Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Mulai Cemburu


__ADS_3

Selesai mengganti pakaian ia mengambil berkas diatas meja kerja.


"Kakak, darimana saja tidak pulang. Udah dua hari Bibi nangis terus nyariin kakak!"


Harlan hanya menghela nafas kasar dan berjalan cepat keluar ruangan menuju tempat Meeting, tanpa menjawab pertanyaan Della yang sejak tadi berdiri.


Pintu ruangan terbuka, Harlan masuk kedalam dan di sambut para pejabat direksi.


"Selamat Pagi Tuan Georgie..." ucap mereka serempak berdiri dan membungkuk.


'Pagi! Maaf semua, saya terlambat."


"Will..."


"Tadi sudah sampai mana pembahasan nya, bisa di lanjutkan kembali."


"Baik, tuan!


William mulai melanjutkan kembali, setelah tadi tertunda dengan kedatangan tuan nya.


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas, meeting ditunda untuk makan siang. Sebab pembahasan belum selesai, selepas istirahat meeting akan di lanjutkan.


Harlan bersama William keluar dari ruangan meeting, menuju ruangan kerjanya.


KREKK...


"Kakak!


Harlan dikejutkan suara cempreng Della.


"Kenapa kau masih disini, Dell? Harlan mengeryitkan keningnya.


"Aku menunggu Kakak, biar pulangnya bareng. Tadi Bibi juga nyuruh begitu biar aku tidak bosan di rumah terus."


Harlan mendengus kesal, mendudukkan tubuhnya kasar, seraya mengendurkan dasinya. ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengaktifkan.


"Ting!


Ada pesan masuk, ia membuka pesan yang ternyata dari Lupita.


["Mas, tidak usah kirim makan siang, aku sudah masak, kita harus hemat pengeluaran. Karena banyak kebutuhan."]


["Aku melupakan makan siang mu hari ini, maaf ya, untuk urusan makan jagan terlalu irit, kesehatan lebih penting, aku tak sependapat bila istriku harus berhemat."]


Send......


"Kak! sebentar aku kebawah dulu, ada sesuatu yang harus ku ambil dari pak Basir." Della keluar dari ruangan. Namun, Harlan tidak menjawab, ia masih sibuk chatan dengan Istrinya.


"Ting!

__ADS_1


["Bukan begitu maksud ku Mas, aku tidak ingin Mas keluar uang hanya untuk makan siang aku, yang harganya lumayan mahal."]


Harlan hanya gelengkan kepala, melihat keinginan istrinya yang selalu hidup sederhana. Baginya, mau membelikan Lupita makanan di hotel berbintang setiap haripun ia tak keberatan. Harlan masih harus bersandiwara didepan istrinya, sampai saatnya tiba.


["Baiklah, lakukan apa yang menurutmu baik. Tapi ingat, makan yang banyak biar tidak sakit."]


Send...


["Oke Mas, aku makan dulu ya. Dan mas juga harus makan siang, pasti lelah seharian mengantar barang pesanan."]


Ting!"


["Mas sudah makan di warteg, mas harus jalan lagi, nanti di kabarin lagi ya.",]


Send.....


CEO berkharisma itu tersenyum lebar. Menyandarkan punggungnya ke belakang kursi, Ia mengingat kejadian semalam, hampir saja mereka melakukan malam pertama, kalau saja Lupi tidak kedatangan tamu bulanan. Namun, Harlan cukup bersabar dan akan menunggu waktu itu akan datang. Ia yakin pada kata hatinya, tidak salah memilih Lupita sebagai pendamping hidup, walau menikah di depan para warga.


"Tuan..."


"Tuan..." sekali lagi Wiliam memanggil tuannya yang masih tersenyum sendiri. Entah kebahagiaan apa yang membuat tuannya tidak mendengar panggilan Wiliam.


JEDAR...


Kakak! Della berseru dari ambang pintu dan berjalan mendekat, seketika lamunan Harlan buyar, senyumannya memudar dan berubah dingin.


"Bisa tidak jangan berteriak di kantor! jangan samakan kantor dengan hutan! bentak Harlan.


Della memutar tubuhnya dan berjalan keluar.


"Astaga anak itu, buat aku repot saja! gumam nya kesal.


"Della tunggu! beranjak dari duduknya dan mengejar Della yang sudah berjalan melewati meja Alexa.


"Akhirnya dia mengejar ku! aku tau sifat mu kak, kau tidak akan tega melihat aku merajuk apalagi sampai menangis." batin Della tersenyum puas.


"Della! Menarik tangan Della.


"Lepaskan aku kak! menepis tangan Harlan. "Aku ingin pulang dan membawa makanan buatan Bibi, aku datang kesini tidak di hargai sama sekali."


"Sudah jangan banyak bicara! Ayo masuk! menarik kuat tangan Della.


Alexa membelalakkan matanya saat Harlan menarik tangannya dan berhasil membujuk Della. Saat melewati meja Alexa, Della menoleh padanya seraya tersenyum mengejek.


"Ciih! perempuan kampung itu, berani sekali menatap sinis padaku! memangnya dia siapa? kau saja yang penampilan kampungan bisa menggoda Tuan Georgie, kenapa aku tidak?! penampilan ku begitu sempurna dan seksi.


Sementara Lupita sudah menyelesaikan separuh desainnya. karyawan yang berada di dalam ruangan sudah keluar untuk makan siang. Lupi mengambil kotak makan yang ia bawa dari rumah. Sekarang ia harus pandai menyisihkan uang untuk membeli perabotan dapur dan kasur untuk di kamarnya.


"Lupi..." panggil Damar dan berjalan kearah meja kerja.

__ADS_1


"Damar, mari makan." ucapnya basa-basi.


"Apa kau serius menawari aku makan?! tanyanya senang, ia mengaggap ucapan Lupita serius, Damar mengambil bangku dan duduk didepan Lupita.


"Kau mau makan masakan aku?


"Tentu saja, aku ingin coba masakan buatan mu, boleh?"


"Iy-a..." mengambil piring plastik putih yang memang sengaja ia simpan didalam laci. menuangkan nasi, sayur tumis kacang, dan Ayam rica-rica dari Tupperware.


'Ini, silakan di coba, kalau tidak enak jangan di cela ya." ujarnya seraya menaruh piring di depan Damar.


"Semoga tidak ada orang yang memata-matai ku, karena aku berbagi makan siang dengan Damar." batinnya, masih terus menyuap nasi kedalam mulutnya.


"Wah Lupi, masakan mu sungguh lezat, boleh aku nambah? pintanya tanpa sungkan.


"Kalau kau suka, ambil saja. Nasi, sayur dan Ayamnya masih banyak kok."


"Oke, makasih Lupi, kau memang baik hati, ramah pula." pujinya terkekeh.


Sebenarnya Damar bukan tidak bisa beli makanan, ia bukan saja karyawan senior yang di tarik dari cabang. Damar juga memiliki usaha rumah makan yang di kelola oleh sahabatnya, bisnis kulinernya berjalan lancar dan sukses sampai sekarang. Tapi, sejak bertemu Lupita pertama kali, hatinya sudah tertarik dan terus mencoba menarik hati Lupita.


Di ruangan kerja Harlan, ia sudah selesai makan siang buatan ibu asuhnya. Tapi Harlan seperti tidak menikmati makan siang itu. Dia seperti menahan kesal dengan sikap Della, yang sok perhatian saat makan.


"Kakak apa mau nambah? kakak tau, ikan mas bakar itu aku yang buat. Pagi-pagi aku sengaja buatkan ikan bakar itu, ku pikir kakak akan pulang, kebetulan bibi menyuruh untuk makan siang kakak di kantor. Aku teringat dulu di kampung, Kaka yang bakar ikannya aku yang membuat sambalnya." cerita Della panjang lebar.


Harlan mengambil gelas berisi air putih dan mengelaknya hingga habis.


"Sebentar lagi aku akan menghadiri meeting lanjutan. Kau telpon Pak Basir untuk mengantar mu pulang!"


"Tidak kak! aku masih betah disini, aku ingin jalan-jalan melihat kantor ini, sangat besar sekali kantor kakak."


"Ini bukan kantor ku! perusahaan milik bersama! tukas nya, seraya beranjak dari sofa dan berjalan kearah meja.


"Ahh! aku hampir melupakan istriku, sedang apa dia di ruangan nya. Harlan meoleh Arloji di tangannya "Masih ada waktu setengah jam lagi untuk melanjutkan meeting."


Ia menyalakan laptop dan mulai melihat cctv di ruangan Desain grafis. Saat layar terbuka, mata Harlan memerah, senyumannya memudar. ia mengepalkan tangannya.


"Lupi, kau tidak bisa menjaga kepercayaan ku! kenapa kau malah makan bersama Pria lain, di belakang ku!


Brakk!


kepalan tangan Harlan meninju meja di depannya.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2