Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Kejujuran Membuat Luka


__ADS_3

Harlan hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, dan di hembuskan kasar. "Nantilah Mak, akan Harlan pikirkan. Sekarang aku mau mandi dulu." Harlan beranjak dari duduknya dan berjalan kearah tangga.


"Land, hari ini kau tidak usah kemana-mana, ada yang mau Mak sampaikan."


Harlan hanya mengangguk pelan dan berjalan menaiki anak tangga.


Merebahkan tubuhnya di ranjang sejenak, karena lelah setelah mengadakan meeting seharian yang menguras otaknya, ditambah persoalan kecemburuannya dengan Damar. Harlan tidak bisa melawan kantuknya. Akhirnya ia tertidur dengan dengkuran halus.


Sejam menunggu di ruangan tamu, Mak isah tampak gelisah. "Kenapa Harlan tidak turun-turun? apa mandi saja selama ini?!


"Bii, biar Della saja yang panggil kak Harlan.'


"Ya sudah, suruh cepat turun. Selagi masih berada di rumah."


"Iya bii, tapi kalau Kak Harlan mau pergi lagi gimana donk bii.."


"Entahlah bibi juga bingung dengan sikapnya. Harlan akhir-akhir ini banyak berubah, kalau pergi malam tidak pulang, bagaimana caranya agar ia tidak keluyuran malam lagi."


"Atau jangan-jangan kak Harlan sudah memiliki kekasih, bii..?!


"Benarkah? Mak Isah terkejut.


"Itu hanya dugaan ku saja."


Terlihat wajah Mak isah memerah menahan kecewa, raut wajah tuanya terlihat memendam kesedihan.


"Ya sudah bii, aku keatas dulu."


Della berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Harlan yang berada di lantai dua. Suana diatas tampak sepi tak terdengar aktifitas dari kamar Harlan. Della menajamkan pendengarannya yang ia taruh di daun pintu.


Tok, tok, tok...


"Kak! di panggil Bibi..." tidak ada jawaban juga. "Apa mungkin Kak Harlan masih mandi?' coba aku buka pintunya saja."


Tangan Della sudah memegang handle pintu, Saat ingin membukanya, terdengar suara Wiliam di belakang punggungnya.


"Apa yang sedang anda lakukan?!


"Deg! Astaga, kau bikin aku kaget saja!" Della mengelus dadanya.


"Mau apa membuka pintu kamar tuan Goergie." tanyanya dingin.


"Bibi yang menyuruh ku memanggilnya, sudah lama menunggu belum turun juga."


"Tuan sedang tidur, tadi aku sudah mengecek nya kedalam. Bilang sama ibu Asuh, biarkan tuan istirahat dulu, seharian ia mengadakan meeting."

__ADS_1


Della mendengus kesel "Tidak bisa di bangunkan apa? Bibi ada perlu dengan kak Harlan, kau jangan mengabaikan perintah ibu Asuhnya, dia yang sudah mengurus kak Harlan sejak kecil."


William mengeryitkan keningnya dan menatap tajam wajah Della "Apa kau tahu tugas seorang CEO?! Tuan bekerja keras tanpa kenal lelah dan istirahat, bila ia sedang tidur. Tolong jangan kau ganggu! apa kau lupa bila melihat bagaimana marahnya tuan Goergie?!


Della mengingat semua kemarahan Harlan saat di kantor tadi, ia hanya menghela nafas dalam dan berjalan pergi meninggalkan Wiliam.


******


Sementara di rumah, Lupita sudah selesai mandi setelah menghabiskan makanan yang ia bawa ke kantor tai pagi. Setelah ia hangatkan dan memakannya, karena mubazir bila di buang. begitu pikirnya. Mencuci piring bekas dia makan dan masuk kedalam kamar.


Mengambil ponsel diatas nakas dan mengecek kembali, ternyata Harlan belum membaca pesannya. "Ada apa dengan Mas Harlan? Lupi mendesah pelan. "Ponselnya masih belum aktif, kemana dia hari ini pergi? kenapa belum juga pulang." gumam nya lirih.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi matanya belum mengantuk, ia menyalakan Tv sambil menunggu suami nya pulang. Detik demi detik, menit berganti menit, hingga jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi tidak juga tampak Harlan pulang. Rasa kantuk mulai menyerang, ia mematikan tv dan naik keatas ranjang.


Harlan terbagun tiba-tiba. matanya menoleh jam yang menggantung "Hah! sudah jam setengah dua belas? ia mendudukkan tubuhnya seraya mengucek matanya yang masih berbayang.


"Ya Tuhan, aku tertidur sangat pulas." ia beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Selesai bersih-bersih dan gosok Gigi, ia mengenakan kimono. Matanya tertuju pada ponsel diatas ranjang.


"Astaga aku melupakan istriku di rumah? Harlan mulai mengaktifkan ponsel yang sejak tadi ia non aktifkan. Ada banyak notifikasi masuk, ia membuka pesan dari istrinya.


["Mas, maksud nya apa ya, kirim pesan ini? kesalahan apa yang sudah aku buat?!] jam 12.45 wib.


["Mas, jam berapa pulang? aku mau masak untukmu."] jam 8.00 wib


["Mas, lagi berada dimana? ko ponselnya tidak aktif dari siang] jam 8.30 wib.


["Apa Mas malam ini tidak pulang?! baiklah aku tidak akan bertanya lagi, selamat malam!"] 10.20 wib.


"Astaga Lupi, ma'afkan aku. Sial aku lupa mengaktifkan ponsel setelah meeting."


Saat Harlan ingin membalasnya, terdengar suara benda jatuh dari lantai bawah. Harlan terkejut dan berlari ke lantai bawah.


"Ada apa?! tanya Harlan, ia melihat Della sedang memunguti pecahan Gucci yang terjatuh di lantai.


"Aaaawwww..."


Tangan Della terkena pecahan Gucci hingga mengeluarkan banyak darah.


"Della? tangan mu terluka. kau ini selalu ceroboh dan tidak pernah hati-hati!" Harlan mengambil tissue diatas meja dan mengusap darahnya. Menarik tangan Della menuju dapur,


Menyalakan kran air, menarik tangannya di air yang mengucur, supaya darahnya berhenti. Setelah tidak banyak darah yang keluar mereka menuju ke sofa. Harlan mengambil P3K untuk mengobati luka Della.


"Ada apa ini? Mak Isah keluar dari kamar dan berjalan mendekat.


"Della, kenapa dengan tangan mu? Gucci itu, kenapa bisa pecah."

__ADS_1


"Bi, ma'afkan Della, tadi kepala Della pusing, mau mencari obat di kotak obat, tak sengaja kaki Delena menyenggolnya Gucci itu." ucapnya dengan mata berkaca-kaca, seraya meringis perih saat Harlan melilitkan perban ditangannya yang terluka.


"Land, kalau lukanya parah, segera bawa Della ke rumah sakit, Emak tidak mau tangan Della infeksi."


"Tidak terlalu parah Mak, Ini hanya luka goresan saja masih bisa diobati dengan salep."


"Sudah tidak apa-apa, kau istirahat saja Del, ambil obat dan minum dulu baru tidur. Pecahan Gucci biar nanti Emak minta tolong pak Basir yang bersihkan."


"Ya sudah Bii, Della tidur dulu. Makasih ya kak, udah bantu ngobatin."


Harlan mengangguk pelan.


Pak Basir yang kebetulan masih ngobrol dengan satpam, membantu bersihkan pecahan keramik Gucci.


"Land, Mak mau bicara. Sejak tadi Mak ingin bicara dengan mu, tapi kau sedang tidur."


"Iya Mak, aku kecapekan dan lupa kalau ada janji dengan Mak, apa yang mau Mak bicarakan."


Mak Isah duduk di samping Harlan dan mulai berbicara Setelah menarik nafas dalam-dalam.


"Begini land, usia mu sudah hampir kepala tiga. Mak sudah makin tua, Mak ingin secepatnya kau menikah dan memberikan Mak cucu."


Helaan nafas panjang lolos begitu saja dari bibir Harlan. "Itu semua sudah Harlan pikirkan Mak, Emak sudah seperti ibu kandung bagiku." menyentuh tangan Ibu Asuhnya yang mulai keriput "Harlan sudah mendapatkan calon istri yang baik, berkat do'a Mak, Land sudah menemukannya."


"Apa?! wajah Mak isah terlihat muram dan pucat, mulutnya menganga menatap tak percaya.


"Ada apa Mak?! apa aku salah mengatakan nya?


"Sejak kapan kau memiliki seorang wanita?! jantung Mak isah berdenyut perih. tiba-tiba airmata menetes begitu saja.


"Sudah cukup lama aku mengenalnya, Mak. Setelah Harlan perkenalkan dengan Emak, aku akan menikahi resmi."


Tiba-tiba tubuh Mak Isah bergetar, jantungnya berdebar cepat. Ia memegangi dadanya yang mulai sesak dan nyeri.


"Mak, ada apa? Harlan begitu syok dan kaget. ia tak menyangka kejujuran nya membuat Mak Isah syok.


"Mak! bangun...." Ya Tuhan Mak!


"Will......!" teriak Harlan.


❣️


❣️


❣️

__ADS_1


@BERSAMBUNG.....


@Bila di paragraf pertama ada pengulangan cerita, tolong di skip saja bila tidak suka! Yang terpenting alurnya tidak mempengaruhi jalan ceritanya.💃💃💃


__ADS_2