Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Merasa Kehilangan


__ADS_3

Di dalam ruangan yang ber Ac Lupita melangkahkan kaki jenjangnya menuju tempat duduknya dengan berjalan tertatih tatih sambil menahan rasa perih di dengkul, jempol kaki dan siku tangannya. Karyawan disana melihat aneh pada Lupita, seakan tidak peduli dengan keadaannya mereka hanya acuh saja, Lupita sudah terbiasa melihat sikap teman satu kantor nya yang hanya memandangnya sebelah mata. Tapi Lupi tidak pernah ambil peduli tetap tersenyum walau mereka tidak ramah, ia duduk di kursinya dan mendesah kasar nyaris tak terdengar.


Ceklek!


"Nona Lupita!


Suara berat Wiliam terdengar tiba-tiba membuat ia kaget, seluruh karyawan bangkit dari duduk dan membungkuk.


"Selamat Pagi Tuan Asisten."


William pria dingin dengan ekspresi datar adalah julukan yang tepat dialamatkan padanya, ia hanya mengangguk pelan, garis tegas dan angkuh di wajahnya membuat orang enggan untuk bicara, ia tidak hanya dingin tapi juga terlihat galak dan menakutkan sebagai Asisten seorang Presdir Georgie Vandeles.


"Saya Tuan? tanya Lupita sedikit grogi.


"Ambil kotak obat ini!


Lupita berjalan mendekat dengan perlahan dan menerima kotak obat dari Wiliam.


"Apa luka mu sangat parah?


"Tidak Tuan, hanya luka kecil saja, tadi sudah diobati di ruangan pengobatan."


"Ya sudah kau pegang saja kotak obat ini, sewaktu-waktu kau membutuhkannya."


"Baik terima kasih Tuan!" ujar Lupita sopan.


Selesai memberikan kotak obat pada Lupita, Wiliam berjalan keluar ruangan. Desas-desus pun mulai berhembus di dalam ruangan desain interior, kalau Wiliam mulai menyukai Lupita dan sebagai pelindung baginya.


Sore itu seluruh karyawan bergantian ke ruangan kasir untuk menandatangani pengambilan gajih yang langsung di transfer ke rekening masing-masing. Lupita masuk kedalam ruangan dan untuk mengambil gajih kedua.


"Lupita Aryani." panggil seorang kasir.


"Saya Bu!


"Tandatangan disini, gajih mu lima juta ya."


"Terima kasih Bu!


"Gajih mu lima juta sudah masuk kedalam rekening mu, ini ada bonus langsung dari Presdir." wanita itu memberikan amplop coklat kepada Lupita.


"Apa bonus? Lupita terkejut, ia baru dua bulan bekerja sudah mendapatkan bonus.


"Terima kasih banyak Bu! Melati tersenyum sumringah.


"Kau bisa hitung dulu, bonus mu tiga bulan gajih total Lima belas juta."


"Tidak usah Bu, saya yakin ini sudah pasti pas, kalau begitu saya permisi dulu."


"Silahkan!

__ADS_1


Lupita membawa amplop itu dengan ceria dan masuk kedalam ruangannya, ia mencium amplop coklat itu dan dimasukkan kedalam tasnya.


"Paman akhirnya aku bisa membantu membayar utang bibi pada juragan itu, agar warung paman tidak di datangi preman itu lagi." Lupita tersenyum sambil menitikkan air mata.


Jam sudah menunjukkan pukul Lima sore, seluruh karyawan sudah sebagaian pulang, di dalam ruangan hanya tinggal bertiga dengan Pak Tono dan ibu Ria. sebelum pulang Lupita pergi ke toilet.


Sementara di ruangan Presdir, Harlan sudah bersiap berganti pakaian untuk bertemu dengan Lupita, senyuman mengembang terlihat dari bibirnya yang bervolume.


"Will!


"Saya tuan!


"Pasti Lupita sudah menerima gajih dan bonus dariku, total semuanya empat puluh juta, ku rasa uang itu cukup buat ia membeli ponsel dan kebutuhan hidupnya, apalagi bibirnya yang selalu kekurangan uang." gumamnya pelan.


"Ku rasa Nona Lupita sudah lebih dari cukup menerima gajih plus bonus empat puluh juta, belum tentu karyawan senior berpendidikan S2 bisa mendapatkan gadis sebesar Nona Lupita."


"Kenapa kau selalu bandingkan lupita dengan karyawan lain, aku memberikan bonus itu atas penilaian ku sendiri!"


"Maafkan aku Tuan, aku tidak bermaksud seperti itu." Wiliam membungkuk.


"Siapkan kaos dan celana jeans ku!


"Sudah ada di paper bag tuan!


"Oke kalau begitu aku ganti baju dulu." Harlan mengambil paper bag yang berada diatas meja tamu.


"Kriing


"Kriing


"Kriing


"Hallo...


"Apa? Tuan Alfonso masuk rumah sakit? ucapan Wiliam terlihat panik.


"Baik, akan aku bicarakan pada tuan Georgie."


"Ada apa? tanya Harlan ingin tahu.


"Tuan Anda harus segera pulang sekarang juga ke Belanda, karena Tuan Alfonso masuk rumah sakit."


"Apa?! paman masuk rumah sakit, apa yang sudah terjadi dengannya." Harlan begitu panik dan tegang.


"Aku juga tidak tahu sakit apa? Asisten Tuan Alfonso tidak menjelaskan tapi dari nada bicaranya terdengar menghawatirkan. Apa kita akan berangkat malam ini juga, Tuan?


"Paman adalah segalanya bagiku, dia adalah pengganti ayahku, aku tidak bisa abaikan apalagi sampai Paman masuk rumah sakit. Aku akan merasa bersalah bila ia sudah tiada, Will.. siapkan penerbangan malam ini juga!"


"Baik Tuan!

__ADS_1


Setelah memesan penerbangan untuk ke Belanda, mereka berdua berjalan kearah lift. sesampainya di lobby Harlan masuk kedalam mobil setelah bodyguard membukakan pintu.


Lupita sudah kembali dari toilet, karyawan sudah tidak ada lagi, hanya ia dan dua seorang cleaning servis sedang bersih-bersih, Lupita membereskan sisa pekerjaannya dan berjalan keluar ruangan. ia tersenyum pada cleaning servis sebelum pergi, melangkahkan kakinya perlahan karena masih ada bekas luka tadi pagi.


"Aku ingin menaruh sebagian uang ku di Atm, aku takut bawa uang sebanyak ini." Lupita tidak pernah tahu kalau seluruh gajih dan bonusnya sudah ada yang sabotase, uang itu telah berkurang dari yang Harlan berikan. ternyata ada seseorang yang sudah memotong gajih Lupita tanpa sepengetahuan lupita dan Harlan.


Setelah mengantri, Lupita masuk kedalam kotak ATM dan sudah berdiri didepan mesin ATM. ia mulai membuka tas dan ingin memasukkan uang kedalam mesin ATM, tiba-tiba ia tidak menemukan amplop coklat itu, ia semakin Panik dan bingung.


"Dimana uang ku? ko tidak ada! tapi tadi aku sudah menaruhnya didalam tas." Lupita menelan salivanya, keringat dingin sudah keluar dari pori-pori kulitnya, ia mengeluarkan isi dalam tasnya mengira amplop itu terselip, tapi tetap saja amplop coklat itu tidak ada di dalam tasnya. Lupita benar benar syok dan panik, tubuhnya gemetar "Apa jangan-jangan amplop itu masih tertinggal di kantor? tapi tidak! tidak mungkin, tadi sebelum pulang aku sudah memeriksanya berulang kali tidak ada yang tertinggal apapun di sana, lalu siapa yang mencuri uang itu!


Tok, tok, tok...


"Mbak cepat gantian, sudah banyak yang mengantri!


Mendapat teguran dari luar Lupita buru buru masukkan isi tasnya dan langsung keluar, ia berjalan pelan dadanya begitu sesak, tak terasa airmata sudah mengucur deras.


"Hiks.. hiks.. hiks.. siapa yang sudah tega mengambil uang ku? Lupita menghentikan langkahnya, ia menatap gedung yang sudah terkunci, ada beberapa satpam yang masih berjaga di depan pintu lobby.


"Aku harus mencari uang itu, lima belas juta bukanlah uang yang sedikit, aku sudah bekerja keras untuk membuat villa itu!


Lupita berjalan kearah pintu dan berbicara pada dua orang satpam.


"Pak maaf, apa bisa aku masuk kedalam, ada berkas yang tertinggi di mejaku."


"Tidak bisa Mba, pintu sudah terkunci dan lampu gedung sudah mati semua."


"Tapi pak, aku mohon! ada sesuatu yang tertinggal didalam ruangan ku, Aku hanya sebentar saja lalu kembali lagi, tolong pak please! Lupita meminta penuh permohonan.


"Bagaimana ton! tanya temennya.


"Baiklah tapi hanya sebentar, kalau besok ada yang kehilangan, aku tidak tanggung jawab!


Lupita mengangguk, satpam itu membukakan pintu kaca, Lupita masuk kedalam setelah pintu terbuka. Setelah sampai di ruangannya Ia mencari di meja kerja dan lacinya, tapi tetap saja tidak ada, Lupita keluar kembali dari kantor dengan perasaan pilu.


"Terima kasih Pak! ucap Lupita berjalan dengan gontai meninggalkan gedung itu.


"Andai saja disini ada Mas Harlan, ia pasti bisa menenangkan ku! hiks, hiks, "Mas Harlan kau dimana? hampir dua minggu kau tidak datang menemui ku.. hiks, hiks, ....


"Mengapa aku merindukan sosok mas Harlan, ada apakah dengan diriku?


'


'


'


'


'

__ADS_1


@Bersambung..........


__ADS_2