Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Kemesraan suami-istri


__ADS_3

Mobil berjalan keluar dari parkiran hotel Horizon.


"Kau sudah tidak apa-apa, hmm.." tanya Wiliam lembut, netra mereka bertemu. Inez salah tingkah melihat mata teduh dan senyuman itu. ia memalingkan wajahnya kedepan.


"I'm okay already!' ucap Inez sopan.


"Nanti berhentikan aku di halte, biar aku pulang naik taksi."


'Kenapa? kau tidak ingin aku mengantarkan mu pulang?"


"Aku hanya tidak ingin merepotkan Tuan, bukankah Tuan masih banyak urusan?"


"Ck! Hari ini ada waktu senggang untukmu. Aku antarkan kau pulang, apa kau ingin pamerkan lekuk tubuhmu pada mata liar di luar sana!" sindiran Wiliam membuat Inez terdiam.


"Apa maksudnya dia bilang begitu? kenapa dia posesif padaku, padahal aku bukanlah siapa-siapanya" gerutu Inez dalam hati.


Mobil terus melaju membelah jalanan raya ibu kota menuju rumah Inez.



Mobil sepasang suami-istri sudah sampai di sebuah Hotel bintang lima. Dua orang Pelayan hotel membuka pintu kaca untuk mempersilakan tamunya masuk. Langkah Harlan dan Lupita berhenti disebuah pintu lift. Mereka masuk kedalam kotak berukuran 2x2 meter dengan kedua tangan saling bertautan.



"TING!



Pintu lift berhenti di lantai 28. Sepasang pengantin sah itu tersenyum sambil terus berjalan menuju kamar 123 yang sudah Wiliam pesan untuk malam pengantin mereka.



Lupita berdecak kagum melihat kamar hotel yang super mewah untuk bermalam selama tiga hari.



"Gimana sayang apa kau suka?"



"Tentu saja Mas, aku...Aaawww.." Belum selesai menerus kan kata-katanya Harlan sudah mengangkat tubuh istrinya.



"Mas bikin kaget ajah!" karena kesal Lupita mencubit Perut six pack suaminya.



"Aaawww... sayang, cubitan mu kaya gigitan semut."



"Biarin.. habis nyeselin!"



Harlan menaruh tubuh bidadari nya diatas ranjang yang sudah di penuhi kelopak bunga mawar berbentuk 💜...



"Cantik sekali ranjang ini Mas, aku berasa berada di taman surga."



"Semua ini berkat Wiliam, dia yang mengatur semuanya."



"Wiliam...? seleranya sangat romantis, tapi apakah jiwanya juga seromantis itu? aku lihat ia sangat dingin, sedikit angkuh dan tidak banyak bicara."



"Wiliam akan terlihat sisi romantis nya pada orang yang tepat, wanita yang benar-benar ia cintai. Orang-orang yang memiliki sifat dingin pasti ia akan setia pada pasangannya." Harlan tersenyum "Seperti contohnya Mas, setia hanya pada satu istri."



"Ehem.. Yang bener nih! tapi nggak bohong kan?"



"Loh ko nggak percaya, apa menurut mu Mas bakat jadi seorang pembohong?" tangan Harlan mulai meraba-raba gunung kembar yang menantang.



"Mas!

__ADS_1



"Kenapa sayang, enak ya..? Harlan tersenyum puas. "Ayo kita lakukan sekarang, Mas udah nggak tahan melihat mu jadi bergairah."



"Kita mandi dulu Mas!"



"Nanti saja selesai kita wik, wik,.."



Dengan cepat Harlan meraup bibir merah isterinya dan m\*lumatnya sambil satu tangannya meraba-raba ketempat area yang Harlan suka. Mereka melepas tautannya bersama nafas tersengal, keduanya mengambil oksigen sebanyak mungkin. Tatapan mata keduanya mengisyaratkan cinta dan hasrat yang tinggi untuk segera menuntaskan gairah yang sejak tadi terpendam. Harlan membuka hijab dan kebaya istrinya satu persatu, hingga tersisa bra dan CD berwarna merah maron. Sungguh ia sudah tak tahan melihat kemolekan tubuh istrinya. Padahal sudah setiap hari Harlan melihat tubuh seksi Lupita, Namun, tetap saja itu membuatnya candu dan terus bergairah.



Selesai Harlan melepas pakaiannya sendiri, ia menindih tubuh istrinya dan meraup bibirnya kembali, memasukkan lidahnya kedalam rongga mulut Lupita, Lupita membalas lum"tan suaminya dengan penuh gairah. Ciuman Harlan berpindah ke kuping dan ceruk leher, membuat tanda kepemilikan. Terdengar desah\*n halus dari bibir Lupita. Melihat istrinya berhasrat, Harlan semakin bernafsu, ia melepaskan pengait dua gunung kembar yang menantang. Bibir itu bermain di area pucuk dengan lidah dan bibirnya, Lupita bergelinjingan bersama mendes\*h yang keluar dari bibirnya.



"Eughhh....



Harlan selalu bisa membuat istrinya puas dan terus memanjakan dengan sentuhan lidah. Nafas Lupita memburu manakala Harlan turun kebawah dan menciumi perut datarnya dengan lembut, berharap perut itu akan cepat berisi dan membesar.



"Aaarrrggh...." geli Mas..."



Harlan mengangkat wajahnya dan melihat wajah isterinya sudah memerah menahan hasrat yang sebentar lagi akan meledak. "Tapi enak kan sayang.." goda Harlan dengan senyuman khasnya.



"Lakukan cepat Mas, aku sudah tak tahan!



"Sebentar sayang.. Kita lakukan pelan-pelan saja, jangan terburu-buru."




"Mas! Aaaggrrhh....



"Sudah basah sayang..." Harlan terus memainkan jari-jari tangannya ke bawah sana dan terus membuat istrinya mengerang nikmat.



Karena melihat istrinya sudah hampir meledak, ia membuka CD yang menutupi hutan belukar milik Lupita. Harlan tersenyum puas dan terus bermain-main di bawah sana dengan bibir seksinya.



Aahhhh... Aahhhh...



"Mas aku nggak ku-at..."



Lidah Harlan terus memanjakan milik istrinya, tubuh Lupita sudah bergerak kesana-kemari seperti cacing kepanasan, rasa nikmat atas ulah suaminya dan mendapat pelepasan pertama.



"Euuuggghhhh....." erang Lupita, dan tubuhnya lunglai tak perdaya bersamaan suara nafas turun naik.



Melihat istrinya sudah mendapat pelepasan, kini ia membuka boxser yang membuatnya sesak sejak tadi.



"Kau sudah siap sayang..."



Lupita tak menjawab, ia hanya pasrah dan merelakan suaminya melakukan yang ia suka. Harlan mulai membenamkan belalai gajah nya yang sudah membengkak.

__ADS_1



"Aaaggrrhhh....."



Sekali lagi Lupita mengerang dan mendes\*h, merasa penuh di bagian bawahnya saat Harlan memaju-mundurkan juniornya pelan, dan semakin lama ritmenya semakin cepat, ia pun mengerang merasakan kedutaan milik isterinya yang masih rapet.



"Ahh sayang... kau membuatku candu " racau Harlan, sambil mendesis penuh kenikmatan. ia meraup bibir Lupita kembali, sambil di bawah sana menghujamkan juniornya yang menjadi kebanggaan nya. Tak puas hanya di bibir, ia beralih ke gunung kembar isterinya yang penuh gairah.



"Mas... aku ingin keluar lagi.." racau Lupita tercekat.



"Iya sayang... Mas juga sama.."



"Aaahhkkk... Aaaggrrhhh...



Mereka mengerang bersamaan dan mendapat pelepasan bersama. Harlan menjatuhkan tubuh kekarnya kesamping istrinya. Nafas keduanya saling bersahutan.



"Thanks my wife.." mencium lembut kening istrinya dan menariknya dalam pelukan.



Pagi itu seperti biasanya Inez membuat sarapan untuknya sebelum berangkat kerja. selesai memanaskan mesin motor. Inez mulai berangkat kerja menuju perkantoran Vandeles yang berjarak satu jam dari rumah Lupita.


Motor terparkir sempurna di area parkiran khusus karyawan. Inez masuk kedalam ruangannya dan mulai menjalankan aktivitasnya.


"Mbak Inez..."


"Iya!


"Aku bisa minta tolong buatkan program untuk advertising ya, soalnya desain grafis yang biasa bekerja sama dengan tim kita sedang sakit."


"Pak Hendro sakit?"


"Iya, sudah dua hari ini."


"Oke akan aku bantu buatkan, tapi tunggu kelar aku desain interior villa ini dulu ya."


"Wah hebat Mba Inez ya, banyak jobs dari atasan. pasti bonusnya banyak nih!" goda Irfan.


"Ahh biasa ajah kok!


"Ya bedalah! sekarang kan Inez jadi selingkuhan asisten Wiliam!" celetuk Sari tanpa basa-basi.


"Maksud Mba Sari apa? jangan membuat opini yang akhirnya merugikan orang lain tanpa bukti Mba!" tegas Inez


"Hehehe... kalau marah berarti bener donk!" timpal Andy, semakin memanas.


"Lagian iya juga nggak apa-apa kok! sudah biasa bawahan naik keatas ranjang bos!" sindir pak Jamal, pria senior yang kalah saing dengan Inez.


"BRAKK!!"


"Bisa tidak kalian diam! mulut kalian sangat pedas. Jangan asal tuduh bila tidak ada bukti! bentak Inez kesal.


"Bukti...? wajah cantik semakin kinclong, body aduhai bagai gitar spanyol, penampilan dari atas sampai bawah sangat woww...!" sindir Fitri dan ikut membuat keadaan semakin panas.


"Pasti semua itu hasil dari...." Sari menggantung kalimatnya seraya memutar bola matanya.


"Naik keatas ranjang.." hahahaha... timpal Andy tertawa terbahak di ikuti lainnya.


Mata Inez mulai memanas, kedua tangannya mengepal kuat, tubuhnya gemetar. Tapi ia harus tetap kuat di depan teman-temannya yang sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di perusahaan Vandeles, sudah sering kali di ejek.


"Sudah.. Sudah...! jangan buat ribut disini, hargailah orang lain. Jangan merendahkan atau menuduh orang tanpa bukti." Irfan membela Inez yang merasa kasihan karena terpojok.


"Alaahhh.. luh fan! cuma cari muka sama inez, biar tugas luh bisa di bantuin Inez kan?"


"Lah kita kan satu tim. Wajar donk kalau gue minta bantuan Inez, lagian kalian ngapain kepo dengan pekerjaan orang!"


Mereka mulai berdebat, pro dan kontra saling mereka utarakan didalam ruangan, membuat dada Inez sesak. Demi menghindari kekacauan dan keributan, inez pergi meninggalkan ruangan.


💜💜💜


@Siang-siang buat part 21+ biar nggak stres ya.. kwkwkw, selamat menikmati ALL..🏃🏃🏃😂😂

__ADS_1


@Yang merasa bocah minggir dulu ya🤣


@Bersambung..... BESTie....


__ADS_2