
"Aku bekerja di sini bukan untuk di maki-maki atau terus anda hina! aku menyerah, aku akan mengundurkan diri!" Inez melangkah cepat meninggalkan ruangan Wiliam.
Wiliam terkejut dengan perkataan Inez, ia merasa egois dan bersalah. Dengan cepat Wiliam mengejar Inez.
"Inez tunggu!"
Inez setengah berlari menuju pintu lift. Saat pintu lift terbuka, Wiliam menahannya dan menarik tangan inez untuk keluar dari pintu lift. Dan Ia membiarkan pintu lift tertutup.
"Sudah cukup Tuan! saya ingin pulang, tugasku sudah selesai bukan?" ucapnya di sela isak tangisan dengan tubuh terguncang.
Wiliam menatap netra Inez "Ma'afkan aku, aku menyesal mengatakan itu, aku mohon kau jangan mengundurkan diri dari perusahaan ini, aku berjanji akan merubah sikapku."
"Heh! Inez tergelak "Kenapa baru sekarang Tuan menyadarinya? disaat aku sudah sakit hati oleh sikap dan ucapan Anda!"
"Nez! Wiliam menarik kembali tangan Inez.
"Jangan sentuh tangan saya Tuan, bukankah Anda jijik padaku!" menghempaskan tangan Wiliam "Jangan pernah merendahkan harga diri Anda didepan saya, wanita yang menjijikkan di mata Anda!" sindir Inez seraya menekan tombol lift.
Pintu lift terbuka lebar, Inaz masuk kedalam dengan cepat. Wiliam tidak menghalanginya lagi, ia hanya terdiam menatap kepergian Inez dengan wajah penyesalan.
"Arrgh! bodohnya aku, kenapa harus menyakitinya!" teriaknya setelah pintu lift tertutup. ia mengacak-ngacak rambutnya kesal.
Didalam lift, Inez menahan tangisannya walau begitu sulit untuk tak menetes kan airmata. sejak tadi airmatanya meleleh, Dadanya turun naik menahan nafas yang tersengal. Pintu lift terbuka, Inez berlari ke toilet.
Suasana tampak sepi, sebagian karyawan sudah pulang meninggalkan kantor. Inez masuk kesalah satu kamar mandi dan duduk di atas closed, Ia menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala kekesalan dan sakit hati. ia sudah bersikap baik selama ini pada Wiliam, walau ia tahu Wiliam sangat membencinya.
Sebenarnya Inez wanita yang tegar dan tidak cengeng, perjalanan hidupnya sangat panjang sebagai gadis perantau yang jauh dari orang tua dan keluarganya. Namun, di saat Wiliam menyinggung ibunya ia sudah tidak bisa toleransi lagi dan kini berbalik membencinya.
Selesai mengeluarkan tangisan dan kekesalan, Inez keluar dari dalam kamar mandi dan berdiri di depan wastafel, ia membuka kacamata dan membasuh wajahnya dengan air kran yang mengucur deras. Menatap wajahnya pada cermin besar di depannya.
"Aku memang mencintaimu Will! tapi itu dulu. Mulai hari dan seterusnya aku akan membunuh rasa cinta itu menjadi kebencian!"
"Aku harus berubah, aku akan merubah penampilan dan wajahku. Untung aku masih memiliki tabungan yang cukup. Tadinya aku ingin membeli rumah walau sederhana, tapi itu nanti saja. Aku akan membeli pakaian terbaru dan hells. Sudah cukup Wiliam dan Della menghina aku!"
Inez merapikan penampilannya dan memakai kacamatanya kembali. Ia tarik kembali nafasnya hingga dalam, dan di keluarkannya perlahan. Setelah nafasnya teratur ia berjalan keluar meninggalkan toilet.
Inez mulai menstsrter motornya saat sudah berada di parkiran. "Astaga aku lupa, aku janji hari ini pada Luvi, ia sudah mengirimi aku share lock." ines diam sejenak dan masih terus berfikir apakah ia harus kerumah Luvi atau tidak? sementara ia baru saja bertengkar dengan Wiliam.
"Lebih baik jangan sekarang, aku akan menghubungi Luvi setelah sampai rumah."
Inez melajukan motornya meninggalkan gedung perkantoran Vandeles.
Sementara didalam mobil Wiliam tampak murung, pikirannya melayang entah kemana, menyetir pun tidak fokus, pandangan matanya kosong.
"Ciiiiittt!
Tiba-tiba mobil berhenti mendadak, Harlan yang sedang mengamati file ditangannya, jatuh berantakan ke bawah kakinya.
"Will! bentak Harlan.
"Ma-af Tuan, didepan lampu ada merah, hampir saja menerobos."
"Apa yang sedang kau pikirkan? sejak tadi aku perhatikan kau selalu murung."
"Nanti akan saya jelaskan semuanya dirumah." ucapnya lemas.
Harlan mendengus kesel, ia memunguti satu persatu file yang terjatuh.
Mobil taksi berhenti tepat di depan gerbang pintu mansion. Setelah membayar Della minta di bukakan pintu gerbang. Della yang masih kesal mengumpat satpam penjaga.
"Hey buka! teriak nya dengan lantang.
"Cepatan buka! gue tadi baru keluar dari mobil, seharusnya kalian tahu dan langsung bukakan gerbang!
Krekk!
"Ma'af Nona, saya nggak tahu kalau itu Nona."
Della menendang pintu gerbang, lalu masuk kedalam rumah.
"Astaghfirullah, itu anak nggak ada akhlak nya! kesal pak satpam gelengkan kepala, seraya menutup gerbang pintu kembali.
"Kau baru pulang Dell!"
"Iya Bii! menghempaskan bokongnya di sofa.
__ADS_1
"Ada apa? sepertinya kau lagi kesal."
"biasa lah Bi, urusan di kantor!"
"Ya nama juga kerja ada ajah ujiannya. Sana mandi dulu, terus makan malam."
"Aku mau buat juice dulu bii, biar segar." Della berjalan kearah dapur. ia melihat suster Santi juga berada di dapur.
"Sedang apa Sus!
"Eh, Mba Della. ini lagi buat susu untuk Nyonya Luvita."
Della terdiam dan ia membuat rencana di otaknya "Kebetulan aku akan balas wanita cu'lun itu yang udah menampar ku tadi siang, melalui Luvita, bukankah mereka bersahabat?'" tersungging senyuman licik di bibirnya.
"Aku harus ambil obatnya."
"Suster, tolong buatkan saya teh manis ya? saya kebelet pipis. plis!"
Suster Santi mengangguk malas.
Della masuk kedalam kamar dan mencari sesuatu dari dalam laci nakas. "Obat ini bisa membuat wanita itu menjijikkan dimata kak Harlan." Della menyeringai dan mengambil dua butir capsul dari dalam botol itu, lalu berjalan cepat kearah dapur.
"Sudah saya buatkan teh manisnya." ujar suster itu sambil memegang gelas susu ditangannya.
"Suster tunggu sebentar!"
"Susunya biar saya yang antarkan ke Luvita, kebetulan saya ada perlu dengannya." mengambil paksa gelas dari tangan suster Santi. "Suster duluan saja aku bawa pakai nampan, sekalian bawa teh manis untuk menemani Luvita ngobrol."
Tanpa rasa curiga suster Santi berjalan menaiki anak tangga.
"Bagus! Della membuka isi dalam capsul dan memasukkan nya kedalam susu, diaduknya biar tercampur menjadi satu. "Sudah cukup, selamat menikmati Luvita sayang..." Della terkekeh.
Dengan cepat langkahnya menaiki anak tangga, dan berhenti didepan pintu kamar Luvita.
Tok, tok, tok...
Ceklek! suster Santi membuka pintu.
"Suster, biar aku saja yang menemani Luvita."
Suster Santi mengangguk dan keluar kamar.
"Hallo Luvi!" Della tersenyum dan masuk kedalam kamar dengan membawa susu dan teh manis. Luvita tercengang dan merasa aneh, tidak biasanya Della bersikap baik dan membuatkan susu untuknya.
Della duduk di Sofa, samping Luvi. "Tolong jangan curigai aku ya, aku minta maaf sudah buat kamu sakit hati. Sebagai permohonan maaf ku, aku buatkan susu ini untukmu. Mau kan, kau memaafkan aku?" mengusap lembut tangan Luvi.
Livita terdiam sambil menatap gelas susu di depannya, ia menatap mata Della mencari kebenaran pada ucapannya, akhirnya Luvi mengangguk setuju.
__ADS_1
"Aku juga tadi buat teh manis untuk temani kamu ngobrol. Ayo donk di minum nanti keburu dingin." ujarnya seraya mengambil cangkir teh manis dan meyerumputnya.
"Terimakasih." Luvi tersenyum samar dan mengambil susu diatas meja, lalu meyerumputnya perlahan. "Kok rasanya sedikit berbeda dari biasanya ya?" gumamnya dengan kedua alis bertautan.
"Susu itu bukan aku yang buat, suster Santi sendiri yang buat, aku hanya membawakan ke kamarmu. Mungkin kau kurang enak badan jadi berasa susunya berbeda. cepat dihabiskan nanti keburu dingin."
Luvita tidak pernah berpikiran negatif pada Della, apalagi ia sudah meminta maaf.
"Uhuk, uhuk, uhuk.. Luvita tersedak. ia menaruh gelas yang masih tersisa sedikit keatas meja.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya basa-basi.
Luvi menggeleng "Tidak!
"Walau susu itu tidak habis tapi ia sudah meminumnya banyak. Baguslah, kita tunggu reaksinya apa yang akan terjadi!" umpatnya dalam hati.
"Ya sudah, kau istirahat saja dulu. biar gelasnya aku bawa sekalian, kebetulan aku baru pulang dan ingin mandi."
"Iya Dell, makasih ya sudah antarkan susu."
"Sama-sama, selamat malam semoga tidur dengan nyenyak." Della tersenyum penuh misterius.
Setelah kepergian Della, Luvi menghubungi Inez. Namun, ponselnya tidak aktif "Kemana ya Inez, kenapa ponselnya mati, tak biasanya ia seperti ini. pesan kupun tidak di balas."
Luvi duduk termenung di kursi yang berada di atas balkon. Tak terasa sudah setengah jam ia berselancar di dunia maya. Tiba-tiba ada yang aneh dengan tubuhnya, Luvi merasakan badannya panas bercampur gatal-gatal. ia garuk-garuk bagian yang gatal, lama kelamaan semakin gatal dan panas sekujur tubuhnya.
"Ada apa dengan badanku, kenapa gatal-gatal begini? apa bangkunya banyak semut ya?"
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Inez ingin meminta tolong pada suster Santi, tapi ia urungkan dan berfikir kalau suster Santi sudah tidur.
Suara deru mobil terdengar didepan teras, Harlan dan William sudah pulang.
Wajah, tangan dan kaki Luvita sudah di penuhi bentol-bentol, karena malu dilihat Harlan ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
🌸🌸🌸
@Semua perbuatan pasti ada balasannya, tunggu episode berikutnya 🤣
@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
💜Like
💜Vote
💜Gift
💜Komen
@Bersambung........
__ADS_1
.