Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Keputusan Harlan


__ADS_3

Wajah Harlan berbinar cerah "Terima kasih Dok, saya percayakan pengobatan istri saya pada Dokter."


"Kalau begitu saya permisi dulu, nanti akan ada dokter yang bertugas jaga malam berkunjung tiga jam sekali. Nyonya Lupi sudah kami suntikan obat penenang. Bila terjadi sesuatu pada kondisi nyonya Lupita, secepatnya kabari kami."


"Baik Dok, sekali lagi terim kasih." mereka saling berjabat tangan. Selesai berbicara Dokter dan suster meninggalkan ruangan rawat inap Lupita.


Langkah Harlan terhenti disamping ranjang Lupita. Mengusap pucuk rambutnya dan merapikan anak rambut yang berantakan.


"Sayang, aku berjanji akan menjagamu sampai sembuh. Orang-orang yang telah menyakitimu sudah mendapatkan ganjarannya."


Suara derit pintu terdengar pelan.


"Tuan, maaf kalau saya lancang. Bisa kita bicara sebentar, saya harus menjelaskan kesalahpahaman ini." Wiliam berdiri dan masih menunggu jawaban Harlan.


Harlan menoleh malas. "Huft!" meniup kasar dan berjalan mendekat. "Baiklah, aku harap kau berkata jujur. Sekali saja kau berkhianat padaku? ku buang kau dari sisiku, kau tahu bukan?" aku benci penghianat!" tegas Harlan dengan sorot mata tajamnya.


"Ba-ik Tuan, beri saya kesempatan untuk menjelaskan."


"Aku tidak bisa meninggalkan istriku. kita bicara disini saja." Harlan duduk disofa yang berada dalam ruangan rawat inap Lupita. Wiliam terduduk lemah disamping Harlan.


"Hum... begini Tuan." tampak wajah Wiliam tegang saat ditatap tajam, tidak adalagi raut wajah ramah dan teduh dari Tuannya. Wiliam menarik nafas dalam-dalam. kedua tangan Harlan terlipat didada, seraya bersandar di sofa menanti kejujuran dari sang asisten.


"Cepat katakan, aku lagi banyak masalah saat ini. Kau tahu itu? jadi, jangan tambahkan beban pikiran baru untukku!"


"Ma'afkan saya tuan." tatapan Wiliam pindah ke sudut ruangan "Saya baru tahu kalau tuan adalah anak Tuan Alfonso, itu pengakuan dari Paman tuan sendiri."


"CK!" Harlan berdecak kesal. "Dasar orang tua bodoh! Masih juga menganggap aku anaknya. sampai kapan ia mau mengacaukan hidupku! Kapan ia mengatakan, Will!"


Saat tuan menelponku dan bilang sudah berada di bandara. Setelah menutup telpon dari Tuan, tak lama aku mendapat telepon dari tuan Alfonso. Ia mengatakan semuanya tentang hubungan tuan dengannya. Jujur aku sempat syok dan tak percaya mendengar cerita itu. Sebelum Tuan Georgie sendiri menjelaskannya."


"Huft!" mendesah kasar "Tidak ada yang perlu di jelaskan!"


"Apa laki tua itu menyuruhmu untuk memata-matai kehidupan aku disini?"


Wiliam tidak berani menatap wajah Harlan. Ia hanya mengangguk pelan dengan wajah tertunduk


"Aagrrh!" Sial..!" Harlan menarik jas Wiliam dan ia tersentak kaget "Jadi kau mau mengkhianati ku dengan mendapat bayaran tinggi dari Pria tua itu!" Harlan menatap geram seakan ingin mencekik Wiliam saat itu juga.


"Sabar dulu Tuan. Anda jangan salah paham. aku belum menjelaskan seluruhnya, Tuan tidak perlu khawatir aku berada di pihak tuan dan tidak mungkin berkhianat! percayalah padaku?" Aku bersumpah akan mengabdikan seluruh hidupku pada Tuan dan Nyonya." ucapnya dengan nafas tersengal dan keringat jagung membasahi peluh.


Harlan melepas jas Wiliam seraya menepuk-nepuk pundaknya. "Baiklah aku percaya padamu untuk saat ini. Namun, bila kau bermain curang dibelakangku, jangan pernah tampakan wajahmu lagi di hadapanku!" ancam Harlan tersenyum masam.


"Baik Tuan, saya tidak akan mengecewakan. Bahkan saya menolak tawaran Tuan Alfonso!"

__ADS_1


"Bagus! dan jangan pernah membahas Pria tua itu lagi didepan atau di belakangku!


"Iya Tuan!' ucapnya bernafas lega


Harlan bertanya lagi "Apa semua tugas kantor sudah beres?"


"Ada beberapa investor batal mengadakan meeting, disamping mereka ingin bernegosiasi dengan tuan sendiri."


"Ck. Aku tidak bisa konsentrasi untuk saat ini, fokus ku terbagi pada Lupita, aku harus terus berada disisi istriku sampai kondisinya pulih."


"Baiklah, aku menunggu sampai Tuan siap mengadakan pertemuan dengan para investor."


"Aku akan pulang sebentar. Mak sudah tak sabar ingin bertemu. kau jaga istriku sampai aku kembali."


"Saya akan menjaga Nyonya dan tidak akan meninggalkan. Silakan tuan pulang, dan temui ibu asuh."


Harlan melangkah pergi meninggalkan ruangan Lupita menuju parkiran. Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Satu jam kemudian mobil sampai didepan gerbang. Mobil masuk setelah seorang satpam membukakan pintu.


"Harlan! kau sudah pulang Nak! suara bahagia wanita tua itu. Mak Isah melepas rajutan benang wol ditangannya dan beranjak dari duduknya. Ia melihat Pria bule berjalan kearahnya dengan sorot mata teduh.


"Mak! panggilannya setelah mendekat. Mereka berdua berpelukan untuk melepas rindu. "Sudah dua bulan kau tidak pulang, land! bahkan memberi kabar saja tidak pernah." wajah keriput itu sudah basah airmata.


Mereka mengurai pelukannya "Ma'afkan aku Mak, bukan tidak ingin pulang, begitu banyak urusan yang harus aku kerjakan disana." mengusap jejak airmata ibu asuhnya.


"kau tidak akan pernah tinggalkan Mak lagikan Land?" menatap nanar wajah pria yang ia rindukan setiap hari.


Mak Isah mengkerut kan keningnya yang dipenuhi banyak lipitan-lipatan kecil. "Keputusan apa itu Land?"


Meraih kedua jemari Mak Isah. "Harlan akan pulang bersama Lupita istriku kerumah ini Mak." tersenyum lebar.


Mata Mak isah terbelalak, ia begitu syok mendengar Harlan ingin pulang dan tinggal bersama dengan istrinya. Itu berarti akan tinggal bersama dengan dirinya dan Della. Terlintas rasa cemburu karena Harlan akan berbagi perhatian dan kasih sayang pada Istrinya. Ada rasa tak rela bila harus beristrikan orang lain, bukan Della keponakannya. Helaan nafas kasar keluar dari bibir Mak Isah.


"Apa yang sedang Mak pikirkan? apakah Mak menerima Lupita tinggal disini? bila tidak bisa tinggal bersama kalian, aku akan tinggal di tempat lain. Ada villa yang hampir rampung pembangunannya untuk kami tinggali."


"Tidak Land! menyentuh pipi anak asuhnya "Mak tidak ingin jauh darimu, itu artinya kau bisa membawa istrimu kerumah ini juga. Ini rumahmu, kau berhak memutuskan semuanya." ucap Mak isah pasrah.


Wajah Harlan berbinar cerah "Terima kasih Mak! mencium punggung tangan Mak Isah. "Secepatnya aku akan membawanya pulang."


"Dimana istrimu sekarang?" tanya Mak Isah tersenyum masam. Masih ada ketidak relaan Harlan membawa wanita yang belum ia kenal sebelumnya. Tapi mau bagaimana lagi? itu semua keputusan anak angkatnya.


Harlan terdiam sejenak, apa ia harus berkata jujur atau tidak, mengingat Lupita sedang depresi berat. Helaan nafas berat keluar begitu saja "Sebenarnya istriku berada dirumah sakit."


"Rumah sakit? kedua alisnya mengeryit.

__ADS_1


"Lupita mengalami keguguran, Mak! Aku tidak tahu saat pergi ke Belanda, ternyata Lupita sedang mengandung anakku dua bulan." ucap Harlan lemah, tatapannya tertuju pada vas bunga diatas meja.


'Apa Kau yakin, kalau wanita itu mengandung anakmu?" tanyanya penuh keraguan atas kehamilan istrinya.


Seketika mata Harlan mendelik dan menoleh kearah Mak Isah "Maksud Mak? kenapa berpikir seperti itu? Lupita wanita Solehah, ia bisa menjaga dirinya dari laki-laki, Mak! Harlan beranjak dari duduknya dan ingin pergi meninggalkan Mak Isah. Sebab ibu asuhnya sudah menggoreskan luka hatinya dan menuduh wanita yang ia cintai sudah berselingkuh.


"Land, kau mau kemana?"


"Aku ingin mandi, dan akan pergi lagi kerumah sakit, menjaga istriku!"


Mak isah bangkit dari duduk "Tidurlah di rumah, kau sudah tiga hari tidak langsung pulang kerumah."


"Aku sudah jelaskan bukan? istriku mengalami keguguran dan trauma? apa mungkin aku bisa tidur nyenyak dirumah, sementara ia menderita pasca keguguran." suara Harlan tercekat, ia berusaha menahan airmatanya jatuh. Harlan begitu kesal kenapa ibu asuhnya tidak bisa memahami dan mendukung dirinya. Padahal ia sedang bersedih atas kehilangan anak dalam kandungan istrinya. Tak ingin berdebat lagi, Harlan berjalan cepat menaiki anak tangga meninggalkan Mak Isah.


"Land, kenapa kamu sekarang berubah? tidak kah kau merindukan Mak mu ini? kenapa Mak takut kehilanganmu setelah kau menikah?" gumam Mak Isah sedih, ia hempaskan bokongnya di Sofa tempat ia duduki.


"Bii!" Tiba-tiba Della masuk dari arah luar dan berjalan mendekat.


"Bibi Kenapa bersedih? menatap raut wajah wanita tua itu "Sepertinya aku mendengar suara kak Harlan."


"Kau sudah pulang Del?" tanyanya lemah, seakan tak berdaya.


"Iya, Ini sudah aku belikan pesanan Bibi." menaruh kotak kue diatas meja.


Menarik nafas dalam "Del! kau jangan bersedih atau menyalahkan Harlan ya. Walau kau tidak bisa menikah dengan Harlan sekarang. Mak yakin, suatu saat nanti Harlan akan menerima dan mau menikahimu?"


Bibir Della menganga dengan kening berkerut "Maksud bibi apa?


"Harlan akan membawa pulang istrinya kerumah ini?"


"Ap-apa...?!" Mata Della membulat.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


πŸ’œLike


πŸ’œVote


πŸ’œGift


πŸ’œKomen

__ADS_1


@Bersambung........πŸ’ƒπŸ’ƒ


.


__ADS_2