
Aku dan ibumu sudah ingin mengatakan pada Alfredo dan mengakui semuanya. Ibumu ingin minta cerai dari Alfredo, namun, sebelum itu terwujud mereka berdua di tembak dengan orang yang tidak dikenal di sebuah ruangan kerja Alfredo!
Harlan sudah tidak ingin mendengar curhatan Alfonso, baginya semua seperti mimpi. Ia begitu malu pada dirinya sendiri yang terlahir dari anak haram, apalagi mendapati kenyataan kalau ia adalah anak Alfonso, pria yang ia sebut Paman. Harlan bangkit dari duduknya dan tertatih berjalan keluar dari ruangan.
Alfonso hanya menatap kepergian Harlan tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.
"Angelina, aku sudah katakan sejujurnya pada anak kita, semoga kau tenang disana! gumam Alfonso bicara pada diri sendiri.
Harlan membawa mobil dengan kecepatan tinggi, kekecewaan dalam dirinya membuatnya terluka. Setelah mengetahui tabir rahasia hidupnya.
"Tidak mungkin!! Harlan berteriak "Tidak mungkin Paman Alfonso adalah Ayah biologis ku!! jadi selama ini aku adalah anak haram!! teriak Harlan frustasi, dengan airmata berderai.
Harlan terus memukuli setir didepannya "Aku malu memiliki seorang ibu bej4t, kenapa ia tega mengkhianati suaminya sendiri!! bahkan Pria bernama Alfonso malah berselingkuh dengan kakak iparnya sendiri! sungguh menjijikkan perbuatan mereka!!!!
TIIiNNNNN!
TIiiNNNNN!
Suara klakson mobil saling bersahutan di belakang mobil Harlan, sebab Harlan melajukan mobilnya dengan kekesalan hingga membuat kegaduhan dan hampir menabrak mobil lainnya yang melintas di jalanan raya. Seperti tidak peduli dengan keadaan disekitarnya Harlan terus melajukan dengan kecepatan tinggi. Airmata mulai menetes dari pelupuk matanya, ia tidak menghiraukan nyawanya dan terus menyetir dengan sesuka hatinya.
Ciiiiiiiitttttttt!!!!!
Mobil berhenti mendadak di jalanan raya yang sepi dan gelap, hanya melintas satu-satu mobil yang lewat. Harlan membenamkan wajahnya di atas setir dengan menopang kedua tangan.
"Kenapa ini harus terjadi pada ku!!! aku benci diriku sendiri, aku bagaikan boneka hidup yang tidak berguna!!! Harlan membentur-benturkan kepalanya pada stir.
"Aku tidak berguna! bahkan aku membenci dirimu Alfonso!!! teriak Harlan, "Lebih baik aku mati saja dengan menabrakkan mobil ini ke trotoar!
Setan apa yang sudah menguasai hati Harlan, hingga ia nekad ingin membunuh dirinya sendiri, rasa kecewa dan sakit hati sudah membuatnya lupa akan dirinya sendiri. kaki Harlan sudah menginjak pedal gas dan tatapan matanya sudah tertuju pada trotoar di depannya. Nafas Harlan sudah memburu, pikirannya sangat kacau. Hatinya seakan sudah tertutup, bahkan dirinya di kuasai amarah yang menggebu. Saat ia akan melajukan mobilnya, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya.
"Mas Harlan....!!
"Mas! jangan tinggalkan aku...!!
"Lupita....!! mata Harlan kekanan dan kekiri. "Itu benar suara istriku memanggil."
"Lupita......!! Harlan mengurungkan niatnya untuk bunuh diri, ia keluar dari mobil dan mencari keberadaan Lupita.
"Lupita kau dimana.....!!!! Harlan terus berteriak-teriak.
"Ini gila! benar-benar gila!!! Ya Tuhan Lupita... Harlan berteriak seperti orang bodoh, lelah mencari, namun, yang dicari tidak ada. ia duduk dan bersandar pada mobil seraya menyugar rambutnya kasar, lalu membekap wajah dengan kedua tangannya.
"Lupita ma'afkan aku!! aku sangat merindukanmu....!!! bodohnya aku hampir saja membunuh diriku sendiri!!!
Lama terdiam, akhirnya Harlan masuk kembali kedalam mobil dan melajukan dengan pelan "Bagaimana pun caranya aku harus kembali pulang, aku harus mengambil pasport milikku pada Alfonso!" ucapnya geram.
******
Dua bulan telah berlalu, kini kandungan Lupi sudah menginjak usia dua bulan. Sejak kejadian pengeroyokan bibi dan keponakan nya, Inez membawa Lupita tinggal di kontrakan demi untuk menjaga kandung Lupi. Hanya sesekali Lupi menengok rumahnya.
Lupita tetap bekerja di perusahaan Vandeles Walau hamil muda tetap ia jalani, demi menutupi kehamilan nya yang masih muda dan perutnya yang masih terlihat datar, Lupita berencana bekerja sampai usia kandungannya enam bulan, setelahnya ia akan mengundurkan diri, karena ia tidak mau jadi gunjingan omongan orang-orang sekantornya yang tidak miliki suami.
__ADS_1
Hari ini Inez dan Lupita di tunjuk Wiliam untuk menghadiri rapat, untuk Presentasi didepan para cliant, dengan menunjukkan rancangan desain interior yang akan di beli oleh Cliant dari desain-desain milik perusahaan Vandeles.
"Lupi apa kau sudah siap? setengah jam lagi kita akan menghadiri meeting, jangan lupa desain perumahan yang kau buat harus berkualitas bahan-bahan bangunan nya, namun dengan harga yang terjangkau."
"Kau sendiri bagaimana, Nez? apa desain apartemen mu sudah selesai? ku kira membuat bahan dasar bangunan untuk apartemen harus lebih berkualitas, apalagi membuat apartemen lebih sulit dar perumahan."
"Itu sudah aku pikirkan semuanya, jadi saat mengadakan presentasi nanti, aku sudah siapkan materinya.
"Huek... huek! tiba-tiba Lupita mulai mual lagi, dengan cepat ia membekap mulutnya agar karyawan yang lain tidak curiga. Tanpa banyak bicara lagi buru-buru Lupita meninggalkan ruangan nya menuju toilet.
Didalam toilet ia memuntahkan semua isi perutnya.
KREKK!
"Lupi kau tidak apa-apa? tanya Inez khawatir yang sudah berada didalam kamar mandi.
"Inez, rasanya aku tidak bisa ikut meeting, bagaimana aku akan presentasi bila aku muntah-muntah terus, aku tidak ingin malu di depan cliant."
"Ya sudah nanti aku akan bicara pada asisten Wiliam, biar ada yang menggantikan mu untuk presentasi."
"Tapi jangan bilang aku sedang hamil, tolong kau rahasiakan dari asisten Wiliam, aku tidak ingin dia tahu keadaan ku sekarang. kau cari alasan saja aku sedang tak enak badan."
"Ya sudah biar itu jadi urusanku.! ayo kita keruangan lagi."
Inez sudah meninggalkan ruangan menuju ruangan meeting yang berada di lantai 15. Sebelum memasuki ruangan seseorang menarik tangannya.
"Tu-an Wiliam...? ucapnya gugup seraya membetulkan kacamata minusnya.
"Kenapa kamu datang sendiri? dimana Nona Lupita?"
"Maksud ku Lupita!"
Menatap wajah tampan Wiliam didepannya membuat Inez tidak fokus "Lupita sedang hamil, makanya ia tidak bisa presentasi." ucap Inez tanpa beban.
"Apa!! Lupita hamil?" mata Wiliam terbelalak sempurna.
"Ups!! Inez keceplosan ia menutup bibirnya.
"Astaga ini bibir kenapa pake keceplosan sih! bagaimana bila tuan Wiliam curiga, padahal aku sudah di amanatin Lupita. ahh! bodohnya aku! Inez merutuki dalam hati.
"Bu-kan, maksud ku sedang tidak enak badan." ucap Inez dusta, terlihat wajahnya gugup
"Tuan Wiliam apa meeting nya bisa kita mulai? tanya salah satu Cliant yang sudah hadir.
"Bisa! mari tuan kita mulai sekarang!" Wiliam berjalan masuk mendahuluinya Inez.
Meeting sudah mulai, namun, Wiliam terlihat gelisah dan gusar, ia seperti tidak fokus setelah mendengar Lupita sedang hamil dari Inez. "Aku harus beritahu tuan Goergie kalau Lupita sedang mengandung anaknya." batinnya.
****
Jam sudah menunjukan pukul setengah lima, namun Inez belum juga selesai meeting, Lupita mulai mengetik pesan pada Inez.
__ADS_1
]"Apa Meeting masih lama..?[
["Sepertinya jam tujuh baru selesai, meeting berjalan alot, karena Tuan Georgie tidak ada hampir dua bulanan dan aku baru tahu saat pembahasan disini] β
["Kok aneh ya, pemilik perusahaan nya tidak datang di acara yang penting."]
["Entahlah, dan semua keputusan ada di tangan asisten Wiliam, namun Cliant tidak mau dengan asistennya, mereka ingin Tuan Georgie sendiri yang handel"]β
["Ohh..! Ya sudah kalau kau masih lama, aku ingin pulang kerumah ku dulu, ambil pakaian. nanti aku kembali ke kontrakan mu."]
["Apa kau tidak mau tunggu aku selesai meeting dulu? aku sangat khawatir kau kesana sendiri?]β
["Tidak apa-apa, aku hanya sebentar kok!]
["Ya sudah nanti aku jemput mu disana. Hati-hati di jalan ya."]β
["Oke Inez, thanks ya.."]
Selesai menulis pesan sama Inez, Lupita berjalan keluar meninggalkan ruangan, seperti biasa ia naik mobil angkot.
Mobil berjalan kearah tujuan seperti biasanya, dalam mobil angkot ada tujuh orang yang naik, delapan orang dengan supir. satu persatu mereka turun, namun anehnya tidak ada yang naik mobil angkot yang Lupita tumpangi. Biasanya ada yang naik dan turun. Lupita masih berfikir positif, sudah empat orang yang turun, tinggal dia bersama dua penumpang Pria dan satunya supir. Satu pria yang duduk di samping supir pindah kebelakang, tingkat mereka berdua sangat mencurigakan, membuat Lupita was-was.
"Bang kok, jalannya lurus, bukanya di pertigaan belok kiri? proses Lupita yang sudah mulai curiga.
"Lewat jalan pintas, Mba! disana nggak bisa lewat ada yang hajatan! ujar pak supir santai.
"Tapi kan itu jalanan raya, nggak mungkin di buat hajatan."
"Udahlah jangan protes terus! tiba-tiba salah satu Pria yang duduk di ujung pintu, membentak.
"Bang turunkan saja saya disini! pinta Lupita yang sudah mulai tak nyaman.
BARAK!
Tiba-tiba Pria itu menutup mobil angkot hingga tertutup rapat.
"Mau apa kalian! teriak Lupita "Turunkan aku disini!!
Tiba-tiba pria yang duduk di sebrang Lupita mendekat dan mengeluarkan pisau "Diam jangan berisik, atau aku tusuk perutmu! ancamannya seraya menodongkan pisau ke perut Lupita.
Lupita terkejut dan tak berani berkutik, spontan ia menutup perutnya dengan tas besarnya dan jantungnya berdebar sangat cepat.
πππ
@Bab ini lebih panjang, Yuk ikuti terus kelanjutannya, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
πLike
πVote
πGift
__ADS_1
πKomen
@Bersambung........ππ