Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Penjelasan.


__ADS_3

Harlan melepaskan tangan ibu asuhnya "Ma'af Mak, tapi aku tidak ingin melihat istriku terluka dan menderita lagi. Kalau Mak sayang padamu, biarkan aku hidup bahagia bersama istriku!" Harlan melangkah pergi meninggalkan tempat itu tanpa menoleh.


"Harlan! Mak belum selesai bicara!"


Harlan tidak perdulikan panggilan ibu asuhnya, yang sudah ia anggap seperti ibu kandung baginya. Tapi hari ini, wanita paruh baya itu sudah menorehkan lukanya.


Harlan berjalan kearah post satpam.


"Malam tuan!" tiga orang satpam dan Pak Basir sedang main catur, spontan mereka berdiri melihat Tuan sudah berdiri didepannya.


"Pak Basir! saya ingin bicara." ucapnya dan melangkah pergi kearah mobil yang sedang terparkir.


"Baik tuan!" Pak Basir mengikuti langkah Harlan di belakangnya.


"Ada apa Tuan?"


"Dimana istriku berada?!"


"Loh! bukankah Nona sudah bilang sama Tuan?"


"Sudah jawab saja di mana istriku!"


"Tadi siang, Nyonya bilang mau pulang ke rumahnya. saya antarkan Nyonya tidak mau. katanya sore juga akan pulang, bilangnya sudah izin pada Tuan."


"Ayo kalau gitu kita jemput istriku!"


"Baik Tuan! saya ambil kunci mobil dulu."


Dengan terburu-buru Pak Basir masuk kedalam paviliun khusus para karyawan, yang berada di samping kolam renang.


"Harlan!


Suara wanita paruh baya itu sudah parau, bersama cucuran air mata di wajahnya yang mulai keriput. Mak isah berjalan mendekat, ia merasa bersalah pada anak angkatnya. Sejak menemani Harlan masih kecil, belum pernah sekalipun Harlan kasar padanya, apalagi sampai membentak dirinya.


"Land, Ma'afkan Mak ya? tidak ada maksud sedikitpun untuk menyakiti hatimu dengan membuka kisah lamamu, Della sudah keterlaluan mengambil foto-foto dari kotak penyimpanan." tangan Mak isah terus memegang erat tangan Harlan.


"Mak sudahlah, ini sudah malam, aku tidak ingin berdebat lagi, Lebih baik Mak ajari keponakan Mak itu untuk belajar menghargai perasaan orang! Mak masuklah kedalam." ucap Harlan dengan suara tertekan menahan kesal.


"kau mau kemana Land?"


"Tentu saja mencari istriku! apa Mak senang melihat istriku tertekan dan terlunta-lunta di jalanan karena ulah Mak dan Della!" perkataan Harlan sangat menusuk hati Mak isah.


"Sudah Mak bilang Land, sungguh Mak nggak ada hubungannya dengan Della?" Mak Isah terus membela dirinya sendiri.


"Lalu kenapa Mak masih menyimpan foto-foto itu! untuk apa Mak simpan kenangan masa laluku, seharusnya Mak bakar foto-foto itu!"


"Iya Mak mengaku salah Land, Mak mau minta maaf sama Luvi, asalkan kau jangan tinggalkan Mak, dari dulu kita selalu bersama Land!" tangisan Mak Isah semakin dalam.

__ADS_1


Harlan melepas tangan ibu asuhnya "Mak hanya sayang padaku, tapi tidak bisa menerima kehadiran Luvita di sisiku, sementara aku sangat membutuhkan pendamping untuk mengurusi hidupku dan memberiku keturunan."


Harlan masuk kedalam mobil setelah Pak Basir menstsrter mobil. Seorang satpam membuka pintu gerbang, Mobil berjalan meninggalkan mansion.


Didalam mobil Harlan terdiam, ia terus merenung perjalanan hidupnya dari di asuh oleh Mak isah dan tinggal di Lampung, bertemu dengan Nadine cinta pertamanya. Dan pada akhirnya ia harus menikah dengan Luvita di tangan warga. Pikirannya terasa lelah, belum lagi masalah Paman nya yang ternyata adalah Ayah biologisnya. Harlan merasa hidupnya begitu rumit bagai benang kusut.


Tepat pukul setengah dua belas. Mobil sampai di depan gapura. Mobil tidak bisa masuk kedalam gang sempit itu yang hanya bisa di lalui sepeda motor roda dua.


"Tok! tok! tok!..


Harlan mengetuk pintu pelan, agar tidak menggangu tetangga kanan dan kiri. Dalam tiga kali ketukan, terdengar suara kunci pintu dibuka.


"KREKK...!"


"Tuan..?" Inez terkejut, ternyata bos nya yang datang. sudah pasti tujuannya untuk mencari istrinya.


"Silakan masuk tuan."


"Luvi ada di mana?-


"A-ada.. didalam kamar." suara Inez tercekat karena gugup.


Tanpa banyak bicara harland membuka pintu kamar dengan pelan.


"krekk..!"


Matanya melihat sosok wanita yang ia rindukan sedang tertidur pulas diatas pembaringan. Harlan membuka jas kerjanya yang sejak tadi ia lupa melepasnya, hawa didalam kamar terasa panas, baru juga masuk kamar tubuhnya sudah mengeluarkan keringat.


"Apakah Luvi sakit?" ia menempelkan punggung tangannya ke kening istrinya.


Luvita menggeliat, dengan mata terpejam ia bicara sendiri "Inez! kenapa kau masih ajah ganggu aku? sudah jam berapa sekarang? pesankan aku taksi, aku harus pulang. Suamiku pasti menunggu di rumah." ucapnya tanpa melihat siapa yang sedang ia ajak bicara.


Hati Harlan terasa pedih. Bola matanya berkaca-kaca. ia dapat merasakan kesedihan istrinya. Karena rindu, Harlah memeluk istrinya.


"Sayang ini Mas sudah datang. Sekarang Mas ada di depanmu, bukalah matamu. Ayo kita pulang! ujarnya masih terus membekap tubuh istrinya.


Tubuh Lupita terasa berat, ia seakan tidak bisa bernafas karena sesak. Dengan susah payah ia membelalakan matanya sambil mengerjap. Lupita melihat suaminya dan menyentuh wajah tegas dengan membingkai kedua tangannya.


"Mas! benarkah ini kau?" Lupita terus menatap suaminya tak percaya, ia berpikir sedang bermimpi.


"Iya sayang.. Mas datang menjemput mu, Ayo kita pulang."


"Luvita terdiam. Seketika ia mengingat foto-foto itu, hatinya berdenyut nyeri dan terasa sesak. rasanya enggan untuk pulang ke mention lagi. ia bangun dari tidurnya dan duduk bersandar pada divan.


"Mas saja yang pulang, biar aku menginap di sini, Aku ingin istirahat beberapa hari disini untuk menenangkan pikiranku Mas."


"Pasti ada hal lain yang membuatmu tidak ingin pulang. Lupita terdiam dengan wajah tertunduk sedih, jemarinya saling bertautan.

__ADS_1


"Mas sudah tahu masalahnya, karena foto itu bukan?"


Lupita mengangkat wajahnya dan menatap nanar suaminya "Kalau kau sudah tahu, kenapa masih bertanya."


"Hah! Harlan mendesah kasar dan menggenggam tangan luvita "Sayang, itu adalah masa laluku, aku sudah membuangnya sebelum kehadiranmu, hingga terkikis habis dengan kehadiranmu. Karena kau sudah merebut hatiku."


luvita melepas genggamannya "kau menikahi aku karena pelarian Mas!"


"Tidak Luvi! itu tidak benar. Sumpah demi apapun, tidak ada lagi Nadine di hatiku. Aku mencintaimu tulus. Buat apa Mas mengajak mu nikah di KUA, kalau Mas tidak tulus padamu."


Lupita menatap netral coklat itu, mencari kejujuran di mata suaminya. Butiran airmata menetes di wajah putihnya. Jemari Harlan mengusap lembut airmata itu.


"Aku sangat mencintaimu, jangan mengambil satu kesimpulan yang belum tentu benar. Kejujuran dan keterbukaan sangat penting dalam ikatan pernikahan."


Tangisan luvita semakin dalam, ia memeluk tubuh Harlan erat, Harlan mengusap lembut punggung istrinya yang terus terisak. Lama mereka berdua saling berpelukan, seakan tidak ingin terpisahkan. kerinduan terus hadir dalam jiwa mereka.


"Maafkan aku Mas, yang sudah salah paham padamu. aku telah dibutakan oleh kecemburuan ku, hingga berprasangka buruk pada suamiku."


Mereka saling mengurai pelukannya.


"Apa kau masih ingin pulang? atau menginap disini?"


"Entahlah Mas, aku masih malas pulang ke mansion."


"kita akan menempati rumah baru kita, setelah kita menikah di KUA."


"Lalu bagaimana dengan ibu asuh bila Mas tinggalkan? Apakah ibu apa setuju?


"kau tenang saja, tidak usah pikirkan Emak. Tadi saat aku pulang kerja sudah memberi peringatan pada Mak dan Della. Aku menemukan foto-foto itu diatas ranjang. Dan jujur aku sangat takut kehilanganmu, aku tidak ingin kau salah paham dengan foto-foto itu."


"Aku memang sengaja Mas, menaruh foto-foto itu diatas tempat tidur. Aku ingin melihat reaksi mu setelah menemukan foto itu. Dan ternyata kau buktikan cintamu padaku." gumam Luvita dalam hati. "Syukurlah kalau Mas Harlan sudah menegur mereka, semoga mereka jera." batin Luvita tersenyum samar.


"Ya sudah kita menginap disini, besok pagi kita pulang ke rumah."


"Iya Mas, sudah lama juga kita tidak menginap di rumah ini."


"Ya sudah ayo kita tidur, Mas sudah mengantuk." Harlan memeluk tubuh istrinya, dan mereka tidur saling berhadapan.


💜💜


@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


💜Like


💜Vote


💜Gift

__ADS_1


💜Komen


@Bersambung


__ADS_2