
"Lupita...!! ia terkejut mendapati istrinya teraniaya.
"Mas Harlan..." ucap Lupi pelan, dengan mata berbayang, seketika Lupi lunglai dalam pelukan suaminya.
"Lupi bertahan lah, aku akan membawa mu kerumah sakit!!
Harlan memeluk erat tubuh istrinya dan mengangkat tubuh Lupita, sebelum masuk kedalam mobil Harlan berteriak
"Habisi mereka semua! cari semua orang yang terlibat, mereka sudah menyakiti istriku, habisi sampai ke akar-akarnya!! teriakan Harlan menggema dimalam yang pekat, hanya sorot lampu mobil yang menerangi. Sorot mata tajam dengan rahang mengeras. Wiliam membuka pintu untuk Tuan nya, Harlan masuk kedalam mobil.
Enam orang berjas itu terus menghajar dengan memukuli seluruh tubuhnya sampai babak belur. Empat orang bodyguard juragan karyo jatuh terkapar di aspal bermandikan darah.
"Will, cepat kira kerumah sakit!
William melajukan mobilnya dengan cepat, menembus malam yang pekat membelah jalanan raya.
Harlan membawa Lupita kedalam pelukannya dengan memangku tubuh istrinya "Lupita ma'afkan aku!" terdengar suara isakan Harlan, airmatanya terus meleleh manakala menatap wajah Lupita dengan guratan kesedihan dan tubuh tak berdaya. "Sayang bangun! ini aku sudah pulang, suamimu sudah kembali." Harlan menciumi wajah istrinya bertubi-tubi.
"Aaahhhkkkk...! tiba-tiba Lupita memekik dengan mata masih terpejam.
"Sayang....! ada apa? bangun lah. Dimana yang sakit? Ini aku sudah kembali, ayo buka matamu."
Erangan dan pekikan terus keluar dari bibir Lupita seraya memegangi perutnya, Harlan merasakan pahanya untuk menopang bokong Lupi berasa basah, saat ia menoleh kearah perut dan turun kebawah, melihat betis Lupi sudah mengalir darah. Harlan terkejut dan ia berseru.
"Ya Tuhan Lupi! dari betisnya keluar banyak darah! Will ada apa ini? kenapa Lupi mengeluarkan banyak darah?"
Wiliam yang sedang menyetir terlihat gusar dan tegang, Sebenarnya ia sudah paham apa yang terjadi pada majikannya "Sabar Tuan, semoga Nona Lupi baik-baik." ucapnya menenangkan.
"Tapi aku takut akan terjadi sesuatu dengan istriku, apa lagi Lupi sedang mengandung anakku! Aku takut, tidak mau ini terjadi. Aku akan merasa bersalah dan menyesal bila terjadi sesuatu dengan anak dan istriku! Aku mohon padamu Will, cepatlah jangan sampai terlambat untuk menolong istri dan anakku!! teriak Harlan dengan wajah memerah, ia terlihat kalut dan bingung.
"Lupi, bangun sayang...." mengusap pucuk kepalanya, Harlan terus membangunkan kesadaran istrinya, kening Lupi keluar keringat dingin. Harlan mengambil saputangan dari balik jas nya dan mengusap kening istrinya.
"Ku mohon sayang, bertahan lah! airmata Harlan berjatuhan ke pipi Lupita. Tangisannya semakin dalam, ia tidak tahan melihat penderitaan istrinya yang terus mengerang kesakitan.
Wiliam melihat dari kaca spion, ia ikut terharu melihat kesedihan Tuan nya, terlihat ia sangat mencintai istrinya dan takut kehilangan.
Mobil sudah masuk kedalam gerbang rumah sakit dan berhenti di pelataran Lobby. William cepat keluar dan membuka pintu untuk Tuan nya. Harlan keluar dan setengah berlari masuk kedalam rumah sakit. Wiliam mendahului Harlan untuk menuju loket pelayanan.
"Sus! tolong istri bos saya sedang darurat!
"Pasien atas nama siapa, Pak!
"Nanti saja buat datanya, itu bisa menyusul yang terpenting nyawa Nona saya harus segera di tolong! bentak Wiliam
"Tapi Pak, ini sudah prosedur rumah sakit, bapak harus mengisi data dulu."
"Alah! apa menunggu orang sekarat dulu baru ditangani! kalau bos saya mau. Rumah sakit ini bisa di belinya! dan kau bisa langsung dipecat!" bentak William lagi kesal. Suster itu terlihat pucat dan mengunjungi petugas medis.
Empat orang petugas tiba-tiba datang dan membawa ranjang dorong. Harlan menaruh tubuh Lupi diatas ranjang yang sudah banyak darah. Mereka menuju ke ruangan UGD.
"Tuan maaf Anda tidak boleh masuk! tegur seorang perawat pria.
"Tapi dia istriku, aku harus mendampinginya!
"Tuan tidak usah khawatir, ada Dokter yang akan menanganinya."
Seorang Dokter berjalan keruangan UGD, Harlan yang masih berdiri didepan pintu menegurnya.
"Dok! tolong selamatkan istriku ia sedang mengandung. istriku mengalami pendarahan hebat, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengannya. Tolong, berapapun biayanya akan saya bayar! ucap Harlan dengan mata nanar menahan airmatanya di depan Dokter.
__ADS_1
"Sabar Tuan, saya akan berusaha semampu saya untuk menyelamatkan pasien, berdoa lah semoga istri dan kandungan nya baik-baik saja." setelah memberi nasehat, Dokter yang bernama Irwan masuk kedalam ruangan UGD.
Harlan terduduk lemah di ruangan tunggu, dan membekap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Wiliam mendekat dan mengusap punggung tuan nya.
๐flash back on ๐( pov Harlan)
Siang itu, Aku yang sedang duduk di sudut ruangan rumahku dengan perasan pedih, setelah perdebatan dengan paman semalam yang ternyata ia mengakui kalau aku adalah anaknya. dan dia Ayah biologis ku. Seketika Perasaanku sangat sakit, marah dan kecewa bercampur menjadi satu. Rasanya tak terima dan membuat diri ini terhina, niat ingin bunuh diri aku urungkan, saat wajah istriku terbayang di mata. Tiba-tiba suara dering ponsel membuyarkan lamunanku, aku menoleh dengan malas. Tertera nama Wiliam yang di layar ponsel. Dengan cepat aku menerima panggilan itu.
"Malam tuan!
"Disini siang Will..! protes ku.
"Tentu saja di Jakarta sudah malam, tuan. Aku selesai mengadakan meeting dan berjalan alot. karena cliant ingin langsung bertemu tuan."
Aku hanya menghela nafas panjang.
"Ada berita yang ingin aku sampaikan tentang Nona Lupita."
"Berita apa yang ingin kau sampaikan tentang istriku?" seketika aku bersemangat mengenai berita istriku, rasa ini begitu rindu dan secepatnya ingin bertemu.
"Saya mendengar dari cerita Inez yang keceplosan kalau Nona Lupita sedang hamil."
"Apa..?? aku berlonjak kaget mendengar berita dari Wiliam, dan rasa keterkejutan ku hampir membuat aku lemas, tak terasa tetesan air mata ini jatuh begitu saja. Rasa senang dan bahagia menjadi satu, dadaku terasa sesak saat mengingat istriku yang jauh.
"Baiklah aku akan pulang sekarang, bagaimana pun caranya, walau aku harus membunuh Pamanku! kekesalan ku sudah memuncak dan tidak sudi memanggilnya Ayah.
"Tuan, janganlah berbuat nekad. Pikirkan masa depan anda, urungkan niat membunuh paman Alfonso. bicarakan baik-baik dan beri pengertian."
"Orang seperti dia tidak bisa diajak bicara baik-baik! ucapku geram "Baiklah secepatnya aku akan menemui Paman untuk mengambil paspor, tolong kau jaga istriku dan kabari terus keadaannya!
"Baik Tuan!
Satu jam kemudian mobilku sudah terparkir di depan rumah mewahnya. Aku menerobos masuk tanpa peduli para pelayan memberiku salam hormat.
"Dimana Paman! tanya ku pada seorang pelayan yang terlihat ketakutan melihat wajahku dingin tanpa ekspresi.
"A-ada di ruangan kerjanya, tuan." ucapnya gugup.
Aku berjalan kearah ruangan kerjanya yang berada dilantai dua, dan aku membuka kasar pintu itu.
JEDER!
Aku melihat Paman terkejut akan kedatangan ku yang tiba-tiba, sepertinya ia bingung. keningnya mengerut dan bibirnya terbuka. Padahal baru semalam kami berdebat hebat di kantor. Aku berjalan mendekat kearahnya yang sedang duduk dengan tangan memegang file yang baru saja ia baca.
"Ada apalagi Goergie! apa kau belum puas juga menyakiti ku!
"Kau memang pantas disakiti karena sikapmu yang sudah membuatku menderita dan sakit hati, atas perbuatan bejat mu bersama ibuku! ucap ku yang tidak bisa menahan emosi di depannya.
"Sudahlah kau tidak usah ungkit masa lalu ku dan ibumu, seharusnya kau senang Kalau ayah kandung mu masih hidup!
"Ciih! lebih baik aku tidak memiliki Ayah daripada mengetahui kenyataan ini, kenapa kau tidak biarkan saja aku menjadi anak Alfredo dan tidak tahu perselingkuhan kalian selamanya!" ucapku masih berapi-api.
Pria didepan ku hanya mendengus kasar.
"Aku pinta padamu! tolong kembalikan paspor ku, aku harus pulang sekarang!
Mata itu menatap ku tajam kearah ku "Tidak bisa! sebelum kau bertunangan dengan Margaret!
"Selalu saja Margaretha! teriakku "Seharusnya kau tidak pantas terus mengekang ku, kau bukanlah siapa-siapa! aku masih berbicara dengan nada tinggi
__ADS_1
"Aku Ayah mu! suara itu lantang terdengar.
Aku terus bernegosiasi. Rasanya aku benar-benar muak dan Ingin membunuh pria di depanku. kalau saja aku tidak ingat Istri dan Emak ku yang sedang menunggu kepulangan ku! apakah aku harus menyerah dan mengikuti kemauan si tua bangka ini! bertunangan dengan wanita pilihannya yang tidak pernah aku cintai? aku terdiam sejenak dengan mengatur nafasku yang tak beraturan.
Pria di depanku dengan santai berjalan kearah jendela seraya menghisap cerutu di jemarinya.
"Bagaimana? kau mau ikuti tawaran Ayah mu atau terus membangkang! kalau kau mau bertunangan dengan Margaret, aku janji akan kembalinya paspor mu."
"Hahahaha... Aku terbahak ia bilang apa tadi? Ayah?
"Ayah? berhentilah menyebut nama itu! aku jijik mendengarnya!" hardik ku lagi.
Cihh! mendengar pria tua itu menyebut nama Ayah, membuatku semakin muak. Saat aku ingin bicara lagi, tiba-tiba sebuah pintu terbuka, sudah berdiri seorang wanita yang sangat aku benci.
"Paman! sapa nya dan berjalan mendekat, seperti biasa ia selalu cari perhatian dan sok manja di depan paman.
"Margaret, apa kabar sayang." mereka saling berpelukan. Margaret melempar senyum padaku, Namun aku membuang wajahku tidak ingin melihat wajah rubah itu.
"Hey! kau juga berada disini, Georgie?
Aku hanya mengangguk tanpa menoleh. Disaat bersamaan mataku terpaku pada pisau buah di meja kerja paman. Tanpa mereka sadari aku mengambil pisau buah itu. dan aku menoleh pada Margaret saat ia sedang berbincang pada pria paruh baya itu, yang tetap aku panggil Paman. Tidak sudi rasanya harus memanggilnya Ayah! aku tertawa jahat dalam hati.
"Margaret! aku meraih tangannya dengan senyum terpaksa "kau sangat cantik hari ini! pujiku, ia tersenyum lebar. Saat ia lengah aku menarik tubuhnya dan mengalungkan tanganku ke lehernya seraya menodongkan pisau ke leher jenjang itu
"Paman tolong..! pekik Margaret.
"Apa yang kau lakukan pada Margaret! lepaskan dia Goergie! teriak paman.
"Aku akan lepaskan, kalau kau kembalikan paspor ku! atau wanita ini akan ku tebas lehernya!" teriakku tak kalah sengit.
"Kau jangan nekad Georgie! kau akan masuk penjara bila melakukan hal itu!
"Aku tak peduli! biarkan saja wanita ini mati dan aku di penjara seumur hidupku! kau akan puas bukan!!
Seettt! aku melukai sedikit leher putih Margaret, darah menetes. Margaret berteriak. Aku mulai melihat paman Panik dan ketakutan.
"Baiklah! kau jangan lukai Margaret lagi. Aku akan berikan pasport itu!"
Paman mulai berjalan ke meja kerjanya dan membuka sebuah laci yang terkunci.
"Lepaskan Margaret sekarang! teriaknya seraya melempar pasport itu kedepan meja. Aku maju dan mengambil pasport milikku. Sebelum pergi aku mendorong tubuh Margaret hingga jatuh kelantai. Aku berlari keluar dari ruangan.
Aku melajukan mobilnya menuju Bandara dengan kecepatan tinggi.
flash back off.
๐๐๐
@Bab ini lebih panjang ya, Yuk ikuti terus kelanjutannya, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
๐Like
๐Vote
๐Gift
๐Komen
@Bersambung........๐๐
__ADS_1