
"Mas kau dimana? kenapa tidak memberitahu aku? bahkan aku tidak tahu nomor mu? kau pun tidak pernah menghubungiku." butiran bening menetes begitu saja dari sudut mata Lupi. "Aku merindukan mu Mas..." hiks..
"Kemana aku harus mencarimu, Mas?!
Lupita di kaget kan dengan suara dering ponsel. ia melihat tidak ada nama si penelpon, hanya tertera nomor saja.
Lupita tampak ragu untuk mengangkat telepon yang tidak ada namanya, kebetulan tadi sore sepulang kerja ia bersama inez datang ke galeri Merpati untuk mengaktifkan nomor lamanya yang hilang bersama ponselnya saat Harlan melemparnya ke kolam renang di Bali. Lupita berharap Harlan menelpon nomor lamanya dan ia bisa mengetahui keberadaannya sekarang.
Namun, Lupita bingung untuk mengangkat nomor yang tidak ia kenal.
"Tidak ada salahnya aku angkat, siapa tahu ini nomor dari Mas Harlan.
"Ho-llo..." ucapan ragu.
"Apa benar ini Nona Lupita?
"Iya benar saya sendiri..?
"Bisa anda menemui kami?"
"Ini siapa? maaf saya tidak ada urusan dengan anda!" saat Lupi ingin mematikan teleponnya, terdengar suara lantang dari ujung telpon.
"Kau akan menyesal bila matikan telponnya! karena saya sedang bersama suamimu!
"Apa..? benarkah..? dimana suamiku!
"Makanya kau datang kesini, ia ada di pertigaan sedang dalam kondisi mengenaskan karena kecelakaan."
"Ya Tuhan! suamiku kecelakaan? Lupita terkejut "kasih tahu alamannya di pertigaan mana?! saya akan datang."
"Baiklah kau ikuti pertigaan jalanan yang arah mau ke pasar, kau berjalan ke pertigaan sebelah kiri nanti ketemu pangkalan ojek, kita ketemu disana, dan jangan lupa bawa uang cash tebusan dua juga."
"Hah! untuk apa uang tebusan sebanyak dua juta!
"Untuk menebus suamimu, tadi pakai uangku untuk membayar orang yang ditabrak oleh suamimu!
Lupita terdiam, namun ia juga sangat takut bila terjadi apa-apa pada suaminya, Lupita harus memastikan kebenaran nya, tapi kenapa pria itu tidak memakai ponsel suaminya kalau memang Harlan berada di pertigaan itu, bisa jadi ponsel mas Harlan lowbet, Lupita menepis kemungkinan yang akan terjadi, ia percaya pada si penelpon itu, buktinya ia bisa tahu nomor Lupi pasti dari ponsel suaminya.
"hey! kenapa kau diam saja! kami lelah menunggu suamimu di pertigaan ini. kalau kau tidak cepat datang kami akan membiarkan suamimu mati di jalan!"β·
"Baiklah aku akan kesana, tolong kau jaga suamiku dulu! ucapnya seraya memutuskan telpon. Lupi menatap jam yang menggantung di dinding. "Sudah jam sepuluh lewat lima belas menit, semoga jalanan tidak terlalu sepi."
Setelah Lupi mengganti pakaian kemeja dan celana jeans, ia bergegas mengambil tasnya dan keluar dari rumahnya. Untuk menuju pertigaan menempuh perjalanan sepuluh menit, jam sepuluh malam biasanya angkot sudah jarang lewat, Namun saat Lupita menunggu, kebetulan ada angkot yang lewat, ia langsung masuk kedalam angkot yang hanya tiga orang penumpang termasuk dirinya.
Pikiran Lupita sudah tak menentu, ia sejak tadi gelisah dan pikirannya sudah kemana-mana.
"Pak berhenti di depan pertigaan ya." pinta Lupi pada sang supir. Setelah membayar angkot Lupita turun dari mobil. Ia berjalan kepertigaan yang di tuju seorang penelpon.
"Kenapa tempatnya tampak sepi, dimana mas Harlan kalau tadi ia kecelakaan? kenapa disini tidak ada orang? Lupi mencoba menghubungi pria tadi yang menelponnya.
"Hallo....!
"Kau dimana? kenapa di pertigaan ini sepi, kau ingin membohongi aku kan?!
"Sabar dulu jangan marah-marah! kami ada di dalam pertigaan itu, kan ada gang kecil masuk saja kedalam, nanti ada sebuah bangunan kecil kami menunggu disini."
"Tidak mau! arah jalanan gang kesana sepi dan gelap, aku tidak percaya kalau tidak ada bukti!
__ADS_1
"Akan saya kirim buktinya!
Ting! suara notif pesan masuk. Lupi membuka sebuah foto, dari fostur tubuh seorang pria yang berbaring memang mirip Harlan, namun wajahnya tidak terlalu jelas."
"Bagaimana kau masih tidak percaya kalau itu suamimu?
"Aku ingin wajah suamiku yang jelas!
"Kalau kau masih tidak percaya ya sudah terserah! biarkan suamimu jadi bangkai! kau pasti yang akan menyesal!"
"Tunggu! apa ciri-ciri suamiku? tanya Lupi lagi untuk meyakinkan dirinya
"Berwajah bule, tinggal besar, berkulit putih, pakai motor bebek metic."
"Baiklah aku akan kesana, tapi tolong cepat bantu aku antar kerumah sakit."
"Tentu saja!
Setelah mematikan ponselnya, Lupi berjalan kearah gang kecil yang berada dekat pertigaan, jajanan setapak itu sepertinya jarang di lalui orang bila malam. kurang lebih dua ratus meter Lupita berjalan, dan ia melihat sebuah bangunan yang sudah rusak dengan lampu tempel didepan nya. Lupita tampak ragu melihat bangunan rumah itu, dan baru ia sadari tidak ada motor suaminya yang terparkir di depan rumah tua itu. Tiba-tiba dari sebuah semak ia melihat bayangan berkelebat.
"Pasti ini jebakan! gumamnya, Lupita mulai waspada ia melangkah mundur sebelum akhirnya sebuah pintu terbuka lebar, keluar dua orang Pria bertampang seram dari pintu itu.
"Selamat datang Lupita! hahahaha....
"Siapa kau..??
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, sekarang berikan uang dua juta bila ingin bertemu dengan suamimu!
"Dasar penipu ternyata suamiku tidak ada disini!" bentak Lupi.
"Berikan uang yang kau bawa cepat! teriak suara seseorang di belakang punggung Lupi, Lupi memutar tubuhnya, ia sangat terkejut dengan Pria buntet bertato buaya itu.
"Berikan uang itu bila kau ingin selamat!"
"Kau dan bibi sama saja! senang merampok hak orang dengan cara zalim! seru Lupi kesal.
"Jangan banyak ceramah cepat berikan uang itu bila kau tidak ingin kami habisi!
"Akan aku ceritakan pada Mas Harlan, agar kau di hajar olehnya!
"Hahahaha....kau pikir aku takut! suamimu saja sudah tidak pernah datang lagi! Emang enak di tinggalin, jadi janda deh luh! cibir Bejo terkekeh.
"Kau sangat kejam! jadi selama ini kau selalu menguntit aku!
Bejo dan dua temannya berjalan kearah Lupi, Lupi terdesak dan terus mundur, tak sengaja ia tersandung batu Kolar sebesar kepala anak bayi, dengan cepat ia mengambilnya dan menghantam batu tajam itu ke kepala Bejo yang botak dengan sekuat tenaga, karena Bejo lebih dekat di depannya.
"Waaaadaauuuu....
Bejo berteriak histeris saat batu tajam itu mengenai kepalanya, darah segar mengucur deras. Lupita berlari secepat mungkin meninggal tempat itu yang ternyata jalan buntu, tidak ada akses manusia lewat jalan setapak itu.
"Cepat kejar bodoh! teriak Bejo seraya pegangi kepalanya yang berdarah.
Dua orang pria itu terus berlari mengejar Lupita yang tenaganya Lupi tak sekuat dua orang pria itu. tempat itu tidak ada perumahan, ada beberapa rumah kontrakan yang bangunannya sudah rusak dan tak layak pakai, kontrakan itu memang jauh dari jalan raya. Lupita sudah tidak berpikir panjang kearah sana karena ia berpikir Harlan benar-benar kecelakaan dan di bawa kerumah penduduk begitu pikirnya, ternyata itu semua jebakan Bejo yang terang-terangan ingin melukainya.
Bukk!
Lupita terjatuh saat kakinya menginjak sesuatu di bawah karena gelap.
__ADS_1
"Kena!! seru dua orang pria itu dan menarik paksa tangan Lupi.
"Lepaskan!
"TOLONG.......!!!!
"Mau lari kemana kau! serahkan dompet mu! menarik tas kecil dari tangan Lupi.
"Kembalikan! jangan kau rampas milikku! Lupita terus mempertahankan miliknya apalagi ia teringat ada ponsel pemberian suaminya yang harganya tidaklah murah.
Satu Pria itu berhasil membekuk tangan Lupi ke belakang. Dan satu Pria berhasil merampas tas Lupi lalu mengeluarkannya isi.
"Woww ponsel baru dan ini harganya lumayan mahal bro! hahahaha...
"Berikan ponselku, ambil saja uangnya tapi jangan kau ambil ponsel ku! teriak Lupi.
"Ini dia dompet nya! pria itu mengeluarkan uang dari dompet Lupita.
"Lumayan lah buat kita minum-minum!
"Berikan ponselku! Lupita masih tidak rela ponsel pemberian Harlan harus diambil juga.
"Kau pikir aku bodoh! ini ponsel mahal, aku bisa menjualnya dan uangnya bisa beli lima ponsel keluaran terbaru dan sisanya bisa kita bagi tiga sama si Bejo."
"Terus mau kita apakan wanita ini!"
"Kita bawa ke markas tadi, rugilah wanita cantik ini kita anggurin, kapan lagi kita dapet model beginian, biasanya kita selalu beli jal*ng untuk memuaskan hasrat kita."
"Ayo jalan! perintah Pria itu.
"Tidak mau lepaskan!
"Tolongggg......!!! Lupita terus berontak
"Lepaskan wanita itu! teriak seseorang dari kegelapan berdiri di depan mereka.
"Siapa kau berani datang ketempat ini!
"Tolong aku.... Pria ini perampok! seru Lupi.
"Aku bilang lepaskan, atau kalian akan menyesal, sebentar lagi polisi datang!! seru pria itu yang tak terlihat wajahnya.
"Apa...? pria yang memegang tas Lupi terkejut.
"Jangan mau kita di perdaya sama dia dudul! itu cara dia buat nakutin kita, buat apa badan gede tapi takut ancaman."
'Ayo serang!!!!
πππ
Yuk ikuti terus kelanjutan nya, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
πLike
πVote
πGift
__ADS_1
πKomen
@Bersambung........ππ