
"Will, tunggu apalagi, cepat jalan. jangan sampai terlambat. Permaisuri ku sudah tak sabar untuk malam pertama."
"Ish! apa-apaan sih Mas! Lupita mencubit pinggang suaminya karena kesal.
"Sakit sayang..." ucap Harlan manja di iringi kekehan.
Wiliam melajukan mobilnya seraya tersenyum melihat kebahagiaan Tuan dan Nyonya nya.
Di belakang mobil beberapa rombongan yang ikut ke KUA, termasuk mobil sedan hitam yang di tumpangi Mak Isah dan Della.
"Dell, bibi minta tolong padamu, bersikap lah yang wajar pada Harlan dan Lupita."
"Jadi sekarang Bibi sudah pro dan membela Lupita!" secepat itukah bibi merestui hubungan mereka?"
"Bibi bisa apa? mereka saling mencintai. Bibi tidak ingin egois seperti dulu, memusuhi Lupita sama saja menabuh genderang perang dengan Harlan. Bibi tidak bisa memisahkan Harlan dan Lupita."
"Jadi Bibi mengaku kalah dan tak mau berjuang?
"Berjuang untuk siapa..?"
"Aku bii..." Della mendengus kesel "Bukankah Bibi yang sejak awal ingin aku berdampingan dengan Kak Harlan? kenapa sekarang Bibi berubah pikiran!"
"Della cukup! Bibi tidak ingin bermusuhan dan kehilangan anakku Harlan! biarkan anakku bahagia dengan wanita pilihannya."
"Anak, bibi bilang! kak Harlan itu bukan anak kandung Bibi! selamanya Bibi tidak akan pernah punya anak karena Bibi mandul!"
"PLAKK!
Sebuah tamparan telak mendarat di pipi Della "Kurang ajar sekali mulutmu Della!" maki Mak isah dengan wajah memerah.
Della memengagi pipinya yang terasa panas. Ia terdiam dan memalingkan wajahnya ke luar jendela. Ada amarah yang tersimpan di benaknya.
"Awas saja kau bi! kau yang memulai gendang perang ini padaku, akan aku hancurkan kalian semua!!" ancam Della dalam hati.
Setengah jam kemudian mobil masuk kedalam perkantoran KUA. Mereka turun setelah mobil terparkir.
Inez membentang kan sebuah payung untuk Lupita. Mentari pagi sudah menampakkan sinarnya dengan malu-malu. Mereka berdua berjalan lebih dahulu setelah mendapat penyambutan dari karyawan kantor KUA. Harlan dan William mengikuti dari belakang. Mereka masuk kedalam ruangan dan duduk di sebuah kursi yang sudah tersusun rapi. Ada empat buah mobil iring-iringan masuk kedalam halaman kantor urusan agama.
Untuk mempersingkat waktu. Harlan dan Lupita di persilakan untuk duduk di sebuah kursi yang sudah disediakan berhadapan langsung dengan penghulu dan wali nikah.
Sebelum duduk bersama, Inez mengalungkan untaian bunga melati ke leher Lupita yang berbalut kebaya brokat putih. Mak Isah juga mengalungkan untaian bunga melati sebagai syarat sah pernikahan. Harlan yang berbalut jas putih, terlihat gagah dan tampan.
"Mak! doakan aku agar lancar dalam membacakan ijab qobul." Harlan meminta restu dengan mencium punggung tangan ibu asuhnya.
"Tentu Land, doa Mak selalu menyertai mu." mata Mak Isah berkaca-kaca karena haru, Ia memeluk tubuh Harlan, Pria bule yang sudah ia asuh sejak umur lima tahun saat di Belanda. dan diusia 10 tahun ikut bersamanya pulang ke kampung, sebab ada tragedi saat itu.
"Bu, aku juga mohon restu agar bisa jadi istri yang baik untuk Mas Harlan." Lupita meraih tangan Mak isah dan menciumnya takzim. Sebuah pelukan hangat wanita paruh baya itu berikan pada Lupita. "Tentu Nak, ibu merestui kalian berdua. kebahagiaan Harlan terletak padamu Lupi, gantikan ibu untuk mengurus semua kebutuhan Harlan."
__ADS_1
Lupita mengangguk seraya mengurai pelukannya. Mereka berdua duduk berdampingan di depan penghulu dan wali nikah. Harlan menjabat tangan wali nikah dari KUA, karena Ayah dan Paman Lupita sudah meninggal. Sementara Wiliam sebagai saksi nikah.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Georgie Vandeles bin Alfredo bersama putri kami Lupita Andriani dengan Mas kawin satu unit rumah dan mobil sedan di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Lupita Andriani dengan Mas kawin tersebut di bayar tunai!"
"Sahh...." tanya penghulu.
"SAHHH.....
Seru Wiliam di ikuti suara yang lainnya.
"Alhamdulillah..." pak penghulu mengangkat kedua tangannya dan membaca doa.
Harlan dan Lupita membubuhi tanda tangan diatas buku nikah masing-masing. Kini keduanya sudah sah menjadi sepasang suami-istri secara hukum agama dan Negara.
"Semoga kalian berdua menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah." ujar pak penghulu berjabat tangan pada kedua mempelai.
Dengan malu-malu, Lupita mencium punggung tangan suaminya takzim. Harlan mencium hangat kening istrinya. Ada yang berbeda dari pernikahan mereka yang sederhana. Dulu mereka menikah karena di gerebek, seakan ada keterpaksaan. Namun, hari ini mereka menikah karena cinta dan ketulusan. Lupita meneteskan airmata dan teringat sosok Ayah dan ibunya yang sudah tidak ada sejak ia berusia tujuh tahun.
"Kenapa menangis?" Harlan menatap wajah istrinya dan mengusap lembut airmatanya.
"Aku teringat Ayah dan ibu.." hiks... Harlan menarik Lupita dalam pelukannya "Ada aku yang akan menjagamu sekarang, kita akan selamanya hidup bersama dan melanjutkan mimpi orang tua kita, memiliki keturunan dan hidup bahagia."
Lupita masih menangis terisak didada bidang suaminya. Rasa sesak dan himpitan sudah terbebas. Kini ia sudah sah dan menjadi satu-satunya ratu di hati Harlan. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi selama ada Harlan di sampingnya.
ijab qobul berjalan dengan lancar. Beberapa tamu yang hadir ikut mendoakan dan bersalaman dengan kedua mempelai.
"Lupita akhirnya kau resmi juga jadi istri CEO. selamat ya, semoga bahagia." Inez memeluk erat sahabatnya dan di sambut pelukan hangat istri CEO itu.
"Ingat, kau harus secepatnya menyusul. Lampu hijau sudah Wiliam berikan." bisik Lupita, begitu semngat menjodohkan Inez dan Wiliam.
Ines mengurai pelukannya dengan mata mendelik "Tidak usah khawatir, aku pasti akan menikah, tapi untuk pria bule itu aku tidak mau."
"Kenapa? bukankah kau mencintai Wiliam."
"Itu dulu, sekarang tidak lagi! aku masih benci dan sakit hati."
"Kau yakin? benci itukan benar-benar cinta." Lupita terkekeh.
"Ish apaan sih! Aku akan mengikuti arus, dan ingin dia berjuang kalau benar-benar tulus mencintai ku dan bukan karena ada sesuatu atau paksaan."
"Baiklah, Semoga Wiliam benar-benar tulus dan mau berjuang untuk mu."
"Will, kau dan Inez ke kantor sekarang, tolong selesaikan pertemuan hari ini dengan PT samudera. Jangan kau bocorkan dulu pernikahan kami, seperti permintaan istriku."
"Baik Tuan!"
__ADS_1
Tak jauh dari Harlan dan William ngobrol. seseorang berjalan kearah Lupita.
"Kak Lupi!
Inez dan Lupita menoleh dan mencari asal suara itu.
"Della.."
Della berjalan mendekat dengan senyuman palsu di bibirnya.
"Kak selamat ya, semoga bahagia." Della mengulurkan tangannya.
Lupita sedikit terkejut dan terdiam. ia menoleh kearah Inez seakan minta pendapat padanya. Inez mengangguk samar. Lupita menerima uluran tangan Della. Della tersenyum dan memeluk tubuh Lupita.
"Kita lihat saja Lupita! kebagian mu tidak akan lama lagi, aku tidak bisa memiliki kak Harlan, kau pun tidak bisa memilikinya!" batin Della tertawa jahat.
"Sayang, kita harus secepatnya ke hotel." suara Harlan terdengar lirih, saat melihat Della memeluk istrinya.
Della mengurai pelukannya dan tersenyum sumringah, menutupi lukanya yang teramat dalam karena penolakan Harlan, dan lebih memilih Lupita.
"Kakak selamat ya! Della berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya pada Harlan. "Jangan menolak uluran tangan ku kak, aku selalu mendoakan kebahagiaan kakak, aku adalah saudara yang selalu menemani hari-hari kakak di kampung." ucap Della mengingat kan Harlan tentang masa lalunya.
Harlan yang sedikit ragu, menerima juga uluran tangan Della, reflek Della masuk kedalam pelukan Harlan. "Biarkan aku memeluk kakak sebentar sebagai seorang adik, kak! suara Della parau bersama tetesan airmata "Sampai kapan pun, aku akan terus mencintai kakak, walau hati ini sakit. kakak telah memilih wanita itu."
"Sudah jangan seperti ini Del, tidak enak dilihat orang lain, terlebih istriku. Tolong jaga perasaannya."
Lupita berjalan mendekat dan menarik tangan Della "Maaf Della, tidak pantas memeluk suami orang didepan umum, ingatlah batasan mu."
Della terpaksa mundur karena tarikan tangan lupita. "Aku memeluknya sebagai seorang adik pada kakaknya." Della berargumen.
"Baiklah hari ini aku ma'afkan, karena ini hari bahagia ku, dan pelukan itu adalah untuk yang terakhir!" tekan Lupita dan merangkul tangan Harlan berjalan kearah parkiran, di ikuti Inez dan Wiliam.
Della menghentakkan kakinya dengan kedua tangan terkepal.
๐๐๐
@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
๐Like
๐Vote
๐Gift
๐Komen
@Bersambung.....
__ADS_1