
"Tolong aku.... Pria ini perampok! seru Lupi.
"Aku bilang lepaskan, atau kalian akan menyesal, sebentar lagi polisi datang!! seru pria itu yang tak terlihat wajahnya.
"Apa...? pria yang memegang tas Lupi terkejut.
"Jangan mau kita di perdaya sama dia dudul! itu cara dia buat nakutin kita, buat apa badan gede tapi takut ancaman."
'Ayo serang!!!!
Pria bertubuh tinggi itu langsung meladeni serangannya dua pria preman sekaligus. pertarungan saling pukul dan tendang tidak terelakkan lagi. Lupita tidak membuang kesempatan itu ia berjalan mundur dengan hati-hati agar tiga orang itu lengah dan tidak melihatnya. setelah agak menjauh Lupita berlari sekuat tenaga menuju pertigaan jalan raya.
Lupita berhenti saat sudah dekat jalan raya, untuk mengatur nafasnya yang tersengal, ia terus berjalan menunju jalan agak ramai untuk mencari angkot. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, kendaraan umum sudah tidak ada, ia ingin memesan ojek online, tiba-tiba seorang pria memakai motor menghampirinya.
"Neng, mau naik ojek? biar saya antarkan."
"Nggak bang, saya mau pesan ojek online." ucap Lupi berjalan menghindari karena melihat tampang Pria itu yang menakutkan.
"Nggak apa-apa sama Neng gratis, lagian Neng ini sudah malam."
Lupita mengeryitkan keningnya "Mana ada ojek gratis, mana malam-malam lagi, dari tampang nya saja sudah tidak meyakinkan! batin Lupi bergidik ngeri. ia terus berjalan cepat ingin menghindar, namun Pria itu terus mengejar Lupi, ia begitu ketakutan dan berlari. jalan satu-satunya ia harus nekad menyebrang jalan menerobos pembatas. Lupita sudah tidak berfikir panjang lagi ia nekad menyebrang dan..
"Ciiitttttt.....
Karena Lupi menyebrang tanpa perkiraan, sebuah motor hampir saja menabraknya kalau saja pengendara bermotor itu tidak mengerem motornya.
"Maaf Mba...Saya tidak sengaja."
"Lupita...?
Lupita mengangkat wajahnya dan terkejut.
"Inez...?
"kau kenapa ada di jalanan?
"Ceritanya panjang, ayo kita secepatnya pergi dari tempat ini."
"Ya sudah ayo cepat naik!
Lupita naik keatas motor Inez.
"Kau sendiri dari mana?
"Aku baru pulang dari rumah saudra ku, di rumahnya lagi ada acara, makanya jam segini masih di jalan."
"Oohh..."
"Lupi kau tidur di rumahku saja ya, kalau untuk mengantarmu pulang putarannya sangat jauh. besok kan hari minggu tidak masuk kantor, kita bisa ngobrol banyak hal."
Mengingat kejadian tadi Lupi sangat takut. Apalagi pelakunya Bejo adik dari bibinya. "Ya sudah aku ikut kamu menginap."
"Oke sip!
Motor Inez melaju dengan cepat, agar cepat sampai rumah.
Sementara dari dalam mobil sedan, seorang pria sedang mengikuti motor Inez. Setengah jam kemudian mobil berhenti agak jauh di belakang motor Inez.
"Syukurlah Nona Lupi berada di tempat aman, semoga wanita itu selalu menjadi pelindung nya."
"Hah! helaan nafas lega keluar dari bibirnya. "Hampir saja Nona Lupi celaka kalau aku tidak tepat datang. Tiga penjahat itu aku pastikan akan membusuk di penjara! serunya. setelah motor Inez sudah masuk kedalam sebuah kontrakan sederhana, mobil sedan itu pergi meninggalkan tempat itu.
"Kontrakan ku sangat sederhana dengan satu kamar, kau mau ganti baju tidur?
__ADS_1
"Boleh, kebetulan aku tidak bisa tidur memakai jeans."
Inez mengambil baju bersih di dalam lemari dan memberikannya pada Lupi. Selesai mereka membasuh wajah dan mengganti pakaian, Inez mengajak Lupi duduk di karpet depan tv untuk makan kue yang ia bawa.
"Lupi ayo dimakan, kita makannya sambil ngobrol. aku sudah buatkan capuccino."
'Terima kasih Inez, pasti badan kita akan melar kalau makan malam."
"Kue ini akan terbuang kalau nggak dimakan sekarang. tapi kau sudah menikah Lupi, mau badan melar nggak masalah kan."
"Tetap harus bisa jaga badan, agar suamiku tidak melirik wanita lain." Lupita terkekeh.
"Oiya seperti apa sih wajah suamimu, pasti tampan kan? boleh aku lihat fotonya?
"Semua foto suamiku ada di ponsel ku yang lama, di ponsel baru ku tidak ada satupun fotonya."
"Dimana ponsel lama mu, kau bisa kirimkan fotonya ke washpp ku."
"Ponsel ku ketinggalan di Bali. Ya sudah nanti aku kenalin langsung suami ku ya kalau ia sudah pulang." ucap Lupi seraya meniup-niup capuccino di tangannya.
"Memang suamimu kemana?"
Seketika Lupi menaruh gelas cappucino di atas karpet, wajahnya tertunduk sedih.
"Lupita kamu kenapa? apa kau ada masalah dengan suamimu? Lupi tetap diam, Inez melihat mata Lupi sudah basah. Inez meraih tangan Lupi "Ceritakan padaku beban mu, siapa tahu aku bisa bantu, walau kita baru bertemu dan belum lama mengenal satu sama lain, namun aku percaya kau orang baik, aku berharap kita bisa jadi sahabat."
Lupita mengangkat wajahnya dan menatap Inez lekat "Benar kau ingin jadi sahabat ku? dan menerima aku sebagai teman baikmu?
"Tentu saja Lupi, sekarang kita sudah jadi sahabat, apa yang sedang kau alami saat ini? dan tadi kau berlari seperti orang ketakutan. Untung aku segera rem mendadak, klau tidak kau bisa terpental jauh terseret motorku, Tuhan masih sayang pada kita, kau tidak mengapa musibah, dan aku tidak berurusan dengan polisi."
Melihat ketulusan Inez, akhirnya Lupita menceritakan semua kejadiannya, dari awal bertemu Harlan dan menikah karena di paksa warga. Lupi menceritakannya juga bibinya, keponakan dan Bejo yang hampir melukainya, tidak ada satu kisah yang tidak Lupi ceritakan.
"Brengsek si Bejo, besok pagi kau ku antar ke kantor polisi, kau harus berani melaporkan dia dan kawan-kawan nya, bila tidak kau akan terus di usik."
"Tapi aku tidak ada bukti untuk untuk menjeratnya."
"Pria itu!
"Pria yang mana?
"Yang menolong ku semalam, aku kabur saat dia berkelahi dengan dua pria itu, bagaimana nasibnya sekarang?
"Ya sudah, kita doakan saja semoga pria yang menolong mu itu tidak apa-apa. Suamimu semoga cepat pulang, tapi ko aku ragu ya? nggak percaya kalau suami mu itu seorang kurir, juga mana ada bos baik sama karyawan nya memberikan jalan-jalan gratis ke Bali dengan fasilitas mewah, kecuali bila suamimu itu bekerja di kantoran."
"Entahlah aku juga bingung, sebenarnya aku yang bodoh atau terlalu polos, tapi aku percaya suamiku tidak akan ingkar janji dan akan kembali pulang."
"Iya, semoga saja Lupi."
****
Sebulan telah berlalu. Seorang Pria berdiri diatas balkon sambil menatap pemandangan didepannya, Hatinya terasa pilu dan bersedih, ia ingin pulang dan rindu pada istrinya, bahkan untuk menanyakan kabar saja ia tidak bisa.
"Andai saja paspor ku tidak ditahan paman, pasti aku sudah kembali pulang. Lupi, aku sangat merindukanmu, bersabar lah aku pasti kembali."
Sebuah tangan lembut memeluknya dari belakang, ia sandarkan ke kepalanya di punggung Harlan. Sadar ada yang memeluk tubuhnya dari belakang dengan kasar Harlan menghempaskan.
"Aku sudah sering Katakan padamu! Jangan pernah kau sentuh diriku kan aku jijik padamu!"
"Georgie! sebenci itukah Kau padaku? apa salahku? aku ingin tunangan mu dan sangat mencintaimu."
"Heh! mencintai ku? sejak kapan kau mencintai? bukankah kau mencintai harta ku? lebih baik pergi dari hadapan ku! bentak Harlan.
"Goergie aku....?
__ADS_1
"Pergi dari kantor ku!!! teriak Harlan sudah tidak bisa menahan emosinya. Wanita itu terlihat kesal dan melangkah pergi meninggalkan balkon itu. Setelah kepergian wanita itu, Harlan masuk kedalam ruangannya dan mengobrak-abrik semua berkas diatas meja.
"Aaaacchhhh! teriak Harlan frustasi, mendudukkan kasar bokongnya di kursi presdir dengan nafas yang tersengal.
"Lupi... ma'afkan aku, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku sangat merindukanmu."
Terdengar suara dering ponsel, Harlan yang malas untuk mengangkat telpon. Matanya sedikit berbinar setelah tahu siapa yang menelponnya, dengan cepat ia menerimanya.
"Hallo Will!"
"Tuan...?
"Will, jangan menelpon ku dinomor ini dan berbicara apapun dulu, telpon ku disadap paman! aku yang akan menghubungi mu."
"Baiklah tuan!"
Panggilan terputus, Harlan mengambil ponsel yang lainnya yang sudah ia persiapkan. dan mulai menghubungi Wiliam kembali.
"Hallo Will!"
"Iya Tuan!
"Bagaimana keadaan istriku?
"Nona baik-baik saja, dan sedikit terhibur dengan adanya Inez pengganti Damar."
"Apa istriku masih bertemu dengan Damar?
"Tidak pernah Tuan."
"Apa kau sudah penjarakan laki-laki bajingan itu! berani dia menyakiti istriku!
"Sudah aku laporkan polisi, keesokan harinya. dan pihak polisi langsung menangkapnya."
"Bagus!
"Sampai kapan tuan berada disana?
"Entahlah, aku tidak tahu apa keinginan Paman. bahkan paspor ku ditahan paman, aku tidak bisa kembali, Will hanya kau yang bisa menolong ku, jaga istriku disana."
"Itu sudah pasti Tuan!
"Aku akan bernegosiasi dulu dengan Paman, dan berusaha kembali pulang kesana."
"Baik tuan, semoga berhasil."
****
Pagi itu Lupi sangat malas untuk bangun pagi, sejak semalam kepalanya pusing, padahal Inez sudah memberikan obat pusing, namun sampai saat ini pusing nya tidak kunjung hilang.
Huek.. huek.. huek.. huek..
Lupita berlari ke kamar mandi, karena perutnya yang tiba-tiba mual.
πππ
@Bab ini lebih panjang, Yuk ikuti terus kelanjutannya, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
πLike
πVote
πGift
__ADS_1
πKomen
@Bersambung........ππ