Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Shopping


__ADS_3

"Tidak Luvi, aku tidak ingin bertemu dengan Wiliam lagi. Aku berencana akan membangun usaha kuliner bersama Damar, tentunya dengan desain buatan ku sendiri."


"Apa kau yakin? kau harus pikirkan lagi, kembali lah ke perusahaan Vandeles, bila kau ingin menyadarkan Wiliam."


Inez terdiam, sebenarnya ingin sekali ia balas dendam pada Wiliam, bukan untuk menjatuhkannya, namun, agar Wiliam sadar kalau dia salah telah menyakiti dan menghinanya.


"Biar aku pikirkan lagi Vit, tidak enak sama Damar aku sudah berjanji mau buka usaha. Ya sudah ayo kita berangkat, sekalian makan di Cafe dan shopping di Mall, kita cuci mata biar nggak stres."


"Okeh! Ayok kita berangkat sekarang."


Inez memesan taksi online, Lima menit kemudian mobil sudah berhenti di depan gapura. Mereka berdua masuk kedalam mobil menuju sebuah klinik kecantikan.


"Hey Lin!" sapa Inez setelah asisten Dokter mempersilahkan Inez dan Luvi masuk kedalam ruangan.


"Silakan duduk." ujar Dokter cantik itu pada Inez dan Luvi seraya berjabat tangan.


"Lin, ini sahabat ku Luvi, dia butuh perawatan wajah dan body. Sudah seharusnya istri CEO itu haruslah cantik biar para Pelakor menyingkir!" Inez terkekeh.


"Sebenarnya Mba Luvi itu, dasarnya sudah cantik alami, paling hanya di poles dikit-dikit. seperti totok wajah untuk membuka aura dan mengencang kan wajah, ada juga Scarlett face serum untuk mencerahkan, mengangkat sel kulit mati biar wajah tambah kinclong dan glowing. Boleh di tambah suntik vitamin untuk kulit wajah dan kulit body, agar lebih sehat dan bercahaya, tidak kusam. Sebenarnya masih banyak lagi perawatan wanita di klinik saya, tinggal di pilih mau nya apa?."


"Bagaimana Luvi? kau mau perawatan apa? kau belum pernah coba kan? memanjakan tubuhmu di klinik atau salon kecantikan."


"Belum pernah sekalipun."


"Disini lengkap semua, bahkan ada Spa badan atau body spa merupakan perawatan yang ditujukan untuk kesehatan kulit dan alternatif relaksasi tubuh. Perawatan dengan body spa dilakukan dengan teknik pijatan dan eksfoliasi kulit menggunakan produk kecantikan kulit atau bahan-bahan alami untuk menjadikan kulit bersih, halus, dan segar." terang Dokter Linda, untuk meyakinkan cliant nya, ia menambahkan kalau kliniknya sudah terdaftar di BPOM kesehatan.


"Baiklah, aku ambil paket totok wajah dan Scarlett fase serum, juga perawatan body keseluruhan."


"Oke, ini memakan waktu tiga atau empat jam. karena saya sudah lebih dulu janjian dengan Inez, jadi pasien yang lain saya tunda."


"Wah terima kasih banyak Lin, kau memang yang terbaik." Inez tersenyum


"Aku langsung yang akan menangani Mba Luvi, kau ingin perawatan body juga kan Nez? biar asisten ku yang pegang kau ya."


"Okeh siap!"




Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Harlan menoleh pada Arloji ditangannya. Dan menutup meeting para Direktur.



"Baiklah, rapat berikutnya kita lanjutkan besok jam sepuluh pagi. Semoga semua berjalan lancar. Sangat di sayangkan ada dua investor yang mengundurkan diri karena program yang sudah kita buat harus di mundurkan.



"Jadi Desain Apartemen yang akan di bangun di tengah kota, masih belum jelas?" tanya pak Alex Direktur pemasaran.



"Huft! Harlan mendesah kasar "Masalah nya sampai sekarang Nona Inez tidak tahu keberadaan nya, ia sudah mengundurkan diri secara lisan. Namun, itu tidaklah berlaku kalau dia belum menyerahkan surat pengunduran diri. Tapi saya berharap agar Nona Inez masih mau kembali bekerja lagi ke perusahaan ini."



"Tuan Georgie, Tuan bisa saja menuntut Nona Inez, karena telah merugikan Perusahaan dengan mengabaikan desain yang belum rampung dia buat." ujar kepala Direktur Anton



"Benar itu Tuan Georgie, Kita harus berbuat tegas dan bertindak!" sambar kepala Direktur keuangan.



"Tunggu! mohon maaf tuan, jangan asal gampang berbicara, apalagi menuntut Nona Inez, kita belum bisa memutuskan tanpa pertimbangan matang!" Wiliam terlihat marah dan membela Inez, karena ia yakin inez pasti akan kembali lagi ke perusahaan Vandeles.



"Sudah.. Sudah! tidak perlu berdebat lagi, kita lanjutkan saja meeting besok." Harlan berbicara tegas seraya beranjak dari duduknya dan keluar ruangan.



Mereka berdua berjalan masuk kedalam lift, setelah pintu terbuka. Melangkah kan kakinya menuju Lobby.



Di dalam mobil Harlan terus menghubungi istrinya, namun tidak diangkat "Kenapa Luvi tidak mengangkat telponku? tumben seharian ini dia tidak telpon atau mengirim pesan." ujar Harlan gusar.



"Mungkin Nona sedang sibuk di dapur jadi tidak membawa ponsel." Wiliam ikut bicara untuk menghilangkan keraguan Tuan nya.



"Coba aku hubungi Mak, biar Luvi mengangkat telpon ku, tak sabar rasanya kalau belum mendengar suaranya."



Harlan mulai menghubungi telpon ibu asuhnya.

__ADS_1



"Hallo Land?"



"Mak, tolong bilang Luvi untuk mengangkat telpon ku."



"Luvi? sejak siang tadi, Mak tidak lihat dia turun kebawah. Kebiasaan istrimu Land, selalu berada di kamar, entahlah sibuk apa dia di dalam sana."



"Mak kan bisa ajak istriku ngobrol, lagian apa salahnya saling bertukar cerita, Luvi itu sedikit pemalu dan gak enakan orangnya."



"Ya sudah lah Land! kau selalu saja bela istrimu! nanti Mak suruh mbak Sumi menemui istrimu diatas." ucap Mak Isah kesal dan memutuskan telpon.



"Ahh! dasar orang tua, masih saja cemburu sama Luvi."



Sementara Inez dan Luvi sudah berada di sebuah Cafe, mereka sedang menikmati makanan tradisional. Rasa lapar membuat perut minta di isi setelah datang ke klinik dan ke Mall untuk belanja pakaian, tas dan hells.



"Luvi apa suamiku tidak marah, kau membayar perawatan ku juga pakaian, sepatu dan tas."



"Udah tenang ajah, Mas Harlan memaksa aku untuk memakai kartu black tanpa limit itu, ia merasa bersalah selama dulu tinggal di rumah ku dan mengaku Seorang kurir, ia memberikan aku uang untuk belanja ala kadarnya, mungkin tidak ingin ketahuan identitas nya jadi ia sok miskin di depanku." Luvi tertawa renyah bila mengingat semua itu.



"Kau memang gadis beruntung Luvi! demi mu, Tuan Georgie mau merubah jati dirinya sebagai seorang kurir, biasanya pria berduit seperti itu mencari istri yang tulus mencintainya bukan dari harta dan kedudukannya.



"Benarkan? Luvi terlihat bangga.



"Kini kau terlihat tambah cantik dan segar." puji inez, tersenyum sumringah.




Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Selesai makan Luvi dan Inez masuk kedalam taksi yang sudah ia pesan.



"Astaga Inez! pekik Luvi seraya melotot ke layar ponsel yang ia pegang.



"Ada apa Luvita..?"



"Lihat, aku lupa mengaktifkan ponsel ku, tadi aku silent. Mas Harlan misscal sudah 32x ?"



"Apa kau telpon balik saja, bilang sedang dalam perjalanan."



"Tidak... tidak! pasti dia akan murka dan berfikir macam-macam, alasan apa yang akan aku buat?" Luvi berpikir keras agar suaminya tidak marah saat ia pulang.



"Kau katakan saja bertemu dengan ku di Mall, terus kita nonton bioskop, makanya ponselnya kau silent, dan ini belanjaan ini bukti kita ke Mall."



"Heum.. ya sudah, hanya itu alasan yang tepat."



Mobil sudah berhenti di depan gerbang mansion. "Nes, kau tidak apa-apa pulang sendiri."



"Nggak apa-apa kok."

__ADS_1



"Ya sudah aku turun ya, makasih udah nemenin aku seharian." mereka cipika-cipiki, dan Luvi turun dari mobil.



"Pak buka pintu gerbang nya." perintah Luvi.



"Ya ampun Non? kemana ajah jam sepuluh baru pulang, tadi Tuan marah-marah katanya Nona tidak ada di kamar."



"Tapi Bapak tidak bilang apa-apa kan?



"Bapak takut Non kalau bohong, ya cuma bilang Non keluar mau jalan-jalan ke Mall." ujar Pak Umar satpam penjaga mansion.



"Ya sudah, Terima kasih ya pak."



Dengan cepat Luvi masuk kedalam ruangan. tangannya membawa paperbag.



Ck! Ck! Ck! dasar wanita tak tahu diri, jam segini baru pulang!"



"Deg!



Luvi yang akan menaiki anak tangga, memutar tubuhnya dan melihat Della berdiri di belakangnya dengan tangan menyilang.



"Apa urusanmu! kau jangan terlalu banyak ikut campur urusan orang! kau urus sendiri saja hidupmu!"



"Hahahaha... lihat saja, tak lama lagi kak Harlan akan melempar mu ke jalanan!"



Luvi mengangkat sudut bibirnya "Kita lihat saja, kau jangan terlalu percaya diri Della!"



Tak menghiraukan ocehan Della yang sengaja memancingnya. Luvi kembali melangkah dan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Saat di depan pintu, dadanya berdegup kencang. Luvi merapal kan do'a agar suaminya tidak marah.



"Ceklek...!"



\*


\*


\*



@Bab nya lebih panjang, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:



💜Like



💜Vote



💜Gift



💜Komen


__ADS_1


@Bersambung........


__ADS_2