
"Aku juga bekerja di perusahaan kakak dari Ayahku disini."
"Oke fanny aku pergi dulu kekantor, lain kali kita bisa ngobrol lagi."
"Baiklah Geo, sampai ketemu nanti.
Harlan beranjak dari duduknya dan meninggalkan Tiffany setelah menyeruput habis kopi hitam.
Di dalam mobil, Harlan hempaskan bokongnya di kursi belakang.
"Kita akan kemana lagi Tuan?
"Apa schedule ku hari ini?
Wiliam membuka iPad dan mencari jadwal schedule CEO nya "Jam satu siang akan ada pertemuan dengan ibu Handayani dari PT Sentosa untuk pembicaraan pembagunan Apartemen di bilangan Jakarta Selatan."
"Masih banyak waktu, kita ke kantor saja dulu." imbuh Harlan seraya membuka laptop di pangkuannya."
"Will!"
"Iya Tuan!
"Kau jadi ambil cuti dua hari?"
Wiliam menghempas kan nafas kasar "Sepertinya tidak jadi Tuan? Sabtu minggu biar saya bantu Tuan merampungkan real estate yang tinggal 80% lagi selesai."
"Kau yakin Will, bagaimana bila kekasih mu protes, hari libur masih kau ambil untuk bekerja. Apa uang mu sudah menipis?
"Tenang Tuan, uang saya belum habis. Cuma saya sudah putus sama Inez!"
Harlan melempar pandangan ke depan "Belum sebulan pacaran sudah putus? Harlan gelengkan kepala.
"Kadang wanita susah di mengerti! Wiliam menarik nafas dalam-dalam "Di perhatikan katanya berlebihan, dicemburui katanya selalu curiga, tidak di perhatikan katanya sudah nggak sayang. Serba salah menghadapi sosok wanita."
Harlan menutup laptopnya dan teringat akan sikap istrinya. "Beberapa hari ini aku suka nggak fokus dengan pekerjaan karena sifat istriku yang berlebihan. kadang aku lelah harus merayunya dulu agar Lupi tidak marah."
"Bukankah cemburu itu tandanya kita cinta?"
"Menurut ku Lupi sangat berlebihan bila cemburu. Aku sudah menjelaskannya berkali-kali kalau tidak ada hubungan apapun dengan Margaret. Kemarin Lupi datang kerungan ku dan melihat aku makan sandwich pemberian Margaret. Raut wajahnya terlihat kesal dan tidak senang. Aku lelah harus menghadapi istriku yang cemburuan, rasanya malas untuk pulang ke rumah."
Wiliam yang mendengarkan curahan CEO nya terperanjat kaget, bukankah Georgie selama ini sangat menyayangi dan mencintai istrinya? bahkan sudah seperti perangko tidak mau terpisahkan. Namun, pada kenyataannya atasannya itu memiliki titik jenuh dan bosan secara frontal.
"Maaf Tuan, bila saya boleh bertanya? Apa yang menyebabkan laki-laki berubah tidak lagi mencintai pasangannya, meskipun si wanita sudah banyak berkorban."
Harlan terdiam sejenak seperti sedang berpikir lalu berkata "Banyak faktor yang menyebabkan laki-laki berpaling atau merasa bosan."
"Apa salah satunya Tuan?
"Wanita selalu cemburuan berlebihan, tidak percaya pada suami dan mengekangnya untuk memberi kebebasan dan berbaur dengan lawan jenis, kadang disitu lah titik jenuh hingga si pria sudah benar-benar habis kesabaran.
"Apa Nona Lupita termasuk di dalamnya?
Harlan mengangguk cepat "Ada hal yang membuat aku kesal sebenarnya. istriku meminta sebuah ruangan, tujuannya untuk memantau dan memata-matai aku! Di situ harga diri ku sebagai suami merasa di sepelekan dan di injak-injak."
Lagi-lagi Wiliam dibuat tercengang dengan perkataan Tuan nya itu, ia menelan salivanya berkali-kali dan hampir tak percaya kalau yang berbicara itu benar CEO nya.
"Apa Tuan tidak salah menilai Nona Lupi? saya rasa wajar bila seorang istri cemburu pada suaminya, apalagi suaminya seorang CEO. Pasti Nona takut kehilangan Tuan."
Seketika Harlan melempar tatapan sinis pada William melalui kaca spion, merasa ditatap seperti itu Wiliam mengalihkan pandangannya lurus ke depan. "Maafkan saya tuan bila ucapan saya membuat anda tidak nyaman dan tersinggung."
"Sudahlah kita tidak usah bahas soal itu lagi, lebih baik kita fokus saja pada pekerjaan yang mulai berkembang pesat, dan banyak permintaan dari beberapa perusahaan yang memakai jasa dan properti kita."
Wiliam hanya manggut-manggut sebagai respon. ia tidak ingin salah bicara lagi dan mendapatkan tatapan sinis.
__ADS_1
Mobil memasuki gedung perkantoran Vandeles dan terparkir sempurna di depan Lobby.
Sementara Lupita yang sedang membuat desain, merasa mengantuk.
"Nez aku mau buat kopi di pantry. kau mau aku buatkan sekalian?."
"Loh ngapain mau buat kopi sendri, kita tinggal telpon kang Jaja, nanti juga dianterin."
"Kadang suka nggak pas kalau buatan orang lain, selerakan beda-beda."
"Oke deh, aku kopi susu ya?
"Okeh...! Lupita keluar dari ruangan dan menuju pantry berada di lantai dasar. Saat pintu lift terbuka, Lupi keluar dan sengaja berpapasan dengan suaminya, sedang berdiri di depan pintu lift khusus CEO dan orang-orang penting.
"Mas.. kau sudah kembali? tanya Lupita tersenyum.
Harlan hanya mengangguk sebagai respon. Saat Lupi ingin meneruskan ucapannya. Pintu lift terbuka dan Harlan masuk kedalam tanpa menunggu istrinya berbicara. Lupita hanya menatap nanar bersamaan pintu lift tertutup.
Deg! hati Lupi seakan teriris sembilu, begitu nyeri dengan perubahan sikap suaminya. Ia mencoba biasa dan tidak terpengaruh. Langkah kakinya berjalan kearah panty untuk membuat kopi. Lupi menyeduh dua kopi dengan tidak fokus, pikirannya masih terus pada Harlan yang bersikap dingin sejak kemarin.
Tes! setitik airmata terjatuh di pipi mulusnya. "Salah apa aku padamu Mas! jerit Lupi dalam hati.
Byurrr...
"Awww!"
"Ya Allah Bu... hati-hati! seorang pria paruh baya menarik tangan Lupita yang tersiram air panas dan menyala kran air untuk mendinginkan punggung tangannya.
"Sudah pak tidak apa-apa, Terima kasih banyak."
"Lebih baik periksa di ruangan UKS Bu, biar ditangani Dokter."
"Tidak apa-apa Pak, nanti saya kasih salep."
"Lantai tiga, ruangan Desain interior."
'Baik Bu..."
Lupita berjalan keluar dari pantry dan menaiki lift menuju lantai tiga.
"CEKLEK!
"Mana kopinya luv? tanya Inez saat melihat sahabatnya masuk kedalam ruangan tanpa melihat Lupi membawa cangkir kopi.
Tok, tok, tok!
Masuk!
"Siang Bu.. mau Antarkan kopi." ujar pak Jaja sopan.
"Oiya taruh saja di meja." ucap Inez.
Saat menaruh kopi ke meja Lupi, pak Jaja bertanya "Sudah di obati tangannya bu..?"
"Ehh-iya Pak, nanti saya beli salepnya dulu di apotik."
"Secepatnya diobati biar nggak rusak kulitnya."
"Iya makasih ya Pak!"
"Kalau begitu saya permisi Bu..."
Lupita mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Lup, ada apa dengan tangan mu? Inez berjalan mendekat dan melihat penggung tangan Lupi yang memerah. "Kenapa bisa kaya gini sih?!
"Nggak apa-apa cuma terkena air panas sedikit, sebentar juga sembuh."
Jangan sepelekan Lupi ini pasti perih kan? nggak mungkin ke siram air panas kalau nggak ada masalah, atau ada sesuatu yang kau pikirkan."
Tunggu aku kerungan UKS dulu." Inez melangkah pergi keluar ruangan. Tak lama ia kembali lagi dengan membawa salep dan perban. Dengan telaten Inez memberikan salep ketangan sahabatnya yang terluka dan memberikan perban.
"Huh! untungnya bukan tangan kanan yang tersiram. itu aset'mu untuk menggambar!" gerutu Inez perhatian.
"Terima kasih banyak Nez! Lupita tersenyum.
"Ada apa Lup? aku tahu kalau kau ada masalah, tidak bisa di sembunyikan." Karena Inez terus mendesak akhirnya Lupita menceritakan, kalau ia bertemu Harlan di lantai satu dan sikapnya yang cuek.
"Astaga.. ada apa dengan sikap Tuan Georgie? bisa-bisanya dia mengabaikan istrinya sendiri?! Inez terlihat geram.
"Aku bukan mau mengajarkan mu jadi istri durhaka! tapi melihat sikap Tuan Georgie seperti itu, ada baiknya kau abay kan saja dia. tunggu dia bicara sendiri baru kau Jawab. sekali-kali jadilah istri kuat dan ambil sikap tegas! Aku ingin tahu bagaimana reaksi suamimu Kalau kau abay kan."
Lupita terdiam, hanya mendesah pelan sebagai respon. "Baiklah akan aku coba."
Inez tersenyum "Nah gitu donk!"
"Hey Luv! panggil Inez di meja seberangnya.
Lupita yang sedang tertunduk seraya mengerjakan desainnya, mengangkat wajahnya dan menatap inez "Ada apa?
"Pulang kerja kita nonton konser boy band BTS' di Senayan."
"Hah? serius..?
Masa kamu nggak tahu Luv, kalau hari ini konser BTS."
"Sorry aku nggak ngikutin perkembangannya. jarang buka sosmed juga."
"Sekali-kali donk kita happy."
"Memangnya kau sudah dapat tiket nya?"
"Semalam teman ku ngajakin, katanya masih ada dua tiket lagi di kelas VIP, itu artinya kita puas nonton paling depan, walau harganya lumayan mehong." Inez terkekeh.
"Okeh deh! aku mau.. buat ilangin jenuh." ucap Lupi terdengar pasrah.
"Nah gitu donk! tapi nggak apa-apa kan dengan tangan mu?"
"Nggak apa-apa, aku akan hati-hati."
"Yes akhirnya aku bisa melihat Jungkook!" teriak inez sumringah. ia mulai menghubungi temannya untuk memesan tiket.
"Apa kita pulang dulu? nggak mungkin juga kita pakai baju kantor."
"Ngabisin waktu pulang dulu, kita ke butik dan beli pakaian casual di dekat Senayan. Terus semprotin dengan parfum biar bau asemnya ilang." Inez tergelak. Lupita hanya manggut-manggut sebagai respon.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Selesai mengerjakan tugasnya mereka bersiap-siap untuk nonton konser.
💜
💜
💜
@Yuk terus dukung karya Bunda, jangan lupa untuk follow IG @bunda.eny_76
@Bersambung
__ADS_1