi Harlan Dell, kau harus bersikap baik pada istrinya di depan Harlan, agar bisa mengambil hatinya dan Harlan akan bandingkan kau dengan Istrinya."


"Bibi benar, kita lihat saja nanti."


Harlan melepas seluruh pakaian dan masuk kedalam kamar mandi, ia merendamkan tubuh didalam bahtub untuk merilekskan otot-ototnya yang kaku. Sudah tiga hari sejak pulang dari Belanda ia tidak bisa mandi dengan nyaman. Kini Harlan baru merasakan mandi dengan rileks. Setengah jam berendam dan merasakan tubuhnya segar, Harlan bangun dari bahtub, dan membersihkan seluruh tubuhnya dibawah guyuran shower.


Krek!


Mata Harlan melihat wanita didalam kamarnya. "Apa yang kau lakukan dikamar ku?" hardik Harlan, ia membulatkan matanya saat Della sudah berada didalam kamarnya.


"Kakak, aku kesini membawakan kopi hitam kesukaan kakak!" ucap Della manja, pandangan matanya menatap tubuh kekar Harlan yang berbalut handuk di pinggang. Dada bidangnya di tumbuhi bulu-bulu halus dan Perut six pack begitu menggoda, membuat Della menelan salivanya berkali-kali.


"Cepat kau keluar! bentak Harlan dengan amarah metetup-letup, sebab Della sudah berani masuk kedalam kamarnya tanpa seizinnya.


Della tersentak dari lamunannya. Menatap Harlan dalam-dalam menelisik yang sedang ia pikirkan sekarang. "Andai kau adalah pemilik hatiku, saat ini aku sudah berada dalam pelukanmu kak! cinta mengapa begitu menyakitkan. Aku sangat mencintaimu kak, dan akan terus mengejar mu!" gumamnya pelan, bola matanya sudah memanas.


Suara dering ponsel menghentikan amarah Harlan, dan memindai tatapannya ke ponsel yang tergeletak diatas nakas.


"Hallo Will!"


"Tuan, Nyonya tidak ada di ruangannya." ucap Wiliam merasa bersalah. Ia menerangkan kondisi Lupita di ujung telepon sana.


"Bagaimana bisa istriku tidak ada di ruangannya?! kau kemana saja!" terdengar suara Harlan meninggi.


"Awalnya ia terbangun. Aku mengajaknya bicara, Namun, Nyonya hanya diam saja tanpa bicara satu katapun dan tatapannya terlihat kosong. Aku keluar untuk mencari perawat, Saat kembali Nyonya sudah tidak ada."


"Jadi..! ucapan Harlan terhenti saat melihat Della masih berdiri di sisi ranjang. Mata Harlan memicing menatap tak suka pada wanita itu.


"Kau masih berada disini! cepat keluar!!" teriak Harlan, ia sangat kesal mendengar Lupita tidak ada di kamarnya. dan kekesalan nya ia tumpahkan pada Della.


"I-ya kak! sebenarnya aku kemari ingin memberikan laporan ini?" Della memberikan sebuah file pada Harlan.


Kedua alis Harlan mengkerut "Laporan apa??" mengambil file dari tangan Della, dan membuka file itu. Setelah Harlan membaca laporan itu, menoleh sekilas "Sejak kapan kau bekerja di perusahaan ku!'


"Baru satu bulan ini Kak! Bibi yang memintaku untuk bekerja di perusahaan kakak, kebetulan aku bisa akunting, kak Wiliam menaruh aku di posisi itu."


"Apa kau memiliki pengalaman di bidang akunting!" Sudahlah aku tidak ingin berdebat dengan siapapun. Sekarang pergilah! satu tangan Harlan terangkat dan mengibaskan tangannya tanpa menoleh lagi.


Dengan wajah masam, Della melangkah pergi meninggalkan kamar Harlan.


"Aagrh!" Harlan membuang nafas kasar. "Hallo will! apa kau masih disana!"

__ADS_1


"I-ya Tuan!"


"Aku akan segera kesana! aku harap kau dan pihak rumah sakit secepatnya temukan istriku, atau aku akan menuntutnya!" Harlan mematikan ponsel dan mengambil kemeja tangan pendek dan celana jeans di dalam lemari. Ia menyugar rambutnya tanpa menyisir. Dompet dan kunci mobil sudah berada ditangan. Harlan berlari keluar kamar dan menuruni anak tangga.


"Land! kau mau kemana lagi!" seru Mak Isah, saat melihat Harlan setengah berlari menuju teras, tempat dimana mobilnya terparkir.


"Ke rumah sakit!" ucapnya singkat, tanpa peduli tatapan kesal Mak Isah.


Harlan melajukan mobilnya dengan cepat, membelah jalanan raya ibu kota.


Di rumah sakit "Harapan" semua perawat yang bertugas di jam siang, sedang tegang dan panik, karena hilangnya Lupita dari ruangan rawat inap. Seluruh ruangan sudah di telusuri begitupun Cctv sedang di pantau.


Satu jam kemudian, mobil Harlan sudah berhenti didepan Lobby. ia berjalan cepat menuju ruangan VVIP plamboyan.


"Will! Wiliam yang sedang berbincang dengan dua perawat menoleh kebelakang.


"Tuan!"


"Dimana istriku!" menarik kerah baju Wiliam "Aku sudah bilang untuk menjaganya!"


"Tuan Goergie, mohon sabar dulu! jangan main hakim sendiri, Asisten tuan juga sudah berusaha dan kami masih mencari." ujar seorang perawat, memisahkan Harlan dan William yang terlihat terpojok dan serba salah.


Datang dua orang perawat pria mereka berjalan mendekat dan memberitahu keberadaan Lupita


"Maaf Tuan, kami sudah menemukan istri anda, Nona Lupita!"


"Benarkah? dimana istriku sekarang?


"Ada di ruangan 'Baby rooms'


Harlan bersama perawat berjalan kerungan bayi diikuti William dengan langkah gontai.


Krek!


Seorang perawat membuka pintu perlahan. matanya menyoroti ruangan bayi dan mencari sosok Lupita. Terlihat Lupita menggendong seorang bayi di sudut ruangan.


"Anak ibu sayang. jangan nangis lagi ya? ada ibu disini. Cup.. cup.. cup.." Bayi yang di perkirakan baru lahir dua hari itu, berada dalam dekapan hangat Lupita. Bayi itu seperti mengerti saat diajak berinteraksi, ia tidak menangis lagi.


"Nyonya Lupita Kenapa ada disini? sejak tadi kami mencari nyonya." tanya wanita berbaju putih-putih berbicara lembut.


"Tadi saya lewat ruangan ini ada baby menangis. Saya angkat untuk menidurkannya."


"Boleh minta bayinya? mau saya tidurkan."


Lupita mengangguk dan memberikan bayi itu ketangan seorang suster.


"Lupi! Harlan berjalan mendekat dan memeluknya "Kenapa kau berada di ruangan ini? Mas sangat khawatir."


Lupita melepas pelukannya dan menatap nanar wajah Harlan "Dimana anakku Mas?"


Harlan menarik nafas dalam, ia tidak bisa menjawab. Terlihat ekspresi sedih di raut wajah tegang, kala Lupita menanyakan anaknya "Kita ke kamar dulu ya. Nanti kita bicarakan lagi." bujuk Harlan lembut, merangkul pinggang istrinya.


"Suster, terima kasih ya. Sudah menemukan istri saya. ma'af sudah merepotkan pihak rumah sakit."

__ADS_1


"Tidak apa-apa Tuan, mungkin Mbanya rindu pada anaknya."


Wajah Harlan memerah "Sebenarnya, istri saya baru mengalami keguguran sus! jadi ia sangat kehilangan, dan melihat ada bayi is teringat" Harlan berterus terang agar tidak ada kesalahpahaman.


"Sabar ya Mba, nanti bisa program hamil lagi." saran Suster dan tersenyum lembut.


"Kalau begitu kami permisi dulu!"


"Silakan Tuan!


Setelah berpamitan Harlan dan William membawa Lupita keruangannya kembali. Membaringkan tubuh istrinya diatas ranjang.


"Hah!' Harlan mendesah panjang, setelah Lupita tertidur lelap.


"Will, sebaiknya kita bawa Lupita pulang. Aku khawatir dengan kondisi istriku dirumah sakit, seperti tadi ia tiba-tiba menghilang."


"Bukankah Nyonya masih mengalami truma dan halusinasi."


"Aku akan bayar perawat untuk menjaganya dan merawatnya di rumah. Juga Dokter khusus untuk pengobatan istriku, kalau dirumah akan lebih aman dan aku nggak khawatir lagi."


"Kalau itu keputusan tuan dan yang terbaik untuk Nyonya, saya hanya mengikuti."


Setelah bernegosiasi dengan pihak rumah sakit dan Dokter. Akhirnya Lupita di perbolehkan pulang dengan membawa dua suster untuk menjaga istrinya. Dokter akan datang setiap hari untuk melihat kondisi istri Ceo berkharisma itu. Sebelum meninggalkan rumah sakit, Dokter Ilyas yang menangani kondisi lupita memberikan penjelasan. kalau sifat istrinya bisa berubah-ubah di saat tertentu, sebab traumanya yang belum pulih.


Dua hari kemudian Harlan membawa Lupita pulang kediamannya. Mobil berhenti didepan teras.


"Mas ini rumah siapa? kenapa kita tidak pulang kerumah?"


"Ini rumah kita sayang. kau sekarang tinggal disini bersamaku."


"Tapi rumahku? Lupita tertunduk sedih "Apa Mas tidak ingin tinggal di rumahku lagi?"


"Sayang, nanti kita bisa gantian pulang kesana. Untuk sekarang kita harus tinggal disini?"


Wiliam membukakan pintu mobil untuk Harlan dan Lupita. ia menggandeng tangan istrinya keluar dari mobil. Sebelum melangkah masuk, Lupita menatap rumah besar berlantai empat itu.


"Mas, benarkah ini rumah mu? rasanya aku tak pantas tinggal dirumah mewah ini, aku mau pulang kerumah ku saja." Lupita melepas tangan Harlan, saat ingin pergi, tangan Harlan menariknya.


"Tidak sayang, kau tidak boleh pergi dari rumah ini. karena ini rumahmu juga." Harlan merangkul pundak istrinya dan berjalan masuk kedalam rumah.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


@Membaca komen kalian bikin adrenalinku berpacu πŸ₯΄πŸ€£ Emng kalau baca satu bab itu kurang dari lima menit, tapi yg nulis dan mikirnya butuh waktu berjam-jam. padahal Up setiap hari loh, karena jam Up dan waktu yang berbeda. orang nulis itu gak bisa pas jam waktunya. Ma'af ya, kan kalian cuma baca ajah, kalau alur ceritanya gak sesuai dengan kalian komennya bikin spot jantung πŸ˜„. Author juga punya pekerjaan dan urus tiga anak di real. Jadi tolong ya untuk bersabar baca novel iniπŸ€—


@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


πŸ’œLike


πŸ’œVote


πŸ’œGift


πŸ’œKomen

__ADS_1


@Bersambung........πŸ’ƒπŸ’ƒ


.


__ADS_2