
Mereka mengurai pelukannya "Oiya, apa yang membuatmu berfikir untuk bekerja kembali, padahal kau sudah jadi Nyonya Vandeles, apa suami mu setuju?"
"Awalnya tidak setuju, tapi pada akhirnya dia mau menerima usul ku. Dan tujuan ku hanya satu Mengusir Pelakor dari hidup suamiku!" Lupi mengepalkan tangannya.
"What? suamimu di dekati Pelakor?"
"Iya! aku baru tahu hari ini, kalau tadi setelah kita ngobrol di kantin, aku datang ke kantor Mas Harlan tanpa memberitahu dulu, karena aku ingin buat suprise dengan kedatangan ku tiba-tiba. Tapi saat aku mau masuk pintu sudah terbuka sedikit, aku lebarkan pintu dan melihat seorang wanita cantik memeluk suamiku dari belakang."
"Ap-apa...? mata Inez membulat. Benarkah? siapa wanita itu? dan kau apakan wanita itu setelah melihat suami mu di dekap? kok bisa tuan Goergie selingkuh! banyak pertanyaan beruntun yang membuat inez penasaran.
"Huft! satu-satu donk kalau tanya? semua kamu borong begitu." gerutu Lupita.
"Ini orang ditanya, kok nggak terlihat panik begitu? Ohh-iya pantesan ajah tenang kan habis wik wik wik..." Inez terkekeh geli.
"Siapa sih yang nggak marah lihat suami di peluk wanita yang bukan muhrimnya. Aku sudah sters dan sakit hati duluan, makanya aku pergi sebelum masuk ruangan Mas Harlan, di lift aku bertemu Wiliam dan dia menyuruh aku kembali keruangan Mas Harlan untuk mendapat pembuktian."
"Terus.. terus..." Inez seperti tak sabar mendengarkan cerita sahabatnya.
"Wanita itu di bawa pergi sama Wiliam, awalnya menolak keras. Ternyata Mas Harlan bersikap tegas pada wanita itu."
"Tunggu! jadi wanita yang di gosip kan semua karyawan, wanita tadi?"
"Maksud mu..?"
"Tadi aku dapat info dari teman satu tim ku, dia perlihatkan foto Wiliam sedang di cium dan tangannya di rangkul seorang wanita."
"Wahh hebat! gosip di kantor udah kaya api langsung nyambar kemana-mana. Padahal mereka belum tahu kebenarannya."
"Tapi Lup, foto itu kan bukan rekayasa, kok bisa wanita itu mencium pipi Wiliam." ucap Inez lemah seperti tak bersemangat.
"Kau tahu wanita itu siapa? tadi pun aku bertanya pada Mas Harlan, dia bilang wanita itu pernah dijodohkan olehnya karena Ayah Margaret bersahabat dengan paman Mas Harlan. Awalnya aku sempat cemburu dan marah, tapi mas Harlan terus meyakinkan aku kalau wanita itu bukan siapa-siapa."
"Kalau begitu akuku harus minta penjelasan pada Wiliam."
"Iya kau harus minta penjelasan padanya dan wanita itu akan tinggal disini untuk membuat anak cabang perusahaan. kita berdua harus menjaga pasangan kita masing-masing. wanita bule bernama Margaret itu sangat cantik, seksi dan menggoda, kita tidak tahu kalau mas Harlan dan William selalu di dekat Margaret setiap hari, apa tidak akan tergoda?
"Kau benar Lup, kita harus sedia payung sebelum hujan. Berarti kita harus waspada dan buat wanita itu jera.."
Lupita manggut-manggut. "Aku akan setiap hari ada di sini, selain bekerja kembali dan terus mengawasi wanita itu."
Lupita tersenyum licik "Kita punya rencana."
"Apa itu..?
Lupita berbisik di telinga Inez.
"Hah?! kau yakin akan melakukan hal itu?"
Lupita mengangguk yakin "Kita lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan. Aku istri sah seorang Goergie Vandeles tidak mau mengalah dengan wanita Pelakor itu. Berani peluk-peluk suami orang."
__ADS_1
"Bagus Lupi aku setuju dengan aksi mu itu. Semoga wanita itu tidak berbuat ulah, atau kau yang akan bertindak."
"CEKLEK!!
"Hey kalian berdua! ngapain masuk ruangan presdir Goergie! bentak Alexa yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan.
"PERGI DARI RUANGAN INI!! bentak Alexa melototi Lupita dan Inez.
"Lup apa sekertaris suami mu tidak tahu kalau kau istri Tuan Georgie." bisik Inez
"Aku sudah buat kesepakatan, tidak ada yang boleh tahu dulu pernikahan ku dengan Mas Harlan."
"Hey! kenapa kalian malah bisik-bisik. Apa kalian tuli ya?" teriak Alexa dengan jumawa nya.
Lupita berdiri dan berjalan mendekati Alexa. "Kau masih ingin bekerja disini kan? lebih baik jaga sikap sopan santun mu sebagai seorang sekretaris. Tuan Goergie sendiri yang meminta aku untuk tetap disini."
"Tidak mungkin, memang nya kau siapa? Alexa menatap Lupita dari atas sampai bawah. "Kau itu kan mantan karyawan Tuan Georgie. kau di pecat Karena banyak masalah, bukan?"
Lupita tergelak "Jangan sok tahu kalau nggak tahu! cibir Lupita "Mudah bagiku untuk memecat mu Nona Alexa!"
"Sombong sekali kamu ya..!!" Alexa melototi Lupita yang masih berdiri seraya tertawa kecil.
"Lebih baik kau pergilah, sebelum aku adukan kau pada Tuan Goergie." ucap Lupita enteng.
"Kau mengancam aku! sekertaris andalan di perusahaan Vandeles! akan aku adukan kelakuan mu itu pada tuan Georgie!"
Tak ingin berdebat lagi, Lupita menutup rapat Pintu itu, dan membuat Alexa terkejut.
"Lupi aku pergi keruangan ku dulu ya. Masih banyak pekerjaan di bawah."
"Okeh Nez, besok aku datang kesini dan melihat ruangan kerja untuk kita berdua."
"Ya sudah, besok kita sambung lagi." Inez melangkah pergi meninggalkan ruangan, untungnya Alexa tidak ada di tempatnya, jadi ia tidak perlu menguras emosi untuk berdebat dengan sekertaris seksi itu.
*
*
Usai mengerjakan tugas Inez bersiap untuk pulang. Terdengar suara ponselnya berdering. ia menerima panggilan tanpa melihat nama si penelpon.
"Hallo Nez..aku sudah di depan kantor mu."
"Hey tunggu.. tunggu.. ini siapa?"
"Aku Rangga, bukankah aku pernah bilang ingin mengajak mu bertemu dengan Ayahku?"
"Ahh, kau Rangga? Lupita mendesah pelan. "Tapi aku...."
"Plis Inez? Ayahku terus menanyakan mu? apa kau tidak kasihan sedikitpun? temuin lah walau hanya sebentar."
__ADS_1
Inez mengigit bibir bawahnya, ia bingung harus bersikap bagaimana. Disisi lain ia sudah dekat dengan keluarga Rangga karena dulu sempat ingin bertunangan. Namun ia juga harus bilang pada Wiliam yang sudah mengikatnya walau belum secara resmi. Mengingat kembali foto Wiliam bersama wanita itu membuat Inez kesal dan mengambil keputusan sendiri.
"Baiklah aku akan datang kerumah sakit, tapi aku datang sendiri."
"Bareng saja dengan ku, aku sudah berada di pinggir trotoar depan kantor mu."
"Aku bawa motor, Ga!"
"Kau titipkan saja motornya, nanti aku antar kau lagi kemari. Atau kau bisa titipkan di kantor mu sampai besok kan?"
"Baiklah, tapi besok-besok aku tidak akan pernah naik mobilmu lagi, kalau bukan kepentingan Ayahmu aku nggak mau datang."
Inez melangkah pergi keluar ruangan setelah berpamitan dengan Irfan, Pria yang selalu mendukungnya. Inez keluar dari pintu gedung setelah menitipkan motornya pada salah satu satpam yang berjaga malam.
Rangga tersenyum saat inez berjalan mendekat dan membukakan pintu mobil untuknya. Inez masuk dan duduk disamping Rangga. Mobil Rangga melaju dengan kecepatan normal menembus jalanan raya yang mulai padat merayap. Tanpa mereka sadari sepasang mata melihat Inez masuk kedalam mobil Rangga, ia melihat dari jarak yang tidak terlalu jauh karena mobilnya terjebak macet di depan pintu gerbang perkantoran, dan tidak bisa menepi dan keluar dari mobil. Setelah mobil masuk kedalam gedung perkantoran dan memarkirkannya, pria itu keluar dari mobil dan berlari keluar gerbang mencari mobil tadi.
"Sial!! kenapa Inez pergi sama pria itu? mau kemana mereka!" umpat Wiliam, menendang botol kosong di depannya sebagai pelampiasan. Ia berjalan masuk kembali kedalam gedung sambil menelpon kekasihnya dengan nafas memburu karena terbakar emosi dan cemburu.
"Apa kau semurah itu Inez! mau berjalan dengan laki-laki lain tanpa izin padaku! kau telah berkhianat dariku!"
Inez yang terduduk disamping Rangga hanya diam dan tidak banyak bicara, pikirannya masih bercabang. Seketika suara ponselnya berdering, ia merogoh ponsel dalam tasnya dan melihat nama Wiliam dalam layar ponselnya.
Saat Inez mau menekan tombol hijau, tiba-tiba ponselnya mati. Ia lupa tadi tidak di cash ponselnya saat bersama Lupi dan tidak lihat kalau ponselnya hampir lowbet. Inez hanya merutuki diri sendiri karena kebodohannya.
"Kenapa...? tanya Rangga.
"Ponsel ku lowbet."
"Mau pakai ponsel ku? Rangga menyodorkan ponselnya pada Inez.
"Tidak usah, terimakasih. Bisa kau percepat laju mobilnya!"
"Sabar Nez, kita nggak bisa cepat dan nabrak mobil di depan kita, yang ada nanti kita yang masuk kerumah sakit."
"Aku lagi tidak bercanda Ga! sungut Inez kesal, ia benar-benar frustasi, apalagi saat Wiliam menelponnya tiba-tiba mati. "Pasti Wiliam akan berpikiran yang tidak-tidak." batinnya lirih.
Jam sudah menunjukkan setengah enam. Wiliam masuk kedalam ruangannya. Ia belum menemui Harlan dan tidak mengabarinya kalau tadi mengantarkan Margaret ke hotel karena dia memaksa. Raut wajah kesal dan kecewa terlihat jelas di wajah tampan nya yang terlihat tegang dan emosi.
"Baiklah Inez, kalau itu mau mu! kau malah mematikan ponsel ku disaat kau bersama mantan mu. Apa kau akan kembali padanya!"
🔥
🔥
🔥
@Jangan lupa: follow IG @bunda.eny_76
@Brsambung....
__ADS_1