
"Iya Nak! Mak sudah lega sekarang. Mak mau siapkan makan malam buat kalian. Sekarang kau mandi dulu, nanti ajak istrimu turun."
Harlan tersenyum terbit "Terima kasih Mak, aku sangat menyayangi Mak" menciumi kedua tangan ibu asuhnya lagi. Harlan mengerti ibu asuhnya terbakar cemburu karena kedatangan wanita baru dalam hidupnya.
Semoga Mak dan Lupita bisa akur, aku ingin mereka berdua akrab dan Mak bisa menjadi ibu pengganti buat Lupita." batinnya
Harlan kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya.
JGLEK
Tatapan matanya mengarah pada wanita yang tertidur lelap diatas ranjang. senyuman terbit menghiasi bibirnya. Harlan melepas jas dan kemeja, siang itu ia merasa sangat panas padahal Ac masih menyala. Merebahkan tubuh polosnya yang bertelanjang dada, Harlan memiringkan tidurnya dengan tangan memeluk perut istrinya.
Dua jam telah berlalu. Lupita menggeliat, ia terkejut melihat tangan kekar memeluknya dari belakang. Dengan perlahan Lupi mengangkat tangan kekar itu dan menggeser tubuhnya menjauh dengan perlahan.
"Maafkan aku Mas, aku merasa kau bukanlah suamiku Harlan, bahkan untuk deket dengan dirimu terasa asing." gumam Lupita pelan, ada perasaan bersalah pada ucapannya, Namun, hatinya menolak kuat untuk bisa sedekat dulu lagi. Lupita beranjak dari ranjang dan ia mencari tas pakaian yang di bawa dari rumah sakit. Setelah ia mengambil pakaian dari dalam tas, lalu berjalan kearah kamar mandi.
Suara deru mobil berhenti di depan teras. Della membuka pintu mobil dan melangkahkan kakinya masuk kedalam mansion. Ia berjalan ke kamar Mak Isah. Seperti biasanya Della akan menemui bibinya sehabis pulang kerja.
JGLEG
Bii.....
Menyoroti seluruh ruangan kamar "kemana Bibi isah? kenapa tidak ada dikamar nya, apa didalam kamar mandi ya?" Della masuk kedalam dan mengetuk pintu kamar mandi
"Tok, tok, tok.. Bii, apa bibi ada di dalam?" Della terdiam sejenak "Sepertinya tidak ada gemericik air di dalam."
Krekk!
"Benar Bibi tidak ada disini. Heum... aku akan cari kedapur." Della berjalan keluar kamar menuju dapur. Benar saja ia melihat Bibinya sedang mengarahkan masakan pada Asisten rumah tangga.
"Bibi..." panggil Della berjalan mendekat.
"Della, kau sudah pulang?"
"Tumben bibi masak segini banyak?"
"Kau tahu? Harlan sudah kembali bersama istrinya."
"Ohya?! mata Della terbelalak sempurna "Ja-jadi mereka sudah berada dirumah ini? begini kah cara menyambut Bibi pada kak Harlan dan istrinya pulang?!'
"Apa maksudmu? tanya Mak Isa, dengan lipatan-lipatan kerutan di keningnya.
"Bukankah Bibi tidak pernah setuju, kak Harlan menikah yang bukan pilihan Bibi?"
Mak isah mendesah pelan "Tidak ada salahnya membuat anak ku bahagia, kau pasti kaget siapa wanita yang Harlan jadikan istri."
"Siapa dia Bii? Della di buat penasaran oleh sosok istri Harlan yang rupanya sudah pernah bibinya kenal.
"Wanita yang berada di Cafe? kau ingat tidak, waktu kita menunggu Harlan di cafe. Tas bibi terjatuh kelantai, lalu ada seorang wanita yang mengambil tas itu dan memberikannya pada Bibi."
Della mulai mengingat "Iya Bii, aku ingat ada seorang wanita yang mengambil tas Bibi yang terjatuh, tapi aku tidak perhatikan wajahnya."
"Ya sudah sekarang bantu Bibi persiapan hidangan ini, kita akan makan malam selesai magrib."
__ADS_1
"Jadi Bibi sudah menerima wanita itu menjadi istri kak Harlan?" Della mencabik kesal dengan bibir mengerucut.
"Della, kita lihat perkembangannya. Apakah dia layak dan pantas menjadi istri seorang CEO Goergie atau tidak?" ucap Mak Isah ambigu
"Seandainya tidak layak, bagaimana?" Della masih terus mencecar pertanyaan bibinya.
"Sepertinya gadis itu anak baik dan penurut, tapi tidak tahu juga kedepannya." melihat wajah keponakannya cemberut, Mak isah mendinginkan suasana hatinya. 'Ya sudah sana kamu mandi dulu, nanti kita makan bareng, masalah Harlan kita lihat saja nanti ya." mengusap punggung Della. Dengan perasaan kesal Della berjalan kearah kamarnya.
BRAK!
"Aarrhg!' Sial! kenapa Bibi malah berpihak pada wanita itu dan merestui hubungan kak Harlan. Aku harus cari cara untuk memisahkannya."
***
Didalam kamar, Lupita sudah selesai dengan aktivitasnya, ia sudah mengenakan pakaian rumahan. Mendudukkan tubuhnya di kursi dengan tangan mengelap rambut basahnya. Tanpa ia sadari sebuah tangan kekar mengambil handuk kecil dari tangannya dan membantu mengeringkan rambut lupita.
"Mas! Lupita terkejut "Kau sudah bangun?' tanyanya dengan mata mendelik
"Bagaimana tidurmu nyenyak?" mencium pipi istrinya "Kenapa kaget? Kau seperti melihat hantu?"
"Entahlah Mas, aku suka kagetan bila melihat ada pria di dekatku, trauma itu masih ada tidak bisa lupa begitu saja."
"Tapi aku inikan suamimu, kau harus bisa bedakan donk." Lupita menarik nafas dalam dan dihembuskan perlahan "Sabar ya sayang, kau pasti bisa sembuh dari trauma."
"Sudah lebih baik Mas mandi dulu, ini sudah mau magrib."
"Oke nanti kita kebawah, makan malam bersama Mak dan juga Della keponakan ibu asuhku." Harlan mencium pipi dan tengkuk istinya karena posisinya berada di belakang Lupita. Setelah mengambil handuk bersih dari lemari Harlan masuk kedalam kamar mandi. Dua puluh menit kemudian Harlan selesai dengan aktivitasnya.
"Sayang, kita akan makan malam bersama keluarga ku, kau bisa ganti dengan pakaian ini." Harlan menggeser daun pintu lemari. Lupita yang duduk manis di sofa seraya mengetik chatting diatas ponsel, mengangkat wajahnya kearah lemari. Seketika matanya dikejutkan dengan banyak pakaian mahal dan Indah yang menggantung.
Menarik satu baju dress dari dalam lemari dan Harlan berjalan mendekat "Tentu saja ini pakaian mu sayang, Will yang memesannya dari butik ternama dan branded."
"Pakai ini kau pasti terlihat cantik malam ini, aku ingin melihat istriku cantik." Harlan tersenyum puas.
Lupita menatap lekat wajah suaminya, Harlan mengangkat satu alisnya agar Lupi menuruti permintaannya. Lupita menerima dress merah maroon itu dari tangan suaminya dan berjalan ke toilet.
"Mau kemana?" tanya Harlan, Lupita pergi begitu saja melewati dirinya.
"Ganti baju kan?" menoleh pada Harlan dengan alis mengkerut.
"Ck. kenapa meski di kamar mandi, kau bisa ganti disini. Aku sudah melihat tubuh polos mu sayang." Harlan tergelak
"Tidak Mas, untuk sekarang aku tidak bisa sembarang buka baju di depanmu, dan aku ingin menjaga jarak dulu denganmu, karena kau adalah tuan Vandeles, bukan suamiku yang aku kenal dulu." gumamnya dalam hati.
"kenapa diam? apa perlu Mas bantu gantikan pakaian?"
"Tidak usah, aku sekalian pipis." dengan cepat Lupita masuk kedalam toilet dan mengunci pintu kamar mandi.
"Aneh, Kenapa istriku bertingkat seolah-olah kita belum pernah berhubungan." Ck! apa sebenarnya ia belum sembuh 100%, bukankah hanya menghilangkan traumatis nya saja." menghela nafas kasar "Sudahlah aku harus bersabar."
JEGLEK
Harlan menatap wajah cantik istrinya saat pintu toilet terbuka, tubuhnya berbalut dress merah selutut, terlihat lekuk tubuhnya yang berbentuk. Lupita belum pernah memakai gaun mahal apalagi pas di kulitnya yang putih bersih. Ia berjalan ke meja rias, memakai bedak padat sedikit dan lipstik pink, alis tebalnya ia sapu dan rapikan sedikit, memakai maskara di bulu lentiknya.
__ADS_1
Senyuman merekah di bibir Harlan, ia melihat penampilan istrinya sangat berbeda dari biasanya. Suara ketukan pintu membuyarkan tatapan Harlan dari istrinya.
"Sayang, ayo kita turun." Harlan menarik tangan isterinya dan merangkul pinggang rampingnya.
JEGLK
"Kak! suara Della tercekat saat melihat sepasang suami istri di depan pintu. Ia memandang wajah dan penampilan Lupita dari atas sampai bawah.
"Cantik! lirihnya dalam hati
"Kami akan turun kebawah! ucap Harlan dingin. Harlan dan Lupita jalan begitu saja melewati Della yang menatap kesal. Harlan masih merangkul istrinya dan menuruni anak tangga.
Saat Della ingin menuruni anak tangga ia melihat seorang suster berjalan kearahnya.
"Ini kesempatan aku mengorek keterangan dari suster itu, apa yang sudah terjadi pada istri kak Harlan sampai ia harus di jaga oleh suster."
Suster Santi terus berjalan kearah tangga untuk turun kebawah. saat melewati Della yang berdiri dengan menyilang kan tangan didada, Suster Santi menganggukkan kepala.
"Permisi!
"Suster sebentar! menarik tangan suster Santi. "Aku ingin bicara!"
"Bicara apa Mba?"
"Begini, aku hanya ingin mengetahui kondisi kakak ipar ku, kenapa suster masih merawatnya, bukankah ia sudah sembuh."
"Fisiknya memang sudah sembuh, Namun, traumanya belum bisa hilang dan masih masa pemulihan." ucap suster Santi terus terang.
"Trauma karena apa?"
"Nona Lupita akan ketakutan dan histeris bila ada laki-laki yang mendekati apalagi secara berkelompok yy tidak ia kenal, kadang ia suka berhalusinasi."
"Jadi kakak ipar ku belum sembuh total?"
"Bisa dikatakan begitu, makanya kenapa Tuan Georgie membawa perawat dan dokter ke mari. Dokter akan datang dua hari sekali untuk pemeriksaan."
"Ya sudah kau turun saja! terimakasih infonya!"
Suster Santi mengangguk dan berjalan menuruni anak tangga.
Tersinggung senyuman licik di bibir Della "Kini aku tahu kelemahan wanita itu! siapa suruh kau mendekati kekasihku! Della mencabik dan berjalan ke bawah untuk ikut bergabung makan malam bersama Harlan dan Lupita.
πππ
@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
πLike
πVote
πGift
πKomen
__ADS_1
@Bersambung........ππ
.