Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Balasan untuk penjahat


__ADS_3

"Kebohongan tetap kebohongan! aku masih sakit hati! aku seperti orang bodoh yang tidak punya harga diri sama sekali! Anda kau berada di posisi ku, apakah tidak merasakan sakit? aku sudah memberikan mahkota ku karena dia suamiku. Menikah siri karena di gerebek warga, dan aku harus ikhlas menerima takdir ku. namun, kenapa ia terus bersandiwara dengan mengaku sebagai kurir dan tidak punya kelurga! Aku sangat kecewa, apalagi anak dalam kandungan ku sudah pergi, tidak ada yang bisa diharapkan lagi seperti laki-laki pembohong macam Georgie Vandeles!!


Inez menatap lekat wajah Lupita yang masih terlihat pucat dan sembab.


"Jadi apa keputusan mu..?"


Bola mata Lupi memutar kesana-kemari, ada keraguan dalam dirinya, Namun, bila ingat rasa sakit di bohongi dan merasa di bodohi ia harus tegar atas sebuah keputusan yang harus ia ambil.


"Untuk sementara aku akan menjauh dari Mas Harlan, aku ingin menenangkan diri dulu dan melupakan rasa sakit yang menyesakkan dada."


"Tapi, apa suamimu akan terima dengan keputusan mu? ingat Lupi, suamimu itu seorang Goergie Vandeles, CEO pemilik perusahaan Departemen store, Desain interior, real estate property dan masih banyak lagi perusahaan yang ia miliki. Apa kau akan membuang batu permata begitu saja?"


Mata Lupita mendelik "Kau pikir aku wanita materialistis, yang segalanya bisa dibeli dengan uang? ini masalah hati dan kepercayaan, Inez! kau tidak akan pernah mengerti perasaanku!"


Inez menghela nafas panjang "Ya sudah kalau keputusanmu sudah bulat, tapi jangan ada penyesalan atas tindakanmu yang terburu-buru. Aku sebagai sahabat hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu dan Tuan Vandeles."


Sementara di luar ruangan Harlan menerima panggilan telpon dari Della.


"Kak Harlan! benarkah kakak sudah di Jakarta? Bibi terus meminta aku menghubungi Kaka!


"Iya! aku sudah di Jakarta. darimana kalian tahu aku pulang?"


"Dari Belanda, ada yang menelpon Bibi. Sekarang kakak dimana?


"Aku masih ada urusan pekerjaan, bilang sama Mak, aku nanti pulang."


"Baiklah kak! nanti aku sampaikan. Bibi sedang tidur siang"


"Ya sudah aku matikan! Harlan memutuskan telpon sepihak tanpa menunggu jawaban Della.


"Will! dia melirik kearah Wiliam yang masih duduk dengan tenang.


"Ya Tuan!


"Siapkan pernikahanku dengan Lupita minggu depan secara hukum agama dan Negara. Aku tidak ingin terlalu lama dan semakin merasa bersalah dengan Lupi. ia begitu syok kehilangan anak kami"


"Baik Tuan! akan saya urus semuanya."


"Adakan di hotel berbintang!"


"Siap Tuan!


Selesai memberi perintah pada Wiliam, Harlan masuk kembali kedalam kamar.


JGLEK!


"Lupi, sebaiknya aku pulang ya? ini sudah hampir sore. Tadi aku masuk kerja setengah hari." sebenarnya Inez masih ingin ngobrol banyak dengan Lupita, Namun ia tidak enak hati dengan Harlan.


"Inez, kau harus sering menjengukku, aku tidak ada siapa-siapa lagi untuk teman curhat dan berbagi keluh-kesah."


"Iya, setelah pulang kerja aku akan mampir kesini. Jangan sedih lagi. Aku pulang ya?" mengelus lembut tangan Lupita.

__ADS_1


"Terima kasih Nez!"


Inez beranjak dari duduknya dan tersenyum pada Harlan saat ingin pulang "Sore Tuan, saya pamit pulang." Harlan mengangguk pelan.


"Lupi! Harlan berjalan dan mendekat "Kau harus makan dulu, ini sudah jam setengah tiga."


Lupita menggeleng, bahkan ia tidak ingin menatap wajah suaminya yang selalu ia rindukan dulu, ada luka dihatinya yang belum sembuh.


"Kau akan sakit bila tidak makan? aku tidak ingin itu terjadi."


"Apa pedulimu Mas! kenapa sekarang kau baru peduli setelah aku menderita dan kehilangan anakku?!"


Harlan mendesah kasar, ia masih merasa bersalah dengan pernyataan Lupita. "Iya, aku memang bersalah telah meninggalkanmu? tapi aku juga tersiksa saat jauh darimu! menggenggam tangan Lupita "Sayang, ayo kita mulai langkah baru tanpa ada kebohongan lagi."


"Tidak semudah itu, Mas! menarik tangannya dari genggaman Harlan "Mas salah memilih aku jadi istri Mas, walau kita menikah di tangan warga. Seharusnya kita langsung bercerai saat kau sudah membaca ijab kabul dan mentalak ku, lalu tidak pernah hadir dalam hidupku lagi! airmata Lupita terus berjatuhan.


"Kenapa kau berkata begitu Lupi? Harlan mengerutkan alisnya dan terus bertanya-tanya dalam hati.


"Tuan! aku hanya gadis miskin yang tidak memiliki apa-apa? aku anak yatim-piatu yang selalu direndahkan. Tuan tak pantas menikah denganku, kita bagaikan langit dan bumi." tangisan itu semakin dalam. "Ma'afkan aku sudah membawa tuan dalam kehidupanku, bahkan tinggal di rumahku yang sederhana. Malu rasanya bila mengingat itu semua." Lupi tertunduk, ia menyadari kalau Harlan tidak pantas untuknya.


"Apa maksudmu berkata begitu Lupi? aku tidak pernah memandang status dan keadaanmu. Aku menikahimu tulus tanpa ada beban dan paksaan. Dan jangan pernah memanggilku Tuan! kau adalah istriku, Lupi!"


"Ma'afkan aku, biarkan aku sendiri. Aku lelah Ingin istirahat." ucapnya lemah.


"Baiklah, aku akan keluar. Beristirahat lah!" Harlan melangkah pergi meninggalkan Lupita dengan kesedihannya.


"Ayah! ibu... hiks..! panggilnya dalam hati. Lupi membaringkan tubuh lelahnya miring menghadap dinding, guncangan tubuhnya masih kuat karena tangisan.Tak lama kemudian, tidak terdengar lagi sedu-sedan itu.


"Will! sudah kau bawa dua wanita itu ke kantor polisi."


"Saya menunggu perintah Tuan, bila tuan tidak terlalu repot saya akan membawa polisi untuk menangkapnya sekarang. Orang-orang kita masih terus memantaunya."


"Bagaimana dengan juragan itu!


"Anak buahnya sudah banyak tertangkap pihak polisi, Namun, juragan itu kabur dan sedang dalam pencarian."


"Bagus! pergilah. Aku bisa mengurus istriku."


"Baik Tuan! Saya sudah menempatkan empat orang bodyguard disini untuk berjaga-jaga. kalau begitu saya permisi!"


Harlan mengangguk dan membawa paper bag kedalam ruangan. ia melihat Lupita sudah tertidur. Harlan masuk kedalam kamar mandi untuk bersihkan tubuhnya, setelah melewati begitu banyak masalah yang membuatnya lelah.


Wiliam sudah meninggalkan rumah sakit menuju kediaman Bibi dan sepupu Lupita. Satu jam perjalanan ia sampai pada alamat tersebut. Sambil menunggu petugas polisi, ia bertemu dengan beberapa anak buahnya yang sedang memantau. Tak lama petugas kepolisian datang dengan mobil patroli. William berjalan kearah kontrakan Surti dan Lolita.


"DOR! DOR! DOR....!


Buka pintunya! teriak Wiliam dari depan pintu yang tentu saja menarik perhatian tetangga sekitar.


"Apa dia masih didalam? tanya Wiliam pada bodyguard yang ikut berdiri di sampingnya.


"Kami terus memantau dan ia belum keluar rumah sejak kemaren."

__ADS_1


"Cepat buka pintunya! atau kami dobrak pintu ini! teriak Wiliam kesal.


"Sepertinya mereka tidak mau keluar, lebih baik kita dobrak saja pintunya, Tuan!


"Kalian benar lebih baik kita dobrak, saja! Sengaja William bicara begitu agar mereka berdua keluar. Ternyata benar, Sebelum Wiliam mendobraknya, terdengar suara handle pintu dibuka dari dalam.


Ceklek. Ceklek!


KREKKK....


"Maaf Tuan anda cari siapa? kami sedang sakit jadi lama membuka pintunya." ucap wanita separuh baya berperawakan gembul.


"Nggak usah banyak alasan. cepat tangkap mereka!! perintah Wiliam pada polisi yang berdiri di belakang Wiliam.


"Apa-apaan ini Tuan! kenapa Kami mau ditangkap! teriak Surti yang berontak.


"Ayo! kalian berdua ikut kami ke kantor polisi! sergah seorang polisi yang sudah berada di dalam ruangan bersama anak buahnya.


"Jangan bawa kami Pak! kami berdua salah apa? tanya Surti yang terlihat ketakutan.


"Bu kenapa mereka ingin membawa kita! Lolita merapat di belakang ibunya.


"Ibu juga tidak tahu, jangan-jangan...? Pikiran Surti mengingat Lupita yang sudah ia jual pada juragan Karya kemaren malam. mengingat itu ekspresi wajahnya berubah pucat pasi.


"Ayo cepat ikut kami sekarang! bentak polisi.


"Pak ampun, jangan bawa kami berdua, kami orang miskin." Surti memohon dengan deraian airmata.


"Perbuatan kalian sudah keterlaluan! kalian sudah menganiaya Nyonya Lupita Vandeles, pemilik perusahaan terbesar di kota ini!


"Apa...?! ucap keduanya bersamaan. Mata keduanya melotot karena terkejut. "Apa yang Tuan maksud Lupita keponakan saya?" tanya nya tak percaya. jantung Surti sudah berdebar tak karuan.


"Anda tak pantas menyebut Nyonya Vandeles sebagai keponakan! bentak Wiliam penuh kebencian. "Pak tangkap dua wanita ini dan jebloskan kedalam penjara, mereka berdua hanya meresahkan hidup Nyonya Lupita!"


"Jangan Tuan, saya mohon! Saya minta maaf sudah menyakiti Lupita. Saya menyesal. Akan saya tebus semuanya dan meminta maaf pada Lupita." Surti memohon dengan kedua tangan mengatup, isakan semakin dalam.


"Anda telah membunuh calon pewaris Keluarga Vandeles! sekarang terimalah akibat dari perbuatan kalian! Wiliam menoleh pada pak polisi "Cepat bawa dua manusia itu! saya akan kekantor polisi untuk menyelesaikan perkara ini." selesai berbicara Wiliam dan beberapa bodyguard nya pergi meninggalkan kontrakan Surti.


"Bawa mereka berdua! perintah Pak polisi pada anak buahnya. Surti dan Lolita di borgol dan dibawa oleh polisi. Mereka berdua meraung dan terus menangis di sepanjang jalan.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


@Bab ini lebih panjang ya, Yuk ikuti terus kelanjutannya, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


πŸ’œLike


πŸ’œVote


πŸ’œGift


πŸ’œKomen

__ADS_1


@Bersambung........πŸ’ƒπŸ’ƒ


__ADS_2